LOGINBagi Rinjani, pernikahan kontrak dengan Elian Baskara hanyalah cara untuk bertahan hidup. Namun di balik kemewahan mansion Baskara, ia diperlakukan tak lebih dari sekadar "properti" yang diabaikan dan disakiti. Elian yang masih terjebak bayang-bayang masa lalu menganggap Rinjani sebagai beban yang bisa ia kendalikan dengan kekuasaan dan kata-kata tajam. Puncak kesabaran Rinjani runtuh saat hinaan menjadi menu hariannya. Di saat Elian mulai terbiasa dengan kehadiran Rinjani, gadis itu justru memilih untuk pergi. Elian baru menyadari arti kehadiran Rinjani justru saat ia telah kehilangan harga diri di mata istrinya sendiri. Dulu Elian yang berkuasa, kini Elian yang memohon. Kesempatan kedua pun hanya ada di tangan Rinjani sekarang.
View MoreRuangan itu sunyi, hanya diisi gemerisik halus kain sutra dan aroma dupa mahal yang menyesakkan paru-paru. Elian Baskara duduk tegak di hadapan penghulu dengan wajah tanpa ekspresi. Jas hitam yang membalut tubuhnya terasa begitu mencekik, seolah kain itu mencoba meremas sisa-sisa napasnya. Baginya, ijab kabul ini bukanlah awal kebahagiaan, melainkan sebuah transaksi bisnis yang disaksikan Tuhan demi menenangkan ambisi orang tuanya.
Di sampingnya, Rinjani duduk tertunduk. Wajahnya tertutup kain brokat tipis, menyembunyikan getar ketakutan gadis desa itu dari mata dunia. "Saudara Elian Baskara bin Baskara Utama," suara wali hakim terdengar tegas, memecah keheningan yang kaku. Elian menarik napas panjang, mencoba mengatur detak jantungnya yang berdegup tak normal. Itu bukan debar cinta, melainkan debar kemarahan yang ia pendam dalam diam. "Saya," jawabnya pendek. Suaranya terdengar mantap, kontras dengan badai kegelisahan di dalam dadanya. "Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau, dengan Rinjani binti Karta, dengan mas kawin seperangkat alat salat dan emas murni seberat dua puluh gram, dibayar tunai." Tangan Elian menjabat erat tangan wali tersebut. Genggamannya dingin, seolah tidak ada aliran darah kehidupan di sana. "Saya terima nikah dan kawinnya Rinjani binti Karta, dengan mas kawin tersebut, tunai!" Seruan "Sah!" menggema dengan lantang, memantul di dinding ruangan yang mewah. Suara itu terasa seperti pukulan palu hakim yang mengunci takdir Elian pada gadis yang baru ia temui tiga kali. Elian menoleh sedikit, menatap Rinjani yang perlahan mengangkat wajahnya. Saat kain tipis itu tersibak, mata mereka bertemu. Mata Elian sedingin es, mengirimkan janji diam bahwa tidak akan ada cinta di rumah mereka. Sementara di mata Rinjani yang bening, terpancar ketakutan sekaligus penerimaan yang tulus. Malam harinya, mansion megah keluarga Baskara terasa lebih menyerupai museum yang membeku daripada tempat tinggal pengantin baru. Sunyi, luas, dan didominasi marmer mengilat yang memantulkan bayangan kesepian. Rinjani sudah menanggalkan gaun pengantinnya, menggantinya dengan piyama katun sederhana yang ia bawa dari desa. Ia berdiri mematung di tengah ruang tamu, bingung harus berbuat apa di tengah kemegahan yang asing ini. Elian muncul dari ruang kerjanya dengan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku. Ia menatap Rinjani yang tampak begitu kecil dan tersesat di tengah istananya. "Kita perlu bicara, Rinjani," kata Elian datar. Tidak ada nada seorang suami di sana, hanya nada seorang CEO yang memberikan instruksi pada bawahan. Rinjani menunduk sopan. "Iya, Tuan Elian." Elian sedikit tersentak, namun ia menyukai panggilan itu. Tuan. Itu menjaga jarak yang ia butuhkan. "Pernikahan ini adalah kontrak. Orang tuaku sudah mendapatkan apa yang mereka mau, sekarang giliranku yang mengatur aturan di rumah ini,"Elian bersandar di kusen pintu, melipat tangan di depan dada. Elian merinci setiap poin yang harus Rinjani patuhi. "Satu, di luar sana kamu adalah Nyonya Elian Baskara. Di depan orang tuaku, kita harus berakting sebagai pasangan yang paling bahagia. Kamu harus berakting sempurna." Ia menjeda sejenak untuk memastikan Rinjani menyimak. "Dua, di dalam rumah ini, kita adalah orang asing. Kamarmu di ujung koridor lantai dua. Jangan pernah masuk ke kamarku atau areaku. Kita tidak akan pernah tidur sekamar, dan tidak ada yang boleh tahu." Wajah Rinjani memucat, namun ia tetap diam menahan kepahitan itu. "Tiga, jangan pernah mengusik privasiku. Barang-barangku dan masa laluku bukan urusanmu. Jangan pernah menanyakan soal Kirana," Elian menyudahi dengan tatapan menghunus. "Tugasmu cuma satu, jadi istri yang patuh dan tidak menuntut apa-apa. Jelas?" Rinjani mengangkat wajahnya. Kesedihan terpancar jelas di matanya, namun ia tetap mengangguk. "Jelas, Tuan. Tapi... boleh saya bertanya?" "Apa?" Nada Elian naik, penuh ketidaksabaran. "Di mana saya harus menyimpan barang-barang saya? Saya hanya membawa satu tas karung, Tuan. Isinya tidak banyak," tanya Rinjani dengan polos. Elian terdiam. Ia mengharapkan protes atau tuntutan tentang hak istri, bukan pertanyaan sesederhana tempat penyimpanan tas karung. Ia menatap Rinjani lama, mencoba mencari tahu apakah gadis ini memang selugu itu. "Asisten rumah tangga akan mengurus itu. Sekarang, tidurlah. Jangan ganggu aku lagi." Rinjani membungkuk sopan—kebiasaan dari desanya—lalu berbalik menuju tangga marmer yang dingin. Di kamar barunya, Rinjani hanya bisa memandangi tas karungnya yang tergeletak di pojok. Ia berlutut, mendoakan neneknya, dan tanpa sengaja juga mendoakan suaminya yang tampak begitu kesepian di tengah kekayaannya. Keesokan sorenya, ketenangan itu pecah saat mobil mewah orang tua Elian tiba. Elian mendadak mengenakan 'topeng' kesempurnaannya. Begitu Rinjani turun dari tangga, Elian segera merangkul pinggangnya dengan posisi yang sangat mesra, meski genggamannya terasa sekeras batu. "Sayang, kenapa lama sekali? Mama sudah menunggu," Elian berbisik tepat di telinga Rinjani dengan nada manis yang dipaksakan. Nyonya Farah Baskara masuk dengan wajah berseri-seri, langsung memeluk mereka berdua. "Anak-anak Mama! Elian, kamu terlihat jauh lebih baik sekarang!" serunya riang. Rinjani merasa kikuk. Tangan Elian di pinggangnya adalah pengingat bahwa semua ini hanyalah panggung sandiwara. "Rinjani, kenapa wajahmu pucat sekali? Elian pasti kurang perhatian padamu," goda Farah. Rinjani bingung, refleks ingin memanggil 'Nyonya', namun ia teringat aturan kontraknya. "Hanya sedikit lelah... Mama," ucap Rinjani kikuk. Panggilan itu terasa asing di lidahnya, namun diucapkan dengan tulus. Elian mempertahankan senyum dangkal itu. Namun, melihat tawa orang tuanya, ia merasa misinya berhasil. "Kami berencana liburan ke Puncak akhir pekan depan, Ma. Benar kan, Sayang?" Rinjani terkejut dengan rencana mendadak itu, namun ia segera mengangguk. "Iya, Ma. Saya sudah bereskan semua keperluan Elian." Begitu mobil orang tuanya keluar dari gerbang, Elian langsung melepaskan rangkulannya seolah-olah kulit Rinjani baru saja membakar tangannya. Wajah mesranya lenyap, menyisakan pria kaku yang dingin. "Bagus. Itu tadi penampilan yang memuaskan," kata Elian tanpa rasa terima kasih. "Sekarang kembali ke kamarmu. Dan jangan pernah merencanakan liburan nyata tanpa izinku." Rinjani hanya membungkuk pelan, memperhatikan punggung Elian yang menjauh. Ia menyadari bahwa sandiwara yang begitu hangat harus berakhir dengan kedinginan yang menusuk hatinya."Sarah..." Elian mendesah, ada rasa iba yang sedikit menyeruak di antara rasa frustrasinya."Aku tahu aku egois. Anak itu lahir tanpamu, dan biarkan dia juga tumbuh tanpamu. Aku hanya ingin memastikan masa depannya. Ketika dia butuh biaya sekolah suatu hari nanti, atau saat dia sakit lagi seperti sekarang dan aku tidak punya apa-apa, aku ingin kamu ada di sana sebagai sandaran finansialnya. Itu saja," Sarah menjeda, lalu menarik napas panjang."Aku sudah menghubungi Boy tentang surat hasil tes DNA itu. Dia akan membawanya ke sini sebentar lagi."Elian memejamkan mata. Surat itu. Bukti hitam di atas putih yang bisa menghancurkan seluruh dunianya jika jatuh ke tangan yang salah."Boy akan mengurus agar nama ayah di dokumen rumah sakit tetap rahasia untuk sementara," tambah Sarah lagi. "Aku hanya butuh jaminan hidup untuk Saka. Setelah itu, kamu bisa kembali menjadi suami sempurna bagi Rinjani tanpa bayang-bayang kami."Elian menyandarka
"Pak Elian? Ada sesuatu yang harus saya sampaikan secara pribadi mengenai kondisi pasien. Ini bukan sekadar demam biasa."Elian mengabaikan getaran ponselnya. Ia melangkah mendekati dokter, meninggalkan Sarah yang masih terpaku di bangku tunggu."Dia kenapa, Dok?" tanya Elian parau."Hasil observasi menunjukkan adanya kondisi Anemia Hemolitik akut yang dipicu oleh infeksi virus. Sel darah merahnya hancur jauh lebih cepat dari yang bisa diproduksi tubuhnya. Kondisi Saka kritis karena kadar hemoglobinnya turun drastis, itulah yang menyebabkan dia lemas dan nadi nya melemah," jelas Dokter dengan nada rendah. "Kami butuh transfusi darah segar segera. Mengingat kondisi genetiknya yang spesifik, akan jauh lebih aman jika pendonor berasal dari orang tua kandungnya untuk menghindari reaksi penolakan tubuh."Elian tertegun. Kata 'orang tua kandung' menghantamnya seperti palu godam. Rahasia yang ia coba kubur kini menjadi satu-satunya kunci untuk menyelamatkan nyawa bayi di dalam sana."Am
"Elian,anak kecil nggak punya salah apa-apa. Kalau dia emang butuh bantuan kamu, ya udah pergi aja"Elian terpaku. Rasa bersalahnya justru semakin berlipat ganda melihat ketulusan istrinya. Ia ingin memeluk Rinjani dan menceritakan semuanya, namun lidahnya kelu. Ia hanya mampu mengecup kening istrinya singkat."Aku pergi sebentar aja, ok. Aku janji akan segera pulang," ucap Elian terburu-buru sambil meraih kunci mobilnya.Sesampainya di apartemen. Bayi kecil yang biasanya tenang itu kini terus meronta, wajahnya memerah padam akibat suhu tubuh yang melonjak drastis. Ia menolak berada di pangkuan pengasuhnya, bahkan pelukan Sarah tidak mampu menenangkan tangisannya yang terdengar menyayat hati.Pintu apartemen terbuka dengan kasar."Sarah..." panggil Elian."Elian? Kamu... kamu datang?" Sarah menatapnya dengan mata sembab. Harapan seolah kembali muncul di wajahnya yang kuyu.Tanpa banyak bicara, Elian mendekat. Ada dorongan aneh di dalam dadanya saat melihat bayi itu menderita. Ia
"Siapa, Boy?" tanya Nabila, matanya menatap ponsel ditangan pria itu. "Sarah. Gue angkat bentar ya, Bil," jawab Boy. "Duh, jangan ngerusak momen deh! Kamu tahu nggak sih, aku hari ini mengabaikan ratusan pesan dan telepon dari nomor-nomor penting cuma demi fokus sama kamu. Tapi kamu malah mau...""Jangan berlebihan, Bil," potong Boy sambil memberikan tatapan menenangkan. "Paling cuma beberapa menit. Tunggu bentar ya, Sayang."Boy segera bangkit dan melangkah menjauh menuju sudut rooftop yang agak sepi, meninggalkan Nabila yang hanya bisa menatap punggungnya dengan perasaan campur aduk antara cemburu dan penasaran.Setelah merasa jaraknya cukup jauh, Boy langsung menggeser tombol hijau. "Halo, kenapa, Sar?" tanyanya dengan suara rendah, matanya sesekali melirik ke arah Nabila untuk memastikan tunangannya itu tidak menguping."Boy... maaf, aku ganggu," suara Sarah terdengar gemetar di seberang sana, diiringi suara tangis bayi yang melengking di latar belakang. "Aku bingung harus






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.