Chapter: BAB 347."Jacob, apa yang kamu lakukan pada pasien kritis?" suara Adrian terdengar sangat tenang namun tajam."Aku hanya memberikan penyegaran pada paman saya yang sedang kepanasan," sahut Jacob tanpa melepaskan tatapannya dari Hadi.Adrian melangkah maju, berdiri di sisi lain ranjang. Ia melirik monitor yang kini dipenuhi angka-angka yang melonjak. Salah satu anak buah Adrian cepat-cepat menyuntikkan sesuatu ke selang infus Hadi. Dalam beberapa detik, detak jantung Hadi turun drastis. Tubuhnya yang sempat gemetar kembali lemas."Kamu melanggar aturan rumah sakit, Jacob. Mematikan sistem AC di unit ICU adalah tindakan percobaan pembunuhan." ucap Adrian sambil menunjukkan ponselnya.Jacob tertawa dingin. "Dan kamu sedang melindungi penjahat, Adrian?"Adrian menyunggingkan senyum tipis, tipe senyum yang selalu membuat Jacob ingin melayangkan tinju ke wajahnya. Ia memasukkan ponsel ke saku jasnya dengan gerakan santai."Penjahat?" Adrian terkekeh pelan. “Di dunia bisnis, istilah seperti itu s
Terakhir Diperbarui: 2026-03-11
Chapter: BAB 346.Jacob menyipitkan mata. "Apa maksudnya ini?"“Maaf, Pak Jacob. Sepertinya ada masalah di server pusat. Kami sedang berusaha memperbaikinya.” jawab operator itu dengan keringat dingin yang mulai membasahi pelipisnya.Jacob mencondongkan tubuh, menatap layar dengan tajam. “Jangan beri aku alasan teknis. Kenapa hanya rekaman di jam itu yang rusak sementara kamera lain tetap normal?”Tiba-tiba, ponsel Jacob bergetar di saku celananya. Sebuah nomor asing mengirimkan pesan singkat. Jacob membukanya dan matanya seketika berkilat penuh amarah.[Rumah sakit ini adalah tempat orang dirawat, bukan tempat untuk menuduh orang yang sedang terbaring koma. Jangan melangkah terlalu jauh, Jacob. Kamu bisa jatuh. ~AS]Jacob sudah bisa menebak siapa dalam dari semua ini dari inisial nama di akhir pesan itu. Adrian Smith.Jacob mengepalkan tinjunya hingga urat-urat di lengannya menonjol. Ia segera menyadari apa yang sedang terjadi. Kekuatannya di Grup Sanjaya memang jauh melampaui Hadi yang kini terpojo
Terakhir Diperbarui: 2026-03-11
Chapter: BAB 345."Hasilnya tidak masuk akal, Jessie. Kamu harus melihat ini sendiri." suara Hani di ujung telepon terdengar rendah dan penuh kecemasan. Jessie menjepit ponsel di antara telinga dan bahunya sembari mengaduk kopi hitamnya yang masih mengepul. Sinar matahari pagi menembus jendela ruang makan, menyinari remah-remah roti di atas piring porselen yang belum sempat ia habiskan. Di seberang meja, Jacob duduk tegak dengan kemeja hitam yang lengannya sudah digulung. Ia baru saja meletakkan tabletnya saat melihat raut wajah Jessie berubah sangat serius."Apa yang kamu temukan, Han?" ucap Jessie. Ia memberikan isyarat kepada Jacob agar ikut mendengarkan.Jacob segera mendekat dan menekan tombol pengeras suara pada ponsel Jessie yang kini diletakkan di atas meja marmer.“Aku sudah memeriksa sampel darah Hadi Sanjaya yang kamu berikan semalam di lab milik kolegaku,” ujar Hani di seberang telepon, lalu menarik napas panjang. Suara bising peralatan laboratorium terdengar samar sebagai latar belaka
Terakhir Diperbarui: 2026-03-10
Chapter: BAB 344.Pintu lift terbuka. Mereka melangkah keluar menuju area parkir yang mulai gelap karena hujan mulai turun. Jacob membukakan pintu mobil untuk Jessie, lalu ia sendiri duduk di kursi pengemudi. Ia menyandarkan kepalanya di setir mobil sejenak, mencoba menetralkan amarah yang tadi hampir meledak di dalam kamar ICU."Dia mendengarkan setiap kata-kataku, Jess. Dia tahu kalau semua kejahatannya sudah terbongkar," gumam Jacob.Jessie menyentuh lengan Jacob tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Ia tahu hati suaminya kini sedang dipenuhi oleh amarah.Jessie hanya mengusap dengan lembut bahu suaminya.Sementara Jacob masih menyandarkan dahinya pada lingkar kemudi, mencengkeram kulit setir hingga ruas jarinya menegang dan gemetar. Napasnya terdengar berat, satu demi satu tarikan oksigen yang ia ambil terasa seperti sedang menghirup duri. Amarah yang ia tahan di dalam ruangan ICU tadi kini mencari jalan keluar, menghantam dadanya dari dalam hingga ia merasa sesak."Jacob, lepaskan setirnya. Tang
Terakhir Diperbarui: 2026-03-10
Chapter: BAB 343.“Sembilan puluh detak per menit. Kuat dan cepat. Sementara di layar itu, angkanya tetap enam puluh tanpa perubahan,” kata Jessie dengan nada tajam. “Mesin ini sudah dimanipulasi, Jacob. Seseorang membuat layar ini menampilkan angka yang sama terus-menerus agar dokter tidak curiga.”Jacob mengangguk pelan. Ia sudah menduga hal itu. Hadi Sanjaya terlalu licik untuk benar-benar menyerahkan hidupnya pada keadaan. Jacob mencondongkan tubuhnya ke depan hingga wajahnya hanya berjarak beberapa sentimeter dari telinga Hadi. Ia bisa mencium aroma obat yang bercampur dengan bau tubuh orang sakit, namun ada sesuatu yang lain di sana. Bau yang sangat samar namun cukup untuk dikenali oleh Jacob."Paman, aku tahu kamu mendengarku," ucap Jacob. Suaranya rendah dan sangat jernih. “Paman memang pandai berakting. Di depan Ayah kamu jadi adik yang setia, di depanku kamu jadi paman yang baik, dan sekarang kamu berpura-pura sekarat di depan hukum.”Tidak ada jawaban. Wajah Hadi tetap pucat dan tidak
Terakhir Diperbarui: 2026-03-09
Chapter: BAB 342.Jacob mengeluarkan kunci cadangan yang ia ambil dari laci Nenek Sari tadi. Tangan Jacob bergetar saat memasukkan kunci ke lubangnya. Suara klik saat kunci terbuka terdengar sangat nyaring di koridor yang sepi.Pintu terbuka dengan bunyi gesekan yang berat. Aroma pengap dan bau wangi bunga kering yang sudah pudar segera menyerbu mereka. Kamar itu tertutup debu tipis. Perabotan di dalamnya masih sama seperti dulu, seolah waktu berhenti di sini.Jacob melangkah masuk. Ia menyentuh meja rias ibunya. Di sana masih ada sisa-sisa botol parfum dan sisir kayu. Ia berjalan menuju tempat tidur besar yang masih tertutup sprei berwarna lembut. Hati Jacob terasa seperti diremas saat ia melihat cermin besar yang kini tampak kusam. Di kamar inilah ibunya menanggung penderitaan yang luar biasa demi dirinya.Ia berjalan menuju tempat tidur besar yang masih tertutup sprei berwarna hijau pastel. Di bawah bantal, Jacob meraba sesuatu yang keras. Ia menariknya keluar. Sebuah buku harian kecil dengan sa
Terakhir Diperbarui: 2026-03-09
Chapter: BAB 263Angin laut menampar wajah mereka, dingin tapi nyata. Tidak ada kiasan romantis, tidak ada penebusan instan. Hanya kenyataan: mereka selamat, tapi harga yang dibayar sangat tinggi. Julian mati, Sheilla masih hidup, dan The Nest mulai runtuh secara perlahan.Aruna menatap Leonardi, matanya datar tapi tajam. “Kita lanjutkan ini sampai selesai. Tidak ada yang tersisa untuk mereka, tidak ada kompromi.”Leonardi menoleh padanya. “Setuju. Tapi kita lakukan ini dengan rencana. Kita tidak bisa gegabah.”Aruna mengangguk lagi. Tubuhnya lelah, tapi pikirannya siap. Mereka tidak lagi menjadi pion. Mereka adalah ancaman.Di kejauhan, pulau The Nest mulai membakar puing-puingnya sendiri akibat ledakan terakhir Julian dan sabotase sistem. Asap hitam dan api menyelimuti fasilitas itu. Mereka selamat, tapi bukan tanpa kerugian. Ini adalah kemenangan yang pahit. Kehilangan Julian, trauma yang menempel, tapi dengan satu hal yang jelas: mereka masih hidup, dan Sheilla akan membayar.Dan untuk pertama kal
Terakhir Diperbarui: 2026-01-10
Chapter: BAB 262“Aku tidak pernah tahu cara mencintai tanpa mengurung,” ucapnya pelan, seolah Aruna bisa mendengar. “Aku kira dengan menahanmu di sini, aku bisa membuat dunia berhenti melukaimu.”Napasnya tersendat. Dadanya terasa sesak, tapi tidak menyakitkan. Lebih seperti kelelahan yang akhirnya mencapai batas.“Aku salah.”Panel di depannya menunjukkan hitungan mundur penghancuran total. Dua menit tersisa.Julian membuka mata untuk terakhir kalinya. Ia menatap ruang kendali yang selama bertahun-tahun menjadi pusat kekuasaannya, ruang di mana ia membuat keputusan yang menghancurkan hidup banyak orang, termasuk dirinya sendiri.Untuk pertama kalinya, ia tidak mencoba menyelamatkan apa pun.Ia membiarkan sistem berjalan sesuai rancangan.“Untuk pertama kalinya dalam hidupku,” gumamnya lirih, “aku tidak mengurung apa pun.”Lampu padam satu per satu. Alarm berhenti. Keheningan menyelimuti ruang pusat sepenuhnya.Beberapa detik kemudian, ledakan dari sektor luar mengguncang struktur The Nest. Ruang ken
Terakhir Diperbarui: 2026-01-10
Chapter: BAB 261Leonardi menatap Julian dengan muak. Baginya, Julian adalah pria yang telah mencuri Aruna dan menyiksanya. Namun, ia juga melihat nilai strategis dari informasi tersebut. Selain itu, ia melihat bagaimana Aruna menatap Julian, bukan dengan cinta, melainkan dengan rasa kemanusiaan yang tersisa."Kita tidak punya banyak waktu. Pasukan keamanan Sheilla akan segera mengepung sektor ini," kata Leonardi. Ia memandang Julian yang tampak pasrah pada kematian. "Jika dia ingin hidup, dia harus merangkak sendiri."Tiba-tiba, suara Sheilla menggema melalui pengeras suara laboratorium. "Kalian pikir kalian sudah menang? Aku telah mengaktifkan protokol pembersihan diri. Dalam sepuluh menit, seluruh Sektor Pusat akan diisi dengan gas saraf. Nikmatilah saat-saat terakhir kalian bersama."Leonardi mengumpat. Ia tahu Sheilla tidak main-main. Ia segera menggendong Aruna dengan satu lengan dan menyampirkan senjatanya di lengan lain. "Kita pergi sekarang!"Aruna menatap Julian untuk terakhir kalinya saat L
Terakhir Diperbarui: 2026-01-10
Chapter: BAB 260Namun Julian terus memaksakan dirinya. Ia lebih baik mati dan menghancurkan seluruh laboratorium ini daripada melihat kakaknya menyakiti Aruna lagi. Di tengah kepulan asap dan suara alarm yang memekakkan telinga, Aruna merasakan sinyal Leonardi kini sudah berada tepat di bawah struktur bangunan laboratorium.Leonardi sudah di sini.Aruna menatap Sheilla yang mulai panik. "Ini sudah berakhir, Sheilla. Kau meremehkan apa yang bisa dilakukan oleh orang-orang yang telah kau rampas kemanusiaannya."Tiba-tiba, seluruh lampu di laboratorium mati total. Keheningan sesaat yang mencekam terjadi sebelum suara ledakan besar terdengar dari pintu akses darurat. Di tengah kegelapan, Aruna tahu bahwa sang predator yang sesungguhnya telah kembali untuk menuntut balas.Pintu laboratorium terlempar dari engselnya. Di tengah asap dan cahaya merah lampu darurat, sesosok pria berdiri dengan senjata laras panjang. Namun, sebelum Leonardi bisa melangkah masuk, Julian memberikan satu kejutan terakhir; ia mem
Terakhir Diperbarui: 2026-01-09
Chapter: BAB 259Ruang laboratorium utama kini dipenuhi oleh dengung mesin yang semakin meninggi. Aruna tetap terbaring di meja operasi, namun matanya tidak lagi kosong. Penjelasan Sheilla tentang rekayasa genetiknya bukan hanya menghancurkan mental Aruna, tetapi juga memberikan pemahaman baru tentang bagaimana sistem di kepalanya bekerja. Jika ia adalah bagian dari desain Vane, maka ia adalah pemilik otoritas tertinggi atas sistem tersebut, bukan Sheilla.Sheilla berdiri di depan monitor pusat, jemarinya bergerak cepat memasukkan perintah ekstraksi data. Ia begitu percaya diri karena menganggap Aruna sudah hancur total dan Julian hanyalah raga yang tidak berdaya. Sheilla tidak menyadari bahwa pengakuannya tentang asal-usul Aruna telah menyatukan dua jiwa yang selama ini ia adu domba.Di samping Aruna, Julian masih terengah di dalam tabung kaca. Monitor biometriknya menunjukkan grafik yang sangat tidak stabil. Pengakuan Sheilla bahwa cintanya pada Aruna hanyalah hasil rancangan ayahnya telah mengha
Terakhir Diperbarui: 2026-01-09
Chapter: BAB 258Maafkan aku, Julian, batin Aruna pahit. Kau harus tetap menjadi korban agar aku bisa menjadi pemenang.Sheilla mulai memasangkan kabel-kabel baru ke belakang telinga Aruna. "Ini akan sedikit menyakitkan, Aruna. Tapi kau tidak akan merasakannya karena kau sudah tidak ada lagi di sana, bukan?"Aruna tidak menjawab. Ia hanya menatap lampu operasi di atasnya dengan mata yang kosong. Namun, di balik sarung tangan medis yang menempel di lehernya, Aruna bisa merasakan getaran dari anting-anting mutiaranya. Bram sedang melakukan sinkronisasi terakhir.Pesta kematian keluarga Vane akan segera dimulai, dan Aruna Ayudya siap menjadi konduktor bagi simfoni kehancuran yang akan membakar habis "The Nest"."Mulai proses integrasi," perintah Sheilla.Seketika, rasa sakit yang luar biasa kembali meledak di saraf kranial Aruna. Namun kali ini, ia tidak menjerit. Ia menyambut rasa sakit itu sebagai sinyal bahwa gerbang menuju inti pertahanan Sheilla telah terbuka lebar.***Lampu laboratorium di Sektor
Terakhir Diperbarui: 2026-01-09