author-banner
Ey Senja Imah
Author

Novels by Ey Senja Imah

Fragmen di Bawah Hujan

Fragmen di Bawah Hujan

Hujan selalu menjadi saksi dari segala yang hilang — juga dari kata-kata yang tak sempat diucapkan. Nara, seorang penulis yang kehilangan semangat hidup setelah patah hati dan kegagalan karier, kini menjalani hari-harinya tanpa arah. Di sebuah klinik pemulihan jiwa di kota kecil yang selalu diguyur gerimis, ia bertemu Ravindra — terapis pendiam yang menyembunyikan rahasia kelam di balik tatapan tenangnya. Diam-diam, Ravindra mengumpulkan setiap tulisan yang Nara buang dan merangkainya menjadi satu buku berjudul “Fragmen di Bawah Hujan.” Antara terapi dan perasaan yang tumbuh tanpa mereka sadari, keduanya saling menyembuhkan — tapi juga perlahan menyadari bahwa cinta tak selalu berarti memiliki. Sebuah kisah tentang kehilangan, penyembuhan, dan cinta yang datang seperti hujan — tenang, tapi meninggalkan jejak yang tak mudah hilang.
Read
Chapter: Bab 150 — Ujian yang Sesungguhnya
Malam turun lebih cepat dari yang mereka sadari.Lampu di ruang kerja tim proyek masih menyala ketika sebagian besar lantai kantor sudah mulai sepi. Beberapa ruangan di ujung koridor telah gelap, menyisakan hanya suara pendingin udara yang berdengung pelan.Namun di ruang kecil tempat Aira, Arkan, dan Raka bekerja, cahaya layar komputer masih terang.Di layar utama Aira, struktur model baru terbuka.Bagian yang dulu mereka anggap sebagai gangguan—pola kecil dalam distribusi error—sekarang justru menjadi pusat dari desain ulang sistem.Ia menatap kode di layar.Beberapa jam terakhir mereka bekerja hampir tanpa henti.Arkan membantu merumuskan ulang hubungan matematis antara variabel utama dan pola yang ditemukan Raka.Sementara Raka sendiri menyusun kerangka simulasi yang jauh lebih besar dari sebelumnya.Simulasi yang akan menguji model baru ini dalam kondisi ekstrem.Bukan lagi ribuan siklus.Melainkan puluhan ribu.Jika model baru in
Last Updated: 2026-04-10
Chapter: Bab 149 — Pola yang Terlupakan
Hari ketiga dari dua minggu itu berjalan lebih sunyi dari sebelumnya.Ruang kerja tim proyek dipenuhi suara halus kipas laptop dan ketukan keyboard yang jarang-jarang.Di luar jendela, langit siang tampak pucat.Namun di dalam ruangan itu, waktu terasa seperti bergerak lebih lambat.Aira duduk di kursinya dengan mata lelah.Sejak pagi ia mencoba membangun ulang struktur model yang semalam mereka sepakati untuk dirombak sebagian.Namun semakin lama ia bekerja, semakin jelas satu hal muncul dalam pikirannya:Membangun ulang sesuatu tidak sesederhana mengganti bagian yang rusak.Setiap perubahan kecil menciptakan konsekuensi baru.Ia menatap layar.Beberapa simulasi pendek yang ia jalankan menunjukkan hasil yang cukup menjanjikan.Namun ia belum berani percaya.Di papan tulis, Arkan masih berdiri dengan spidol di tangan.Setengah dari rumus yang dulu memenuhi papan itu sudah dihapus.Digantikan dengan struktur yang lebih sederhana
Last Updated: 2026-04-10
Chapter: Bab 148 — Batas Waktu
Hari pertama dari dua minggu itu dimulai dengan suasana yang tidak biasa.Ruang kerja tim proyek biasanya penuh dengan percakapan ringan di pagi hari.Namun pagi ini berbeda.Semua orang bekerja lebih cepat.Lebih diam.Seolah setiap detik memiliki berat yang berbeda.Di meja kerjanya, Aira sudah membuka beberapa jendela data sekaligus.Grafik simulasi baru berjalan di layar utama.Di layar lain, tabel parameter terbuka.Ia sedang mencoba sesuatu yang belum pernah mereka uji sebelumnya.Penyesuaian kecil pada variabel tambahan.Jika berhasil, drift yang muncul dalam simulasi panjang bisa dikurangi.Jika gagal—model itu mungkin akan menjadi jauh lebih tidak stabil.Aira mengetik beberapa baris kode.Simulasi baru dimulai.Angka-angka mulai bergerak.Ia tidak berkedip.Di meja sebelah, Raka juga sedang tenggelam dalam datanya.Ia membuat beberapa model perbandingan.Jika mereka harus merombak sebagian str
Last Updated: 2026-04-10
Chapter: Bab 147 — Keputusan di Meja Panjang
Pagi datang terlalu cepat bagi Aira.Ia hampir tidak tidur.Bayangan grafik dari simulasi semalam masih terus muncul di pikirannya.Deviasi kecil itu.Drift yang hampir tidak terlihat.Namun cukup untuk mengubah arah masa depan proyek mereka.Ketika ia memasuki kantor, suasana sudah berbeda dari biasanya.Beberapa orang berdiri di dekat meja kerja masing-masing.Percakapan terjadi dalam suara rendah.Semua orang tahu hari ini bukan hari biasa.Hari ini adalah hari evaluasi lanjutan.Hari di mana manajemen akan memutuskan apakah proyek ini masih layak dilanjutkan.Aira berjalan menuju ruang rapat.Pintu kaca besar itu sudah terbuka.Di dalamnya, meja panjang sudah dipenuhi laptop dan berkas.Damar sudah duduk di kursinya.Bagas juga sudah ada di sana.Raka dan Arkan datang beberapa menit setelah Aira.Semua orang duduk.Tidak ada pembukaan panjang.Damar langsung memulai.“Kita lanjutkan dari simulasi
Last Updated: 2026-04-10
Chapter: Bab 146 — Titik Retak
Malam sudah turun ketika sebagian besar lampu di lantai kantor itu mulai dimatikan.Koridor panjang menjadi sunyi.Hanya beberapa ruangan yang masih menyala.Salah satunya adalah ruang kerja tim proyek.Arkan masih duduk di depan komputernya.Layar monitor memantulkan cahaya pucat di wajahnya.Grafik simulasi dari rapat tadi masih terbuka.Ia tidak langsung pulang.Ada sesuatu dalam grafik itu yang terus mengganggu pikirannya.Deviasi kecil itu.Terlalu kecil untuk dianggap kegagalan.Namun juga terlalu jelas untuk diabaikan.Arkan menarik kursinya sedikit lebih dekat ke meja.Ia membuka kembali file simulasi.Kemudian mengekspor data mentahnya.Baris demi baris angka muncul di layar.Ia mulai memeriksanya perlahan.Di ruangan yang sama, Aira juga masih ada.Ia berdiri di dekat jendela.Kota di luar tampak seperti lautan lampu yang berkilauan dalam gelap.Tangannya menyilang di depan dada.Pikirannya
Last Updated: 2026-04-08
Chapter: Bab 145 — Simulasi Terakhir
Ruang rapat perlahan berubah menjadi ruang kerja.Laptop-laptop terbuka.Beberapa orang mulai menuliskan parameter baru.Arkan duduk di depan komputernya dengan fokus penuh.Jari-jarinya bergerak cepat di atas keyboard.Di layar, baris-baris kode berjalan seperti aliran sungai yang tidak pernah berhenti.Aira berdiri di belakangnya.Matanya mengikuti setiap parameter yang dimasukkan.“Masukkan skenario panjang dulu,” katanya pelan.Arkan mengangguk.“Seribu siklus?”Aira berpikir sebentar.“Dua ribu.”Arkan menoleh sedikit.“Itu jauh di luar rentang operasional.”Aira tersenyum tipis.“Justru itu yang ingin mereka lihat.”Arkan tidak membantah lagi.Ia mengubah angka di parameter simulasi.Di sisi lain ruangan, Bagas juga sedang bekerja di laptopnya.Raka berdiri di sampingnya.Sesekali mereka berbicara pelan.Sementara itu Damar berdiri di dekat jendela.Ia tidak ikut menyentuh komputer.
Last Updated: 2026-04-08
You may also like
Biarkan Aku Pergi!
Biarkan Aku Pergi!
Romansa · Selatan Dangkal
6.1M views
Saat Matanya Terbuka
Saat Matanya Terbuka
Romansa · Kesunyian Sederhana
4.8M views
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status