
Dalam Diam Ia Mengikatku
Wáng Rónghuā, seorang aktris rising star yang dikenal elegan dan cerdas, menyembunyikan sebuah rahasia yang tak seorang pun tahu: ia adalah dokter TCM berbakat yang meninggalkan dunia medis karena sebuah insiden pasien yang menghancurkan hidupnya. Setelah bertahun-tahun bersembunyi di balik lampu sorot dan kamera, takdir mempertemukannya kembali dengan Yáng Huīxiáng, aktor A-list yang sejak dulu menyimpan memori tentang “adik kecil jenius” yang mengagumkannya.
Pertemuan mereka di lokasi syuting sebuah drama romantis bukan sekadar kebetulan. Chemistry mereka yang lama terkubur muncul lagi, memaksa mereka menghadapi perasaan yang tidak pernah hilang. Namun, jalan menuju hati satu sama lain dipenuhi tantangan: manajemen ketat, gosip paparazi, saingan yang haus spotlight, hingga intrik keluarga yang lama terpendam.
Sementara itu, rahasia masa lalu Ronghuā mulai terbongkar. Siapa yang sebenarnya ingin menghancurkan kariernya? Dan apakah Huixiang sanggup melindunginya tanpa mengorbankan kariernya sendiri? Dalam dunia hiburan yang glamor tapi kejam, cinta sejati diuji oleh kesalahan masa lalu, ambisi, dan pengkhianatan.
“His Silence Devotion” adalah kisah tentang dua hati yang saling mengenal sejak kecil, perasaan yang diam-diam bertumbuh, dan keberanian untuk menghadapi masa lalu demi masa depan yang mungkin hanya bisa mereka raih bersama.
Read
Chapter: Bab 25: Mereka Tidak Bermain SetengahHal pertama yang ia rasakan bukan takut, tapi dingin—jenis dingin yang tidak berasal dari suhu ruangan, melainkan dari sesuatu yang merayap pelan di dalam dada, membuat napas terasa lebih pendek dan pikiran tiba-tiba terlalu jernih. Ronghuā menatap layar ponsel yang masih menyala di tangannya, artikel yang tadi mereka lempar sebagai umpan kini sudah berubah bentuk sepenuhnya, bukan lagi sekadar berita, tapi sesuatu yang lebih terarah, lebih tajam, seperti panah yang sengaja dilepaskan untuk mengenai satu titik tertentu. Ia tidak perlu membaca ulang untuk tahu—ini bukan reaksi biasa. Ini serangan balik. Dan bukan serangan yang setengah-setengah.“Ini bukan cuma framing,” katanya pelan, hampir seperti bicara pada dirinya sendiri. Huīxiáng berdiri di sampingnya, matanya ikut membaca cepat, rahangnya mengeras sedikit ketika ia menangkap pola yang sama. Kalimat-kalimat itu disusun dengan rapi, terlalu rapi, seperti sudah dipersiapkan sebelumnya. Tidak ada jeda ragu, tidak ada ruang abu-abu
Last Updated: 2026-04-24
Chapter: Bab 24: Titik yang Tidak Bisa KembaliKaca jendela memantulkan bayangan wajahnya sendiri, samar, tertelan cahaya kota yang perlahan menyala satu per satu. Ronghuā berdiri tanpa bergerak, kedua tangannya menyilang di depan dada, tapi bukan karena dingin. Ruangan itu sebenarnya hangat, terlalu hangat malah, sampai udara terasa sedikit pengap, tapi tetap saja ada sesuatu di dalam dirinya yang tidak bisa diam. Lampu-lampu di luar terlihat kecil dari ketinggian ini, seperti titik-titik yang bergerak tanpa arah yang jelas, dan entah kenapa, itu membuat dadanya terasa semakin sempit. Dunia tetap berjalan. Selalu begitu. Orang-orang masih tertawa, masih makan malam, masih pulang ke rumah tanpa tahu bahwa di satu sudut kota yang sama, ada seseorang yang sedang berdiri di batas antara bertahan atau jatuh. Ia menarik napas pelan, mencoba memenuhi paru-parunya, tapi udara terasa berat, seperti ada sesuatu yang menahan di tengah jalan.Di belakangnya, suara langkah Huīxiáng terdengar pelan, diikuti bunyi pintu kamar ya
Last Updated: 2026-04-21
Chapter: Bab 23: Hal yang Tidak Pernah Ia MaafkanAda jenis rasa sakit yang tidak datang dengan suara, tidak memberi peringatan, tidak menghantam seperti sesuatu yang pecah di lantai, tapi justru hadir perlahan seperti sesuatu yang merembes dari celah kecil yang tidak terlihat, mengisi ruang-ruang kosong di dalam diri tanpa disadari sampai akhirnya semuanya terasa terlalu penuh untuk ditahan. Ronghuā tidak bergerak sejak nama itu disebut. Lián Xù. Dua kata yang selama ini ia kubur dalam-dalam, yang ia yakini sudah selesai, sudah tidak lagi punya tempat dalam hidupnya, kini muncul kembali dengan cara yang paling kejam—bukan sebagai kenangan yang bisa ia abaikan, tapi sebagai bagian dari pola yang sama yang sekarang sedang menyeretnya turun. Tangannya masih berada di atas meja, jari-jarinya perlahan menegang, sementara matanya tidak benar-benar melihat layar di depannya. Yang ia lihat bukan data, bukan rekaman, tapi potongan masa lalu yang muncul tanpa izin—ruang praktik kecil dengan lampu terlalu terang, bau obat herbal yang terlalu k
Last Updated: 2026-04-20
Chapter: Bab 22: Yang Tersisa Saat Semua Mulai RuntuhTidak ada yang benar-benar mempersiapkan seseorang untuk momen ketika ia sadar bahwa kebenaran yang ia pegang tidak cukup untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Ronghuā berdiri di tengah lobi rumah sakit dengan USB kecil di dalam saku jasnya, benda itu terasa jauh lebih berat dari ukurannya, seperti membawa sesuatu yang bisa mengubah segalanya tapi juga bisa menghancurkannya dalam satu langkah yang salah. Orang-orang masih berjalan seperti biasa, suara sepatu beradu dengan lantai, percakapan singkat di lorong, panggilan nama pasien dari kejauhan, semua terdengar normal, terlalu normal untuk dunia yang baru saja bergeser di bawah kakinya. Huīxiáng berdiri di depannya, menatap wajahnya dengan fokus yang tidak biasa, seolah mencoba membaca sesuatu yang bahkan Ronghuā sendiri belum sepenuhnya pahami.“Kita pergi sekarang,” kata Huīxiáng pelan, tangannya masih menggenggam pergelangan Ronghuā, hangat dan tegas.Ronghuā mengangguk, tapi langkahnya tidak langsung bergerak. Ia menoleh sekilas ke
Last Updated: 2026-04-18
Chapter: Bab 21: Saat Retakan Itu Akhirnya TerlihatHarapan yang datang terlalu cepat sering kali bukan pertanda baik—kadang itu cuma cara lain dunia menjatuhkanmu lebih dalam. Pagi setelah sidang itu tidak membawa kelegaan apa pun, hanya suara notifikasi yang tidak berhenti sejak fajar bahkan belum benar-benar naik. Layar ponsel Ronghuā dipenuhi judul-judul yang terasa seperti pisau kecil—tajam, berulang, dan tidak memberi ruang untuk bernapas. “Rekaman Lengkap Terungkap?” “Dokter TCM Ambil Keputusan Tanpa Persetujuan?” “Kasus Ronghuā Masuki Fase Baru”—kata “baru” di sana terasa ironis, karena yang berubah bukan fakta, tapi cara orang melihatnya. Ia duduk di ujung tempat tidur, punggungnya tegak tapi bahunya sedikit turun, seperti seseorang yang menahan sesuatu agar tidak runtuh terlalu cepat. Tirai belum dibuka sepenuhnya; cahaya pagi masuk setengah, menciptakan garis terang di lantai yang tidak sampai menyentuh kakinya.Huīxiáng keluar dari dapur dengan dua cangkir kopi, langkahnya pelan, seolah takut suara kecil pun bisa memicu ses
Last Updated: 2026-04-18
Chapter: Bab 20: Sebelum Kebenaran Sempat BicaraYang paling kejam dari sebuah kebenaran bukan ketika ia disembunyikan, tapi ketika ia muncul dalam bentuk yang sudah diubah—cukup mirip untuk dipercaya, cukup berbeda untuk menghancurkan. Notifikasi dari dewan etik itu masih menyala di layar ponsel Ronghuā, cahayanya kecil tapi terasa menusuk di tengah ruang apartemen yang setengah gelap. Jam menunjukkan lewat tengah malam, tapi waktu seperti berhenti bergerak sejak kalimat itu muncul: “Sidang Anda dipercepat. Bukti baru telah diterima.” Ronghuā berdiri diam beberapa detik, napasnya pelan, hampir tidak terdengar, seolah ia takut jika bergerak terlalu cepat, semuanya akan berubah jadi lebih buruk. Di belakangnya, Huīxiáng berdiri dengan jarak yang tidak jauh, cukup dekat untuk merasakan perubahan kecil dalam sikap Ronghuā, cukup jauh untuk tidak langsung menyentuh tanpa izin.“Apa isinya?” tanya Huīxiáng, suaranya lebih rendah dari biasanya, seperti sengaja tidak ingin memecah keheningan yang sudah tegang.Ronghuā menggeleng pelan, mat
Last Updated: 2026-04-16

Bisikan Darah Beku
Salju turun di tengah musim panas—pertanda yang membekukan hati sekaligus menandai kelahiran Lin Yuelian, pewaris sembilan nadi spiritual terakhir dari garis suci Dewi Teratai Beku. Sejak lahir, ia dianggap lemah dan membawa sial, disembunyikan di balik intrik keluarga Lin yang penuh iri, ambisi, dan rahasia kelam. Satu-satunya pelindungnya adalah Bai Shuqing, siluman ikan biru yang bawel namun setia, menjaga Yuelian dari ancaman keluarga dan dunia luar.
Segel rahasia yang menahan kekuatannya mulai retak pada usia 16 tahun, memunculkan kemampuan es dan penyembuhan yang luar biasa. Di saat yang sama, Jiang Wuyin, putra mahkota Changan yang dingin dan penuh rahasia, merasakan getaran takdir yang membentang jauh sebelum mereka lahir. Sepupunya, Jiang Wenyu, menambah kompleksitas ikatan cinta, persaingan, dan politik. Rahasia terbesar terungkap: darah Wuyin adalah kunci segel Frostblood, menautkan nasib mereka secara tak terpisahkan.
Dari intrik keluarga, konflik klan, perburuan pemberontak kuno, hingga politik Kekaisaran Changan, Yuelian harus menavigasi dunia yang kejam sambil belajar menguasai kekuatannya. Ia dihadapkan pada pilihan: menyelamatkan ibu yang menyamar di kediaman musuh atau menghancurkan paman yang mengincar tahta garis suci.
Whispers of the Frostblood adalah epik mainland fantasy 122 episode yang memadukan intrik, pertarungan mematikan, romansa tak terelakkan, dan humor tipis, membawa pembaca ke dunia di mana takdir, kekuasaan, dan cinta saling beradu. Di tengah badai dan salju, satu pertanyaan tersisa: apakah Frostblood akan mekar kembali, atau kehancuran akan menelan segalanya?
Read
Chapter: EPISODE 28 — Pintu yang Salah DibukaHal pertama yang hancur bukan lantai, bukan dinding, bukan bahkan retakan itu—melainkan batas di dalam diri Lin Yuelian sendiri. Dalam satu detik yang terlalu cepat untuk dicegah dan terlalu lambat untuk diabaikan, sesuatu yang selama ini hanya beresonansi kini benar-benar terhubung, bukan sebagai dua hal yang saling menyentuh, tetapi sebagai satu jalur yang terbuka. Udara di aula runtuh menjadi dingin yang hidup, tekanan meningkat bukan lagi seperti beban, melainkan seperti tangan tak terlihat yang menekan setiap orang ke tempatnya, memaksa mereka menjadi saksi.Wuyin merasakannya paling jelas—perubahan itu tidak datang dari retakan, melainkan dari Yuelian. Energi yang sebelumnya ia kenal kini berubah menjadi sesuatu yang asing namun tidak sepenuhnya baru, seperti melodi lama yang dimainkan dengan nada yang salah. “Tarik tanganmu,” katanya tajam, suaranya rendah namun mendesak.Yuelian tidak langsung menjawab. Ujung jarinya masih menyentuh sesu
Last Updated: 2026-04-29
Chapter: EPISODE 27 — Yang Kembali Tidak Datang SendiriTidak ada yang bergerak ketika kata itu selesai diucapkan—“Sudah waktunya.”—seolah kalimat itu bukan sekadar suara, melainkan perintah yang mengikat tubuh dan pikiran sekaligus, membuat setiap orang di aula kehilangan kendali atas reaksi paling dasar mereka. Udara tidak lagi sekadar dingin; ia menjadi berat, padat, seperti sesuatu yang memiliki kehendak, menekan dari segala arah tanpa memberi celah untuk bernapas dengan benar. Retakan itu kini bukan lagi garis di udara, melainkan celah yang terbuka sepenuhnya, dan dari dalamnya, sesuatu yang selama ini hanya bisa dirasakan kini benar-benar hadir, nyata, dan terlalu dekat untuk disangkal.Jiang Wuyin adalah orang pertama yang memaksa dirinya bergerak, bukan mundur, bukan menghindar—maju, satu langkah tegas yang memotong jarak antara Yuelian dan sesuatu yang keluar dari retakan itu, energi di sekitarnya langsung meningkat, tidak lagi sekadar bertahan, tetapi siap menekan balik. “Cuku
Last Updated: 2026-04-28
Chapter: EPISODE 26 — Retakan yang Tidak Bisa Ditutup KembaliTidak ada suara ledakan, tidak ada cahaya yang menyilaukan, tidak ada tanda dramatis yang biasa mengiringi sesuatu yang besar—yang ada justru kebalikannya: keheningan yang terlalu dalam, terlalu berat, sampai terasa seperti menelan suara apa pun sebelum sempat lahir. Di tengah aula yang penuh orang, di antara napas yang tertahan dan langkah yang membeku, retakan itu terbuka tanpa suara, tetapi dampaknya menjalar ke setiap inci ruang, membuat udara sendiri terasa seperti benda padat yang menekan paru-paru. Mereka yang berdiri paling dekat merasakannya lebih dulu—sensasi seperti kulit disentuh oleh sesuatu yang dingin namun hidup, bukan sekadar suhu, melainkan keberadaan. Dan di pusat semua itu, Lin Yuelian berdiri tanpa bergerak, seolah ia bukan lagi bagian dari kerumunan, melainkan titik di mana semua hal itu berpusat dan berputar.“Apa… itu?” suara seseorang akhirnya pecah, parau, hampir seperti milik orang yang baru saja tenggelam dan berhasil
Last Updated: 2026-04-27
Chapter: EPISODE 25 — Sesuatu yang Ikut MasukTidak ada yang melihatnya masuk, tetapi semua orang merasakan saat ia hadir. Udara yang tadi hanya tegang berubah menjadi berat, seperti ditekan dari segala arah, membuat napas terasa pendek dan dada seolah kehilangan ruang. Cahaya lampu di aula bergetar halus, bayangan di sudut ruangan memanjang tidak wajar, dan untuk satu detik yang terasa terlalu lama, waktu seperti tersendat—cukup untuk membuat insting paling dasar setiap orang berteriak bahwa sesuatu yang salah baru saja terjadi.Seorang pejabat mencoba bicara, suaranya terpotong di tengah kalimat, matanya melebar bukan karena melihat sesuatu yang jelas, melainkan karena tubuhnya merespon lebih dulu daripada pikirannya, sementara di barisan belakang seseorang tersandung langkahnya sendiri karena mundur terlalu cepat, dan tidak ada yang menertawakan karena tidak ada yang benar-benar bernapas dengan normal. Jiang Wuyin sudah bergerak sebelum siapa pun selesai memahami, ia berdiri satu langkah di depan Lin Yuelian, bu
Last Updated: 2026-04-26
Chapter: EPISODE 24 — Sidang yang Tidak Adil“Bawa dia masuk.”Kalimat itu tidak diucapkan dengan suara keras, tetapi cukup untuk membuat seluruh aula barat langsung jatuh dalam keheningan yang menekan. Tidak ada yang berdiri, tidak ada yang bergerak, tetapi semua mata mengarah ke satu pintu yang perlahan terbuka, dan dalam celah itu, sesuatu yang lebih berat dari sekadar kehadiran manusia ikut masuk—prasangka, ketakutan, dan keputusan yang sudah hampir dibuat bahkan sebelum siapa pun benar-benar berbicara.Langkah kaki terdengar teratur, tidak terburu, tidak ragu. Jiang Wuyin masuk lebih dulu, wajahnya tenang seperti biasa, tetapi aura di sekitarnya jelas berbeda, lebih dingin, lebih tertutup, seolah ia tidak hanya datang untuk menghadiri sidang, melainkan untuk menguasainya. Di belakangnya, Lin Yuelian berjalan tanpa menunduk, tanpa mempercepat langkah, tanpa menunjukkan tanda gentar yang diharapkan banyak orang untuk mereka lihat. Justru ketenangan itulah yang membuat beberapa orang di dalam
Last Updated: 2026-04-25
Chapter: EPISODE 23 — Garis yang Mulai DitarikRumor tidak lagi berjalan; ia berlari. Dalam satu pagi yang terasa terlalu panjang, nama Lin Yuelian berpindah dari bisikan ke tuduhan yang setengah diucapkan, dari tatapan curiga ke keputusan yang hampir jadi. Di koridor istana, orang-orang berhenti berbicara saat ia lewat—padahal ia tidak lewat—dan di ruang rapat, orang-orang mulai menyusun kalimat yang akan mereka ucapkan jika dipaksa memilih sisi. Di tempat seperti ini, kebenaran tidak selalu menang; yang lebih cepat seringkali lebih dulu dipercaya. Dan hari itu, yang lebih cepat adalah rasa takut.Di paviliun timur, pintu terbuka tanpa ketukan kedua, dan Jiang Wuyin masuk dengan langkah yang tidak tergesa tetapi tidak memberi ruang untuk diabaikan, sementara Jiang Wenyu yang sudah lebih dulu di dalam ruangan hanya mengangkat alis tipis, seolah berkata: akhirnya kau muncul juga. Yuelian masih duduk di dekat jendela, cahaya siang memantul di matanya yang terlalu tenang, dan untuk sesaat tidak ada yang berbicara
Last Updated: 2026-04-24