LOGINSyifa hanyalah mahasiswi teladan yang hidupnya hancur saat sang ibu kritis. Namun, Mansion Dewangga bukan tempat pengabdian biasa; itu adalah neraka yang dikuasai oleh si kembar Cleo dan Zero. Setelah malam jahanam yang menghancurkan harga dirinya, Syifa menyadari satu hal: Kepolosan tidak akan menyelamatkannya. Di rumah di mana kata-kata si kembar adalah hukum, Syifa memutuskan untuk berhenti menjadi mangsa. Di balik wajah polos dan seragam pelayannya, Syifa mulai menenun jaring manipulasi. Memanfaatkan kedinginan Zero dan kegilaan Cleo, ia mulai mengadu domba dua saudara itu demi satu tujuan: Keluar hidup-hidup dengan nyawa ibunya. Namun, bermain dengan dua iblis berarti harus siap terbakar. Saat obsesi si kembar berubah menjadi perang terbuka, Syifa tersadar bahwa ia mungkin telah menciptakan monster yang jauh lebih mengerikan dari sebelumnya. Siapakah yang akan menang? Sang pelayan yang licik, atau si kembar yang tak ingin berbagi?
View MoreSuara langkah kaki Nyonya Hana yang beradu dengan lantai marmer terdengar begitu angkuh, menggema di ruang tamu kediaman Dewangga yang megah namun dingin.
"Syifa, selagi saya di luar negeri, kamu bantu urus dua majikanmu lagi yang akan pulang sebentar lagi," ucap Nyonya Hana dingin tanpa menoleh. Syifa mendongak sedikit, binar kebingungan tertangkap di matanya. Selama ini ia hanya tahu rumah ini milik keluarga besar Dewangga, namun hanya Nyonya Hana yang wajahnya akrab di ingatan. "Siapa, Nyonya?" tanya Syifa penasaran. "Namanya Cleo dan Zero. Mereka seumuran denganmu. Oia, Bagaimana kondisi ibumu? Sudah membaik?" Tanya wanita itu sambil mengambil tas nya. "Sudah, Nyonya. Terima kasih banyak... semua berkat bantuan biaya rumah sakit dari Nyonya," gumam Syifa, kembali menundukkan kepala sebagai tanda hormat yang mendalam. "Kalau begitu, gantikan tugas ibumu dengan baik selagi kamu libur kuliah. Jangan buat saya kecewa. Mereka akan tiba sebentar lagi," tegas Hana. "Nyonya tidak ingin bertemu Tuan Muda dulu sebelum berangkat?" tanya Syifa, alisnya bertaut heran melihat seorang ibu yang bahkan tidak ingin menyambut kepulangan putranya sendiri. Nyonya Hana menghela napas panjang, gurat kelelahan terpancar dari wajahnya yang tetap cantik di usia senja. "Tidak. Saya sudah lelah menghadapi mereka. Urus saja mereka sebagaimana kamu mengabdi padaku." Tanpa kata pamit, Nyonya Hana melangkah keluar menuju mobil jemputannya. Keheningan itu tak bertahan lama. Tak sampai lima belas menit, suara raungan mesin mobil membelah kesunyian halaman. Syifa bergegas menuju pintu depan. Pintu terbuka lebar. Dua sosok pria tinggi dengan garis wajah yang identik namun aura yang bertolak belakang masuk ke dalam ruangan. Pandangan keduanya langsung mengunci Syifa yang berdiri mematung di dekat pilar. "Jadi..." Cleo memulai, menyugar rambutnya ke belakang sementara sudut bibirnya terangkat membentuk seringai tipis. "Ini 'mainan' baru yang ditinggalkan Mama untuk kita?" "Siapa namamu?" suara Zero berat, dingin, dan menuntut. "Sy-syifa, Tuan Muda," jawab Syifa terbata. "Syifa..." Zero mengulangi nama itu. "Mulai hari ini, hidupmu bukan lagi milik Mama. Tapi milik kami." Syifa berusaha mengabaikan, tapi jelas tangan nya gemetar pelan dengan ucapan pria itu. "Silakan masuk, Tuan Muda. Nyonya baru saja berangkat ke bandara sepuluh menit yang lalu," ucap Syifa dengan suara selembut mungkin, berusaha meredam ketegangannya sendiri. Cleo, yang tengah melepas kacamata hitamnya, mendengus sinis. "Aku tidak peduli dengannya. Wanita itu hanya sibuk memarahi, mengontrol, dan menurutku... dia bahkan lebih hina dari peliharaan di rumah ini." Deg. Dada Syifa berdenyut nyeri. Bagaimana mungkin seorang anak bicara begitu kejam tentang ibu kandungnya? Syifa menatap Cleo dengan mata membelalak tak percaya. Saat ia mengalihkan pandangan ke arah Zero, ia justru mendapati tatapan yang jauh lebih dingin. Zero hanya diam, namun sorot matanya yang setajam elang seolah membenarkan setiap kata-kata kasar kembarannya. "Aku lapar," potong Zero. "Buatkan makanan lain. Aku tidak suka menyentuh makanan yang sudah dimasak lebih dari lima belas menit." "Tapi Tuan, makanan ini masih hangat—" Brak! Cleo menghantam meja makan dengan telapak tangannya. Ia melangkah mendekat, mengurung tubuh mungil Syifa di antara meja dan tubuh tegapnya yang menjulang. "Kau menolak? Hah? Dengar, Pelayan. Di rumah ini, kata-kataku dan Zero adalah hukum." Syifa gemetar. Aroma maskulin yang tajam dari tubuh Cleo justru terasa mencekik. Ia menoleh ke arah Zero untuk meminta bantuan, namun Zero justru menarik kursi dengan tenang, duduk sembari memperhatikan penderitaan Syifa seolah itu adalah hiburan pembuka. "Waktumu tinggal empat belas menit, Syifa," ucap Zero sambil mengetuk-ngetuk permukaan jam tangan mewahnya. "Atau kau ingin melihat bagaimana cara kami menghukum pelayan yang pembangkang?" Dengan tangan gemetar, Syifa mulai membereskan piring-piring itu. Namun, saat ia hendak membawa nampan besar ke dapur, sebuah tangan kekar mencekal pergelangan tangannya dengan cengkeraman yang kuat dan tak tergoyahkan. Bukan Cleo, melainkan Zero yang tiba-tiba sudah berdiri di belakangnya. "Tunggu," bisik Zero. Ia mengambil sepotong daging dari piring, lalu menyodorkannya paksa ke depan bibir Syifa. "Sebelum kau memasak yang baru, telan ini. Jika kau tidak keracunan dalam satu menit, mungkin aku akan mempertimbangkan untuk tidak membuangmu malam ini." Syifa menatap potongan daging itu dengan air mata yang mulai menggenang. Tanpa ragu, Syifa membuka mulutnya dan memakan daging itu di hadapan mereka berdua. Ia mengunyahnya perlahan, menelan rasa takutnya bersama makanan itu, lalu menghempaskan tangan Zero dari pergelangan tangannya. "Saya akan memasakkan hidangan baru, Tuan Muda. Dan saya pastikan, setelah ini Anda tidak akan punya alasan lagi untuk menghina makanan." Syifa berbalik menuju dapur tanpa menunggu jawaban. Cleo tertawa kecil, sebuah tawa yang terdengar lebih tertarik daripada mengancam, sementara Zero terus menatap punggung Syifa dengan tatapan yang mulai berubah—dari meremehkan menjadi penasaran yang berbahaya. "Sepertinya," gumam Cleo sambil memainkan kunci mobil di jemarinya, "mainan kita kali ini punya nyali yang cukup besar." "Kita lihat," sahut Zero datar, namun sudut bibirnya membentuk senyum tipis untuk pertama kalinya. "Sampai kapan dia bisa bertahan.""Saya bukan milik siapa pun, Tuan Muda!" bentak Syifa dari balkon lantai atas.Suara nya penuh penekanan, meyakinkan mereka, kalau dia bukan milik siapapun.Cleo mendongak, matanya berkilat liar menelusuri lekuk tubuh Syifa yang kini jauh berbeda."Oh, jalang kecil... Waw. Perutmu sudah sebesar itu?" Cleo berseloroh sambil melangkah menaiki satu per satu anak tangga dengan santai, seolah ia sedang berburu mangsa yang terpojok."Aku dengar, agar persalinan normal, kau butuh rangsangan lebih sering. Bagaimana kalau kami membantumu melakukannya? Ya... agar jalur keluar anak haram ini lancar.""Cleo! Tutup mulutmu!" bentak Dewangga. Ia mencoba menerjang maju, namun ditahan. "Ah, Papa... tenaga Papa tidak sebanding dengan kami sekarang. Jangan berlebihan, nanti tulang Papa patah lagi," Zero mencegat Dewangga, tangan kekarnya menahan agar ayah nya tidak melangkah lebih jauh.Zero kemudian menyusul kembarannya, berdiri hanya beberapa langkah di bawah Syifa."Sebelum hamil, kau menggema
"Syifa..." sapa Dewangga pelan. Suaranya serak, khas seseorang yang baru saja menempuh perjalanan jauh tanpa istirahat.Syifa tersentak kecil, terbangun dari tidur sorenya yang gelisah. "Tuan..." bisiknya parau. Matanya yang masih mengantuk menangkap sosok Dewangga yang berdiri di ambang pintu. Untuk sepersekian detik, sebuah senyuman tipis muncul di sudut bibir Syifa—sebuah refleks kerinduan yang jujur. Namun, menyadari egonya, Syifa langsung mengubur senyuman itu kembali di balik wajah datarnya yang dingin."Aku bawakan beberapa buah pesananmu, dan ini... rujak dari pasar yang kamu minta tempo hari," ujar Dewangga semangat. Ia meletakkan beberapa kantong plastik di atas meja kecil, matanya berbinar meski lingkaran hitam di bawah matanya tak bisa berbohong.Syifa menegakkan tubuhnya, bersandar pada tumpukan bantal. Ia memperhatikan Dewangga yang tampak berantakan; rambutnya tidak rapi, dan rahangnya dipenuhi bayangan jenggot tipis."Bagaimana keadaanmu?" tanya Dewangga, mendek
Hari itu, tepat usia kandungan Syifa delapan bulan, dan empat bulan berlalu sejak insiden berdarah di kaki gunung itu. Meski kakinya belum pulih seratus persen, Dewangga tetaplah pria keras kepala yang tidak bisa dipisahkan dari tumpukan pekerjaannya.Syifa menatap ponselnya dengan geram. Ia baru saja menutup telepon setelah mendengar suara dingin suaminya."Ada apa?"Hanya dua kata itu yang diucapkan Dewangga setelah seminggu tidak pulang. Syifa merasa ulu hatinya panas. Entah karena hormon kehamilan atau memang egonya yang terusik, ia merasa jawaban singkat itu adalah penghinaan. Padahal, batinnya meronta. Sejak bulan lalu, bayi di rahimnya seolah punya ikatan aneh; janin itu tidak akan berhenti menendang dengan kuat sebelum tangan besar Dewangga mengusap perutnya.Syifa melangkah menuju lantai bawah. Aroma asam segar tercium dari dapur, tempat Bi Sumi sedang sibuk mengulek bumbu rujak meski jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam."Makasih ya, Bi," gumam Syifa saat piring be
"Semua butuh waktu, Syifa. Kamu tahu itu. Setelah semua yang aku lakukan..." Kalimat Dewangga menggantung, suaranya melemah seiring dengan kelopak matanya yang mulai memberat. Pengaruh obat bius dosis tinggi mulai menarik kesadarannya kembali ke kegelapan.Syifa menarik napas panjang, membiarkan dadanya yang sesak sedikit melonggar. Emosinya yang tadi tersulut perlahan mereda, menyisakan keletihan yang teramat sangat. Ia menatap pria yang kini terlelap itu dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara benci, iba, dan tanggung jawab yang dipaksakan."Waktunya istirahat, Tuan..." gumam Syifa ketus, meski tangannya sempat merapikan selimut Dewangga untuk terakhir kalinya sebelum ia melangkah keluar.Malam telah larut saat Syifa berjalan menyusuri koridor rumah sakit yang sunyi. Ia membutuhkan udara segar, atau setidaknya kafein untuk menenangkan sarafnya yang tegang. Ia menuju kantin rumah sakit yang terletak di sudut remang-remang, tempat yang biasanya hanya diisi oleh keluarga






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.