LOGINWáng Rónghuā, seorang aktris rising star yang dikenal elegan dan cerdas, menyembunyikan sebuah rahasia yang tak seorang pun tahu: ia adalah dokter TCM berbakat yang meninggalkan dunia medis karena sebuah insiden pasien yang menghancurkan hidupnya. Setelah bertahun-tahun bersembunyi di balik lampu sorot dan kamera, takdir mempertemukannya kembali dengan Yáng Huīxiáng, aktor A-list yang sejak dulu menyimpan memori tentang “adik kecil jenius” yang mengagumkannya. Pertemuan mereka di lokasi syuting sebuah drama romantis bukan sekadar kebetulan. Chemistry mereka yang lama terkubur muncul lagi, memaksa mereka menghadapi perasaan yang tidak pernah hilang. Namun, jalan menuju hati satu sama lain dipenuhi tantangan: manajemen ketat, gosip paparazi, saingan yang haus spotlight, hingga intrik keluarga yang lama terpendam. Sementara itu, rahasia masa lalu Ronghuā mulai terbongkar. Siapa yang sebenarnya ingin menghancurkan kariernya? Dan apakah Huixiang sanggup melindunginya tanpa mengorbankan kariernya sendiri? Dalam dunia hiburan yang glamor tapi kejam, cinta sejati diuji oleh kesalahan masa lalu, ambisi, dan pengkhianatan. “His Silence Devotion” adalah kisah tentang dua hati yang saling mengenal sejak kecil, perasaan yang diam-diam bertumbuh, dan keberanian untuk menghadapi masa lalu demi masa depan yang mungkin hanya bisa mereka raih bersama.
View MoreHal pertama yang ia rasakan bukan takut, tapi dingin—jenis dingin yang tidak berasal dari suhu ruangan, melainkan dari sesuatu yang merayap pelan di dalam dada, membuat napas terasa lebih pendek dan pikiran tiba-tiba terlalu jernih. Ronghuā menatap layar ponsel yang masih menyala di tangannya, artikel yang tadi mereka lempar sebagai umpan kini sudah berubah bentuk sepenuhnya, bukan lagi sekadar berita, tapi sesuatu yang lebih terarah, lebih tajam, seperti panah yang sengaja dilepaskan untuk mengenai satu titik tertentu. Ia tidak perlu membaca ulang untuk tahu—ini bukan reaksi biasa. Ini serangan balik. Dan bukan serangan yang setengah-setengah.“Ini bukan cuma framing,” katanya pelan, hampir seperti bicara pada dirinya sendiri. Huīxiáng berdiri di sampingnya, matanya ikut membaca cepat, rahangnya mengeras sedikit ketika ia menangkap pola yang sama. Kalimat-kalimat itu disusun dengan rapi, terlalu rapi, seperti sudah dipersiapkan sebelumnya. Tidak ada jeda ragu, tidak ada ruang abu-abu
Kaca jendela memantulkan bayangan wajahnya sendiri, samar, tertelan cahaya kota yang perlahan menyala satu per satu. Ronghuā berdiri tanpa bergerak, kedua tangannya menyilang di depan dada, tapi bukan karena dingin. Ruangan itu sebenarnya hangat, terlalu hangat malah, sampai udara terasa sedikit pengap, tapi tetap saja ada sesuatu di dalam dirinya yang tidak bisa diam. Lampu-lampu di luar terlihat kecil dari ketinggian ini, seperti titik-titik yang bergerak tanpa arah yang jelas, dan entah kenapa, itu membuat dadanya terasa semakin sempit. Dunia tetap berjalan. Selalu begitu. Orang-orang masih tertawa, masih makan malam, masih pulang ke rumah tanpa tahu bahwa di satu sudut kota yang sama, ada seseorang yang sedang berdiri di batas antara bertahan atau jatuh. Ia menarik napas pelan, mencoba memenuhi paru-parunya, tapi udara terasa berat, seperti ada sesuatu yang menahan di tengah jalan.Di belakangnya, suara langkah Huīxiáng terdengar pelan, diikuti bunyi pintu kamar ya
Ada jenis rasa sakit yang tidak datang dengan suara, tidak memberi peringatan, tidak menghantam seperti sesuatu yang pecah di lantai, tapi justru hadir perlahan seperti sesuatu yang merembes dari celah kecil yang tidak terlihat, mengisi ruang-ruang kosong di dalam diri tanpa disadari sampai akhirnya semuanya terasa terlalu penuh untuk ditahan. Ronghuā tidak bergerak sejak nama itu disebut. Lián Xù. Dua kata yang selama ini ia kubur dalam-dalam, yang ia yakini sudah selesai, sudah tidak lagi punya tempat dalam hidupnya, kini muncul kembali dengan cara yang paling kejam—bukan sebagai kenangan yang bisa ia abaikan, tapi sebagai bagian dari pola yang sama yang sekarang sedang menyeretnya turun. Tangannya masih berada di atas meja, jari-jarinya perlahan menegang, sementara matanya tidak benar-benar melihat layar di depannya. Yang ia lihat bukan data, bukan rekaman, tapi potongan masa lalu yang muncul tanpa izin—ruang praktik kecil dengan lampu terlalu terang, bau obat herbal yang terlalu k
Tidak ada yang benar-benar mempersiapkan seseorang untuk momen ketika ia sadar bahwa kebenaran yang ia pegang tidak cukup untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Ronghuā berdiri di tengah lobi rumah sakit dengan USB kecil di dalam saku jasnya, benda itu terasa jauh lebih berat dari ukurannya, seperti membawa sesuatu yang bisa mengubah segalanya tapi juga bisa menghancurkannya dalam satu langkah yang salah. Orang-orang masih berjalan seperti biasa, suara sepatu beradu dengan lantai, percakapan singkat di lorong, panggilan nama pasien dari kejauhan, semua terdengar normal, terlalu normal untuk dunia yang baru saja bergeser di bawah kakinya. Huīxiáng berdiri di depannya, menatap wajahnya dengan fokus yang tidak biasa, seolah mencoba membaca sesuatu yang bahkan Ronghuā sendiri belum sepenuhnya pahami.“Kita pergi sekarang,” kata Huīxiáng pelan, tangannya masih menggenggam pergelangan Ronghuā, hangat dan tegas.Ronghuā mengangguk, tapi langkahnya tidak langsung bergerak. Ia menoleh sekilas ke
Yang paling berbahaya bukan saat seseorang menyerangmu dari depan, tapi saat kamu bahkan tidak sadar sedang dijadikan target. Siang itu berjalan terlalu normal untuk sebuah hari yang seharusnya mulai terasa aneh. Ronghuā kembali ke klinik setelah makan bersama Huīxiáng, membuka kembali pintu, memba
Hal pertama yang berubah bukanlah suasana klinik Ronghuā, melainkan cara orang-orang memandangnya. Pagi itu berjalan seperti biasa—pintu dibuka, aroma herbal menyebar, cahaya matahari masuk lewat jendela depan dan jatuh di meja kayu yang masih baru—tapi ada jeda-jeda kecil yang tidak ada sebelumnya
Kadang, yang paling menegangkan bukan saat semuanya runtuh, tapi saat semuanya tiba-tiba… tenang. Terlalu tenang sampai terasa tidak wajar. Pagi itu, Lin’an seperti menahan napas. Langit bersih, cahaya matahari jatuh rata di halaman gedung dewan etik, dan suara langkah kaki orang-orang terdengar bi
Ruang tunggu studio dipenuhi aroma parfum mahal dan cahaya lampu putih yang menyorot setiap sudut ruangan. Ronghuā menatap layar ponselnya, menahan napas. Pesan dari manajernya baru saja masuk:"Selamat, kamu diterima sebagai pemeran utama untuk drama ‘Silent Devotion’. Lawan mainmu? Yang Huīxiáng.
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews