LOGINWáng Rónghuā, seorang aktris rising star yang dikenal elegan dan cerdas, menyembunyikan sebuah rahasia yang tak seorang pun tahu: ia adalah dokter TCM berbakat yang meninggalkan dunia medis karena sebuah insiden pasien yang menghancurkan hidupnya. Setelah bertahun-tahun bersembunyi di balik lampu sorot dan kamera, takdir mempertemukannya kembali dengan Yáng Huīxiáng, aktor A-list yang sejak dulu menyimpan memori tentang “adik kecil jenius” yang mengagumkannya. Pertemuan mereka di lokasi syuting sebuah drama romantis bukan sekadar kebetulan. Chemistry mereka yang lama terkubur muncul lagi, memaksa mereka menghadapi perasaan yang tidak pernah hilang. Namun, jalan menuju hati satu sama lain dipenuhi tantangan: manajemen ketat, gosip paparazi, saingan yang haus spotlight, hingga intrik keluarga yang lama terpendam. Sementara itu, rahasia masa lalu Ronghuā mulai terbongkar. Siapa yang sebenarnya ingin menghancurkan kariernya? Dan apakah Huixiang sanggup melindunginya tanpa mengorbankan kariernya sendiri? Dalam dunia hiburan yang glamor tapi kejam, cinta sejati diuji oleh kesalahan masa lalu, ambisi, dan pengkhianatan. “His Silence Devotion” adalah kisah tentang dua hati yang saling mengenal sejak kecil, perasaan yang diam-diam bertumbuh, dan keberanian untuk menghadapi masa lalu demi masa depan yang mungkin hanya bisa mereka raih bersama.
View MoreRuang tunggu studio dipenuhi aroma parfum mahal dan cahaya lampu putih yang menyorot setiap sudut ruangan. Ronghuā menatap layar ponselnya, menahan napas. Pesan dari manajernya baru saja masuk:
"Selamat, kamu diterima sebagai pemeran utama untuk drama ‘Silent Devotion’. Lawan mainmu? Yang Huīxiáng."
Mata Ronghuā membulat. Jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya. Nama itu, nama yang sudah tersimpan rapi dalam memori sejak ia kecil, kini muncul kembali dalam hidupnya—sebagai pria dewasa, terkenal, dan sama sekali tidak berubah dalam aura dinginnya yang memikat.
Ia menoleh ke arah jendela studio yang memantulkan cahaya sore, mencoba menenangkan diri. "Bagaimana mungkin...?" gumamnya. Ia masih ingat jelas saat pertama kali bertemu Huīxiáng, ketika ia sembilan tahun dan duduk di kursi kayu klinik kakeknya. Huīxiáng saat itu tujuh belas, menolong ayahnya di klinik TCM, dan tampak serius membaca buku resep kuno. Ronghuā kecil memandangnya dengan kagum, bahkan sempat berani bertanya tentang akupuntur dasar.
Sejak saat itu, wajahnya selalu tersimpan di memori Ronghuā—first crush yang tidak pernah diungkapkan, namun selalu hadir dalam diam. Dan kini, rupanya nasib memutuskan untuk mempertemukan mereka lagi.
"Ronghuā, kamu baik-baik saja?"
Suara manajernya, Lin Wei, memecah lamunannya. Wanita itu menatapnya dengan ekspresi campuran antara penasaran dan khawatir.
"Aku... aku hanya sedikit terkejut," jawab Ronghuā, menata napasnya. "Huīxiáng… benar-benar main drama ini?"
Lin Wei mengangguk. "Iya. Dan dengar-dengar dia baru saja menyelesaikan syuting film terbaru yang viral. Agensinya ketat soal hubungan pribadi—jadi jangan sampai ada rumor."
Ronghuā menelan ludah. Ia tahu—ini bukan sekadar tawaran peran. Ini adalah jebakan emosional yang bisa menghancurkan konsentrasinya, atau bahkan membuka luka lama yang belum sembuh.
Beberapa jam kemudian, di ruang audisi, suasana berubah menjadi lebih tegang. Kru sibuk menyiapkan lampu, kamera, dan skrip yang tergeletak rapi di atas meja kayu. Ronghuā membuka folder berisi naskah, mencoba fokus. Namun, ketika ia mengangkat kepala, matanya menangkap sosok tinggi dengan wajah dingin namun menawan, berdiri di ujung ruangan.
"Huīxiáng..." bisiknya pelan, hampir tak terdengar.
Huīxiáng juga menatapnya, dan seketika ekspresi di wajahnya berubah—mata yang dulu penuh kekaguman kini menyimpan kejutan yang sulit disembunyikan.
"Ronghuā?" suara rendahnya menggetarkan udara di antara mereka.
Detik-detik pertama pertemuan ini dipenuhi keheningan canggung. Kru studio terlihat sibuk, tapi dunia mereka berdua seakan berhenti. Semua kenangan masa lalu—kegiatan di klinik kakek Huīxiáng, pertukaran buku, pertanyaan-pertanyaan cerdas Ronghuā kecil—muncul kembali seperti film hitam-putih yang dimainkan di benak mereka.
Lin Wei menyentuh bahu Ronghuā, membangunkannya dari lamunan. "Kamu siap, kan?"
Ronghuā mengangguk, menelan rasa gugupnya. Ia membuka skrip dan mulai membaca, mencoba memasuki dunia karakter. Namun, matanya tak bisa lepas dari Huīxiáng yang berdiri beberapa meter di depannya, membaca naskah dengan serius, sesekali mengangguk atau menyeringai tipis.
Di balik layar, Han Yue, editor BTS yang bertanggung jawab untuk dokumentasi behind-the-scenes, menyadari chemistry mereka. Tanpa sepengetahuan mereka, Han Yue diam-diam menekan tombol rekam, menangkap momen-momen spontan—senyum tipis Ronghuā saat membaca skrip, pandangan Huīxiáng yang seakan tak mau lepas dari adik kecil yang dulu begitu berbakat.
"Ah, ini pasti viral," gumam Han Yue dalam hati sambil menahan senyum. Namun, ia menyadari satu hal: ini bukan hanya soal drama biasa. Ada masa lalu yang belum terselesaikan.
Ronghuā mencoba fokus. "Scene pertama…," bisiknya sendiri. Ia menatap naskah: adegan reuni yang ditulis sebagai percakapan formal di kantor rumah sakit. Ironis, mengingat hubungan mereka yang jauh dari formal di masa kecil.
"Ronghuā, jangan terlalu tegang," Huīxiáng tiba-tiba muncul di sampingnya. "Aku janji, ini cuma skrip. Kita lakukan yang terbaik."
Ada kehangatan di suaranya, tapi tetap ada lapisan dingin yang membuat Ronghuā merasa... nyaman sekaligus waspada. "Baik," jawabnya, mencoba tersenyum.
Adegan dimulai. Mereka saling bertukar dialog, Ronghuā tetap menjaga ekspresi profesional, tapi setiap kata yang keluar dari Huīxiáng membuat hatinya berdetak lebih cepat. Sementara kamera merekam, Han Yue memastikan setiap momen terekam dengan jelas—senyuman, tatapan, bahkan jeda sejenak di antara mereka.
Setelah beberapa take, kru memberi jeda. Ronghuā duduk, menenangkan napasnya, ketika Lin Wei mendekat. "Kamu tahu, Huīxiáng terlihat... sedikit tegang juga, lho."
Ronghuā mengangkat alis. "Dia? Teegang?"
Lin Wei tersenyum tipis. "Iya. Sepertinya reuni ini bukan hanya untuk drama."
Ronghuā menelan ludah. Memori masa kecilnya membanjiri pikiran: Huīxiáng yang selalu memperhatikannya di klinik, tangan kecilnya yang bergetar saat mencoba meniru teknik akupuntur, kata-kata pujian dan peringatan yang kini terasa hangat. Dan sekarang, semua itu muncul kembali, di tengah lampu sorot studio dan kamera yang terus merekam.
Tak lama, manajer Huīxiáng, Zhou Tian, mendekat, membawa naskah tambahan untuk adegan selanjutnya. "Ini adegan kalian berdua bertemu di taman rumah sakit. Banyak dialog emosional di sini. Pastikan kalian membaca dulu sebelum take."
Ronghuā menatap Huīxiáng. "Aku… takut emosiku terlalu terlihat."
Huīxiáng menatapnya tajam, tapi ada senyum tipis di bibirnya. "Kalau terlalu terlihat, aku juga akan menanggungnya. Kita jalani saja."
Rasa hangat itu menyebar di dada Ronghuā. Ia tersenyum, menenangkan dirinya, dan membuka halaman naskah berikut. Saat ia membaca dialog, tiba-tiba ponselnya bergetar—pesan dari Han Yue.
"Aku sudah rekam semua BTS kalian. Tunggu saja, ini bakal viral."
Ronghuā menatap layar, wajahnya memerah. Ia tahu, momen ini tidak bisa disembunyikan. Hubungan masa kecil mereka, chemistry yang alami, kini ada di tangan orang lain. Ia menelan ludah, menatap Huīxiáng, dan merasa campuran tegang, takut, dan sedikit bahagia.
Saat take berikutnya dimulai, lampu sorot menerangi wajah mereka, kamera siap merekam setiap gerakan. Ronghuā merasakan getaran lama yang muncul lagi—getaran yang dulu hanya ada di hatinya, kini menjadi nyata di depan mata. Huīxiáng menatapnya, ekspresi serius tapi lembut.
"Siap?" bisik Huīxiáng.
"Aku… siap," jawab Ronghuā, menarik napas panjang.
Dan kamera merekam…
Ronghuā menyadari sesuatu ketika membaca dialog terakhir: ada adegan di mana Huīxiáng harus menyentuh tangannya. Untuk sesaat, dunia di sekitarnya berhenti. Dalam pikiran Ronghuā, satu pertanyaan berputar cepat:"Apakah perasaan masa kecil itu… benar-benar hilang, atau hanya menunggu saat ini untuk kembali?"
Ruang studio menjadi saksi pertama reuni mereka. Di luar sana, kamera BTS diam-diam merekam semua, siap membuat dunia mengetahui rahasia yang sudah lama tersembunyi. Ronghuā menatap Huīxiáng, jantungnya berdebar, dan menyadari bahwa kisah yang dimulai di masa kecil mereka kini kembali dihidupkan—dengan risiko, emosi, dan rahasia yang belum terungkap.
Sinar lampu studio jatuh menyorot wajah Ronghuā yang sedang menatap naskah di mejanya. Suasana syuting hari itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Manajernya, Lín Wēi, berdiri di samping, memeriksa jadwal, sambil sesekali menatapnya dengan ekspresi campur aduk antara cemas dan kesal.“Ronghuā, kau sudah siap dengan adegan ini?” tanya Wēi, nada suaranya terdengar tegas tapi sedikit gugup.Ronghuā menghela napas. “Aku sudah membaca skripnya berkali-kali. Aku… rasa sudah paham karakter ini.”Wēi mengangguk, tapi matanya tidak meyakinkan. “Baik. Tapi ingat, ini adegan penting. Jangan sampai salah gerak atau salah dialog, ya. Tim pengawas dari agensi Huīxiáng sedang memperhatikan setiap detik.”Ronghuā menelan ludah. Tekanan selalu ada, tapi hari ini terasa berbeda. Sesuatu mengganggunya sejak pagi—sebuah pesan yang masuk di ponselnya. Awalnya ia pikir spam, tapi melihat nama pengirim yang aneh dan isi yang jelas menargetkan dirinya, jantungnya tercekat.
Pagi itu, dunia Ronghuā berubah dalam sekejap. Ponselnya bergetar tanpa henti. Notifikasi dari media sosial, grup chat agensi, dan fans flooding masuk bersamaan. Video BTS diam-diam Han Yue yang direkam Han Yue—tatapan mata Ronghuā ke Huīxiáng, senyuman yang begitu natural, interaksi yang terlalu dekat untuk sebuah adegan—telah tersebar.Ronghuā menatap layar, hati berdegup kencang. “Ini… cepat sekali,” gumamnya, hampir tak percaya. Ia bisa membayangkan bagaimana fans akan mulai menafsirkan setiap gerakan mereka.Di kantor agensi, Lin Wei sudah menunggu. “Ronghuā, kamu lihat ini kan?” Suaranya datar, tapi tegang. Ia menatap Ronghuā seolah menunggu jawaban yang tepat.Ronghuā mengangguk, menelan ludah. “Aku lihat. Tapi aku nggak bisa mengontrol apa yang orang upload.”Lin Wei menghela napas, matanya mengerling ke layar laptop yang menampilkan headline media: “Tatapan Mesra di BTS: Ronghuā dan Huīxiáng?” dan “Bocoran Video BTS Han Yue: Chemistr
Suasana di lokasi syuting pagi itu berbeda dari biasanya. Cahaya matahari lembut menembus jendela studio, namun hati Ronghuā tidak sesantai sinarnya. Tangannya memegang skrip, matanya sesekali melirik jam. Adegan romantis pertama dengan Huīxiáng akan dimulai dalam beberapa menit. Walaupun sudah banyak latihan, jantungnya tetap berdegup kencang.“Ronghuā, sini dulu,” suara Lin Wei terdengar dari sisi kanan set. Nada tegas namun tidak kasar.Ronghuā menoleh. “Ada apa, Lin Wei?” tanyanya sambil menyimpan skrip.Lin Wei melangkah mendekat, mata tajamnya menilai setiap gerakan Ronghuā. “Adegan ini, aku rasa kamu harus lebih ekspresif. Jangan terlalu menahan perasaan. Kalau terlalu datar, chemistry dengan Huīxiáng nggak akan terasa di kamera.”Ronghuā menghela napas. Ia tahu Lin Wei benar, tapi rasanya mengekspresikan perasaan terlalu dipaksakan akan membuatnya terlihat palsu. “Aku paham maksudmu, tapi kalau aku terlalu memaksakan… aku takut malah terlihat aneh
Ronghuā menatap layar tablet di kafe kecil dekat studio, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Di depan matanya, video BTS—diunggah secara diam-diam oleh Han Yue—memperlihatkan momen sederhana tapi intim: Ronghuā dan Huīxiáng tersenyum sambil meninjau naskah, hujung jari mereka hampir bersentuhan ketika mengoreksi dialog. Seketika, komentar fans membanjiri layar:"Mereka jelas cocok!""Huīxiáng terlihat sangat perhatian padanya!""Ronghuā terlihat sangat nyaman dengannya… chemistry nyata!"Ronghuā menelan ludah. Ia tahu, walau adegan itu murni profesional, publik mungkin akan menafsirkannya berbeda. Ia menoleh ke Lin Wei, manajernya yang duduk di seberangnya, menatap layar dengan raut tegang."Ini bisa menjadi masalah besar," bisik Lin Wei. "Fans dan media akan mulai berspekulasi."Ronghuā mengangguk perlahan, menahan napas. "Aku hanya menjalani pekerjaan… itu tidak lebi
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.