
Bisikan Darah Beku
Salju turun di tengah musim panas—pertanda yang membekukan hati sekaligus menandai kelahiran Lin Yuelian, pewaris sembilan nadi spiritual terakhir dari garis suci Dewi Teratai Beku. Sejak lahir, ia dianggap lemah dan membawa sial, disembunyikan di balik intrik keluarga Lin yang penuh iri, ambisi, dan rahasia kelam. Satu-satunya pelindungnya adalah Bai Shuqing, siluman ikan biru yang bawel namun setia, menjaga Yuelian dari ancaman keluarga dan dunia luar.
Segel rahasia yang menahan kekuatannya mulai retak pada usia 16 tahun, memunculkan kemampuan es dan penyembuhan yang luar biasa. Di saat yang sama, Jiang Wuyin, putra mahkota Changan yang dingin dan penuh rahasia, merasakan getaran takdir yang membentang jauh sebelum mereka lahir. Sepupunya, Jiang Wenyu, menambah kompleksitas ikatan cinta, persaingan, dan politik. Rahasia terbesar terungkap: darah Wuyin adalah kunci segel Frostblood, menautkan nasib mereka secara tak terpisahkan.
Dari intrik keluarga, konflik klan, perburuan pemberontak kuno, hingga politik Kekaisaran Changan, Yuelian harus menavigasi dunia yang kejam sambil belajar menguasai kekuatannya. Ia dihadapkan pada pilihan: menyelamatkan ibu yang menyamar di kediaman musuh atau menghancurkan paman yang mengincar tahta garis suci.
Whispers of the Frostblood adalah epik mainland fantasy 122 episode yang memadukan intrik, pertarungan mematikan, romansa tak terelakkan, dan humor tipis, membawa pembaca ke dunia di mana takdir, kekuasaan, dan cinta saling beradu. Di tengah badai dan salju, satu pertanyaan tersisa: apakah Frostblood akan mekar kembali, atau kehancuran akan menelan segalanya?
Read
Chapter: EPISODE 12 — Retakan yang Tidak Seharusnya AdaLin Yuelian terbangun dengan napas tercekat, seolah seseorang baru saja menariknya keluar dari air dingin yang terlalu dalam.Dada kirinya terasa berat. Bukan sakit—lebih seperti ditekan oleh sesuatu yang tak terlihat. Tangannya refleks meraih kain di dadanya, tepat di atas segel yang selama enam belas tahun menjadi bagian dari tubuhnya. Segel itu tidak panas, tidak dingin, tapi ada getaran halus yang membuat kulitnya merinding.Mimpi itu… terlalu jelas untuk disebut mimpi.Ia masih bisa melihatnya bahkan dengan mata terbuka.Ibunya berdiri di tengah aula es yang luas, rambut hitamnya terurai, jubah putihnya bersih tanpa noda darah seperti yang selalu Yuelian bayangkan. Wajah itu tenang. Terlalu tenang. Seperti seseorang yang sudah menerima sesuatu jauh sebelum orang lain menyadarinya.“Lian’er,” suara itu memanggilnya.Yuelian melangkah maju—namun lantai di bawah kakinya retak, bukan pecah, hanya satu garis tipis yang menjalar cepat seperti kilat beku.Dan saat ia mendongak, bayangan
Last Updated: 2025-12-31
Chapter: EPISODE 11 — Ingatan yang Tidak Pernah TerjadiRasa sakit datang lebih dulu daripada mimpi.Lin Yuelian terbangun dengan sensasi seolah kepalanya dibelah dua, bukan oleh suara atau cahaya—melainkan oleh kenangan.Ia terengah, jemarinya mencengkeram seprai. Tidak ada darah. Tidak ada es. Namun di balik matanya, sesuatu berputar liar, menekan dari dalam seperti gelombang yang memaksa keluar.“Jangan… sekarang,” bisiknya.Segel di pergelangan tangannya berdenyut—bukan dingin seperti biasa, melainkan panas yang salah.Bai Shuqing muncul di permukaan wadah air dengan cipratan keras, sisiknya meredup. Ini bukan mimpi, katanya cepat. Ini disusupkan.Yuelian memejamkan mata—dan dunia runtuh.Ia berdiri di sebuah aula yang dikenalnya.Istana Changan.Namun ada yang berbeda.Langit-langitnya lebih rendah. Pilar-pilar naga dipenuhi retakan. Bau darah samar bercampur dupa.Dan di tengah aula—Ibunya berlutut.Tidak. Itu tidak mungkin.“Ibu?” suara Yuelian bergetar.Lin Meiyun mendongak. Wajahnya pucat, rambutnya berantakan, jubahnya ternodai
Last Updated: 2025-12-28
Chapter: EPISODE 10 — Mimpi yang Tidak Pernah DiceritakanDarah menetes dari langit.Bukan hujan—melainkan tetesan berat yang jatuh satu per satu, menghantam permukaan danau beku di bawah kaki Lin Yuelian.Setiap tetes memecahkan es.Setiap retakan memantulkan wajahnya sendiri—namun lebih pucat, lebih dingin, dengan mata biru menyala yang bukan miliknya.Yuelian tersentak bangun.Napasnya tersangkut di tenggorokan, dadanya naik turun cepat. Kamar paviliun dalam masih gelap, hanya diterangi cahaya bulan yang menembus tirai sutra. Tapi hawa dingin menyelimuti kulitnya seolah mimpi itu belum pergi.Tangannya gemetar.Di pergelangan kirinya—tepat di bawah kulit—garis cahaya biru berdenyut pelan.Segel.Bai Shuqing muncul di permukaan wadah air dengan cipratan tajam, sisiknya berkilau biru pucat. Itu bukan mimpi biasa, katanya tanpa basa-basi. Itu sentuhan.Yuelian menelan ludah. “Sentuhan… siapa?”Siluman ikan biru itu menatapnya lama. Sesuatu yang tidak seharusnya mengingatmu—namun mengenal namamu.Rasa dingin itu tidak hilang keesokan paginya.
Last Updated: 2025-12-24
Chapter: EPISODE 9 — Mereka yang Menyebutnya TakdirTidak semua orang melihat kegagalan sebagai kekalahan.Bagi sebagian orang, kegagalan hanyalah cara dunia mengonfirmasi bahwa papan permainan masih utuh—dan bidak yang paling berharga akhirnya bergerak.Di bawah kota Changan, jauh dari cahaya lentera dan doa-doa palsu istana, ada ruang yang tidak tercatat dalam peta.Dindingnya bukan batu, melainkan lapisan kristal hitam yang memantulkan bayangan dengan cara keliru—wajah yang seharusnya bulat tampak memanjang, mata terlihat terlalu dalam. Udara di sana berbau lembap dan logam tua.Seorang pria berdiri di tengah ruangan.Jubahnya sederhana. Tidak ada lambang sekte. Tidak ada tanda klan. Rambutnya diikat rapi, wajahnya tertutup separuh bayangan. Jika ia berjalan di jalanan Changan, tidak seorang pun akan mengingatnya sepuluh detik kemudian.Di hadapannya, tiga orang berlutut.Dua di antaranya tidak bernapas.Tubuh mereka membeku dari dalam—urat darah pecah menjadi kristal kusam. Kematian yang rapi. Efisien.Yang ketiga gemetar.“Ulangi,
Last Updated: 2025-12-20
Chapter: EPISODE 8 — Darah di Balik Tirai IstanaHujan berhenti tepat sebelum fajar.Udara di Akademi Lingyun terasa bersih—terlalu bersih, seolah sesuatu telah dicuci paksa dari dunia, meninggalkan aroma dingin yang tidak wajar. Lin Yuelian terbangun sebelum lonceng pagi berbunyi, dadanya terasa berat seperti ditekan es tipis.Ada yang salah, bisik Bai Shuqing dari dalam wadah air. Riakannya tidak stabil. Bukan di sini. Tapi dekat.Yuelian duduk perlahan. Jendela kamarnya tertutup rapat, namun hawa dingin tetap merembes masuk, menyentuh pergelangan kakinya. Ia memeluk lutut, mencoba menenangkan napas.“Sejak kapan firasatmu meluas?” bisiknya.Sejak mereka mulai menggunakan darah, jawab siluman ikan biru itu lirih. Dan sejak darah tertentu… mendekatimu.Nama itu tidak perlu disebut.Perintah datang saat matahari belum sepenuhnya terbit.Lin Yuelian dipanggil ke aula kecil sisi barat—bukan sebagai tersangka, melainkan sebagai “tamu istana”. Kalimat itu terdengar sopan, namun dua penjaga istana berdiri di depan pintunya, bukan penjaga
Last Updated: 2025-12-18
Chapter: EPISODE 7 — Pengawasan yang Terlalu RapiPagi itu, Akademi Lingyun terasa seperti sangkar emas.Indah. Bersih. Sunyi—terlalu sunyi untuk tempat yang menampung ratusan murid berbakat. Formasi pelindung diperbarui semalam; garis cahaya tipis berwarna perak berpendar samar di sepanjang atap dan pilar. Penjaga berganti setiap dua jam. Tidak ada sudut mati.Dan Lin Yuelian berada tepat di pusatnya.Ia berjalan menuju aula kuliah dengan dua bayangan mengikuti dari jarak terukur—penjaga akademi, berpura-pura santai, tapi langkah mereka diselaraskan dengan napasnya. Setiap kali Yuelian berhenti, mereka berhenti. Setiap kali ia berbelok, mereka berbelok.Ini bukan perlindungan, gumam Bai Shuqing dari dalam wadah air. Ini kurungan yang dibuat sopan.Yuelian mengangguk pelan. Ia merasakan hal yang sama. Tidak ada belenggu di pergelangan tangan, tapi udara di sekelilingnya terasa lebih sempit.Di aula, bisik-bisik memudar saat ia masuk. Bukan ejekan kali ini—melainkan kehati-hatian. Murid-murid menggeser bangku sedikit menjauh. Beberapa
Last Updated: 2025-12-15

Dalam Diam Ia Mengikatku
Wáng Rónghuā, seorang aktris rising star yang dikenal elegan dan cerdas, menyembunyikan sebuah rahasia yang tak seorang pun tahu: ia adalah dokter TCM berbakat yang meninggalkan dunia medis karena sebuah insiden pasien yang menghancurkan hidupnya. Setelah bertahun-tahun bersembunyi di balik lampu sorot dan kamera, takdir mempertemukannya kembali dengan Yáng Huīxiáng, aktor A-list yang sejak dulu menyimpan memori tentang “adik kecil jenius” yang mengagumkannya.
Pertemuan mereka di lokasi syuting sebuah drama romantis bukan sekadar kebetulan. Chemistry mereka yang lama terkubur muncul lagi, memaksa mereka menghadapi perasaan yang tidak pernah hilang. Namun, jalan menuju hati satu sama lain dipenuhi tantangan: manajemen ketat, gosip paparazi, saingan yang haus spotlight, hingga intrik keluarga yang lama terpendam.
Sementara itu, rahasia masa lalu Ronghuā mulai terbongkar. Siapa yang sebenarnya ingin menghancurkan kariernya? Dan apakah Huixiang sanggup melindunginya tanpa mengorbankan kariernya sendiri? Dalam dunia hiburan yang glamor tapi kejam, cinta sejati diuji oleh kesalahan masa lalu, ambisi, dan pengkhianatan.
“His Silence Devotion” adalah kisah tentang dua hati yang saling mengenal sejak kecil, perasaan yang diam-diam bertumbuh, dan keberanian untuk menghadapi masa lalu demi masa depan yang mungkin hanya bisa mereka raih bersama.
Read
Chapter: Bab 11: Jarak yang Tak Lagi DijagaRonghuā baru menyadari satu hal pagi itu—ia tidak lagi mengecek ponselnya dengan rasa waswas.Tidak ada pesan ancaman. Tidak ada akun anonim yang menandainya. Tidak ada notifikasi darurat dari Lin Qiao.Sunyi yang tersisa bukanlah ketenangan semu, melainkan keheningan setelah badai benar-benar berlalu.Ia berdiri di depan jendela apartemennya, menatap kota yang perlahan hidup. Untuk pertama kalinya sejak lama, ia tidak merasa sedang dikejar apa pun.Ketukan di pintu memecah pikirannya.Ia tahu siapa itu bahkan sebelum membukanya.Huīxiáng berdiri di sana, mengenakan hoodie hitam sederhana, tanpa topi, tanpa masker. Terlalu santai untuk ukuran aktor yang sempat berada di pusat badai opini publik.“Kamu kelihatan lebih manusia hari ini,” katanya sambil tersenyum tipis.Ronghuā mendengus. “Dan kamu kelihatan terlalu berani.”“Karena sekarang aku tidak punya alasan untuk sembunyi.”Kalimat itu tidak terden
Last Updated: 2026-03-31
Chapter: Bab 10: Bayangan di Balik LayarSinar lampu studio jatuh menyorot wajah Ronghuā yang sedang menatap naskah di mejanya. Suasana syuting hari itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Manajernya, Lín Wēi, berdiri di samping, memeriksa jadwal, sambil sesekali menatapnya dengan ekspresi campur aduk antara cemas dan kesal.“Ronghuā, kau sudah siap dengan adegan ini?” tanya Wēi, nada suaranya terdengar tegas tapi sedikit gugup.Ronghuā menghela napas. “Aku sudah membaca skripnya berkali-kali. Aku… rasa sudah paham karakter ini.”Wēi mengangguk, tapi matanya tidak meyakinkan. “Baik. Tapi ingat, ini adegan penting. Jangan sampai salah gerak atau salah dialog, ya. Tim pengawas dari agensi Huīxiáng sedang memperhatikan setiap detik.”Ronghuā menelan ludah. Tekanan selalu ada, tapi hari ini terasa berbeda. Sesuatu mengganggunya sejak pagi—sebuah pesan yang masuk di ponselnya. Awalnya ia pikir spam, tapi melihat nama pengirim yang aneh dan isi yang jelas menargetkan dirinya, jantungnya tercekat.
Last Updated: 2025-12-15
Chapter: Bab 9: Gemuruh Media dan Tekanan AgensiPagi itu, dunia Ronghuā berubah dalam sekejap. Ponselnya bergetar tanpa henti. Notifikasi dari media sosial, grup chat agensi, dan fans flooding masuk bersamaan. Video BTS diam-diam Han Yue yang direkam Han Yue—tatapan mata Ronghuā ke Huīxiáng, senyuman yang begitu natural, interaksi yang terlalu dekat untuk sebuah adegan—telah tersebar.Ronghuā menatap layar, hati berdegup kencang. “Ini… cepat sekali,” gumamnya, hampir tak percaya. Ia bisa membayangkan bagaimana fans akan mulai menafsirkan setiap gerakan mereka.Di kantor agensi, Lin Wei sudah menunggu. “Ronghuā, kamu lihat ini kan?” Suaranya datar, tapi tegang. Ia menatap Ronghuā seolah menunggu jawaban yang tepat.Ronghuā mengangguk, menelan ludah. “Aku lihat. Tapi aku nggak bisa mengontrol apa yang orang upload.”Lin Wei menghela napas, matanya mengerling ke layar laptop yang menampilkan headline media: “Tatapan Mesra di BTS: Ronghuā dan Huīxiáng?” dan “Bocoran Video BTS Han Yue: Chemistr
Last Updated: 2025-12-14
Chapter: Bab 8: Ketegangan di Balik LayarSuasana di lokasi syuting pagi itu berbeda dari biasanya. Cahaya matahari lembut menembus jendela studio, namun hati Ronghuā tidak sesantai sinarnya. Tangannya memegang skrip, matanya sesekali melirik jam. Adegan romantis pertama dengan Huīxiáng akan dimulai dalam beberapa menit. Walaupun sudah banyak latihan, jantungnya tetap berdegup kencang.“Ronghuā, sini dulu,” suara Lin Wei terdengar dari sisi kanan set. Nada tegas namun tidak kasar.Ronghuā menoleh. “Ada apa, Lin Wei?” tanyanya sambil menyimpan skrip.Lin Wei melangkah mendekat, mata tajamnya menilai setiap gerakan Ronghuā. “Adegan ini, aku rasa kamu harus lebih ekspresif. Jangan terlalu menahan perasaan. Kalau terlalu datar, chemistry dengan Huīxiáng nggak akan terasa di kamera.”Ronghuā menghela napas. Ia tahu Lin Wei benar, tapi rasanya mengekspresikan perasaan terlalu dipaksakan akan membuatnya terlihat palsu. “Aku paham maksudmu, tapi kalau aku terlalu memaksakan… aku takut malah terlihat aneh
Last Updated: 2025-12-13
Chapter: Bab 7: Sorotan PublikRonghuā menatap layar tablet di kafe kecil dekat studio, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Di depan matanya, video BTS—diunggah secara diam-diam oleh Han Yue—memperlihatkan momen sederhana tapi intim: Ronghuā dan Huīxiáng tersenyum sambil meninjau naskah, hujung jari mereka hampir bersentuhan ketika mengoreksi dialog. Seketika, komentar fans membanjiri layar:"Mereka jelas cocok!""Huīxiáng terlihat sangat perhatian padanya!""Ronghuā terlihat sangat nyaman dengannya… chemistry nyata!"Ronghuā menelan ludah. Ia tahu, walau adegan itu murni profesional, publik mungkin akan menafsirkannya berbeda. Ia menoleh ke Lin Wei, manajernya yang duduk di seberangnya, menatap layar dengan raut tegang."Ini bisa menjadi masalah besar," bisik Lin Wei. "Fans dan media akan mulai berspekulasi."Ronghuā mengangguk perlahan, menahan napas. "Aku hanya menjalani pekerjaan… itu tidak lebi
Last Updated: 2025-12-11
Chapter: Bab 6: Gelombang Tekanan & Rahasia di Balik SetLampu sorot di set studio terasa lebih panas daripada biasanya. Ronghuā menatap skrip di tangannya, mencoba mengingat setiap gerakan dan intonasi dialog, tapi pikirannya terus melayang ke notifikasi di ponselnya. Han Yue memang sudah memberi tahu, video BTS mereka sudah mulai tersebar luas, dan reaksi publik mulai tak terkendali.Huīxiáng masuk membawa secangkir kopi hangat, menatap Ronghuā dengan senyum tipis. “Kau terlihat tegang. Relax aja, ini cuma take biasa. Ingat, kita profesional.”Ronghuā menghela napas panjang. “Aku tahu… tapi fans mulai menafsirkan semuanya. Bahkan senyumku yang sekadar sopan pun dijadikan headline.”Huīxiáng menepuk bahunya ringan. “Kita harus tetap tenang. Jangan sampai komentar di luar sana memengaruhi performa kita di set.”Han Yue muncul dari belakang, membawa laptop dan headsetnya. “Aku sudah monitor semua media sosial. Chemistry kalian memang menarik, tapi kita harus hati-hati. Agensi mulai memberikan tekanan, dan fans mulai bikin spekulasi.”Ronghuā
Last Updated: 2025-12-10