MasukAku memang istri yang naif. Selama ini, ternyata suami dan sahabat baikku sendiri telah bermain api di belakangku. Mereka mengkhianatiku, bahkan tega merencanakan kematianku demi menguasai seluruh harta. Akan tetapi, tepat di hari kematianku, tiba-tiba aku kembali hidup satu tahun sebelum kejadian kecelakaan tragis itu. Aku sangat bingung kenapa ini bisa terjadi, tetapi di sisi lain aku merasa ini adalah hadiah besar untukku. Aku sangat bersyukur karena semesta memihakku dan memberiku kesempatan kedua untuk membalas pengkhianatan mereka.
Lihat lebih banyak"Clara, Sayang ... kamu bisa mendengarku?"
Sebuah tangan yang hangat dan kuat menggenggam tanganku yang dingin. Itu tangan Marco, suamiku. Aku mencoba menjawab, bahkan hanya untuk menggerakkan jariku sebagai balasan, tetapi tubuh ini bukan lagi milikku. Dia seolah telah menyerah. "Bertahanlah, Clara. Aku di sini. Aku tidak akan meninggalkanmu," bisiknya lagi, mendekatkan wajahnya ke telingaku. Aku merasakan elusan lembut di rambutku. Sarah. "Kami semua menunggumu sadar, Clara," ucapnya dengan suara gemetar, seakan menahan tangis. "Kamu adalah wanita terkuat yang aku kenal. Kamu pasti bisa melewati ini." Di tengah rasa sakit dan ketidakberdayaan, kata-kata mereka adalah pelita di dalam kegelapan. Mereka mencintaiku. Aku harus berjuang. Aku harus kembali untuk mereka. Namun, tubuhku punya kehendak lain. Tiba-tiba, suara monitor di sampingku berubah. Ritme yang stabil itu kini menjadi panik dan cepat, sebelum akhirnya berubah menjadi satu nada panjang yang mematikan. Beeeeeeep. Pintu terbuka dengan kasar. Aku bisa mendengar langkah-langkah kaki yang tergesa, suara-suara panik. Seseorang meletakkan sesuatu yang dingin di dadaku. Ada sentakan hebat, tapi aku tidak merasakan apa-apa. "Sudah terlambat." Sebuah suara asing berkata dengan tenang. "Garisnya sudah lurus. Catat waktu kematiannya." Tidak. Tidak mungkin. Aku masih di sini! Aku bisa mendengar kalian! Langkah-langkah kaki menjauh, meninggalkan keheningan yang mencekam. Hanya ada aku, Marco, dan Sarah. Atau lebih tepatnya, jasadku, dan mereka berdua. Suamiku dan sahabatku. Beberapa saat berlalu dalam keheningan yang terasa aneh. Lalu, aku merasakan genggaman tangan Marco di tanganku terlepas begitu saja. "Akhirnya," desah Marco. Suaranya tidak lagi serak karena khawatir. Suaranya dingin, datar, dan penuh... kelegaan. Aku tidak mengerti. "Apa sudah benar-benar selesai?" bisik Sarah. Suara gemetarnya yang tadi terdengar seperti tangisan, kini terdengar seperti kegembiraan yang ditahan. "Tentu saja," jawab Marco dengan cepat. "Kamu dengar sendiri kata dokter. Ratu kita yang bodoh ini sudah resmi mati." Ratu ... bodoh? Apa yang dia katakan? Tiba-tiba, terdengar suara langkah yang mendekat, bukan ke arahku, tapi saling mendekat. Lalu, suara kecupan basah yang panjang. Aku tidak perlu melihat untuk tahu apa yang terjadi. Marco sedang menc i um Sarah. Di sini. Tepat di samping ranjang kematianku. "Aku sudah tidak tahan lagi berpura-pura, Marco," kata Sarah di sela-sela napasnya. "Setiap hari harus memanggilnya 'sahabat', memeluknya, mendengarkan semua keluh kesahnya tentangmu ... itu sangat menyiksa." "Aku tahu, sayang. Aku juga," balas Marco. "Setiap malam harus tidur di sampingnya, menyentuhnya, berpura-pura menjadi suami yang baik... Aku merasa mual. Tapi lihatlah sekarang. Semua penderitaan kita sudah berakhir." Dunia di sekitarku seakan hancur berkeping-keping. Jadi ini... semua ini adalah kebohongan? "Rencana kita sempurna," lanjut Sarah, suaranya kini penuh kemenangan. "Tidak ada yang akan curiga. Rem blong adalah kecelakaan yang sangat umum terjadi, bukan? Terutama di jalanan menurun itu." "Tentu saja. Dan terima kasih padamu yang sudah memastikan dia pergi ke butik sendirian hari ini. Mekanik yang kita bayar melakukan pekerjaannya dengan sangat baik," balas Marco. Jadi... kecelakaan itu ... direkayasa? Mereka... mereka yang merencanakannya? "Lalu bagaimana sekarang?" tanya Sarah. "Tentang perusahaan ..." "Tenang saja. Sebagai suaminya, aku adalah pewaris tunggal dari semua asetnya. Surat wasiatnya menyatakan begitu. Dia terlalu bodoh dan terlalu cinta padaku untuk berpikir sebaliknya," Marco tertawa. Sebuah tawa dingin tanpa humor yang membuat darahku yang tak lagi mengalir terasa membeku. "Perusahaan, rumah, semua uangnya... sekarang menjadi milik kita, Sarah." "Milik kita," ulang Sarah dengan desahan puas. "Aku tidak sabar untuk mendekorasi ulang kamar tidurnya. Aku tidak suka seleranya. Terlalu jadul." "Kamu bisa melakukan apa pun yang kamu mau, Ratu-ku," kata Marco. "Dunia wanita bodoh ini sekarang adalah panggungmu." Mereka terus berbicara, merencanakan masa depan mereka di atas kuburanku yang masih hangat. Setiap kata adalah belati yang menusuk jiwaku berulang kali. Pengkhianatan ini lebih menyakitkan daripada benturan mobil yang meremukkan tulangku. Dikhianati oleh suami yang kupuja, oleh sahabat yang kuanggap seperti saudara sendiri. Amarah. Sebuah amarah yang begitu besar dan panas mulai membakar kesadaranku yang memudar. Kebencian yang begitu pekat hingga terasa seperti racun. Aku telah memberikan mereka segalanya, cintaku, kepercayaanku, kesetiaanku. Dan mereka membalasnya dengan kematian. Tidak. Aku tidak terima. Ini tidak adil. Jika saja aku punya satu kesempatan lagi ... Pikiran itu melintas seperti kilat di tengah kegelapan yang mulai menelanku. Aku tidak akan membiarkan kalian bahagia. Aku akan merebut kembali semua yang menjadi milikku. Kesadaranku semakin menipis. Suara tawa mereka berdua terdengar semakin jauh, seperti gema dari dunia lain. Aku akan membuat kalian merasakan sakit yang kurasakan seribu kali lipat! Kegelapan total akhirnya menelanku. Dingin. Kosong. Hening. Inikah akhir dari segalanya? *** Tiba-tiba, sebuah sentakan hebat, seolah ada petir yang menyambar tubuhku. Sebuah tarikan napas yang kasar dan dalam, begitu kuat hingga paru-paruku terasa sakit. Udara segar membanjiri jalurnya, terasa begitu nyata dan menyakitkan. Mataku terbuka dengan paksa. Hal pertama yang kulihat bukan langit-langit putih rumah sakit yang dingin. Bukan pula wajah Marco dan Sarah yang penuh kemenangan. Melainkan kanopi sutra berwarna krem yang menggantung mewah di atasku. Dinding kamar yang familier dengan lukisan bunga mawar favoritku. Aroma lembut dari diffuser di atas nakas yang menyebarkan wangi lavender. Aku terkesiap, lalu terbatuk-batuk hebat. Aku mengangkat tanganku yang gemetar ke depan wajahku. Tanganku utuh. Kulitnya halus, tanpa goresan. Aku menyentuh kepalaku, leherku, tubuhku. Tidak ada luka. Tidak ada perban. Tidak ada rasa sakit sama sekali. Dengan panik, aku menoleh ke samping. Di atas nakas kayu mahoni, di samping lampu tidur kristal, ponselku tergeletak. Dengan gerakan cepat, aku menyambarnya. Aku menekan tombol daya. Layar itu menyala, menampilkan fotoku yang tersenyum bahagia memeluk Marco. Dan di bawah foto itu, sebuah tanggal tertera dengan jelas. 15 Oktober 2024. Ini ... ini tidak mungkin. Ini adalah hari diadakannya pesta ulang tahun perusahaan. Tepat ... ... satu tahun sebelum hari kematianku. Aku menatap pantulan diriku di layar ponsel yang gelap. Wajah yang lebih muda, lebih segar, dan mata yang belum ternoda oleh pengkhianatan paling kejam. Napasku tertahan di tenggorokan. Ini bukan surga. Ini bukan neraka. Ini adalah sebuah kesempatan.Bagaimana dia tahu aku sedang menunggu broker?Adrian seolah bisa membaca pikiranku. Dia tersenyum tipis, senyum pertama yang kulihat darinya, tapi senyum itu tidak menunjukkan kehangatan sama sekali."Tenang, saya tidak membuntuti Anda," jelasnya. "Hanya orang-orang tertentu yang datang ke kafe ini di jam kerja sambil membawa tas dokumen dan terus-menerus melirik ke arah pintu. Cukup mudah ditebak. Apalagi setelah saya mengenali siapa Anda."Aku menelan ludah. Pria ini berbahaya. Analisanya terlalu cepat dan akurat. Aku tidak punya pilihan selain duduk kembali, memeluk blazerku yang rusak di pangkuan."Apa mau Anda, Tuan Adrian?" tanyaku dengan nada sedingin mungkin, mencoba menyamai auranya."Tidak ada. Awalnya," jawabnya. "Tadinya saya hanya ingin minta maaf dan mengganti rugi. Tapi sekarang setelah tahu siapa Anda, saya jadi sedikit penasaran.""Penasaran tentang apa?""Tentang apa yang dilakukan seorang Nyonya Marco Alexander di kafe kelas menengah seperti ini, sendirian, dengan
Pagi berikutnya, aku menyelinap keluar dari rumah seperti pencuri. Aku sengaja menunggu hingga Marco berangkat ke kantor. Kepada Bi Inah, asisten rumah tangga kami, aku hanya berpesan singkat. "Bi, saya mau ke butik bunga sebentar, mungkin agak siang baru pulang," kataku sambil merapikan syal sutra yang menutupi leherku. "Baik, Nyonya. Perlu saya siapkan bekal makan siang?" tawar Bi Inah dengan ramah. "Tidak perlu, Bi. Terima kasih." Tentu saja aku tidak pergi ke butik. Aku mengendarai mobil kompak milikku, bukan sedan mewah yang biasa kusopiri, menuju sebuah kafe kecil yang terletak di distrik bisnis pinggiran. Namanya "The Daily Grind Cafe". Tempat ini jauh dari jangkauan lingkaran sosialita dan kolega bisnis Marco. Sempurna untuk pertemuan rahasiaku. Di dalam, aroma kopi yang pekat dan roti panggang menyambutku. Aku memilih meja di sudut paling belakang, dekat jendela yang menghadap ke sebuah gang sempit. Aku mengenakan kacamata hitam besar dan sebuah blazer sederhana berwarn
"Ada apa, Marco? Kenapa reaksimu begitu?" tanyaku pura-pura bingung. Sarah menyela dengan nada sedikit menggurui, "Clara sayang, Lumina Tech itu saat ini sedang berada di ambang kehancuran. Saham mereka anjlok parah minggu ini karena CEO mereka dituduh menggelapkan dana riset. Perusahaan itu sedang diselidiki otoritas keuangan." "Benarkah?" Aku membulatkan mata, berpura-pura terkejut. "Tapi ... tapi Datin Rossa bilang justru saat harganya murah begini kita harus beli! Nanti kalau masalahnya selesai, harganya akan naik tajam!" "Itu namanya spekulasi buta, Clara!" tegur Marco sedikit keras. "Datin Rossa itu hanya sosialita yang kelebihan uang dari suaminya. Lumina Tech adalah investasi yang sangat berisiko tinggi. Sangat berisiko! Hampir bisa dipastikan perusahaan itu akan bangkrut bulan depan." Aku menahan senyum dalam-dalam. Tentu saja Marco akan bilang begitu. Semua orang di kota ini berpikir Lumina Tech akan hancur. Beritanya tersebar di mana-mana. CEO mereka dituduh korupsi, i
"Kamu mengambil ponselku?!" Suaranya melengking tajam, topeng sahabat baiknya nyaris retak sepenuhnya. Jemarinya dengan panik menekan tombol daya, memeriksa layarnya.Aku menatapnya dengan tatapan terluka dan mata berkaca-kaca. "Sarah ... kenapa kamu membentakku? A-aku melihat ponselmu tergeletak begitu saja di meja dekat prasmanan setelah insiden minuman tadi. Aku takut ponselmu dicuri pelayan atau tamu lain, jadi aku mengamankannya ke dalam tasku."Sarah menatap layarnya yang masih menampilkan gambar kunci secangkir kopi. Dia mencoba menggeser layarnya, dan matriks kata sandi muncul, seolah tidak pernah terbuka sebelumnya. Bahunya tampak sedikit rileks, tapi matanya masih memicing menatapku."Kanu tidak membukanya?" tanyanya dingin."Membukanya?" Aku memiringkan kepala, memasang ekspresi sangat bingung dan tersinggung. "Tentu saja tidak! Layarnya terkunci, Sarah. Lagipula, untuk apa aku membuka ponselmu? Apa ... apa ada rahasia penting di sana yang tidak boleh kulihat?"Pertanyaanku
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan