author-banner
Pipin
Pipin
Author

Novels by Pipin

Kesayangan Tuan Elian

Kesayangan Tuan Elian

Bagi Rinjani, pernikahan kontrak dengan Elian Baskara hanyalah cara untuk bertahan hidup. Namun di balik kemewahan mansion Baskara, ia diperlakukan tak lebih dari sekadar "properti" yang diabaikan dan disakiti. Elian yang masih terjebak bayang-bayang masa lalu menganggap Rinjani sebagai beban yang bisa ia kendalikan dengan kekuasaan dan kata-kata tajam. ​Puncak kesabaran Rinjani runtuh saat hinaan menjadi menu hariannya. Di saat Elian mulai terbiasa dengan kehadiran Rinjani, gadis itu justru memilih untuk pergi. Elian baru menyadari arti kehadiran Rinjani justru saat ia telah kehilangan harga diri di mata istrinya sendiri. Dulu Elian yang berkuasa, kini Elian yang memohon. Kesempatan kedua pun hanya ada di tangan Rinjani sekarang.
Read
Chapter: Bab 182 - Tentang Masa Lalu
Setelah menyelesaikan doa di makam orang tua Elian di kota, perjalanan berlanjut menuju desa kelahiran Rinjani.​Lana turun lebih dulu, tampak antusias dengan kamera DSLR di tangannya. Ia sibuk menangkap gradasi warna langit senja dan hamparan sawah yang masih tersisa, membiarkan kedua orang tuanya berjalan pelan di belakang.​​"Kamu pernah kabur dan meninggalkanku di sini cukup lama," gumam Elian, matanya menatap sebuah sudut jalan di mana dulu ia pernah merasa dunianya runtuh karena ditinggalkan "perabot"-nya."​Kita pernah saling menjauh sejauh mungkin, tapi akhirnya tetap ditarik kembali ke tempat yang sama, bukan? Kamu ingat? Di tanah ini, yang dulunya berdiri gubuk tua Nenek... tempat kamu dengan sombongnya memintaku menjadi istri kontrakmu?"​Elian terkekeh, tawa yang kini terdengar renyah tanpa beban arogansi. "Ya, aku pria bodoh yang mengira uang bisa membeli segalanya. Dan sekarang, lihatlah... justru kamu yang menjadi duniaku, Rinjani. Aku yang 'kontrak' seumur hidup padamu
Last Updated: 2026-04-06
Chapter: Bab 181 - Awal Baru
​"Bagaimana di sana, Sayang?" suara Abil terdengar penuh harap di seberang telepon. Ia ingin mendengar kejujuran, atau setidaknya satu keluhan yang menandakan putrinya merindukan rumah.​"Baik, Pa," jawab Sonya singkat.​Memang benar, semuanya baik. Di London, kakek dan neneknya—Handoko dan Santi—memanjakannya seolah ingin menebus waktu yang hilang. Ia dikelilingi kemewahan dan kehangatan yang tak pernah ia dapatkan dari orang tuanya yang selalu sibuk dengan ambisi masing-masing. Kakek dan neneknya seolah sedang menjahit kembali robekan cinta yang dulu gagal mereka berikan pada Maya.​Setelah mematikan ponsel, Sonya mengabaikan notifikasi nilai ujiannya yang sempurna. Matanya justru tertuju pada satu nomor yang ia blokir sejak mendarat di Heathrow. Nomor milik pria yang menjadi alasannya "dibuang" ke sini.​"Kamu sedang memikirkan sesuatu, Nak? Ingin liburan ke tempat Papa dan Mamamu?" tanya Handoko, pria 60 tahun yang masih terlihat gagah meski rambutnya memutih sempurna.​Di samping
Last Updated: 2026-04-05
Chapter: Bab 180 - Tempat kembali terhangat
"Dari mana, Pa?" tanya Lana tiba-tiba dari arah tangga. Elian terlonjak, hampir saja menjatuhkan kunci mobilnya. Tumben sekali putri bungsunya ini sudah bangun saat fajar baru saja menyembul. ​Lana mendekat, mengernyitkan hidung saat mencium aroma dari jas ayahnya. "Dan... ini kenapa, Pa? Kok berantakan begini? Papa bau asap, bau debu, pokoknya kusut banget!" ​Elian cepat-cepat menarik tangan Lana menjauh dari tangga, takut suara berisik mereka membangunkan Rinjani. Ia tidak mau sang "Ibu Negara" turun dan melempar pertanyaan yang lebih mematikan. ​Dengan suara berbisik, Elian menceritakan garis besar kejadian semalam—tentu saja dengan versi yang sudah "disaring". Lana menutup mulutnya, matanya membelalak antara kaget dan cemas. ​"Terus, Kak Saka gimana, Pa? Aman?" tanya Lana dengan nada khawatir. ​"Aman. Kamu tenang saja, Kakakmu itu sudah di rumahnya sekarang," jawab Elian sembari menepuk dada, mencoba terl
Last Updated: 2026-04-04
Chapter: Bab 179 - Dua kebanggaan saka
"Sepertinya ada pertunjukan menarik di sini," suara bariton Antonio memecah keheningan saat ia muncul dari kegelapan gudang. Napasnya stabil, tak ada setetes pun keringat yang menandakan ia baru saja melumpuhkan sisa penjaga di dalam. ​Dua anak buah penculik yang tadi pingsan akibat keberuntungan Elian tiba-tiba mulai tersadar dan mencoba merangkak bangun. Tanpa menoleh sepenuhnya, Antonio bergerak. Satu pukulan pendek yang presisi ke arah rahang, disusul tendangan tumit yang menghantam ulu hati. ​Bugh! Brak! ​Keduanya tumbang seketika. Permanen. ​Saka terdiam, matanya membelalak kagum. Di detik itu, semua rasa bangga Elian atas "kemenangan konyol"-nya tadi sirna tak berbekas. Elian hanya bisa berdiri mematung, menyadari bahwa di dunia yang penuh kekerasan ini, ia hanyalah seorang amatir yang sedang bermain api. ​"Kita pulang. Anak buahku yang akan membereskan sisanya," perintah Antonio singkat. Ia menyeka noda darah di buku jarinya dengan saputangan hitam. ​Saka segera berlari
Last Updated: 2026-04-04
Chapter: Bab 178 - Menyelamatkan Saka
Dua jam kemudian, SUV hitam itu berhenti tiga ratus meter dari sebuah pabrik pengolahan kayu yang terbengkalai. Mesin dimatikan. Lampu dipadamkan dan keadaan sunyi seketika.​Antonio tidak langsung turun. Ia merogoh laci di bawah jok, mengeluarkan sebuah benda logam hitam dingin, lalu menyerahkannya pada Elian.​"Pegang ini. Lepas pengamannya hanya jika kamu melihat wajah yang tidak kamu kenal mendekat," instruksi Antonio datar.​Elian menatap pistol di tangannya. Beratnya nyata. Dinginnya menusuk kulit. "Aku tidak pernah berpikir akan memegang ini lagi setelah kejadian itu."​"Gunakan otakmu, Elian. Di dalam sana bukan film. Mereka tidak akan menunggumu selesai bicara sebelum menarik pelatuk," Antonio memakai jaket taktisnya, memeriksa magasin, dan memasang peredam suara di moncong senjatanya. Klik. Suara mekanis itu terdengar mematikan.​"Tetap di belakangku. Jangan bersuara," perintah Antonio lagi.​Mereka bergerak menembus semak belukar. Antonio melangkah tanpa suara, setiap gerak
Last Updated: 2026-04-03
Chapter: Bab 177 - Dua ayah, satu Tujuan
"Aku akan menemukannya malam ini juga. Sudah larut, sebaiknya kamu turun dan segera pulang," tegas Antonio. Suaranya rendah, nyaris seperti geraman, saat ia bersiap menepikan mobil untuk menurunkan Elian di tengah jalan yang sepi.​"Dia anakku juga. Jangan pernah lupakan itu, Antonio," balas Elian tak mau kalah. Tatapannya tajam, mencengkeram pegangan pintu mobil seolah ia tak akan membiarkan siapa pun mengeluarkannya dari sana. "Sekalipun saat ini dia hanya memanggilku 'Om', darahku yang mengalir di tubuhnya. Aku tidak akan membiarkanmu pergi sendirian."​Antonio melirik Elian sekilas, ada kilatan sinis namun juga rasa hormat yang tipis. "Jangan salahkan aku kalau nanti kamu pingsan atau muntah dengan apa yang akan kamu lihat di sana. Duniamu penuh dengan angka dan negosiasi, duniaku penuh dengan bau karat dan mesiu."​"Aku terbiasa menonton film aksi, Antonio. Kenyataan tidak mungkin semengerikan itu," balas Elian, mencoba menutupi getar kecemasan di sua
Last Updated: 2026-04-02
Terjebak Hasrat Dua Tuan Muda Dewangga

Terjebak Hasrat Dua Tuan Muda Dewangga

Syifa hanyalah mahasiswi teladan yang hidupnya hancur saat sang ibu kritis. Namun, Mansion Dewangga bukan tempat pengabdian biasa; itu adalah neraka yang dikuasai oleh si kembar Cleo dan Zero. ​Setelah malam jahanam yang menghancurkan harga dirinya, Syifa menyadari satu hal: Kepolosan tidak akan menyelamatkannya. Di rumah di mana kata-kata si kembar adalah hukum, Syifa memutuskan untuk berhenti menjadi mangsa. ​Di balik wajah polos dan seragam pelayannya, Syifa mulai menenun jaring manipulasi. Memanfaatkan kedinginan Zero dan kegilaan Cleo, ia mulai mengadu domba dua saudara itu demi satu tujuan: Keluar hidup-hidup dengan nyawa ibunya. ​Namun, bermain dengan dua iblis berarti harus siap terbakar. Saat obsesi si kembar berubah menjadi perang terbuka, Syifa tersadar bahwa ia mungkin telah menciptakan monster yang jauh lebih mengerikan dari sebelumnya. Siapakah yang akan menang? Sang pelayan yang licik, atau si kembar yang tak ingin berbagi?
Read
Chapter: Bab 66 - Mereka kembali
​"Syifa..." sapa Dewangga pelan. Suaranya serak, khas seseorang yang baru saja menempuh perjalanan jauh tanpa istirahat.​Syifa tersentak kecil, terbangun dari tidur sorenya yang gelisah. "Tuan..." bisiknya parau. Matanya yang masih mengantuk menangkap sosok Dewangga yang berdiri di ambang pintu. ​Untuk sepersekian detik, sebuah senyuman tipis muncul di sudut bibir Syifa—sebuah refleks kerinduan yang jujur. Namun, menyadari egonya, Syifa langsung mengubur senyuman itu kembali di balik wajah datarnya yang dingin.​"Aku bawakan beberapa buah pesananmu, dan ini... rujak dari pasar yang kamu minta tempo hari," ujar Dewangga semangat. Ia meletakkan beberapa kantong plastik di atas meja kecil, matanya berbinar meski lingkaran hitam di bawah matanya tak bisa berbohong.​Syifa menegakkan tubuhnya, bersandar pada tumpukan bantal. Ia memperhatikan Dewangga yang tampak berantakan; rambutnya tidak rapi, dan rahangnya dipenuhi bayangan jenggot tipis.​"Bagaimana keadaanmu?" tanya Dewangga, mendek
Last Updated: 2026-04-07
Chapter: Bab 65 - Rindu?
Hari itu, tepat usia kandungan Syifa delapan bulan, dan empat bulan berlalu sejak insiden berdarah di kaki gunung itu. Meski kakinya belum pulih seratus persen, Dewangga tetaplah pria keras kepala yang tidak bisa dipisahkan dari tumpukan pekerjaannya.​Syifa menatap ponselnya dengan geram. Ia baru saja menutup telepon setelah mendengar suara dingin suaminya.​"Ada apa?"​Hanya dua kata itu yang diucapkan Dewangga setelah seminggu tidak pulang. Syifa merasa ulu hatinya panas. Entah karena hormon kehamilan atau memang egonya yang terusik, ia merasa jawaban singkat itu adalah penghinaan. Padahal, batinnya meronta. Sejak bulan lalu, bayi di rahimnya seolah punya ikatan aneh; janin itu tidak akan berhenti menendang dengan kuat sebelum tangan besar Dewangga mengusap perutnya.​Syifa melangkah menuju lantai bawah. Aroma asam segar tercium dari dapur, tempat Bi Sumi sedang sibuk mengulek bumbu rujak meski jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.​"Makasih ya, Bi," gumam Syifa saat piring be
Last Updated: 2026-04-06
Chapter: Bab 64 - Menikmati?
"Semua butuh waktu, Syifa. Kamu tahu itu. Setelah semua yang aku lakukan..." Kalimat Dewangga menggantung, suaranya melemah seiring dengan kelopak matanya yang mulai memberat. Pengaruh obat bius dosis tinggi mulai menarik kesadarannya kembali ke kegelapan.​Syifa menarik napas panjang, membiarkan dadanya yang sesak sedikit melonggar. Emosinya yang tadi tersulut perlahan mereda, menyisakan keletihan yang teramat sangat. Ia menatap pria yang kini terlelap itu dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara benci, iba, dan tanggung jawab yang dipaksakan.​"Waktunya istirahat, Tuan..." gumam Syifa ketus, meski tangannya sempat merapikan selimut Dewangga untuk terakhir kalinya sebelum ia melangkah keluar.​Malam telah larut saat Syifa berjalan menyusuri koridor rumah sakit yang sunyi. Ia membutuhkan udara segar, atau setidaknya kafein untuk menenangkan sarafnya yang tegang. Ia menuju kantin rumah sakit yang terletak di sudut remang-remang, tempat yang biasanya hanya diisi oleh keluarga
Last Updated: 2026-04-05
Chapter: Bab 63 - Saya adalah mainan
"Kenapa kamu seminggu ini tidak ke rumah sakit?" tanya Dewangga, suaranya terdengar seperti tuntutan. Ia berbohong. Ia tahu dari asistennya bahwa Syifa hampir setiap hari datang, berdiri di balik kaca pintu atau bertanya pada perawat tentang perkembangan kondisinya tanpa pernah mau masuk menemuinya. ​Syifa mendengus, langkah kakinya terdengar mantap di lantai keramik. "Bosan. Capek, tentu saja. Saya punya kehidupan lain, Tuan. Tidak hanya untuk mengurusi pria sakit di sini, bukan?" ​"Jadi kamu merasa keberatan?" Dewangga menoleh sedikit, mencoba menangkap ekspresi istrinya. ​"Kita bukan suami-istri yang penuh cinta seperti di sinetron-sinetron, Tuan. Kita menikah karena paksaan, bukan? Tuan yang memaksa saya masuk ke dalam hidup Tuan yang berantakan ini. Jadi kalau seandainya saya bersikap dingin seperti ini, jangan salahkan saya," ucap Syifa tajam. ​"Tapi aku menyayangimu..." bisik Dewangga. ​"Dan kata-kata itu tidak membuat saya merasakan hal yang sama," tantang Syifa. Ia mem
Last Updated: 2026-04-04
Chapter: Bab 62 - Cemburu..
"Dokter, berapa lama kaki ini akan pulih?" Dewangga bertanya dengan nada yang tidak sabar. Matanya menatap nanar pada gips putih yang membungkus kaki kanannya. ​Kepalanya masih terbalut perban tipis untuk menutupi luka yang sempat bocor, dan tangan kirinya masih menyisakan nyeri hebat yang berdenyut setiap kali ia mencoba bergerak. Bagi pria yang terbiasa bergerak cepat dan mengendalikan ribuan orang, terbaring diam seperti ini adalah siksaan yang lebih kejam daripada kecelakaan itu sendiri. ​"Pemulihan tulang membutuhkan waktu, Tuan Dewangga. Apalagi benturan di kepala Anda cukup serius. Anda harus bersyukur masih bisa bicara sedini ini," sahut dokter dengan nada tenang namun tegas. ​Namun, bukan rasa sakit fisik yang paling menyiksa Dewangga. Sudah seminggu sejak ia terbangun dari koma, dan Syifa sama sekali tidak menampakkan batang hidungnya. ​Ponsel di atas nakas terus bergetar. Bukan dari Syifa, melainkan dari anak-anaknya. Zero dan Cleo terus-menerus mengirim pesan dan menel
Last Updated: 2026-04-04
Chapter: Bab 61 - Apa aku gagal membencinya?
​"Syukurlah kita sudah kembali ke Jakarta," bisik Dewangga parau. Masker oksigennya sudah diganti dengan selang nasal, suaranya terdengar lebih jelas meski masih lemah. "Kamu ingat malam di hotel itu? Sebenarnya... aku melihat seorang perempuan di pohon beringin dekat jendela kita."​"Lalu?"​"Lalu aku menyadari kalau aku lebih takut kehilangan mukaku di depanmu daripada takut pada hantu itu," Dewangga tersenyum tipis, sebuah kilatan jenaka muncul di matanya yang sayu. "Dan aku ingat bagaimana kamu menyantap pecel itu dengan sangat kalap. Apa selama ini kamu memang sangat menyukai makanan seperti itu? Sampai-sampai mengabaikan suamimu yang baru saja berjuang di pasar?"​Syifa hanya mengangguk perlahan, dadanya terasa sesak. Setiap detail kecil yang diingat Dewangga—ketakutannya yang konyol, rasa pecel yang hambar—adalah bagian dari "permainan" Syifa untuk menghancurkannya. Namun pria ini justru menyimpannya sebagai kenangan manis.​"Istirahatlah, Tuan. Jangan memaksakan diri untuk bic
Last Updated: 2026-04-03
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status