Chapter: Bab 241 -Tidak akan kuat, gadis kecilKenapa bisa ada dua orang tua sekaligus di sini, sih?!batin Saka kesal campur panik. Halaman gedung yang tadinya sudah ramai karena ulah konyol Karin, kini mendadak suram. Dua pria matang bertubuh kekar saling berdiri berhadapan, melemparkan tatapan dingin. "Wih, siapa tuh Om-om yang rambutnya agak gondrong di sebelah ayahnya Saka? Ganteng banget, gila! Apa jangan-jangan... sugar daddy-nya Karin, ya?" bisik seorang cewek dari dalam dibalik kaca pintu lobi, beberapa cewek yang ikut mengintip jalannya keributan mulai berbisik-bisik heboh. "Bukan, ih! Perhatiin deh, struktur wajahnya kan mirip banget sama Karin. Bapaknya kali!" sahut temannya. "Bapaknya? Gila, kalau bapaknya sekeren itu, gue deketin Karin biar bisa dapetin bapaknya aja, boleh nggak?" tawa cewek satunya lagi, terpukau melihat aura maskulin Jonathan. "Malam, Jo. Udah lama ya, kita nggak ketemu?" sapa Antonio santai. Jonathan mendengus malas. Tentu saja dia tahu persis siapa pria perlente di depannya ini. Mengingat si
Dernière mise à jour: 2026-05-25
Chapter: Bab 240 - Hampir aja"Lo tuh nggak kuat minum, jangan sok-sokan deh!" Ujar Saka setelah keluar gedung dan menurunkan tubuh Karin.Kepalanya mendadak pening memikirkan bagaimana cara memulangkan gadis ini. Bisa habis dia dimaki-maki atau bahkan dijadikan sansak hidup oleh ayah Karin kalau sampai tahu putri tunggalnya pulang dalam keadaan teler begini.Bukannya takut atau sadar, Karin malah mengerjap-ngerjapkan matanya yang sayu. Melihat wajah Saka yang berjarak begitu dekat di depannya, Karin justru tersenyum jahil. Dengan gerakan santai ia mengalungkan kedua lengannya ke leher Saka, membuat tubuh mereka kembali merapat.Saka tersentak, tubuhnya mendadak kaku seperti batu. Jantungnya berdegup gila-gilaan karena jarak mereka yang mengikis habis. "Karin, lepasin. Lo beneran udah nggak sadar, ya?"Karin tidak memedulikan ucapan Saka. Gadis itu malah memalingkan wajahnya ke arah beberapa mahasiswa yang kebetulan lewat di halaman gedung untuk pulang, lalu berteriak dengan suara lantang yang cempreng."Oii,
Dernière mise à jour: 2026-05-24
Chapter: Bab 239 - MabukSebelum Gio benar-benar pergi menjauh, Karin dengan cepat menahan lengannya."Maksud kamu ngomong kayak gitu apa, Gio?" desis Karin tajam, menatap mata cowok itu dengan napas memburu. "Bukannya kamu sendiri yang dengan senang hati nawarin diri buat nemenin aku ke sini?""Dengan senang hati?" Gio tertawa meremehkan, lalu mengentakkan lengannya hingga pegangan Karin terlepas kasar. "Gue bukan cowok bodoh yang bisa ditipu sama muka polesan hasil salon kayak lo. Cih! Jangan kepedean, Karin. Lo pikir selama sebulan ini gue deketin lo karena gue bener-bener jatuh cinta? Nggak sudi!"Gio menyeringai sinis, menatap Karin dari atas ke bawah dengan tatapan merendahkan. "Gue cuma pengen buktiin kalau gue bisa dapetin apa yang gagal ditaklukkan sama si pangeran kampus idola semua orang itu. Lo itu cuma trofi buat ego gue, tau nggak? Biar semua orang lihat, cewek yang nolak Saka mentah-mentah malah tunduk sama gue. Ya... anggap aja malam ini gue kalah bacot sama dia, tapi sejatinya, gue udah me
Dernière mise à jour: 2026-05-23
Chapter: Bab 238 - Putri dongeng + Pangeran kodokSore itu, Jonathan benar-benar niat. Nggak tanggung-tanggung, dia mendatangkan langsung tim penata rias profesional ke rumah. Hanya dalam waktu kurang dari satu jam, jemari lincah para penata rias itu sukses mengubah Karin, si gadis super cuek, menjadi seorang princess dalam semalam.Karin berdiri di depan cermin besar, menatap pantulan dirinya sendiri dengan perasaan campur aduk. Rambutnya yang biasa dikuncir asal-asalan kini ditata gaya half-updo yang elegan, menyisakan beberapa helai lembut yang membingkai wajah manisnya. Kacamata tebalnya sudah berganti dengan softlens, membuat sepasang matanya terlihat jauh lebih hidup.Gaun pesta yang melekat di tubuhnya malam itu bener-bener pas. Sebuah party dress selutut berwarna putih salju, dengan detail kerah v-neck silang yang anggun di bagian dada, mengekspos garis bahunya yang indah karena modelnya yang sleeveless. Bagian bawah roknya sedikit mekar, melambai lembut setiap kali Karin mengambil langkah.Begitu Karin keluar dari ruang r
Dernière mise à jour: 2026-05-23
Chapter: Bab 237 - Kosong"Loh Sayang, ini kenapa murung?" tanya Jonathan lembut saat melihat putrinya murung. Karin menghela napas berat, jemarinya memainkan ujung bantal sofa dengan gelisah. "Yah... besok ulang tahunnya Saka.""Terus, kenapa?" tanya Jonathan santai, nadanya memancing. "Bukannya dari awal kamu emang nggak suka ya sama dia? Kok belakangan ini, sejak nggak ada kabar dan gangguan dari dia, kamu malah jadi melow begini? Mana sifat cuek anak Ayah yang biasanya?"Karin hanya terdiam, menggigit bibir bawahnya seraya menunduk. Ia tidak tahu harus menjawab apa karena hatinya sendiri pun sedang kacau bukan main. Jonathan mengusap pundak Karin dengan tangan besarnya yang hangat. "Dan soal undangan itu... kalau kamu emang nggak niat atau ngerasa terbebani buat datang, ya nggak usah datang. Nggak ada yang maksa. Ayah nggak mau lihat anak Ayah pergi ke pesta tapi mukanya kayak mau pergi melayat begitu."Karin menoleh, menatap ayahnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Tapi Yah... Saka bilang, aku ini
Dernière mise à jour: 2026-05-22
Chapter: Bab 236 - UndanganSebulan lamanya didiamkan oleh Saka, dan di sisi lain terus didekati oleh Gio, akhirnya Karin membulatkan suaranya. "Aku suka Gio. Dia nggak lembek, bisa diandalkan, dan kami juga punya hobi yang sama, suka buku," batin Karin, mencoba meyakinkan hatinya sendiri yang entah kenapa terasa kian hambar setiap harinya. Pagi itu di koridor kampus, langkah kaki Karin dan Saka saling bertentangan dari arah berlawanan. Jarak mereka mengikis, dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Saka menghentikan langkahnya tepat di depan Karin. Cowok itu merogoh tasnya, lalu menyerahkan selembar undangan elegan berwarna hitam-emas. "Kalau lo nggak sibuk, lo bisa datang, kan? Walau bagaimanapun, kita tetap teman," ucap Saka. Nada suaranya terlampau tenang, tidak ada lagi getaran gugup seperti dulu. Karin menerima undangan itu. Undangan ulang tahun Saka. Di bawah kacamata besarnya, Karin menatap tulisan nama Saka di undangan tersebut, dan tanpa sadar, sorot matanya menyiratkan kesedihan yang mendalam
Dernière mise à jour: 2026-05-22
Chapter: Bab 144 - Kebahgiaan Utuh keluarga DewanggaBeberapa minggu kemudian, suasana di kediaman utama Dewangga bukannya makin tenang, malah makin gempar. Kabar kehamilan kedua Syifa sukses membuat sang kepala keluarga kehilangan akal sehat bisnisnya dan berubah menjadi pria super protektif yang tak masuk akal. "Mas! Tolong ya, Mas! Aku ini cuma mau turun tangga ke lantai bawah, kamu tidak perlu sampai memesan dan memasang lift di dalam rumah ini, paham?!" tegas Syifa, berdiri di undakan tangga teratas dengan kedua tangan di pinggang. Wajah cantiknya merona merah karena menahan kesal sekaligus geli. Bayangkan saja, baru tadi pagi Syifa berniat jalan-jalan pagi ke taman depan. Namun, Dewangga dengan wajah seriusnya langsung memerintahkan dua perawat pribadi agar Syifa duduk di kursi roda dan didorong sepelan mungkin. "Sayang, dengarkan aku dulu... Tangga ini licin, bagaimana kalau kamu—" "Dan aku tidak butuh perawat pribadi, Mas! Aku ini sedang hamil, bukan nenek-nenek jompo yang sedang sakit sakau! Kalau kamu memang mau kursi rod
Dernière mise à jour: 2026-05-24
Chapter: Bab 143 - Pelabuhan terakhir sang Mantan pelakor"Kita mau ke pernikahan siapa, Sayang?" tanya Dewangga ragu sembari membetulkan jam tangan dimobil. Tidak biasanya Syifa mendadak mengajaknya pergi ke acara pernikahan yang lokasinya jauh dari sirkel bisnis mereka. Syifa hanya tersenyum misterius, menggenggam tangan suaminya erat. "Nanti kamu juga tahu, Mas." Ini adalah pernikahan Safa, kakak kandung Syifa. Kakak perempuan yang selama bertahun-tahun hidupnya hanya menjadi benalu, mengganggu kebahagiaan orang lain, menjadi pelakor, dan selalu menjaga jarak penuh kebencian dengan Syifa. Namun, takdir berkata lain ketika seminggu yang lalu, keduanya tidak sengaja bertemu di sebuah pusat perbelanjaan. Saat itu, Safa mendekat dengan langkah ragu. Sudah berapa tahun lamanya Safa tidak menatap adik kandungnya itu sedekat ini? Di tangannya, terselip sebuah undangan pernikahan sederhana. "Syifa..." panggil Safa lirih sembari menyodorkan undangan itu. "Aku sudah mengunjungi makam Ibu minggu lalu, di sana untuk meminta restu. Dan... seb
Dernière mise à jour: 2026-05-24
Chapter: Bab 142 - Ketika Hasrat menjadi RumahSatu tahun setelah duka mendalam melanda Zero, kediaman utama Dewangga tidak lagi diselimuti sunyi yang mencekam. Rumah megah itu kini justru berubah menjadi istana kecil yang penuh dengan keriuhan dan tawa melengking dari tiga anak kecil sekaligus. Ada Anaya yang kini hampir menginjak usia tiga tahun, Aura si bungsu yang terpaut empat bulan di bawahnya, serta si kecil Aruni—putri mendiang Alya dan Zero—yang juga dititipkan di sana selama Zero fokus menata kembali waras dan bisnisnya. Ketiga balita itu sejatinya memiliki babysitter masing-masing yang super ketat. Namun tetap saja, sebagai ibu kandung, ibu sambung, sekaligus—lucunya—menjadi "nenek muda" di usianya yang baru menginjak 24 tahun, Syifa tetap memegang kendali penuh untuk mengawasi mereka, terutama Aruni yang merupakan cucu sambungnya. Sore itu, Syifa baru saja selesai memastikan Aruni meminum susunya saat ia menangkap siluet seorang pria jangkung tegap di ambang pintu masuk utama. "Mas? Kamu sudah pulang?" tanya Syi
Dernière mise à jour: 2026-05-24
Chapter: Bab 141 - Surat AlyaLangit di atas pemakaman seolah ikut berduka, diselimuti mendung tebal yang menggantung rendah. Suasana di sekitar gundukan tanah yang masih basah itu penuh dengan isak tangis yang menyayat hati. Di sana, Zero berdiri mematung bagai patung tanpa nyawa. Tak ada lagi air mata yang mengalir di pipinya, tak ada pula suara yang keluar dari bibirnya. Sorot matanya kosong, menatap lurus pada papan nisan bertuliskan nama wanita yang menjadi separuh alasan hidupnya. Di sampingnya, berdiri Hans dan Elia—kedua orang tua Alya—dengan tubuh yang terguncang hebat oleh duka yang teramat dalam. "Kalau bukan karena ulahmu... anak perempuan saya pasti masih hidup sekarang! Dasar laki-laki hina!" teriak Hans tiba-tiba, suaranya parau dan pecah karena amarah yang bercampur dengan rasa kehilangan yang masif. Pria paruh baya itu tidak memedulikan tatapan orang-orang di sekitar pemakaman. Baginya, Zero adalah pelaku tunggal di balik kematian putrinya. Zero hanya diam. Ia sama sekali tidak bergerak, tidak
Dernière mise à jour: 2026-05-23
Chapter: Bab 140 - Selamat Tinggal, Al.Pintu ruang operasi akhirnya digeser terbuka. Namun, tidak ada senyum lega dari tim medis. Dokter yang keluar hanya menundukkan kepala dalam-dalam, menepuk bahu Zero pelan sebelum membisikkan kalimat yang seketika merenggut seluruh paksa kewarasan pria itu. Alya tidak bisa diselamatkan. Tapi bayi mereka hidup. Zero dipaksa melangkah masuk ke dalam ruangan yang kini terasa begitu dingin dan asing. Tubuhnya lemas bukan main, seolah-olah seluruh tulang di raganya lolos begitu saja. Kakinya bergetar hebat, terseok-seok meniti lantai semen medis yang menyengat hidung. Zero tidak berteriak. Ia tidak mengamuk. Kehancuran yang sesungguhnya justru tidak menyisakan ruang untuk suara. Ia hanya berjalan lambat, memandangi sosok yang terbaring kaku di atas ranjang operasi dengan selembar kain hijau yang menutupi sebagian dadanya. Wajah itu begitu damai, terlalu damai hingga terlihat sangat kejam bagi Zero. "Al..." Panggil Zero lirih. Suaranya pec
Dernière mise à jour: 2026-05-22
Chapter: Bab 139 - Titip anak kita, ya.. Ciiittt! Ban mobil sport Zero mencicit keras, bergesekan dengan aspal saat ia mengerem mendadak tepat di lobi darurat Rumah Sakit Pusat. Zero langsung keluar dari pintu kemudi, memutari mobil dengan napas memburu dan jantung yang berdegup menggila. Tanpa menunggu bantuan brankar dari petugas yang berlarian, Zero langsung menerobos masuk, menggendong sendiri tubuh Alya keluar dari mobil. Darah. Napas Zero tercekat saat telapak tangannya yang menopang paha dan bagian bawah gaun Alya mendadak terasa basah dan hangat. Di bawah temaram lampu lobi, cairan merah kental mengalir deras, membasahi jok mobil dan kini mengotori kemeja putih yang dikenakan Zero. "Dokter! Suster! Tolong istri saya!" teriak Zero parau, suaranya menggema membelah keheningan koridor instalasi gawat darurat. Tubuh Alya sudah sepenuhnya lemas di dalam dekapannya, kepalanya terkulai pasrah di bahu bidang Zero dengan sisa kesadaran yang timbul tenggelam. P
Dernière mise à jour: 2026-05-22