Mag-log inSyifa hanyalah mahasiswi teladan yang hidupnya hancur saat sang ibu kritis. Namun, Mansion Dewangga bukan tempat pengabdian biasa; itu adalah neraka yang dikuasai oleh si kembar Cleo dan Zero. Setelah malam jahanam yang menghancurkan harga dirinya, Syifa menyadari satu hal: Kepolosan tidak akan menyelamatkannya. Di rumah di mana kata-kata si kembar adalah hukum, Syifa memutuskan untuk berhenti menjadi mangsa. Di balik wajah polos dan seragam pelayannya, Syifa mulai menenun jaring manipulasi. Memanfaatkan kedinginan Zero dan kegilaan Cleo, ia mulai mengadu domba dua saudara itu demi satu tujuan: Keluar hidup-hidup dengan nyawa ibunya. Namun, bermain dengan dua iblis berarti harus siap terbakar. Saat obsesi si kembar berubah menjadi perang terbuka, Syifa tersadar bahwa ia mungkin telah menciptakan monster yang jauh lebih mengerikan dari sebelumnya. Siapakah yang akan menang? Sang pelayan yang licik, atau si kembar yang tak ingin berbagi?
view more"Oh baby, kamu terlihat sangat tampan siang ini. Sudah lama tidak jumpa, Sayang," bisik Nia melihat Zero yang baru saja melangkah memasuki Klub VVIP itu. Tangannya yang lentur terulur manja, melingkar di leher Zero yang baru saja memasuki ruangan. "Nia, kau tetap agresif seperti biasa." Sindirnya. "Mau main denganku?" tawar Nia tanpa basa-basi. Ia sengaja menyingkap gaun mini-nya hingga jauh ke atas paha, memamerkan kulitnya yang berkeringat tipis. "Aku lebih suka barang yang belum disentuh," ucap Zero dingin sambil meraih gelas wiski dari meja dan meneguk nya kasar. "Padahal dulu kamu tergila-gila dengan gerakanku, Sayang. Aku jauh lebih hebat daripada siapa pun di atas ranjang," keluh Nia sambil mengerucutkan bibirnya. "Aku sedang butuh mainan baru, dan kau bukan lagi seleraku," ucap Zero, melepaskan tangan Nia dari lehernya dan melangkah pergi tanpa menoleh lagi. Nia berdiri mematung, dadanya naik turun. "Oh, sial... Melihatnya saja aku sudah panas dingin be
Syifa mengunci diri di kamar mandi dapur yang sempit, setelah kedua majikan nya meninggalkannya sendirian. "Aku takut... Aku takut!" gumamnya dengan napas tersengal. Bayangan wajah Zero yang dingin dan seringai Cleo semalam berputar di kepalanya seperti kaset rusak. Tubuhnya masih terasa kotor, seolah sisa-sisa perlakuan mereka semalam tidak akan pernah benar-benar hilang meski digosok dengan sabun paling keras sekalipun. "Tapi aku tidak punya pilihan," ia menatap pantulannya di cermin buram. Matanya merah, namun ada api yang mulai menyala di sana. "Kalau aku menyerah sekarang, Ibu yang akan mati." Syifa mematikan keran. Keheningan mendadak terasa mencekik. Ia menghirup napas dalam, menelan kembali semua rasa takutnya ke dasar perut. Ia harus melewati ini. Ia harus menjadi "iblis" yang lebih pintar dari mereka. Baru saja ia keluar dari kamar mandi, sebuah bayangan tinggi sudah menunggunya di lorong dapur yang sepi. Cleo. "Bagus sekali. Menangis di pojokan setelah ber
Syifa tersentak bangun. Hal pertama yang ia rasakan adalah lengket yang mengering di wajah dan lehernya. Bau amis yang tajam menyerang indra penciumannya. Ia menyibak selimut, memeriksa pangkal pahanya. Tidak ada darah. Tidak ada rasa sakit robek di sana. "Sialan. Mereka cuma menjadikanku tempat sampah," desisnya. Syifa menyeret langkah ke cermin retak di pojok kamar. Matanya melotot tajam melihat pantulan dirinya. Wajahnya berantakan, jejak putih mengering itu seolah menertawakan harga dirinya. Ia meraih waslap, menggosok kulitnya hingga memerah dan perih. Air matanya tidak keluar. Rasa sedihnya sudah hangus, berganti menjadi amarah yang dingin. "Ibu harus sembuh," gumamnya pada bayangan di cermin. "Apapun taruhannya. Kalau mereka mau main api, aku akan jadi bensinnya." Selesai mandi, Syifa memakai seragam pelayannya, mengancingkannya hingga rapat ke leher. Ia keluar dari paviliun dengan langkah mantap. Di ruang tengah, Cleo dan Zero sudah duduk di meja makan, seolah tidak
"Hei, berhenti diam! Dan nikmati ini sepenuhnya," goda Syifa dengan suara serak, sementara kelopak matanya nyaris terpejam rapat akibat pengaruh alkohol. Syifa menarik kepala Cleo lebih dekat, memaksa pria itu mendekat ke arah dadanya. "Kau ingin apa, hm?" gumam Cleo, merasa tertantang sekaligus terkejut dengan perubahan drastis pelayan di depannya. "Apa Tuan tidak tertarik mencobanya?" bisik Syifa tepat di depan bibir Cleo, aroma alkohol bercampur parfum manis tercium dari napasnya. Cleo tertawa kecil, sebuah tawa rendah yang berbahaya. Ia tidak berniat mengabaikan undangan itu. Sementara itu, Zero membantu Syifa menanggalkan sisa-sisa kain yang menutupi tubuhnya. Kini, tubuh yang beberapa jam lalu mereka hina "berlemak" itu justru terlihat begitu menggiurka. "Hei, Zero! Aku duluan!" ucap Cleo tak sabar. Bibirnya langsung menyerang dengan rakus, bermain di area bukit empuk milik Syifa. Zero tak mau kalah. Dalam posisi terlentang, ia meraih bagian bawah tubuh gadis i






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.