Chapter: Bab 67 -Badai"Saya bukan milik siapa pun, Tuan Muda!" bentak Syifa dari balkon lantai atas.Suara nya penuh penekanan, meyakinkan mereka, kalau dia bukan milik siapapun.Cleo mendongak, matanya berkilat liar menelusuri lekuk tubuh Syifa yang kini jauh berbeda."Oh, jalang kecil... Waw. Perutmu sudah sebesar itu?" Cleo berseloroh sambil melangkah menaiki satu per satu anak tangga dengan santai, seolah ia sedang berburu mangsa yang terpojok."Aku dengar, agar persalinan normal, kau butuh rangsangan lebih sering. Bagaimana kalau kami membantumu melakukannya? Ya... agar jalur keluar anak haram ini lancar.""Cleo! Tutup mulutmu!" bentak Dewangga. Ia mencoba menerjang maju, namun ditahan. "Ah, Papa... tenaga Papa tidak sebanding dengan kami sekarang. Jangan berlebihan, nanti tulang Papa patah lagi," Zero mencegat Dewangga, tangan kekarnya menahan agar ayah nya tidak melangkah lebih jauh.Zero kemudian menyusul kembarannya, berdiri hanya beberapa langkah di bawah Syifa."Sebelum hamil, kau menggema
Last Updated: 2026-04-08
Chapter: Bab 67 -Badai"Saya bukan milik siapa pun, Tuan Muda!" bentak Syifa dari balkon lantai atas.Suara nya penuh penekanan, meyakinkan mereka, kalau dia bukan milik siapapun.Cleo mendongak, matanya berkilat liar menelusuri lekuk tubuh Syifa yang kini jauh berbeda."Oh, jalang kecil... Waw. Perutmu sudah sebesar itu?" Cleo berseloroh sambil melangkah menaiki satu per satu anak tangga dengan santai, seolah ia sedang berburu mangsa yang terpojok."Aku dengar, agar persalinan normal, kau butuh rangsangan lebih sering. Bagaimana kalau kami membantumu melakukannya? Ya... agar jalur keluar anak haram ini lancar.""Cleo! Tutup mulutmu!" bentak Dewangga. Ia mencoba menerjang maju, namun ditahan. "Ah, Papa... tenaga Papa tidak sebanding dengan kami sekarang. Jangan berlebihan, nanti tulang Papa patah lagi," Zero mencegat Dewangga, tangan kekarnya menahan agar ayah nya tidak melangkah lebih jauh.Zero kemudian menyusul kembarannya, berdiri hanya beberapa langkah di bawah Syifa."Sebelum hamil, kau menggema
Last Updated: 2026-04-08
Chapter: Bab 66 - Mereka kembali"Syifa..." sapa Dewangga pelan. Suaranya serak, khas seseorang yang baru saja menempuh perjalanan jauh tanpa istirahat.Syifa tersentak kecil, terbangun dari tidur sorenya yang gelisah. "Tuan..." bisiknya parau. Matanya yang masih mengantuk menangkap sosok Dewangga yang berdiri di ambang pintu. Untuk sepersekian detik, sebuah senyuman tipis muncul di sudut bibir Syifa—sebuah refleks kerinduan yang jujur. Namun, menyadari egonya, Syifa langsung mengubur senyuman itu kembali di balik wajah datarnya yang dingin."Aku bawakan beberapa buah pesananmu, dan ini... rujak dari pasar yang kamu minta tempo hari," ujar Dewangga semangat. Ia meletakkan beberapa kantong plastik di atas meja kecil, matanya berbinar meski lingkaran hitam di bawah matanya tak bisa berbohong.Syifa menegakkan tubuhnya, bersandar pada tumpukan bantal. Ia memperhatikan Dewangga yang tampak berantakan; rambutnya tidak rapi, dan rahangnya dipenuhi bayangan jenggot tipis."Bagaimana keadaanmu?" tanya Dewangga, mendek
Last Updated: 2026-04-07
Chapter: Bab 65 - Rindu?Hari itu, tepat usia kandungan Syifa delapan bulan, dan empat bulan berlalu sejak insiden berdarah di kaki gunung itu. Meski kakinya belum pulih seratus persen, Dewangga tetaplah pria keras kepala yang tidak bisa dipisahkan dari tumpukan pekerjaannya.Syifa menatap ponselnya dengan geram. Ia baru saja menutup telepon setelah mendengar suara dingin suaminya."Ada apa?"Hanya dua kata itu yang diucapkan Dewangga setelah seminggu tidak pulang. Syifa merasa ulu hatinya panas. Entah karena hormon kehamilan atau memang egonya yang terusik, ia merasa jawaban singkat itu adalah penghinaan. Padahal, batinnya meronta. Sejak bulan lalu, bayi di rahimnya seolah punya ikatan aneh; janin itu tidak akan berhenti menendang dengan kuat sebelum tangan besar Dewangga mengusap perutnya.Syifa melangkah menuju lantai bawah. Aroma asam segar tercium dari dapur, tempat Bi Sumi sedang sibuk mengulek bumbu rujak meski jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam."Makasih ya, Bi," gumam Syifa saat piring be
Last Updated: 2026-04-06
Chapter: Bab 64 - Menikmati?"Semua butuh waktu, Syifa. Kamu tahu itu. Setelah semua yang aku lakukan..." Kalimat Dewangga menggantung, suaranya melemah seiring dengan kelopak matanya yang mulai memberat. Pengaruh obat bius dosis tinggi mulai menarik kesadarannya kembali ke kegelapan.Syifa menarik napas panjang, membiarkan dadanya yang sesak sedikit melonggar. Emosinya yang tadi tersulut perlahan mereda, menyisakan keletihan yang teramat sangat. Ia menatap pria yang kini terlelap itu dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara benci, iba, dan tanggung jawab yang dipaksakan."Waktunya istirahat, Tuan..." gumam Syifa ketus, meski tangannya sempat merapikan selimut Dewangga untuk terakhir kalinya sebelum ia melangkah keluar.Malam telah larut saat Syifa berjalan menyusuri koridor rumah sakit yang sunyi. Ia membutuhkan udara segar, atau setidaknya kafein untuk menenangkan sarafnya yang tegang. Ia menuju kantin rumah sakit yang terletak di sudut remang-remang, tempat yang biasanya hanya diisi oleh keluarga
Last Updated: 2026-04-05
Chapter: Bab 63 - Saya adalah mainan"Kenapa kamu seminggu ini tidak ke rumah sakit?" tanya Dewangga, suaranya terdengar seperti tuntutan. Ia berbohong. Ia tahu dari asistennya bahwa Syifa hampir setiap hari datang, berdiri di balik kaca pintu atau bertanya pada perawat tentang perkembangan kondisinya tanpa pernah mau masuk menemuinya. Syifa mendengus, langkah kakinya terdengar mantap di lantai keramik. "Bosan. Capek, tentu saja. Saya punya kehidupan lain, Tuan. Tidak hanya untuk mengurusi pria sakit di sini, bukan?" "Jadi kamu merasa keberatan?" Dewangga menoleh sedikit, mencoba menangkap ekspresi istrinya. "Kita bukan suami-istri yang penuh cinta seperti di sinetron-sinetron, Tuan. Kita menikah karena paksaan, bukan? Tuan yang memaksa saya masuk ke dalam hidup Tuan yang berantakan ini. Jadi kalau seandainya saya bersikap dingin seperti ini, jangan salahkan saya," ucap Syifa tajam. "Tapi aku menyayangimu..." bisik Dewangga. "Dan kata-kata itu tidak membuat saya merasakan hal yang sama," tantang Syifa. Ia mem
Last Updated: 2026-04-04
Chapter: Bab 183 - Gadis idaman Saka"Ngomong-ngomong, kamu benar-benar tidak mau satu kampus dengan Saka?" tanya Elian. "Papa dengar jurusannya cukup bagus di sana."Lana menggeleng cepat, nyaris tersedak air putihnya. "Nggak, Pa! Ampun deh. Di sana saingannya gila-gilaan. Isinya anak pejabat semua, koneksinya ngeri. Lana mau cari suasana yang lebih... manusiawi.""Kamu kan juga pintar, Sayang," Elian berusaha memulihkan kepercayaan diri putrinya. Bagaimana tidak, SMA tempat Lana lulus adalah sekolah favorit di mana ia masuk murni karena kemampuan otaknya, meski semua orang tahu itu adalah sekolah milik mendiang kakeknya sendiri."Ah, aku mau yang sedikit lebih tenang, Pa. Nggak mau jadi pusat perhatian cuma gara-gara marga Baskara," keluh Lana manja.Tepat saat itu, ponsel Lana bergetar di atas meja. Layarnya menyala, menampilkan nama yang baru saja mereka bicarakan."Pa, Kak Saka telpon!" ujar Lana antusias. Ia segera menggeser tombol hijau dan menyalakan pengeras suara."Halo, Kak! Tumben banget nih nelpon jam
Last Updated: 2026-04-07
Chapter: Bab 182 - Tentang Masa LaluSetelah menyelesaikan doa di makam orang tua Elian di kota, perjalanan berlanjut menuju desa kelahiran Rinjani.Lana turun lebih dulu, tampak antusias dengan kamera DSLR di tangannya. Ia sibuk menangkap gradasi warna langit senja dan hamparan sawah yang masih tersisa, membiarkan kedua orang tuanya berjalan pelan di belakang."Kamu pernah kabur dan meninggalkanku di sini cukup lama," gumam Elian, matanya menatap sebuah sudut jalan di mana dulu ia pernah merasa dunianya runtuh karena ditinggalkan "perabot"-nya."Kita pernah saling menjauh sejauh mungkin, tapi akhirnya tetap ditarik kembali ke tempat yang sama, bukan? Kamu ingat? Di tanah ini, yang dulunya berdiri gubuk tua Nenek... tempat kamu dengan sombongnya memintaku menjadi istri kontrakmu?"Elian terkekeh, tawa yang kini terdengar renyah tanpa beban arogansi. "Ya, aku pria bodoh yang mengira uang bisa membeli segalanya. Dan sekarang, lihatlah... justru kamu yang menjadi duniaku, Rinjani. Aku yang 'kontrak' seumur hidup padamu
Last Updated: 2026-04-06
Chapter: Bab 181 - Awal Baru"Bagaimana di sana, Sayang?" suara Abil terdengar penuh harap di seberang telepon. Ia ingin mendengar kejujuran, atau setidaknya satu keluhan yang menandakan putrinya merindukan rumah."Baik, Pa," jawab Sonya singkat.Memang benar, semuanya baik. Di London, kakek dan neneknya—Handoko dan Santi—memanjakannya seolah ingin menebus waktu yang hilang. Ia dikelilingi kemewahan dan kehangatan yang tak pernah ia dapatkan dari orang tuanya yang selalu sibuk dengan ambisi masing-masing. Kakek dan neneknya seolah sedang menjahit kembali robekan cinta yang dulu gagal mereka berikan pada Maya.Setelah mematikan ponsel, Sonya mengabaikan notifikasi nilai ujiannya yang sempurna. Matanya justru tertuju pada satu nomor yang ia blokir sejak mendarat di Heathrow. Nomor milik pria yang menjadi alasannya "dibuang" ke sini."Kamu sedang memikirkan sesuatu, Nak? Ingin liburan ke tempat Papa dan Mamamu?" tanya Handoko, pria 60 tahun yang masih terlihat gagah meski rambutnya memutih sempurna.Di samping
Last Updated: 2026-04-05
Chapter: Bab 180 - Tempat kembali terhangat"Dari mana, Pa?" tanya Lana tiba-tiba dari arah tangga. Elian terlonjak, hampir saja menjatuhkan kunci mobilnya. Tumben sekali putri bungsunya ini sudah bangun saat fajar baru saja menyembul. Lana mendekat, mengernyitkan hidung saat mencium aroma dari jas ayahnya. "Dan... ini kenapa, Pa? Kok berantakan begini? Papa bau asap, bau debu, pokoknya kusut banget!" Elian cepat-cepat menarik tangan Lana menjauh dari tangga, takut suara berisik mereka membangunkan Rinjani. Ia tidak mau sang "Ibu Negara" turun dan melempar pertanyaan yang lebih mematikan. Dengan suara berbisik, Elian menceritakan garis besar kejadian semalam—tentu saja dengan versi yang sudah "disaring". Lana menutup mulutnya, matanya membelalak antara kaget dan cemas. "Terus, Kak Saka gimana, Pa? Aman?" tanya Lana dengan nada khawatir. "Aman. Kamu tenang saja, Kakakmu itu sudah di rumahnya sekarang," jawab Elian sembari menepuk dada, mencoba terl
Last Updated: 2026-04-04
Chapter: Bab 179 - Dua kebanggaan saka"Sepertinya ada pertunjukan menarik di sini," suara bariton Antonio memecah keheningan saat ia muncul dari kegelapan gudang. Napasnya stabil, tak ada setetes pun keringat yang menandakan ia baru saja melumpuhkan sisa penjaga di dalam. Dua anak buah penculik yang tadi pingsan akibat keberuntungan Elian tiba-tiba mulai tersadar dan mencoba merangkak bangun. Tanpa menoleh sepenuhnya, Antonio bergerak. Satu pukulan pendek yang presisi ke arah rahang, disusul tendangan tumit yang menghantam ulu hati. Bugh! Brak! Keduanya tumbang seketika. Permanen. Saka terdiam, matanya membelalak kagum. Di detik itu, semua rasa bangga Elian atas "kemenangan konyol"-nya tadi sirna tak berbekas. Elian hanya bisa berdiri mematung, menyadari bahwa di dunia yang penuh kekerasan ini, ia hanyalah seorang amatir yang sedang bermain api. "Kita pulang. Anak buahku yang akan membereskan sisanya," perintah Antonio singkat. Ia menyeka noda darah di buku jarinya dengan saputangan hitam. Saka segera berlari
Last Updated: 2026-04-04
Chapter: Bab 178 - Menyelamatkan SakaDua jam kemudian, SUV hitam itu berhenti tiga ratus meter dari sebuah pabrik pengolahan kayu yang terbengkalai. Mesin dimatikan. Lampu dipadamkan dan keadaan sunyi seketika.Antonio tidak langsung turun. Ia merogoh laci di bawah jok, mengeluarkan sebuah benda logam hitam dingin, lalu menyerahkannya pada Elian."Pegang ini. Lepas pengamannya hanya jika kamu melihat wajah yang tidak kamu kenal mendekat," instruksi Antonio datar.Elian menatap pistol di tangannya. Beratnya nyata. Dinginnya menusuk kulit. "Aku tidak pernah berpikir akan memegang ini lagi setelah kejadian itu.""Gunakan otakmu, Elian. Di dalam sana bukan film. Mereka tidak akan menunggumu selesai bicara sebelum menarik pelatuk," Antonio memakai jaket taktisnya, memeriksa magasin, dan memasang peredam suara di moncong senjatanya. Klik. Suara mekanis itu terdengar mematikan."Tetap di belakangku. Jangan bersuara," perintah Antonio lagi.Mereka bergerak menembus semak belukar. Antonio melangkah tanpa suara, setiap gerak
Last Updated: 2026-04-03