Chapter: 176. Bahaya MengintaiKedua petugas itu terpaksa mundur selangkah karena tidak berani bertindak kasar pada kerabat pemilik rumah sakit.Anna menekan tombol lift dengan jari telunjuk yang bergetar menahan murka. Begitu pintu besi itu terbuka di lantai paling atas, Anna langsung melangkah keluar menuju ruang direktur utama.Ia mendorong paksa pintu kayu mahoni besar itu tanpa mengetuk sama sekali.Gebrakan pintu yang membentur dinding membuat asisten Barra terlonjak kaget dari kursinya.Namun Barra tidak menunjukkan reaksi apa pun.Perlahan, ia mengangkat wajah dari layar komputer dan mengarahkan tatapannya kepada orang di hadapannya.Wajahnya tetap tanpa ekspresi."Beraninya kamu mempermalukan putriku di depan seluruh staf!"Telunjuk Anna hampir menyentuh wajah Barra.Dadanya naik turun, berusaha mengendalikan amarah yang sudah meluap."Kayla adalah putri dari keluarga Ardana. Dia bukan orang yang bisa kau suruh melakukan pekerjaan rendahan!"Barra menyandarkan punggungnya perlahan ke kursi kerja.Raut waja
Last Updated: 2026-07-31
Chapter: 175. Datang Dengan Amarah"Kau dengar perintahku, Kayla?" desak Barra. Kali ini suaranya terdengar lebih tegas.Kayla menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan gejolak emosi yang memenuhi dadanya.Setelah beberapa detik terdiam, ia akhirnya berjongkok dengan gerakan kaku.Di bawah tatapan seluruh rekan kerjanya, ia mulai memunguti berkas-berkas yang berserakan di lantai.Dengan gerakan kaku, Kayla memunguti satu per satu berkas rekam medis yang berserakan.Ia sama sekali tidak berani menatap orang-orang di sekitarnya.Bisik-bisik pelan yang mulai terdengar dari berbagai sudut ruangan membuat wajahnya semakin memerah.Begitu berkas terakhir berhasil diambil, Kayla berdiri kembali dan memeluk tumpukan dokumen itu erat, seolah ingin menyembunyikan dirinya dari tatapan semua orang."Bagus," ucap Barra datar."Kalau menurutmu tugas dasar terlalu sepele, berarti kau masih punya banyak waktu untuk belajar."Barra menoleh ke arah Kepala Divisi."Siapkan seluruh berkas yang harus diarsipkan hari ini. Mulai sekarang, s
Last Updated: 2026-07-31
Chapter: 174. Harga Untuk ArogansiSuara Andra terdengar serius dari seberang telepon. "Dokter Barra, ada masalah di rumah sakit."Barra mengernyit."Kayla baru saja memanfaatkan nama Anda untuk menekan beberapa staf administrasi dan humas yang lain. Dia juga memerintahkan mereka mengubah data yang bukan menjadi wewenangnya."Rahang Barra langsung mengeras.Keesokan paginya, Barra melangkah cepat menuju Divisi Administrasi Medika Utama.Rahangnya mengeras. Tatapannya lurus ke depan tanpa melirik ke arah staf yang menyingkir memberi jalan.Bunyi pintu yang terbuka keras memecah suasana ruangan.Seluruh staf refleks menoleh ke arah pintu.Barra masuk dengan langkah mantap. Tatapannya yang tajam membuat ruangan seketika diliputi keheningan.Bunyi langkah sepatu pantofel Barra menggema di atas, membuat suasana ruangan yang semula ramai mendadak hening.Para staf refleks menundukkan kepala saat melihat Direktur Utama melangkah masuk.Di sudut ruangan, tepat di dekat meja administrasi, Kayla masih berdiri dengan dagu terangk
Last Updated: 2026-07-31
Chapter: 173. Terbongkar"Tampilkan rekaman CCTV. Sekarang."Suara Barra yang rendah dan tegas memecah keheningan ruang kontrol keamanan di lantai dasar apartemen.Ia berdiri di depan meja pengawas dengan tatapan tajam mengarah kepada petugas yang berjaga.Seluruh ruangan mendadak sunyi. Beberapa petugas saling berpandangan sebelum salah seorang dari mereka buru-buru mengoperasikan komputer.Napas Barra masih belum sepenuhnya teratur setelah bergegas pulang ke apartemen karena telepon dari Rachel.Wajahnya tetap tenang, tetapi rahangnya yang mengeras membuat siapa pun enggan menatapnya terlalu lama.Petugas keamanan di hadapannya menelan ludah. Jemarinya bergerak cepat di atas keyboard, tak berani membuat Barra menunggu lebih lama.Rachel duduk di salah satu sofa ruang kontrol. Kedua tangannya saling menggenggam erat di atas pangkuan, berusaha menenangkan diri.Sesekali ia melirik Barra yang berdiri membelakanginya di depan deretan monitor.Rahang pria itu masih mengeras.Tanpa perlu mengucapkan sepatah kata p
Last Updated: 2026-07-30
Chapter: 172. Ancaman"Garry... Garry ada di depan pintu unit apartemen kita," lapor Rachel. Suaranya tercekat di tenggorokan.Gedoran di luar pintu semakin keras disusul suara hantaman tubuh yang menubruk daun pintu.Rachel menutup mulutnya dengan sebelah tangan untuk meredam isak tangis panik yang mendesak tenggorokan."Dia menggedor pintu dan mengaku masuk lewat bantuan orang dalam," lanjut Rachel gemetar.Sambungan telepon mendadak berubah hening selama satu detik penuh. Namun Rachel bisa mendengar suara decitan ban mobil yang berputar kencang di ujung telepon. Barra pasti sedang membanting stir kendaraannya untuk berputar balik menuju apartemen sekarang juga."Jangan buka pintu untuknya," perintah Barra dengan suara tegas penuh ancaman."Aku sedang dalam perjalanan pulang sekarang. Aku tidak akan membiarkan dia menyentuhmu."Panggilan terputus otomatis menyisakan bunyi pip panjang di telinga Rachel.Ia berdiri mematung di tengah ruang tengah dengan ponsel masih tergenggam erat di tangan.Suara hantama
Last Updated: 2026-07-30
Chapter: 171. Di Balik PintuBAB 171Di seberang sana, Barra terdiam sesaat untuk meredam amarah yang mulai membakar dadanya.Pria itu merenggangkan dasi di lehernya dengan satu tangan kasar."Kamu tidak terluka kan?" tanya Barra memastikan kondisi istrinya."Sedikit pun tidak, Barra," jawab Rachel meyakinkan. “Kamu tidak perlu khawatir.”"Dia tidak akan bisa masuk. Keamanan apartemen kita terlalu ketat untuk orang seperti dia," lanjut Rachel, berharap Barra sedikit lebih tenang. "Bagus," sahut Barra datar. "Aku akan memastikan petugas keamanan tidak pernah mengizinkannya masuk ke gedung apartemen kita lagi." Rachel tersenyum tipis mendengar perhatian posesif dari suaminya. "Jangan terlalu emosi, aku sudah aman di dalam apartemen," ujar Rachel lembut."Kamu sendiri kapan selesai dengan urusan di kantor?""Sebentar lagi selesai," jawab Barra. "Aku akan langsung pulang menemuimu."Sambungan telepon terputus setelah mereka saling mengucapkan salam perpisahan.Rachel meletakkan ponselnya di atas meja makan lalu mela
Last Updated: 2026-07-30
Chapter: 191.Evan bahkan butuh beberapa detik hanya untuk memproses arti dari kalimat yang baru saja disampaikan Albert. "Kau pasti sedang membawakan lelucon konyol untuk menguji fokus batinku, Albert," ucap Evan dengan rahang yang menegang. "Aku tidak berniat membuat lelucon tentang nama mendiang Luna Diana, Evan," balas Albert dengan sorot mata yang memancarkan kejujuran mutlak. "Kau benar-benar pernah menyimpan rasa cinta kepada sosok Luna Diana?" tanya Evan lagi, mencari kepastian dari ekspresi wajah lawan bicaranya. "Aku sudah menyimpan perasaan itu sejak kami berdua masih sangat muda di lingkungan klan Utara ini," aku Albert, membuka lembaran rahasianya. Evan menatap wajah tua Albert dengan pandangan yang dipenuhi rasa tidak percaya. "Dan kau memilih untuk tidak pernah mengatakannya sampai dia wafat?" Albert mengulas senyuman tipis yang sangat teduh. "Sebab aku tahu tidak semua bentuk rasa cinta yang suci harus selalu berakhir dengan kepemilikan." Kalimat itu seketika membuat napas di
Last Updated: 2026-06-08
Chapter: 190.Elara menoleh sedikit dan menatap Joseph dengan penuh tanya. "Terima kasih untuk apa, Joseph?" Pria itu terdiam sejenak. Alih-alih menjawab, ia mengarahkan pandangannya ke lembah mawar perak yang terbentang di depan mereka. Joseph menatap hamparan mawar yang membentang luas, rumah kayu kecil mereka yang hangat, dan langit senja yang berwarna keemasan. Dulu, ia tidak pernah berani membayangkan kehidupan setenang ini. "Terima kasih karena memilih untuk tetap bersamaku setelah semua yang kita lalui," ujar Joseph. Ada getaran halus dalam suaranya yang membuat setiap kata terdengar begitu tulus. Mendengar kata-kata itu, kehangatan langsung memenuhi dada Elara. Ucapan sederhana tersebut terasa begitu berarti karena berasal dari pria yang paling ia cintai. "Joseph," bisik Elara dengan mata yang mulai berkaca-kaca menahan haru, ia merapatkan posisi kepalanya untuk bersandar pada permukaan dada bidang milik suaminya yang kokoh. "Ada masa ketika aku yakin hidupku hanya akan berputar di
Last Updated: 2026-06-08
Chapter: 189.Sentuhan tangan itu merasakan adanya sebuah tanda kehidupan kecil dari keturunan darah klan yang sedang tumbuh aktif di dalam rahimnya. Seluruh pasang mata Elara seketika langsung berubah menjadi terasa menghangat meresap.Kadang di dalam keheningan sore, ia masih merasa sedikit sulit untuk mempercayai seluruh kenyataan manis yang sedang ia jalani saat ini. Setelah melewati seluruh rentetan peperangan klan yang berdarah dan intriknya. Setelah dipaksa merasakan seluruh bentuk kehilangan orang-orang yang dicintai, dan seluruh luka batin masa lalu yang sempat menyiksa jiwanya. Kini takdir abadi justru memilih untuk menghadiahkan sebuah kehidupan baru yang suci.Tanda mawar perak yang melingkar di kulit leher jenjang Elara tampak mulai memendar dengan lembut di bawah temaram cahaya senja. Tanda suci tersebut seperti sedang ikut bergerak bersama merasakan seluruh letupan kebahagiaan sejati yang saat ini sedang memenuhi ruang hati milik sang Luna baru. Elara memejamkan kedua matanya ses
Last Updated: 2026-06-07
Chapter: 188.Joseph menatap lekat ke dalam sepasang mata cokelat milik sahabatnya. "Apakah kau merasa sudah berhasil memimpin klan dengan caramu?""Ya, aku sudah berhasil melakukannya dengan sangat baik," jawab Evan dengan nada suara yang terdengar sangat sederhana namun sarat keyakinan.Untuk pertama kalinya sejak hari pertama ia memutuskan untuk menyerahkan takhta kekuasaan klan, Joseph tampak benar-benar merasa puas. Ia lega mendengarkan seluruh tingkat kepastian dari mulut Evan.Elara terus memperhatikan sosok sahabat terbaik mereka tersebut secara diam-diam dari arah sudut meja kayu dengan perasaan hangat. Dulu ia sempat menyimpan sebuah rasa kekhawatiran yang sangat besar.Ia sempat khawatir jika Evan akan menghabiskan seluruh sisa hidupnya hanya untuk memenuhi kepentingan dan kebahagiaan orang lain. Pria itu selalu menempatkan posisi dirinya sendiri di urutan paling terakhir.Namun sekarang, seluruh rasa kekhawatiran yang sempat mengganggu pikiran Elara perlahan-lahan mulai menghilang sep
Last Updated: 2026-06-07
Chapter: 187.Joseph menyipitkan sepasang mata emas gelapnya menatap interaksi akrab di depan matanya dengan pandangan menginterogasi. "Kenapa aku merasa kau terlihat jauh lebih bersemangat untuk menemui Elara daripada menyapa kami?"Albert membalas tatapan curiga dari mantan Alpha WarcliffWarcliff itu dengan raut wajah yang sama sekali tidak merasa bersalah. "Karena hanya Elara saja yang bisa menghargai seluruh dedikasiku terhadap dunia herbal.""Itu bukan jawaban atas pertanyaanku, Albert." sahut Joseph ketus."Tapi itu adalah bentuk jawaban yang akan tetap kupakai sampai kapan pun untuk menghadapi protesmu," balas Albert tidak mau kalah.Elara kembali tertawa lepas mendengar jawaban polos dari Albert, meredakan seluruh ketegangan yang sempat tercipta. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, halaman rumah mereka dipenuhi suara tawa.Menjelang waktu siang hari tiba, mereka berempat memutuskan untuk menikmati makan bersama di bawah naungan pohon besar. Pohon rindang itu tumbuh kokoh tidak jau
Last Updated: 2026-06-07
Chapter: 186."Joseph, berhenti mengucapkan kalimat manis seperti itu di tempat terbuka," protes Elara dengan nada suara yang terdengar lemah karena ia sendiri tidak bisa menahan senyumnya.Joseph tertawa pelan mendengar protes kecil dari istrinya, ia menaikkan telapak tangan besarnya untuk menyentuh permukaan kulit pipi Elara dengan seleruh kelembutan yang ia miliki.Di dalam sentuhan tangan Joseph kali ini, sudah tidak ada lagi bentuk luapan gairah liar yang menuntut hak kepemilikan seperti saat mereka masih dikejar oleh ancaman musuh.Tak ada lagi keadaan mendesak yang mengharuskan mereka segera berpindah tempat. Yang tersisa di dalam sentuhan tangan Joseph hanyalah sebuah rasa syukur.Sebuah rasa syukur yang amat besar dan mendalam yang bahkan terasa sangat sulit untuk diungkapkan dengan menggunakan rangkaian kata-kata manusia biasa oleh sang mantan Alpha.Mereka berdua merasa sangat bersyukur karena telah berhasil untuk melangkah bersama sampai sejauh ini, melewati seluruh rangkaian konspirasi
Last Updated: 2026-06-06
Chapter: Ucapan Terima kasihTerima kasih, Pembaca Setia! Kisah Jessie dan Jacob ini tidak akan pernah sampai ke bab terakhir tanpa dukungan luar biasa dari kalian semua. Menulis kisah Jacob yang dingin namun penuh pengorbanan, serta Jessie yang tangguh, adalah perjalanan emosional yang luar biasa bagi saya.Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada para pembaca yang telah mengirimkan GEM, Koin, dan Hadiah (Gifts). Setiap apresiasi yang kalian berikan bukan sekadar materi bagi saya, melainkan bentuk penghargaan yang membuat saya merasa karya ini sangat dihargai. Terima kasih telah menjadi "bahan bakar" saya untuk terus berkarya.Untuk Tim Editor dan Pihak GoodNovelTerima kasih kepada pihak
Last Updated: 2026-04-21
Chapter: BAB 456.Jessie tertegun. Ia tidak pernah menyangka bahwa akar cinta Jacob sudah tertanam sedalam itu, jauh sebelum mereka dipertemukan kembali sebagai dua orang dewasa yang masing-masing membawa luka."Selama aku di luar negeri, aku selalu mencari informasi tentang kamu. Saat ada berita kamu bertunangan dengan Daniel, aku benar-benar pasrah dan merasa kalah," lanjut Jacob."Lalu kenapa kamu pulang?" tanya Jessie penasaran."Saat kamu akan menikah dengan Daniel, Nenek memaksaku pulang. Aku tidak mau kembali ke rumah Sanjaya karena…” kalimat Jacob menggantung di udara.“Kamu tahulah… Karena rasa trauma tempat Hadi mendorong Papaku hingga meninggal tepat di depan mataku. Jadi aku memilih menginap di hotel."Jac
Last Updated: 2026-04-21
Chapter: BAB 455."Terima kasih sudah bertahan bersamaku melewati semua badai itu, Jess," ucap Jacob tulus. Ia mencium pelipis istrinya dengan penuh perasaan cinta.Jessie memegang tangan Jacob yang besar dan hangat. "Kita melewatinya bersama-sama. Dan kita akan terus seperti ini sampai mereka dewasa nanti."Acara puncak dimulai saat Andi membantu menyalakan lilin berbentuk angka satu di atas kue tart bertingkat tiga yang sangat indah itu."Ayo semuanya berkumpul! Jason, Jasmine, waktunya tiup lilin!" seru Nenek Sari dengan penuh semangat sambil menggendong Jasmine mendekat.Jacob mengangkat Jason, sementara Jessie berdiri di sampingnya. Semua staf rumah dan keluarga melingkar mengelilingi meja bundar besar itu.Mereka menyanyikan lagu ulang t
Last Updated: 2026-04-21
Chapter: BAB 454.Jacob menatap ke arah taman, di mana Jessie sedang duduk di rumput bersama Jason yang sedang mencoba tengkurap sendiri."Aku hanya sedang mencoba menjadi manusia yang lebih baik, Nek. Ternyata rasanya jauh lebih nikmat daripada menang di lantai bursa saham," jawab Jacob jujur.Kebahagiaan sederhana seperti melihat tawa bayinya kini menjadi pencapaian tertinggi bagi Jacob Sanjaya. Ia telah menemukan arti hidup yang sesungguhnya.Masa lalu yang penuh darah dan dendam kini benar-benar telah terkubur di bawah nisan orang tuanya pagi tadi. Hari ini adalah awal dari babak baru.Jacob berjalan mendekati Jessie dan ikut duduk di atas rumput. Ia membiarkan Jason menarik-narik ujung kemeja mahalnya dengan tangan mungilnya."Jason seper
Last Updated: 2026-04-21
Chapter: BAB 453."Aku tidak akan membiarkan anak-anak kita hidup dalam bayang-bayang dendam seperti aku dulu. Mereka akan tumbuh dalam cinta yang utuh," janji Jacob pelan.Ia mencium nisan kedua orang tuanya satu per satu sebagai tanda pamit. Jacob merasa beban berat yang selama belasan tahun ini ia panggul, akhirnya luruh di tempat ini.Setelah dari pemakaman, Jacob tidak langsung kembali ke rumah. Ia meminta Andi untuk menemuinya di ruang kerja utama di gedung pusat Seven Heaven.Lantai teratas gedung pencakar langit itu tampak sangat sibuk seperti biasa. Namun, Jacob masuk dengan suasana hati yang jauh lebih santai, tidak lagi memancarkan ketegangan yang mencekik.Andi sudah menunggu di depan meja kerja besar milik Jacob. Ia berdiri tegak dengan sikap profesional yang tidak pernah berubah selama bertahun-tahun."Anda memanggil saya, Tuan?" tanya Andi sambil menyiapkan berkas laporan mingguan yang biasanya harus diperiksa Jacob secara detail.Jacob tidak langsung duduk di kursinya. Ia berjalan menu
Last Updated: 2026-04-20
Chapter: BAB 452.Kakek Bambang menggeleng sambil tertawa. "Aku ingin tinggal di rumah lama Wijaya, Jacob. Tapi aku akan sering datang ke sini untuk mengganggu cicitku.""Tapi Jason dan Jasmine butuh bimbingan dari kakek buyutnya agar tidak senakal papanya nanti," canda Jessie yang membuat semua orang di ruangan itu tertawa.Suasana sore itu terasa sangat ringan. Tidak ada lagi ketegangan bisnis atau laporan ancaman yang masuk ke ponsel Jacob.Jacob sengaja mematikan notifikasi pekerjaannya. Ia ingin memberikan perhatian penuh pada Kakek Bambang yang baru saja kembali dari perjuangan medisnya."Bagaimana dengan Daniel dan ibunya? Apa mereka benar-benar sudah tidak bisa menyentuh kita lagi?" tanya Kakek Bambang dengan nada serius.Wajah Jacob kembali menjadi kaku sejenak, namun sorot matanya tetap tenang. "Semua sudah selesai, Kek. Diana sudah mendapatkan hukuman seumur hidup.""Daniel juga sudah berada di fasilitas rehabilitasi yang sangat terpencil. Aku akan memastikan, mereka tidak akan pernah muncul
Last Updated: 2026-04-20
Chapter: BAB 263Angin laut menampar wajah mereka, dingin tapi nyata. Tidak ada kiasan romantis, tidak ada penebusan instan. Hanya kenyataan: mereka selamat, tapi harga yang dibayar sangat tinggi. Julian mati, Sheilla masih hidup, dan The Nest mulai runtuh secara perlahan.Aruna menatap Leonardi, matanya datar tapi tajam. “Kita lanjutkan ini sampai selesai. Tidak ada yang tersisa untuk mereka, tidak ada kompromi.”Leonardi menoleh padanya. “Setuju. Tapi kita lakukan ini dengan rencana. Kita tidak bisa gegabah.”Aruna mengangguk lagi. Tubuhnya lelah, tapi pikirannya siap. Mereka tidak lagi menjadi pion. Mereka adalah ancaman.Di kejauhan, pulau The Nest mulai membakar puing-puingnya sendiri akibat ledakan terakhir Julian dan sabotase sistem. Asap hitam dan api menyelimuti fasilitas itu. Mereka selamat, tapi bukan tanpa kerugian. Ini adalah kemenangan yang pahit. Kehilangan Julian, trauma yang menempel, tapi dengan satu hal yang jelas: mereka masih hidup, dan Sheilla akan membayar.Dan untuk pertama kal
Last Updated: 2026-01-10
Chapter: BAB 262“Aku tidak pernah tahu cara mencintai tanpa mengurung,” ucapnya pelan, seolah Aruna bisa mendengar. “Aku kira dengan menahanmu di sini, aku bisa membuat dunia berhenti melukaimu.”Napasnya tersendat. Dadanya terasa sesak, tapi tidak menyakitkan. Lebih seperti kelelahan yang akhirnya mencapai batas.“Aku salah.”Panel di depannya menunjukkan hitungan mundur penghancuran total. Dua menit tersisa.Julian membuka mata untuk terakhir kalinya. Ia menatap ruang kendali yang selama bertahun-tahun menjadi pusat kekuasaannya, ruang di mana ia membuat keputusan yang menghancurkan hidup banyak orang, termasuk dirinya sendiri.Untuk pertama kalinya, ia tidak mencoba menyelamatkan apa pun.Ia membiarkan sistem berjalan sesuai rancangan.“Untuk pertama kalinya dalam hidupku,” gumamnya lirih, “aku tidak mengurung apa pun.”Lampu padam satu per satu. Alarm berhenti. Keheningan menyelimuti ruang pusat sepenuhnya.Beberapa detik kemudian, ledakan dari sektor luar mengguncang struktur The Nest. Ruang ken
Last Updated: 2026-01-10
Chapter: BAB 261Leonardi menatap Julian dengan muak. Baginya, Julian adalah pria yang telah mencuri Aruna dan menyiksanya. Namun, ia juga melihat nilai strategis dari informasi tersebut. Selain itu, ia melihat bagaimana Aruna menatap Julian, bukan dengan cinta, melainkan dengan rasa kemanusiaan yang tersisa."Kita tidak punya banyak waktu. Pasukan keamanan Sheilla akan segera mengepung sektor ini," kata Leonardi. Ia memandang Julian yang tampak pasrah pada kematian. "Jika dia ingin hidup, dia harus merangkak sendiri."Tiba-tiba, suara Sheilla menggema melalui pengeras suara laboratorium. "Kalian pikir kalian sudah menang? Aku telah mengaktifkan protokol pembersihan diri. Dalam sepuluh menit, seluruh Sektor Pusat akan diisi dengan gas saraf. Nikmatilah saat-saat terakhir kalian bersama."Leonardi mengumpat. Ia tahu Sheilla tidak main-main. Ia segera menggendong Aruna dengan satu lengan dan menyampirkan senjatanya di lengan lain. "Kita pergi sekarang!"Aruna menatap Julian untuk terakhir kalinya saat L
Last Updated: 2026-01-10
Chapter: BAB 260Namun Julian terus memaksakan dirinya. Ia lebih baik mati dan menghancurkan seluruh laboratorium ini daripada melihat kakaknya menyakiti Aruna lagi. Di tengah kepulan asap dan suara alarm yang memekakkan telinga, Aruna merasakan sinyal Leonardi kini sudah berada tepat di bawah struktur bangunan laboratorium.Leonardi sudah di sini.Aruna menatap Sheilla yang mulai panik. "Ini sudah berakhir, Sheilla. Kau meremehkan apa yang bisa dilakukan oleh orang-orang yang telah kau rampas kemanusiaannya."Tiba-tiba, seluruh lampu di laboratorium mati total. Keheningan sesaat yang mencekam terjadi sebelum suara ledakan besar terdengar dari pintu akses darurat. Di tengah kegelapan, Aruna tahu bahwa sang predator yang sesungguhnya telah kembali untuk menuntut balas.Pintu laboratorium terlempar dari engselnya. Di tengah asap dan cahaya merah lampu darurat, sesosok pria berdiri dengan senjata laras panjang. Namun, sebelum Leonardi bisa melangkah masuk, Julian memberikan satu kejutan terakhir; ia mem
Last Updated: 2026-01-09
Chapter: BAB 259Ruang laboratorium utama kini dipenuhi oleh dengung mesin yang semakin meninggi. Aruna tetap terbaring di meja operasi, namun matanya tidak lagi kosong. Penjelasan Sheilla tentang rekayasa genetiknya bukan hanya menghancurkan mental Aruna, tetapi juga memberikan pemahaman baru tentang bagaimana sistem di kepalanya bekerja. Jika ia adalah bagian dari desain Vane, maka ia adalah pemilik otoritas tertinggi atas sistem tersebut, bukan Sheilla.Sheilla berdiri di depan monitor pusat, jemarinya bergerak cepat memasukkan perintah ekstraksi data. Ia begitu percaya diri karena menganggap Aruna sudah hancur total dan Julian hanyalah raga yang tidak berdaya. Sheilla tidak menyadari bahwa pengakuannya tentang asal-usul Aruna telah menyatukan dua jiwa yang selama ini ia adu domba.Di samping Aruna, Julian masih terengah di dalam tabung kaca. Monitor biometriknya menunjukkan grafik yang sangat tidak stabil. Pengakuan Sheilla bahwa cintanya pada Aruna hanyalah hasil rancangan ayahnya telah mengha
Last Updated: 2026-01-09
Chapter: BAB 258Maafkan aku, Julian, batin Aruna pahit. Kau harus tetap menjadi korban agar aku bisa menjadi pemenang.Sheilla mulai memasangkan kabel-kabel baru ke belakang telinga Aruna. "Ini akan sedikit menyakitkan, Aruna. Tapi kau tidak akan merasakannya karena kau sudah tidak ada lagi di sana, bukan?"Aruna tidak menjawab. Ia hanya menatap lampu operasi di atasnya dengan mata yang kosong. Namun, di balik sarung tangan medis yang menempel di lehernya, Aruna bisa merasakan getaran dari anting-anting mutiaranya. Bram sedang melakukan sinkronisasi terakhir.Pesta kematian keluarga Vane akan segera dimulai, dan Aruna Ayudya siap menjadi konduktor bagi simfoni kehancuran yang akan membakar habis "The Nest"."Mulai proses integrasi," perintah Sheilla.Seketika, rasa sakit yang luar biasa kembali meledak di saraf kranial Aruna. Namun kali ini, ia tidak menjerit. Ia menyambut rasa sakit itu sebagai sinyal bahwa gerbang menuju inti pertahanan Sheilla telah terbuka lebar.***Lampu laboratorium di Sektor
Last Updated: 2026-01-09