Chapter: Bab 133 - Pertemuan Ayah dan Anak. "Siang, Pak Elian," sapa Saka dengan nada yang sangat sopan. Ia mengulurkan tangan untuk bersalaman. "Silakan duduk, Saka," ujar Elian ramah menerima tangan Saka. Saka duduk didepan Elian, mencoba menutupi kegugupannya di depan pria yang profilnya selalu ia pelajari di majalah bisnis."Saka, saya dengar kamu punya banyak prestasi di sini. Bukan hanya sebagai Ketua OSIS, tapi juga peraih medali olimpiade sains. Saya bangga anak saya, Lana, bisa bergabung denganmu di sekolah ini. Setidaknya dia punya saingan yang sepadan," ucap Elian sambil menatap remaja itu. "Terima kasih, Pak. Saya juga bangga bisa bersekolah di sini. Dan terlebih lagi... bisa berbicara langsung dengan idola saya," jawab Saka jujur. Sorot matanya memancarkan kekaguman yang murni."Idola? Ya ampun, Saka. Harusnya remaja seusiamu mengidolakan aktor atau penyanyi, seperti anak saya Lana yang sangat mengidolakan K-Pop itu. Kenapa harus pebisnis yang membosankan seper
Dernière mise à jour: 2026-02-18
Chapter: Bab 132 - Kebanggaan ku"Arka..." panggil Boy lirih keluar dari pilar."Papa!" sela Arka, terkejut melihat ayahnya telah berdiri di dekat nya. Sonya menoleh. Melihat wajah pria yang menjadi akar kehancuran dunianya membuat sisa-sisa kewarasannya hilang. Sebelum ada yang sempat bereaksi, tangan Sonya terangkat dan—plak!—sebuah tamparan keras mendarat di pipi Boy.Boy tidak menghindar, tidak marah, apalagi membalas. Namun, hati "kemayu"-nya yang lembut itu bergetar. Air mata perlahan menetes di pipinya yang mulai memerah."Kamu mau marah? Ya sudah, marah aja. Tampar Om lagi kalau itu bisa mengurangi beban di hatimu, Nak," ucap Boy dengan suara yang sangat tenang namun penuh kesedihan. "Tapi dengar... Arka sama sekali tidak ada hubungannya dengan semua ini.""Kenapa pria menjijikkan seperti Om lebih dicintai Mama, hah?! Apa hebatnya Om?!" teriak Sonya dengan suara serak, meluapkan seluruh rasa jijiknya. "Pria seperti Om yang bahkan lebih lunak dari perempuan mana pun... Om itu mirip banci, tahu nggak?!"
Dernière mise à jour: 2026-02-18
Chapter: Bab 131 - Ledakan emosi"Sebaiknya lo gabung dengan yang lain. Jangan bersikap seolah semua orang jauhin lo, padahal lo sendiri yang pasang tembok," ucap Saka datar sebelum berbalik dan menyusul ayahnya.Sonya terdiam di bangku taman, matanya terpaku pada punggung Antonio dan Saka yang menjauh. Ia melihat bagaimana ayah dan anak itu berbincang akrab, sesekali tertawa lepas—sebuah pemandangan yang terasa seperti fatamorgana bagi Sonya. Begitu hangat, begitu nyata, dan begitu mustahil ia miliki."Sonya..." Sapa ibunya."Mama... ngapain ke sini?" tanya Sonya tanpa minat."Papa nyari kamu. Kamu di sini ngapain? Acara di dalam belum selesai, tapi kamu malah keluyuran di taman," sahut Maya. "Nggak ngapa-ngapain kok, Ma. Hanya butuh napas," jawab Sonya singkat. Ia menatap ibunya dalam-diam, lalu sebuah keberanian yang pahit muncul di benaknya. "Ma, aku boleh tanya satu hal?"Maya menghela napas, terlihat tidak sabar. "Apa?""Apa pria yang tadi... Ayahnya Arka... adalah orang yang selama ini Mama suka?""
Dernière mise à jour: 2026-02-17
Chapter: Bab 130 - Pertemuan tak terduga"Jadi... ini alasan Mama selalu membenciku?" batin Sonya getir."Eh, May! Aduh... sudah lama ya nggak ketemu," ucap Boy gugup. "Kenalin, ini anak lanang gue satu-satunya, Arka. Cakep, kan? Mirip banget sama gue waktu masih muda dulu!"Jantung Boy berdebar kencang, seolah ingin melompat keluar dari balik kemeja desainnya yang mahal. Padahal, ia sudah bertahun-tahun meyakinkan diri bahwa ia sudah mencintai Nabila, istrinya, sepenuhnya. Namun, melihat Maya kembali, semua memori lama itu seperti debu yang ditiup paksa."Duh, deg-degan banget gue! Kenapa harus ketemu sekarang sih?" batin Boy merutuk. Ia segera merangkul pundak Arka, menjadikannya tameng pelindung. "Ya sudah, masuk yuk! Kita bisa ngobrol-ngobrol cantik nanti di dalam. Ciao!"Mereka pun bergerak masuk ke dalam aula utama. Di depan panggung, layar LED raksasa menampilkan grafik pertumbuhan sekolah yang sangat fantastis.Kepala Sekolah, Pak Wirawan, berdiri di podium dengan setelan jas custom yang sangat rapi. Ia tidak me
Dernière mise à jour: 2026-02-16
Chapter: Bab 129 - Jadi ini alasan mama membenci ku?"Sonya, kamu masih bisa pakai kursi roda, Nak. Kondisimu belum sepenuhnya pulih," ucap Abil lembut, memberikan isyarat agar supir tidak membawa kursi roda itu kembali ke bagasi. Sorot matanya penuh kekhawatiran yang masih tersisa sejak insiden malam itu. "Nggak apa-apa, Pa. Aku bisa jalan kok, nggak usah berlebihan," tegas Sonya. Abil berdiri di samping mobil, terdiam sesaat sambil memperhatikan putrinya. Dari posisi ini, ia baru menyadari sesuatu yang selama belasan tahun ini luput dari perhatiannya. "Apa dia selalu seperti ini? Sebagian wajahnya selalu tertutupi rambut seperti ini?" batin Abil perih. "Apa yang sedang dia sembunyikan dari dunia? Kesedihannya, ataukah ketakutannya? Abil merogoh laci di mobil dan mengambil sebuah sisir kecil yang tertinggal di sana. "Sonya, ke sini sebentar," panggil Abil. "Ya, Pa?" Sonya berhenti, namun tidak berbalik sepenuhnya. "Kamu cantik, Sayang. Kenapa sebagian wajahmu harus ditutupi seperti ini? Biarkan orang melihat matamu," ucap Ab
Dernière mise à jour: 2026-02-15
Chapter: Bab 128 - Jangan menghukum nya!"Ya Tuhan... apa aku sedang bermimpi?" batin Sonya bergejolak. Selama lima belas tahun hidupnya, pelukan dan ciuman hangat dari ayahnya adalah barang langka yang hanya bisa ia khayalkan. Namun sekarang, ia merasakan kehangatan yang nyata. Ia merasakan air mata itu. Apakah ayahnya benar-benar mencintainya? Ataukah ini hanya rasa kasihan karena ia baru saja mencoba mati? Kegelapan di pikiran Sonya perlahan mulai terusir oleh hangatnya sentuhan Abil. "Bangun, Nak... Papa akan berikan apa pun untukmu setelah ini. Waktu, kan? Itu yang paling kamu inginkan? Kita akan buat hari di mana hanya ada kamu dan Papa. Kamu selalu minta ini, kan?" Suara parau Abil terdengar seperti gema dari masa lalu yang paling menyakitkan bagi Sonya. Kalimat itu adalah impian terbesarnya sejak kecil. Sonya ingat betul, sejak usia dini ia selalu merengek, memohon untuk bisa jalan-jalan berdua saja dengan ayahnya, seperti teman-temannya yang sering memamerkan momen
Dernière mise à jour: 2026-02-13
Chapter: Bab 11 - Kau ingin penonton adegan ini?"Syifa, kamu nggak ke rumah sakit malam ini?" Suara Bi Sumi memecah lamunan Syifa di dapur. Syifa menoleh, mendapati Bi Sumi sudah rapi dengan tas kecil di tangannya. "Nggak, Bik. Bibi mau ke mana?" "Tuan Besar minta Bibi ke villanya sekarang. Ada urusan mendadak," jawab Bi Sumi singkat."Tuan Besar? Kenapa mereka nggak serumah, Bik? Nyonya Hana kan disini." tanya syifa heran.Bi Sumi mendengus pelan, wajahnya tampak enggan bicara banyak."Biasalah, Syifa. Rumah sebesar ini saja isinya dingin, apalagi hati orang di dalamnya. Mereka udah lama punya urusan masing-masing. Bibi jalan dulu, ya. Supir sudah jemput." Suara klakson mobil di depan halaman menyentak Syifa, menyadarkan nya kalau dia kini sendirian. "Mampus aku. Sendirian," bisik Syifa. Jantungnya mulai berdegup kencang. Ia teringat janji gila yang ia buat tadi pagi di meja makan. Niatnya ingin terlihat berani, tapi sekarang nyalinya menciut sampa
Dernière mise à jour: 2026-02-18
Chapter: Bab 10 - Bukan mainan"Oh baby, kamu terlihat sangat tampan siang ini. Sudah lama tidak jumpa, Sayang," bisik Nia melihat Zero yang baru saja melangkah memasuki Klub VVIP itu. Tangannya yang lentur terulur manja, melingkar di leher Zero yang baru saja memasuki ruangan. "Nia, kau tetap agresif seperti biasa." Sindirnya. "Mau main denganku?" tawar Nia tanpa basa-basi. Ia sengaja menyingkap gaun mini-nya hingga jauh ke atas paha, memamerkan kulitnya yang berkeringat tipis. "Aku lebih suka barang yang belum disentuh," ucap Zero dingin sambil meraih gelas wiski dari meja dan meneguk nya kasar. "Padahal dulu kamu tergila-gila dengan gerakanku, Sayang. Aku jauh lebih hebat daripada siapa pun di atas ranjang," keluh Nia sambil mengerucutkan bibirnya. "Aku sedang butuh mainan baru, dan kau bukan lagi seleraku," ucap Zero, melepaskan tangan Nia dari lehernya dan melangkah pergi tanpa menoleh lagi. Nia berdiri mematung, dadanya naik turun. "Oh, sial... Melihatnya saja aku sudah panas dingin be
Dernière mise à jour: 2026-02-18
Chapter: Bab 9 - Bakpao beracunSyifa mengunci diri di kamar mandi dapur yang sempit, setelah kedua majikan nya meninggalkannya sendirian. "Aku takut... Aku takut!" gumamnya dengan napas tersengal. Bayangan wajah Zero yang dingin dan seringai Cleo semalam berputar di kepalanya seperti kaset rusak. Tubuhnya masih terasa kotor, seolah sisa-sisa perlakuan mereka semalam tidak akan pernah benar-benar hilang meski digosok dengan sabun paling keras sekalipun. "Tapi aku tidak punya pilihan," ia menatap pantulannya di cermin buram. Matanya merah, namun ada api yang mulai menyala di sana. "Kalau aku menyerah sekarang, Ibu yang akan mati." Syifa mematikan keran. Keheningan mendadak terasa mencekik. Ia menghirup napas dalam, menelan kembali semua rasa takutnya ke dasar perut. Ia harus melewati ini. Ia harus menjadi "iblis" yang lebih pintar dari mereka. Baru saja ia keluar dari kamar mandi, sebuah bayangan tinggi sudah menunggunya di lorong dapur yang sepi. Cleo. "Bagus sekali. Menangis di pojokan setelah ber
Dernière mise à jour: 2026-01-14
Chapter: Bab 8 - Racun dalam PerjanjianSyifa tersentak bangun. Hal pertama yang ia rasakan adalah lengket yang mengering di wajah dan lehernya. Bau amis yang tajam menyerang indra penciumannya. Ia menyibak selimut, memeriksa pangkal pahanya. Tidak ada darah. Tidak ada rasa sakit robek di sana. "Sialan. Mereka cuma menjadikanku tempat sampah," desisnya. Syifa menyeret langkah ke cermin retak di pojok kamar. Matanya melotot tajam melihat pantulan dirinya. Wajahnya berantakan, jejak putih mengering itu seolah menertawakan harga dirinya. Ia meraih waslap, menggosok kulitnya hingga memerah dan perih. Air matanya tidak keluar. Rasa sedihnya sudah hangus, berganti menjadi amarah yang dingin. "Ibu harus sembuh," gumamnya pada bayangan di cermin. "Apapun taruhannya. Kalau mereka mau main api, aku akan jadi bensinnya." Selesai mandi, Syifa memakai seragam pelayannya, mengancingkannya hingga rapat ke leher. Ia keluar dari paviliun dengan langkah mantap. Di ruang tengah, Cleo dan Zero sudah duduk di meja makan, seolah tidak
Dernière mise à jour: 2026-01-13
Chapter: Bab 7 - Tanda disekujur tubuh"Hei, berhenti diam! Dan nikmati ini sepenuhnya," goda Syifa dengan suara serak, sementara kelopak matanya nyaris terpejam rapat akibat pengaruh alkohol. Syifa menarik kepala Cleo lebih dekat, memaksa pria itu mendekat ke arah dadanya. "Kau ingin apa, hm?" gumam Cleo, merasa tertantang sekaligus terkejut dengan perubahan drastis pelayan di depannya. "Apa Tuan tidak tertarik mencobanya?" bisik Syifa tepat di depan bibir Cleo, aroma alkohol bercampur parfum manis tercium dari napasnya. Cleo tertawa kecil, sebuah tawa rendah yang berbahaya. Ia tidak berniat mengabaikan undangan itu. Sementara itu, Zero membantu Syifa menanggalkan sisa-sisa kain yang menutupi tubuhnya. Kini, tubuh yang beberapa jam lalu mereka hina "berlemak" itu justru terlihat begitu menggiurka. "Hei, Zero! Aku duluan!" ucap Cleo tak sabar. Bibirnya langsung menyerang dengan rakus, bermain di area bukit empuk milik Syifa. Zero tak mau kalah. Dalam posisi terlentang, ia meraih bagian bawah tubuh gadis i
Dernière mise à jour: 2026-01-11
Chapter: Bab 6 - Tuan.. saya belum selesaiDalam kegelapan yang menyergap, indra perasa Syifa mendadak menjadi jauh lebih tajam. Ia tidak bisa melihat apa-apa, namun ia bisa merasakan kehadiran dua sosok yang mengurungnya di atas ranjang sempit. "Tuan... hmmm... Apa yang Anda lakukan?" gumam Syifa dengan suara yang tercekik. Sesuatu yang asing memaksa masuk kedalam mulut nya, mendominasi celah bibirnya yang gemetar. Dalam kebutaan itu, satu-satunya pegangan yang ia punya hanyalah pinggiran kasur yang ia remas kuat. "Ini milikku,kau tahu ini bukan? tanpa perlu aku jelaskan," bisik Cleo dengan suara parau yang penuh kemenangan. "Kau tahu, mulut berbisa yang tadi berteriak soal harga diri itu bisa menjadi penenang yang sangat baik bagi kami. Lakukan tugasmu dengan benar jika kau tidak ingin kehilangan 'kesucian' yang kau banggakan itu terlalu cepat malam ini." "Tuan, saya... hmm... saya tidak bisa..." Syifa berusaha memalingkan wajah, namun tangan Cleo mengunci tengkuknya dengan cengkeraman yang tak tergoyahkan.
Dernière mise à jour: 2026-01-11