Chapter: Ucapan Terima kasihTerima kasih, Pembaca Setia! Kisah Jessie dan Jacob ini tidak akan pernah sampai ke bab terakhir tanpa dukungan luar biasa dari kalian semua. Menulis kisah Jacob yang dingin namun penuh pengorbanan, serta Jessie yang tangguh, adalah perjalanan emosional yang luar biasa bagi saya.Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada para pembaca yang telah mengirimkan GEM, Koin, dan Hadiah (Gifts). Setiap apresiasi yang kalian berikan bukan sekadar materi bagi saya, melainkan bentuk penghargaan yang membuat saya merasa karya ini sangat dihargai. Terima kasih telah menjadi "bahan bakar" saya untuk terus berkarya.Untuk Tim Editor dan Pihak GoodNovelTerima kasih kepada pihak
Terakhir Diperbarui: 2026-04-21
Chapter: BAB 456.Jessie tertegun. Ia tidak pernah menyangka bahwa akar cinta Jacob sudah tertanam sedalam itu, jauh sebelum mereka dipertemukan kembali sebagai dua orang dewasa yang masing-masing membawa luka."Selama aku di luar negeri, aku selalu mencari informasi tentang kamu. Saat ada berita kamu bertunangan dengan Daniel, aku benar-benar pasrah dan merasa kalah," lanjut Jacob."Lalu kenapa kamu pulang?" tanya Jessie penasaran."Saat kamu akan menikah dengan Daniel, Nenek memaksaku pulang. Aku tidak mau kembali ke rumah Sanjaya karena…” kalimat Jacob menggantung di udara.“Kamu tahulah… Karena rasa trauma tempat Hadi mendorong Papaku hingga meninggal tepat di depan mataku. Jadi aku memilih menginap di hotel."Jac
Terakhir Diperbarui: 2026-04-21
Chapter: BAB 455."Terima kasih sudah bertahan bersamaku melewati semua badai itu, Jess," ucap Jacob tulus. Ia mencium pelipis istrinya dengan penuh perasaan cinta.Jessie memegang tangan Jacob yang besar dan hangat. "Kita melewatinya bersama-sama. Dan kita akan terus seperti ini sampai mereka dewasa nanti."Acara puncak dimulai saat Andi membantu menyalakan lilin berbentuk angka satu di atas kue tart bertingkat tiga yang sangat indah itu."Ayo semuanya berkumpul! Jason, Jasmine, waktunya tiup lilin!" seru Nenek Sari dengan penuh semangat sambil menggendong Jasmine mendekat.Jacob mengangkat Jason, sementara Jessie berdiri di sampingnya. Semua staf rumah dan keluarga melingkar mengelilingi meja bundar besar itu.Mereka menyanyikan lagu ulang t
Terakhir Diperbarui: 2026-04-21
Chapter: BAB 454.Jacob menatap ke arah taman, di mana Jessie sedang duduk di rumput bersama Jason yang sedang mencoba tengkurap sendiri."Aku hanya sedang mencoba menjadi manusia yang lebih baik, Nek. Ternyata rasanya jauh lebih nikmat daripada menang di lantai bursa saham," jawab Jacob jujur.Kebahagiaan sederhana seperti melihat tawa bayinya kini menjadi pencapaian tertinggi bagi Jacob Sanjaya. Ia telah menemukan arti hidup yang sesungguhnya.Masa lalu yang penuh darah dan dendam kini benar-benar telah terkubur di bawah nisan orang tuanya pagi tadi. Hari ini adalah awal dari babak baru.Jacob berjalan mendekati Jessie dan ikut duduk di atas rumput. Ia membiarkan Jason menarik-narik ujung kemeja mahalnya dengan tangan mungilnya."Jason seper
Terakhir Diperbarui: 2026-04-21
Chapter: BAB 453."Aku tidak akan membiarkan anak-anak kita hidup dalam bayang-bayang dendam seperti aku dulu. Mereka akan tumbuh dalam cinta yang utuh," janji Jacob pelan.Ia mencium nisan kedua orang tuanya satu per satu sebagai tanda pamit. Jacob merasa beban berat yang selama belasan tahun ini ia panggul, akhirnya luruh di tempat ini.Setelah dari pemakaman, Jacob tidak langsung kembali ke rumah. Ia meminta Andi untuk menemuinya di ruang kerja utama di gedung pusat Seven Heaven.Lantai teratas gedung pencakar langit itu tampak sangat sibuk seperti biasa. Namun, Jacob masuk dengan suasana hati yang jauh lebih santai, tidak lagi memancarkan ketegangan yang mencekik.Andi sudah menunggu di depan meja kerja besar milik Jacob. Ia berdiri tegak dengan sikap profesional yang tidak pernah berubah selama bertahun-tahun."Anda memanggil saya, Tuan?" tanya Andi sambil menyiapkan berkas laporan mingguan yang biasanya harus diperiksa Jacob secara detail.Jacob tidak langsung duduk di kursinya. Ia berjalan menu
Terakhir Diperbarui: 2026-04-20
Chapter: BAB 452.Kakek Bambang menggeleng sambil tertawa. "Aku ingin tinggal di rumah lama Wijaya, Jacob. Tapi aku akan sering datang ke sini untuk mengganggu cicitku.""Tapi Jason dan Jasmine butuh bimbingan dari kakek buyutnya agar tidak senakal papanya nanti," canda Jessie yang membuat semua orang di ruangan itu tertawa.Suasana sore itu terasa sangat ringan. Tidak ada lagi ketegangan bisnis atau laporan ancaman yang masuk ke ponsel Jacob.Jacob sengaja mematikan notifikasi pekerjaannya. Ia ingin memberikan perhatian penuh pada Kakek Bambang yang baru saja kembali dari perjuangan medisnya."Bagaimana dengan Daniel dan ibunya? Apa mereka benar-benar sudah tidak bisa menyentuh kita lagi?" tanya Kakek Bambang dengan nada serius.Wajah Jacob kembali menjadi kaku sejenak, namun sorot matanya tetap tenang. "Semua sudah selesai, Kek. Diana sudah mendapatkan hukuman seumur hidup.""Daniel juga sudah berada di fasilitas rehabilitasi yang sangat terpencil. Aku akan memastikan, mereka tidak akan pernah muncul
Terakhir Diperbarui: 2026-04-20
Chapter: 48. Pahlawan atau Pengkhianat?Rachel berdiri dari kursinya, merapikan letak jas putihnya dengan tenang tanpa menunjukkan gurat ketakutan di hadapan puluhan pasang mata yang kini mengintip dari koridor. Ia tetap tegap berdiri, siap menghadapi badai baru yang sengaja ditiupkan oleh kelicikan tim humas tersebut.Dari ujung lorong sepi blok B, derap langkah sepatu formal milik beberapa petugas keamanan mulai terdengar mendekat dengan ritme yang cepat dan teratur.Derap langkah tiga orang petugas keamanan seketika berhenti tepat di belakang tubuh pria berjaket denim itu. Sebelum mereka sempat menyentuh lengan sang pasien, bayangan tubuh tinggi Barra sudah muncul di ambang pintu ruang praktik.Kehadiran Barra membuat pria yang berteriak itu mendadak bungkam, menurunkannya telunjuknya yang tadi terarah lurus pada wajah Rachel. Barra melangkah masuk dengan tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana, menatap dingin ke arah lembar kertas somasi di atas meja."Amankan dia ke ruang pengaduan sekarang," perintah Barra kepa
Terakhir Diperbarui: 2026-06-13
Chapter: 47. Serangan Pihak KetigaSinar matahari pagi menembus celah gorden ruang praktik Rawat Jalan hingga menciptakan garis-garis cahaya di atas meja kerja Rachel. Dokter spesialis bedah itu memeriksa barisan nama pada layar komputer, memastikan seluruh berkas riwayat pasien faskes pertama sudah terunduh sempurna.Di samping meja, Sita bergerak lincah merapikan tumpukan salinan resep obat dan menyiapkan stetoskop berselubung karet hitam. Pintu ruangan mulai terbuka secara teratur, menandakan pergantian antrean pasien yang datang silih berganti sejak pukul delapan pagi tadi.Rachel melayani setiap keluhan dengan saksama, memeriksa refleks saraf tepi, hingga membaca lembar hasil pemindaian CT-scan tanpa kehilangan fokus sedikit pun. Ketegangan yang sempat mewarnai koridor luar sehari sebelumnya telah menghilang. Kini, area itu kembali dipenuhi rutinitas yang berjalan sebagaimana mestinya.Jarum jam dinding sudah menunjuk ke angka sebelas lewat lima belas menit ketika Sita menekan tombol pemanggil untuk pasien nomo
Terakhir Diperbarui: 2026-06-13
Chapter: 46. Tamu Tak DiundangBarra mengangguk pendek sebagai tanda bahwa ia sudah merekam informasi tersebut di dalam memori kepalanya. Pria itu melangkah mundur satu kali, memberikan ruang bagi Rachel untuk membuka pintu mobil dan masuk ke dalam kabin kemudi."Masuk dan kunci pintunya," perintah Barra lagi, matanya mengawasi setiap pergerakan tangan Rachel yang sedang menyalakan mesin mobil.Rachel duduk di balik kemudi, memutar kunci kontak hingga mesin sedannya menderu halus memecah kesunyian blok C basemen. Ia melirik ke arah kaca spion samping, melihat Barra masih berdiri diam di tempat semula dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana.Pria itu tetap berdiri di sana di bawah temaram lampu neon, baru bergerak kembali setelah mobil Rachel melaju perlahan meninggalkan area parkir. Debaran tipis yang sempat muncul di dada Rachel perlahan memudar seiring dengan laju kendaraannya yang mulai membelah jalanan malam kota.Meski pernikahan kontrak tiga tahun ini tidak berlandaskan romansa, sikap Barra mal
Terakhir Diperbarui: 2026-06-12
Chapter: 45. Apartemen BaruRachel menghembuskan napas pendek, menepuk bahu asistennya dengan lembut untuk mengembalikan rasa percaya diri perawat muda tersebut. "Jadikan ini pelajaran, Sita. Lingkungan rumah sakit ini tidak seaman yang kamu bayangkan, jadi jaga ketat semua akses dokumen kita.""Baik, Dok. Saya berjanji hal seperti ini tidak akan pernah terulang kembali," sahut Sita tegas, mengunci tablet medisnya ke dalam laci meja.Rachel mengangguk, lalu berjalan masuk ke dalam ruang kerjanya yang sunyi untuk mengemas barang-barangnya sebelum bersiap pulang ke apartemen. Rencana licik Garry yang mulai bergerak secara diam-diam membuktikan bahwa pria itu tidak akan pernah berhenti mencari celah untuk menjatuhkannya.Namun, Rachel tahu dirinya harus tegas untuk menghadapi sikap manipulatif Garry. Ia tahu Garry tidak akan segan-segan melakukan trik licik untuk membuatnya kembali bertekuk lutut padanya.Langkah kaki Rachel bergema pelan di area basemen parkir blok C yang sunyi. Udara malam yang dingin langsung
Terakhir Diperbarui: 2026-06-12
Chapter: 44. Rencana BusukRachel berjalan lambat menyusuri koridor rumah sakit yang mulai sepi dari aktivitas kunjungan malam. Ia melepas penutup kepala medisnya, membiarkan rambut panjangnya terurai setelah tersimpan rapi selama dua jam di dalam ruang bedah.Langkah kaki Rachel melambat saat mendekati tikungan di dekat ruang kerjanya. Dari balik sekat lemari arsip beroda, terdengar sayup-sayup perpaduan suara pria dan wanita yang sedang terlibat percakapan serius.Rachel menghentikan gerakannya, berdiri diam di balik bayangan dinding untuk mendengarkan arah pembicaraan tersebut dengan saksama. Ia langsung mengenali intonasi suara berat milik Garry yang terdengar sangat ramah, jauh berbeda dari nada ketusnya tadi pagi."Sita, kamu pasti lelah sekali setelah mendampingi operasi besar hari ini," ujar Garry sambil menyodorkan satu cup kopi hangat ke depan meja administrasi.Sita menerima cup minuman itu dengan ragu-ragu, lalu menaruhnya di samping tumpukan map pasien rawat jalan. "Terima kasih, Pak Garry. Tuga
Terakhir Diperbarui: 2026-06-12
Chapter: 43. Detik-detik MendebarkanEntah bagaimana, kaki Rachel masih bisa melangkah dengan teratur. Ia mendorong pintu ruang kerjanya dan langsung menggantung jas dokter di dekat lemari. Ia duduk di kursi kerjanya, lalu membuka kembali map rekam medis pasien yang sempat tertunda karena keributan tadi. Jemarinya bergerak lincah di atas keyboard, memeriksa riwayat laboratorium pasien tanpa membuang waktu lagi.Sita masuk membawa nampan berisi teh hangat, lalu meletakkannya dengan pelan di sudut meja kerja Rachel. "Kondisi di luar sudah jauh lebih tenang, Dok. Pihak keamanan sudah membersihkan sisa keributan di lobi utama." bisik Sita pelan.Rachel hanya mengangguk tanpa mengalihkan pandangan dari layar komputer di hadapannya. Ia menyesap tehnya sedikit, merasakan kehangatan yang mulai menjalar di tenggorokannya yang terasa kering sejak pagi.Sita menghela napas panjang seraya merapikan tumpukan dokumen kosong di rak samping meja. "Tapi beberapa perawat di bangsal sebelah masih membicarakan kejadian tadi. Mereka bila
Terakhir Diperbarui: 2026-06-11
Chapter: BAB 263Angin laut menampar wajah mereka, dingin tapi nyata. Tidak ada kiasan romantis, tidak ada penebusan instan. Hanya kenyataan: mereka selamat, tapi harga yang dibayar sangat tinggi. Julian mati, Sheilla masih hidup, dan The Nest mulai runtuh secara perlahan.Aruna menatap Leonardi, matanya datar tapi tajam. “Kita lanjutkan ini sampai selesai. Tidak ada yang tersisa untuk mereka, tidak ada kompromi.”Leonardi menoleh padanya. “Setuju. Tapi kita lakukan ini dengan rencana. Kita tidak bisa gegabah.”Aruna mengangguk lagi. Tubuhnya lelah, tapi pikirannya siap. Mereka tidak lagi menjadi pion. Mereka adalah ancaman.Di kejauhan, pulau The Nest mulai membakar puing-puingnya sendiri akibat ledakan terakhir Julian dan sabotase sistem. Asap hitam dan api menyelimuti fasilitas itu. Mereka selamat, tapi bukan tanpa kerugian. Ini adalah kemenangan yang pahit. Kehilangan Julian, trauma yang menempel, tapi dengan satu hal yang jelas: mereka masih hidup, dan Sheilla akan membayar.Dan untuk pertama kal
Terakhir Diperbarui: 2026-01-10
Chapter: BAB 262“Aku tidak pernah tahu cara mencintai tanpa mengurung,” ucapnya pelan, seolah Aruna bisa mendengar. “Aku kira dengan menahanmu di sini, aku bisa membuat dunia berhenti melukaimu.”Napasnya tersendat. Dadanya terasa sesak, tapi tidak menyakitkan. Lebih seperti kelelahan yang akhirnya mencapai batas.“Aku salah.”Panel di depannya menunjukkan hitungan mundur penghancuran total. Dua menit tersisa.Julian membuka mata untuk terakhir kalinya. Ia menatap ruang kendali yang selama bertahun-tahun menjadi pusat kekuasaannya, ruang di mana ia membuat keputusan yang menghancurkan hidup banyak orang, termasuk dirinya sendiri.Untuk pertama kalinya, ia tidak mencoba menyelamatkan apa pun.Ia membiarkan sistem berjalan sesuai rancangan.“Untuk pertama kalinya dalam hidupku,” gumamnya lirih, “aku tidak mengurung apa pun.”Lampu padam satu per satu. Alarm berhenti. Keheningan menyelimuti ruang pusat sepenuhnya.Beberapa detik kemudian, ledakan dari sektor luar mengguncang struktur The Nest. Ruang ken
Terakhir Diperbarui: 2026-01-10
Chapter: BAB 261Leonardi menatap Julian dengan muak. Baginya, Julian adalah pria yang telah mencuri Aruna dan menyiksanya. Namun, ia juga melihat nilai strategis dari informasi tersebut. Selain itu, ia melihat bagaimana Aruna menatap Julian, bukan dengan cinta, melainkan dengan rasa kemanusiaan yang tersisa."Kita tidak punya banyak waktu. Pasukan keamanan Sheilla akan segera mengepung sektor ini," kata Leonardi. Ia memandang Julian yang tampak pasrah pada kematian. "Jika dia ingin hidup, dia harus merangkak sendiri."Tiba-tiba, suara Sheilla menggema melalui pengeras suara laboratorium. "Kalian pikir kalian sudah menang? Aku telah mengaktifkan protokol pembersihan diri. Dalam sepuluh menit, seluruh Sektor Pusat akan diisi dengan gas saraf. Nikmatilah saat-saat terakhir kalian bersama."Leonardi mengumpat. Ia tahu Sheilla tidak main-main. Ia segera menggendong Aruna dengan satu lengan dan menyampirkan senjatanya di lengan lain. "Kita pergi sekarang!"Aruna menatap Julian untuk terakhir kalinya saat L
Terakhir Diperbarui: 2026-01-10
Chapter: BAB 260Namun Julian terus memaksakan dirinya. Ia lebih baik mati dan menghancurkan seluruh laboratorium ini daripada melihat kakaknya menyakiti Aruna lagi. Di tengah kepulan asap dan suara alarm yang memekakkan telinga, Aruna merasakan sinyal Leonardi kini sudah berada tepat di bawah struktur bangunan laboratorium.Leonardi sudah di sini.Aruna menatap Sheilla yang mulai panik. "Ini sudah berakhir, Sheilla. Kau meremehkan apa yang bisa dilakukan oleh orang-orang yang telah kau rampas kemanusiaannya."Tiba-tiba, seluruh lampu di laboratorium mati total. Keheningan sesaat yang mencekam terjadi sebelum suara ledakan besar terdengar dari pintu akses darurat. Di tengah kegelapan, Aruna tahu bahwa sang predator yang sesungguhnya telah kembali untuk menuntut balas.Pintu laboratorium terlempar dari engselnya. Di tengah asap dan cahaya merah lampu darurat, sesosok pria berdiri dengan senjata laras panjang. Namun, sebelum Leonardi bisa melangkah masuk, Julian memberikan satu kejutan terakhir; ia mem
Terakhir Diperbarui: 2026-01-09
Chapter: BAB 259Ruang laboratorium utama kini dipenuhi oleh dengung mesin yang semakin meninggi. Aruna tetap terbaring di meja operasi, namun matanya tidak lagi kosong. Penjelasan Sheilla tentang rekayasa genetiknya bukan hanya menghancurkan mental Aruna, tetapi juga memberikan pemahaman baru tentang bagaimana sistem di kepalanya bekerja. Jika ia adalah bagian dari desain Vane, maka ia adalah pemilik otoritas tertinggi atas sistem tersebut, bukan Sheilla.Sheilla berdiri di depan monitor pusat, jemarinya bergerak cepat memasukkan perintah ekstraksi data. Ia begitu percaya diri karena menganggap Aruna sudah hancur total dan Julian hanyalah raga yang tidak berdaya. Sheilla tidak menyadari bahwa pengakuannya tentang asal-usul Aruna telah menyatukan dua jiwa yang selama ini ia adu domba.Di samping Aruna, Julian masih terengah di dalam tabung kaca. Monitor biometriknya menunjukkan grafik yang sangat tidak stabil. Pengakuan Sheilla bahwa cintanya pada Aruna hanyalah hasil rancangan ayahnya telah mengha
Terakhir Diperbarui: 2026-01-09
Chapter: BAB 258Maafkan aku, Julian, batin Aruna pahit. Kau harus tetap menjadi korban agar aku bisa menjadi pemenang.Sheilla mulai memasangkan kabel-kabel baru ke belakang telinga Aruna. "Ini akan sedikit menyakitkan, Aruna. Tapi kau tidak akan merasakannya karena kau sudah tidak ada lagi di sana, bukan?"Aruna tidak menjawab. Ia hanya menatap lampu operasi di atasnya dengan mata yang kosong. Namun, di balik sarung tangan medis yang menempel di lehernya, Aruna bisa merasakan getaran dari anting-anting mutiaranya. Bram sedang melakukan sinkronisasi terakhir.Pesta kematian keluarga Vane akan segera dimulai, dan Aruna Ayudya siap menjadi konduktor bagi simfoni kehancuran yang akan membakar habis "The Nest"."Mulai proses integrasi," perintah Sheilla.Seketika, rasa sakit yang luar biasa kembali meledak di saraf kranial Aruna. Namun kali ini, ia tidak menjerit. Ia menyambut rasa sakit itu sebagai sinyal bahwa gerbang menuju inti pertahanan Sheilla telah terbuka lebar.***Lampu laboratorium di Sektor
Terakhir Diperbarui: 2026-01-09
Chapter: 191.Evan bahkan butuh beberapa detik hanya untuk memproses arti dari kalimat yang baru saja disampaikan Albert. "Kau pasti sedang membawakan lelucon konyol untuk menguji fokus batinku, Albert," ucap Evan dengan rahang yang menegang. "Aku tidak berniat membuat lelucon tentang nama mendiang Luna Diana, Evan," balas Albert dengan sorot mata yang memancarkan kejujuran mutlak. "Kau benar-benar pernah menyimpan rasa cinta kepada sosok Luna Diana?" tanya Evan lagi, mencari kepastian dari ekspresi wajah lawan bicaranya. "Aku sudah menyimpan perasaan itu sejak kami berdua masih sangat muda di lingkungan klan Utara ini," aku Albert, membuka lembaran rahasianya. Evan menatap wajah tua Albert dengan pandangan yang dipenuhi rasa tidak percaya. "Dan kau memilih untuk tidak pernah mengatakannya sampai dia wafat?" Albert mengulas senyuman tipis yang sangat teduh. "Sebab aku tahu tidak semua bentuk rasa cinta yang suci harus selalu berakhir dengan kepemilikan." Kalimat itu seketika membuat napas di
Terakhir Diperbarui: 2026-06-08
Chapter: 190.Elara menoleh sedikit dan menatap Joseph dengan penuh tanya. "Terima kasih untuk apa, Joseph?" Pria itu terdiam sejenak. Alih-alih menjawab, ia mengarahkan pandangannya ke lembah mawar perak yang terbentang di depan mereka. Joseph menatap hamparan mawar yang membentang luas, rumah kayu kecil mereka yang hangat, dan langit senja yang berwarna keemasan. Dulu, ia tidak pernah berani membayangkan kehidupan setenang ini. "Terima kasih karena memilih untuk tetap bersamaku setelah semua yang kita lalui," ujar Joseph. Ada getaran halus dalam suaranya yang membuat setiap kata terdengar begitu tulus. Mendengar kata-kata itu, kehangatan langsung memenuhi dada Elara. Ucapan sederhana tersebut terasa begitu berarti karena berasal dari pria yang paling ia cintai. "Joseph," bisik Elara dengan mata yang mulai berkaca-kaca menahan haru, ia merapatkan posisi kepalanya untuk bersandar pada permukaan dada bidang milik suaminya yang kokoh. "Ada masa ketika aku yakin hidupku hanya akan berputar di
Terakhir Diperbarui: 2026-06-08
Chapter: 189.Sentuhan tangan itu merasakan adanya sebuah tanda kehidupan kecil dari keturunan darah klan yang sedang tumbuh aktif di dalam rahimnya. Seluruh pasang mata Elara seketika langsung berubah menjadi terasa menghangat meresap.Kadang di dalam keheningan sore, ia masih merasa sedikit sulit untuk mempercayai seluruh kenyataan manis yang sedang ia jalani saat ini. Setelah melewati seluruh rentetan peperangan klan yang berdarah dan intriknya. Setelah dipaksa merasakan seluruh bentuk kehilangan orang-orang yang dicintai, dan seluruh luka batin masa lalu yang sempat menyiksa jiwanya. Kini takdir abadi justru memilih untuk menghadiahkan sebuah kehidupan baru yang suci.Tanda mawar perak yang melingkar di kulit leher jenjang Elara tampak mulai memendar dengan lembut di bawah temaram cahaya senja. Tanda suci tersebut seperti sedang ikut bergerak bersama merasakan seluruh letupan kebahagiaan sejati yang saat ini sedang memenuhi ruang hati milik sang Luna baru. Elara memejamkan kedua matanya ses
Terakhir Diperbarui: 2026-06-07
Chapter: 188.Joseph menatap lekat ke dalam sepasang mata cokelat milik sahabatnya. "Apakah kau merasa sudah berhasil memimpin klan dengan caramu?""Ya, aku sudah berhasil melakukannya dengan sangat baik," jawab Evan dengan nada suara yang terdengar sangat sederhana namun sarat keyakinan.Untuk pertama kalinya sejak hari pertama ia memutuskan untuk menyerahkan takhta kekuasaan klan, Joseph tampak benar-benar merasa puas. Ia lega mendengarkan seluruh tingkat kepastian dari mulut Evan.Elara terus memperhatikan sosok sahabat terbaik mereka tersebut secara diam-diam dari arah sudut meja kayu dengan perasaan hangat. Dulu ia sempat menyimpan sebuah rasa kekhawatiran yang sangat besar.Ia sempat khawatir jika Evan akan menghabiskan seluruh sisa hidupnya hanya untuk memenuhi kepentingan dan kebahagiaan orang lain. Pria itu selalu menempatkan posisi dirinya sendiri di urutan paling terakhir.Namun sekarang, seluruh rasa kekhawatiran yang sempat mengganggu pikiran Elara perlahan-lahan mulai menghilang sep
Terakhir Diperbarui: 2026-06-07
Chapter: 187.Joseph menyipitkan sepasang mata emas gelapnya menatap interaksi akrab di depan matanya dengan pandangan menginterogasi. "Kenapa aku merasa kau terlihat jauh lebih bersemangat untuk menemui Elara daripada menyapa kami?"Albert membalas tatapan curiga dari mantan Alpha WarcliffWarcliff itu dengan raut wajah yang sama sekali tidak merasa bersalah. "Karena hanya Elara saja yang bisa menghargai seluruh dedikasiku terhadap dunia herbal.""Itu bukan jawaban atas pertanyaanku, Albert." sahut Joseph ketus."Tapi itu adalah bentuk jawaban yang akan tetap kupakai sampai kapan pun untuk menghadapi protesmu," balas Albert tidak mau kalah.Elara kembali tertawa lepas mendengar jawaban polos dari Albert, meredakan seluruh ketegangan yang sempat tercipta. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, halaman rumah mereka dipenuhi suara tawa.Menjelang waktu siang hari tiba, mereka berempat memutuskan untuk menikmati makan bersama di bawah naungan pohon besar. Pohon rindang itu tumbuh kokoh tidak jau
Terakhir Diperbarui: 2026-06-07
Chapter: 186."Joseph, berhenti mengucapkan kalimat manis seperti itu di tempat terbuka," protes Elara dengan nada suara yang terdengar lemah karena ia sendiri tidak bisa menahan senyumnya.Joseph tertawa pelan mendengar protes kecil dari istrinya, ia menaikkan telapak tangan besarnya untuk menyentuh permukaan kulit pipi Elara dengan seleruh kelembutan yang ia miliki.Di dalam sentuhan tangan Joseph kali ini, sudah tidak ada lagi bentuk luapan gairah liar yang menuntut hak kepemilikan seperti saat mereka masih dikejar oleh ancaman musuh.Tak ada lagi keadaan mendesak yang mengharuskan mereka segera berpindah tempat. Yang tersisa di dalam sentuhan tangan Joseph hanyalah sebuah rasa syukur.Sebuah rasa syukur yang amat besar dan mendalam yang bahkan terasa sangat sulit untuk diungkapkan dengan menggunakan rangkaian kata-kata manusia biasa oleh sang mantan Alpha.Mereka berdua merasa sangat bersyukur karena telah berhasil untuk melangkah bersama sampai sejauh ini, melewati seluruh rangkaian konspirasi
Terakhir Diperbarui: 2026-06-06