Skandal Satu Malam Bersama Pak Dosen
Agnia (25), tak pernah menyangka hidupnya akan berubah secepat itu. Satu malam yang seharusnya biasa saja berakhir menjadi mimpi buruk—kehormatannya hilang setelah seseorang mencampuri minumannya dengan obat perangsang. Pagi harinya, ia terbangun di atas ranjang, tanpa sehelai busana, dalam dekapan Irgi—dosen tampan berusia 35 tahun yang selama ini dikenal dingin dan berwibawa di kampus.
Namun keterkejutan Agnia tak berhenti di situ. Parahnya, Irgi adalah suami dari kakak kandungnya sendiri yang slama ini sudah lama sekali tak bisa ditemuinya. Dan ketika kakaknya mulai curiga bahwa sang suami telah berpaling pada wanita lain, rasa bersalah mulai menggerogoti hati Agnia sedikit demi sedikit. Lantas, akankah Agnia mundur dan mengembalikan Irgi pada kakaknya? Atau, perlahan bibit cinta malah mulai tumbuh seiring dengan tertanamnya benih di rahim Agnia?
Read
Chapter: Aroma Parfum“Jaga diri kalian baik-baik ya selama mama dan papa gak ada di rumah. Jangan menyulitkan nenek kalian. Apalagi dengan kondisinya yang baru pulih dari koma. Sebagai perempuan dewasa yang beradik kakak, kalian berdua harus bisa saling menjaga satu sama lain. Jangan sampai ada perseteruan sekecil apapun di antara kalian ya…” Sembari memeluk kedua putrinya bergantian, Intan memberikan sedikit wejangan untuk mereka selagi dirinya harus menemani sang suami berobat ke luar negeri. Selama itu pula, Intan menaruh kepercayaan penuh terhadap Agnia dan Rossi. Intan yakin jika kedua putrinya ini akan bisa saling mengandalkan satu sama lain.“Titip salam juga buat suamimu ya, Ros. Tadi pas berangkat, kebetulan dia gak di tempat. Jadi, mama sama papa gak sempat pamitan sama suamimu…” tukas Intan lagi pada putri sulungnya.Untuk sesaat, Rossi pun mengernyitkan dahi sedikit heran. Meski begitu, ia tetap mengangguk dan merespon setiap kalimat yang terlontar lugas dan mengandung pesan dari mulut mamany
Last Updated: 2026-02-13
Chapter: Selamat dari Situasi BerbahayaDi tengah ciuman yang semakin brutal dan tak terkendali, tiba-tiba saja seseorang muncul mengetuk pintu dengan cukup kencang juga mengejutkan. Dalam sekejap, membuat Agnia terpekik kaget seiring dengan mata yang terbelalak lebar sekaligus mendorong dada Irgi sekuat tenaga hingga menyebabkan ciuman mereka terpaksa disudahi. “Agnia!” seru sebuah suara yang tak asing. Melotot, Agnia yang sedang lumayan berantakan karena ulah Irgi sebelumnya pun refleks didera rasa panik tatkala mendapati sang mama yang memanggil dirinya barusan. “Itu suara mama, Mas,” bisik Agnia cemas. Sementara Irgi, dia berusaha menenangkan Agnia dengan cara menempelkan telunjuknya di bibir sendiri. Memberi kode agar Agnia tidak bersuara, sekaligus mencari alasan kuat guna melayangkan jawaban ketika nanti mereka dilontari pertanyaan.“Nia, kamu di dalam, Nak?” Intan kembali bersuara di sela ketukan pintu yang belum disudahi. Kepanikan Agnia bertambah. Buru-buru, ia pun membenahi kembali kancing kemejanya yang sud
Last Updated: 2026-02-12
Chapter: Terhanyut Kembali“Maafin aku, Mas. Tapi, hubungan kita emang udah gak bisa dilanjut lagi,” gumam Agnia menahan tangis. Akan tetapi, tiba-tiba saja tangannya ditangkap oleh seseorang yang berasal dari belakangnya. Menyebabkan tubuhnya terhuyung mundur, yang seketika membuat Agnia tersentak kaget apalagi saat ada dua tangan yang melingkari perutnya dari belakang. “Jangan pergi,” bisik suara yang Agnia sangat kenali itu, menelusup masuk dengan cukup sopan tepat ke telinganya.Agnia yang hafal bahwa pemilik suara itu adalah Irgi pun lalu buru-buru saja melakukan sedikit pemberontakan. Hanya saja, Irgi yang enggan membiarkan pelukannya terlepas pun justru malah semakin mengeratkan pelukannya hingga Agnia terpaksa menyerah saat tenaganya tak sebanding. “Mas, tolong lepasin. Bahaya kalo sampe ada yang lihat,” ujar Agnia meminta baik-baik. Untuk sesaat, tampaknya cukup berhasil membuat Irgi sadar akan bahaya yang Agnia maksud. Lalu, ia pun melepaskan peluknya. Tetapi, tentu saja bukan untuk membiarkan wan
Last Updated: 2026-02-07
Chapter: Hubungan yang Benar-benar BerakhirIrgi baru saja keluar dari kamar mandi ketika ruangan terlihat kosong dan Agnia pun tidak ada di tempat. Padahal, Irgi merasa tidak terlalu lama berada kamar mandi. Tapi, wanita itu sudah menghilang saja tanpa pesan. “Tidak kuat, huh? Belum di apa-apakan saja sudah menyerah duluan. Dasar payah,” desisnya mencemooh. Kemudian, Irgi kembali menekuni pekerjaannya sembari mencampuri lagi ember cat nya menggunakan air. Akan tetapi, saat hendak mengaduknya agar tercampur rata, catnya malah menciprat mengenai kemeja yang dikenakannya. “Shit,” umpatnya refleks. Menghentikan kegiatannya, Irgi lalu berdiri tegak sembari mencoba membersihkan noda cat yang kini mengotori kemejanya. Namun, sepertinya tidak berhasil. Membuat Irgi mendecak kesal, sehingga terpaksa pula ia melepas kemejanya tersebut. Menyisakan tubuh topless-nya yang berotot, terutama bagian perut yang memperlihatkan bagian roti sobeknya. Tanpa disangka, Agnia masuk sembari menenteng kresek berisi dua buah minuman sesuai yang dip
Last Updated: 2026-02-05
Chapter: Pertahanan yang Nyaris RuntuhBeberapa saat setelah Rossi dipastikan benar-benar pergi dari rumah untuk mengurus pekerjaan. Baik Irgi maupun Agnia, tidak satupun dari mereka yang berminat buka suara untuk membahas apapun. Keduanya terlihat sama-sama sibuk mengerjakan bagiannya masing-masing. Irgi dengan kuas catnya, sedangkan Agnia terlihat cukup serius juga dalam menggunakan fungsi roll cat yang sedari tadi sudah setia dipilihnya. Walau begitu, rupanya diam-diam Irgi sempat beberapa kali mencuri pandang. Berharap Agnia pun melakukan hal serupa, tetapi pada kenyataannya tidak sekalipun wanita itu menengok. “Ehem,” dehem Irgi sengaja. Sepertinya, pria itu sedang mencari jalan untuk bisa berinteraksi dengan sang wanita. Hanya saja, Agnia justru cenderung fokus dan berusaha keras untuk tidak terpengaruh oleh suara deheman barusan. “Bagaimana kabarmu?” Untuk pertama kalinya setelah perpisahan sepihak pada malam itu, Irgi baru bertanya soal kabar yang sukses telak membuat tubuh Agnia mendadak beku. Tangan yang sem
Last Updated: 2026-02-04
Chapter: Rindu Terhalang Gengsi“Nggak! Gue gak mungkin hamil, kan? Paling tadi itu gara-gara masuk angin doang,” gumam Agnia menyangkal. Walau begitu, jantungnya tetap berdebar kencang tak keruan. Membayangkan andai kemungkinan buruk itu sungguh terjadi, maka entah apa yang harus Agnia lakukan dalam situasi serumit itu.Rian bahkan sudah pergi melesat bersama mobilnya sejak beberapa menit yang lalu. Namun, Agnia justru masih berdiri setia di depan pagar rumah orangtuanya sambil menenteng kantong kresek berisi barang belanjaan titipan mamanya di satu tangan, sedangkan tangan satunya lagi ia sentuhkan pada perutnya yang masih rata. “Agni, ngapain berdiri sendiri di luar pagar? Ayo masuk! Tadi mama udah nanyain kamu terus, loh. Katanya nunggu barang belanjaan yang mama suruh kamu beli. Kamu gak lupa, kan?” tegur sebuah suara yang berasal dari balik pintu pagar. Dalam sekejap, Agnia pun buru-buru menurunkan kembali tangannya yang semula memegang perut, dan berlanjut dengan memutar tubuhnya menghadap ke pagar. Diliha
Last Updated: 2026-02-04