LOGINSalju turun di tengah musim panas—pertanda yang membekukan hati sekaligus menandai kelahiran Lin Yuelian, pewaris sembilan nadi spiritual terakhir dari garis suci Dewi Teratai Beku. Sejak lahir, ia dianggap lemah dan membawa sial, disembunyikan di balik intrik keluarga Lin yang penuh iri, ambisi, dan rahasia kelam. Satu-satunya pelindungnya adalah Bai Shuqing, siluman ikan biru yang bawel namun setia, menjaga Yuelian dari ancaman keluarga dan dunia luar. Segel rahasia yang menahan kekuatannya mulai retak pada usia 16 tahun, memunculkan kemampuan es dan penyembuhan yang luar biasa. Di saat yang sama, Jiang Wuyin, putra mahkota Changan yang dingin dan penuh rahasia, merasakan getaran takdir yang membentang jauh sebelum mereka lahir. Sepupunya, Jiang Wenyu, menambah kompleksitas ikatan cinta, persaingan, dan politik. Rahasia terbesar terungkap: darah Wuyin adalah kunci segel Frostblood, menautkan nasib mereka secara tak terpisahkan. Dari intrik keluarga, konflik klan, perburuan pemberontak kuno, hingga politik Kekaisaran Changan, Yuelian harus menavigasi dunia yang kejam sambil belajar menguasai kekuatannya. Ia dihadapkan pada pilihan: menyelamatkan ibu yang menyamar di kediaman musuh atau menghancurkan paman yang mengincar tahta garis suci. Whispers of the Frostblood adalah epik mainland fantasy 122 episode yang memadukan intrik, pertarungan mematikan, romansa tak terelakkan, dan humor tipis, membawa pembaca ke dunia di mana takdir, kekuasaan, dan cinta saling beradu. Di tengah badai dan salju, satu pertanyaan tersisa: apakah Frostblood akan mekar kembali, atau kehancuran akan menelan segalanya?
View MoreAngin musim panas seharusnya membawa aroma bunga-bunga awal bulan ke-6, tapi pagi itu… dunia seperti sedang bercanda.
Butiran salju jatuh perlahan dari langit biru.
Pelayan keluarga Lin masih sibuk menjemur pakaian ketika salju putih itu mendarat di hidung mereka. Mereka saling pandang, lalu…
“EH???”
“INI MUSIM APA???”
“Jangan-jangan… roh nenek moyang balik buat nagih utang?!”
Bahkan ayam di halaman berhenti berkokok dan memilih minggat.
Namun pusat badai kecil itu hanya satu — kamar kecil di paviliun timur, tempat seorang gadis berusia 16 tahun duduk memeluk lutut di ranjang kayu tua, tubuhnya gemetar hebat.
Lin Yuelian.
Gadis yang selalu dianggap tak berbakat, pembawa sial, dan layak disembunyikan jauh-jauh dari tamu keluarga.
Dadanya serasa dikoyak dari dalam. Ruang meridiannya menegang seperti akan pecah. Udara di sekelilingnya membeku—embun menjadi kristal di ujung jari.
Di sampingnya, Bai Shuqing, siluman ikan biru yang telah menjaga Yuelian sejak kecil, berdiri dengan mata besar penuh kekhawatiran. Sirip halusnya hampir tak terlihat di balik pakaian pelayan manusia.
“Lian’er! Tarik napas! Salju-mu keluar! Segelmu retak!” seru Bai Shuqing.
“Bukan aku yang mau!” Yuelian menangis tertahan. “Rasanya… dingin sekali… tapi panas… aku nggak ngerti!”
Lantai mulai berkeringat es.
Dari luar, terdengar teriakan selir Qiu.
“APA-APAAN INI?! KENAPA ADA SALJU DI DEPAN PAVILIUNKU?!”
“SESEORANG CEK ANAK SIAL ITU!”Bai Shuqing menggeram pelan. “Dasar wanita tukang gosip!”
Yuelian memeluk dada, berusaha tetap sadar. “Shu… aku kenapa…?”
Sebelum Bai Shuqing sempat menjawab, suara lembut—halus seperti mimpi—menggema di telinga Yuelian.
Lian’er… jika suatu hari segel itu retak… jangan biarkan siapa pun melihatmu…
Mata Yuelian membesar. Ia tersentak.
“Ibu…?”
Ingatan seperti kilatan cahaya masuk tiba-tiba...
Seorang wanita cantik berambut perak bening menggendongnya.
Bunga teratai es bermekaran di sekeliling ranjang. Suara lembut: "Kau pewaris darah yang tak boleh terbangun sebelum waktunya."Lalu semuanya hilang, berganti sakit yang menggigit tulang.
“Kya....!”
Hembusan es terakhir melesat ke langit.
Badai salju berhenti.
SUASANA BERUBAH SEKETIKA
Pelayan-pelayan langsung berlari mengibaskan salju dari rambut mereka.
“Astaga… baru Juni, kenapa kayak bulan ke-12?”
“Ini pasti pertanda buruk!”
“Aku belum bayar utang ke penjaga gerbang, jangan-jangan dia nyumpahin aku?!”
Selir Qiu keluar dari paviliunnya sambil memeluk mantel bulu palsu.
“Mana Yuelian?! Seret dia ke depan! Dia yang bikin semua ini!”
Tapi begitu pintu kamar Yuelian terbuka, perempuan itu justru mundur setengah langkah.
Kamar beku.
Vas keramik tertutup lapisan es. Ujung rambut Yuelian bersinar seperti kristal.Selir Qiu langsung pecicilan.
“I-Itu… itu… bukan manusia! Itu iblis es!”
Bai Shuqing segera menempelkan tangan ke pundak Yuelian. “Mundur semua! Jangan bikin aku marah. . . aku bisa bikin kalian semua jadi sushi es!”
Selir Qiu terhentak. “Hah?!”
Yuelian memeluk lutut, wajahnya memerah. “Shu… jangan…”
DI ISTANA — ADA YANG MERASAKAN
Di aula latihan istana kekaisaran, pemuda tampan berambut hitam panjang berhenti menebas pedang.
Jiang Wuyin, putra mahkota.
Tangan yang memegang pedang bergetar tipis.
Keringatnya membeku di udara dalam satu detik.Seorang jenderal muda di sampingnya terkejut. “Yang Mulia, apa yang—”
“Diam.”
Wuyin memejamkan mata.
Ada sesuatu menusuk perasaannya dingin lembut namun sangat familiar.Aura es. Tapi bukan sembarang es. Ini… es dari garis keturunan itu.
Ia membuka mata perlahan.
“…Sudah muncul.”
KEMBALI KE KELUARGA LIN
Yuelian duduk di lantai, nafasnya kembali stabil.
Bai Shuqing menepuk tangan kecilnya ke wajah Yuelian. “Kalau kamu mau pingsan, kasih tahu dulu, jangan bikin badai kecil gitu. Aku nggak mau repot merapikan kubangan es lagi.”
Meski panik, itu tetap suara siluman ikan biru yang mencoba bercanda.
Yuelian lemas tertawa. “Aku nggak kuat berdiri.”
“Memang jangan berdiri dulu. Kamu baru saja hampir membangunkan setengah dari dunia kultivator.”
Yuelian: “Jadi aku ini apa sebenarnya?”
Bai Shuqing membuka mulut… lalu menutupnya.
“Bukan waktunya.”“Tapi…”
“Kalau kamu tahu sekarang, bisa-bisa kepalamu meledak.”
“Shu!”
“Ha? Kamu mau kepala meledak? Boleh, aku sih siap ngebersihin.”
Yuelian mendengus, hampir tertawa. “Jahat…”
PERTANDA YANG TAK BISA DIHINDARI
Yuelian menunduk, kedua tangan menggenggam rok.
Dia ingin meminta maaf… tapi apa gunanya? Ia sendiri tidak tahu apa yang terjadi dengan tubuhnya.
Dan entah kenapa, sudut pandangnya menjadi berwarna kebiruan. Udara bergetar seperti kaca berembun.
Kemudian…
Craackkk…
Es membentuk bunga teratai kecil di ujung kakinya.
Semua langsung mundur panik.
Selir Qiu: “I-Iblis! Dia berubah lagi!”
Ayah Yuelian kehilangan kata-kata. “…Lian’er.”
Bai Shuqing langsung menarik Yuelian ke belakang. “Mundur semua! Jangan dekat-dekat!”
Detik berikutnya…
Bunga es itu lenyap.
Tubuh Yuelian melemas.
“Hah… hah… aku… nggak apa-apa…”
“Tidak apa-apa darimana?!” Bai Shuqing mencubit pipinya. “Kekuatanmu mau jebol! Segelmu longgar!”
Yuelian menatap tanah, suara kecil. “…Aku takut.”
Bai Shuqing menepuk kepala gadis itu lembut. “Nggak usah takut. Kamu kan punya aku.”
“…Shu…”
Bai Shuqing melanjutkan dengan nada sok keren: “Kalau kamu mati, aku juga mati. Jadi jangan mati dulu, oke?”
“…Kenapa kamu ngomongnya begitu?”
“Aku realistis.”
“Shu!!”
Bai Shuqing terkekeh.
SEMENTARA ITU — SESEORANG SEDANG DATANG
Di gerbang kota, rombongan penjaga istana turun dari kuda.
Pemimpin mereka membuka gulungan perintah.
“Putra Mahkota memerintahkan: cari sumber fenomena es di wilayah timur kota. Pelajari, identifikasi, dan laporkan.”
Semua penjaga mengangguk hormat.
Mata sang pemimpin berkilat.
“Menuju kediaman keluarga Lin!”MALAMNYA — SANG GADIS TIDUR DALAM KETAKUTAN
Yuelian duduk di tepi ranjang, memeluk lutut.
Ia menatap telapak tangannya yang dingin seperti es batu.
“Aku… bukan anak normal ya?”
Bai Shuqing berhenti merapikan selimut. “Ehem… gimana ya.”
“Jujur.”
“…Kamu memang tidak normal.”
“SHU!”
“Tapi kamu istimewa. Oke? Bukan abnormal kayak hantu sumur. Istimewa.”
Yuelian diam, wajahnya muram.
“Aku takut orang akan semakin membenciku…”
Bai Shuqing mengangkat alis. “Sama. Aku juga takut kamu keburu mati sebelum dewasa.”
“SHU!!!”
Bai Shuqing tertawa kecil lalu mengusap rambut gadis itu.
“Kamu bukan kutukan, Lian’er. Kamu anugerah.”
Yuelian terdiam.
Di luar, bulan berpendar lembut… seperti sedang mengawasi.
Di puncak istana kekaisaran, Jiang Wuyin berdiri seorang diri.
Di tangan kanannya, ada serpihan es kecil yang baru saja ia temukan dari fenomena siang tadi.
Es itu tidak mencair.
Bahkan berdenyut.
Denyut yang… sangat familiar.
Wuyin menatap ke arah timur — ke arah kediaman keluarga Lin.
Suaranya rendah, tenang, namun menggema seperti kilat:
“Akhirnya… aku menemukanmu.”
Hal pertama yang hancur bukan lantai, bukan dinding, bukan bahkan retakan itu—melainkan batas di dalam diri Lin Yuelian sendiri. Dalam satu detik yang terlalu cepat untuk dicegah dan terlalu lambat untuk diabaikan, sesuatu yang selama ini hanya beresonansi kini benar-benar terhubung, bukan sebagai dua hal yang saling menyentuh, tetapi sebagai satu jalur yang terbuka. Udara di aula runtuh menjadi dingin yang hidup, tekanan meningkat bukan lagi seperti beban, melainkan seperti tangan tak terlihat yang menekan setiap orang ke tempatnya, memaksa mereka menjadi saksi.Wuyin merasakannya paling jelas—perubahan itu tidak datang dari retakan, melainkan dari Yuelian. Energi yang sebelumnya ia kenal kini berubah menjadi sesuatu yang asing namun tidak sepenuhnya baru, seperti melodi lama yang dimainkan dengan nada yang salah. “Tarik tanganmu,” katanya tajam, suaranya rendah namun mendesak.Yuelian tidak langsung menjawab. Ujung jarinya masih menyentuh sesu
Tidak ada yang bergerak ketika kata itu selesai diucapkan—“Sudah waktunya.”—seolah kalimat itu bukan sekadar suara, melainkan perintah yang mengikat tubuh dan pikiran sekaligus, membuat setiap orang di aula kehilangan kendali atas reaksi paling dasar mereka. Udara tidak lagi sekadar dingin; ia menjadi berat, padat, seperti sesuatu yang memiliki kehendak, menekan dari segala arah tanpa memberi celah untuk bernapas dengan benar. Retakan itu kini bukan lagi garis di udara, melainkan celah yang terbuka sepenuhnya, dan dari dalamnya, sesuatu yang selama ini hanya bisa dirasakan kini benar-benar hadir, nyata, dan terlalu dekat untuk disangkal.Jiang Wuyin adalah orang pertama yang memaksa dirinya bergerak, bukan mundur, bukan menghindar—maju, satu langkah tegas yang memotong jarak antara Yuelian dan sesuatu yang keluar dari retakan itu, energi di sekitarnya langsung meningkat, tidak lagi sekadar bertahan, tetapi siap menekan balik. “Cuku
Tidak ada suara ledakan, tidak ada cahaya yang menyilaukan, tidak ada tanda dramatis yang biasa mengiringi sesuatu yang besar—yang ada justru kebalikannya: keheningan yang terlalu dalam, terlalu berat, sampai terasa seperti menelan suara apa pun sebelum sempat lahir. Di tengah aula yang penuh orang, di antara napas yang tertahan dan langkah yang membeku, retakan itu terbuka tanpa suara, tetapi dampaknya menjalar ke setiap inci ruang, membuat udara sendiri terasa seperti benda padat yang menekan paru-paru. Mereka yang berdiri paling dekat merasakannya lebih dulu—sensasi seperti kulit disentuh oleh sesuatu yang dingin namun hidup, bukan sekadar suhu, melainkan keberadaan. Dan di pusat semua itu, Lin Yuelian berdiri tanpa bergerak, seolah ia bukan lagi bagian dari kerumunan, melainkan titik di mana semua hal itu berpusat dan berputar.“Apa… itu?” suara seseorang akhirnya pecah, parau, hampir seperti milik orang yang baru saja tenggelam dan berhasil
Tidak ada yang melihatnya masuk, tetapi semua orang merasakan saat ia hadir. Udara yang tadi hanya tegang berubah menjadi berat, seperti ditekan dari segala arah, membuat napas terasa pendek dan dada seolah kehilangan ruang. Cahaya lampu di aula bergetar halus, bayangan di sudut ruangan memanjang tidak wajar, dan untuk satu detik yang terasa terlalu lama, waktu seperti tersendat—cukup untuk membuat insting paling dasar setiap orang berteriak bahwa sesuatu yang salah baru saja terjadi.Seorang pejabat mencoba bicara, suaranya terpotong di tengah kalimat, matanya melebar bukan karena melihat sesuatu yang jelas, melainkan karena tubuhnya merespon lebih dulu daripada pikirannya, sementara di barisan belakang seseorang tersandung langkahnya sendiri karena mundur terlalu cepat, dan tidak ada yang menertawakan karena tidak ada yang benar-benar bernapas dengan normal. Jiang Wuyin sudah bergerak sebelum siapa pun selesai memahami, ia berdiri satu langkah di depan Lin Yuelian, bu
Rasa sakit datang lebih dulu daripada mimpi.Lin Yuelian terbangun dengan sensasi seolah kepalanya dibelah dua, bukan oleh suara atau cahaya—melainkan oleh kenangan.Ia terengah, jemarinya mencengkeram seprai. Tidak ada darah. Tidak ada es. Namun di balik matanya, sesuatu berputar liar, menekan dar
Tidak semua orang melihat kegagalan sebagai kekalahan.Bagi sebagian orang, kegagalan hanyalah cara dunia mengonfirmasi bahwa papan permainan masih utuh—dan bidak yang paling berharga akhirnya bergerak.Di bawah kota Changan, jauh dari cahaya lentera dan doa-doa palsu istana, ada ruang yang tidak t
Pagi itu, Akademi Lingyun terasa seperti sangkar emas.Indah. Bersih. Sunyi—terlalu sunyi untuk tempat yang menampung ratusan murid berbakat. Formasi pelindung diperbarui semalam; garis cahaya tipis berwarna perak berpendar samar di sepanjang atap dan pilar. Penjaga berganti setiap dua jam. Tidak a
Nama Zhou Ming menghilang dari papan pengumuman akademi sebelum matahari sepenuhnya naik.Seolah ia tidak pernah ada.Namun dingin yang ia tinggalkan tidak ikut lenyap.Larangan keluar kamar dicabut saat siang menjelang, tapi penjagaan justru diperketat. Formasi pelindung akademi berdengung rendah—






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.