Chapter: Bab 45 Aksi PenyelamatanAku tetap memejamkan mataku. Aku berusaha mengatur nafasku agar tak terdengar oleh mereka. Tubuhku sengaja tak aku gerakkan, agar mereka berpikir aku masih pingsan. Terdengar langkah kaki mendekat ke arahku. Aku bisa merasakan laki-laki itu menatapku. Entah dia mengamatiku atau hanya memastikan apakah aku masih pingsan atau sudah bangun. "Cantik juga ya..." gumam laki-laki itu. Nadanya berubah, bukan lagi datar seperti tadi di telepon. Jantungku langsung berdetak cepat. Aku berusaha untuk tak bergerak dan tak panik. Tangan laki-laki itu memegang pipiku, dingin dan asing. Aku hampir bereaksi menerima sentuhan itu. Refleks. Aku menormalkan detak jantungku. Aku menahan diri mati-matian, meskipun rasanya aku ingin marah pada laki-laki ini. "Masih pingsan ya..." suaranya pelan. Ada jeda yang terasa sunyi. Lalu sesuatu yang membuatku semakin merinding. "Sayang kalau cuma ditinggalin gini aja..." Tangan laki-laki itu mulai bergerak, perlahan, menyusuri setiap sisi wajahku, hingga
Terakhir Diperbarui: 2026-04-24
Chapter: Bab 44 DiculikAku menatap jalanan yang sedang kulewati. Rasanya tak asing, tapi aku lupa ke mana arah jalan ini. Ada perasaan ganjil yang mengusik, seperti deja vu yang samar namun terus memanggil ingatanku. Tiba-tiba ada satu pemandangan yang membuka sebuah ingatan yang terkubur di dalam pikiranku, seperti potongan puzzle yang perlahan kembali menyatu. Sebuah desiran ombak terdengar, seolah membawa kembali rasa yang pernah kurasakan—hangat, sekaligus menyakitkan. Aku memejamkan mata, mencoba mengingatnya kembali, menelusuri jejak-jejak kenangan yang bersembunyi di balik pikiranku. Sagara yang sedang tersenyum ke arahku di sebuah pantai terlintas dalam pikiranku, begitu jelas seolah itu baru saja terjadi. Kenapa harus Sagara lagi? Kenapa rasanya di setiap tempat yang kukunjungi, selalu ada kenanganku bersamanya, seakan aku tak pernah benar-benar bisa lepas darinya? “Kita mau ke Pantai Tanjung Lesung ya, Mas?” tanyaku. Sekarang aku ingat ke mana arah jalan ini membawa kami. Mas Azka men
Terakhir Diperbarui: 2026-04-23
Chapter: Bab 43 Kerisauan HatiMas Azka langsung berhenti. Tatapan wajahnya seolah menyiratkan kekecewaan atas penolakanku. “Dari kapan?” tanya Mas Azka, suaranya terdengar lebih datar dari biasanya. Sebenarnya aku sedang tidak halangan. Hanya saja, aku memang tak ingin lagi disentuh olehnya. Entah kenapa, ada rasa jijik yang muncul saat ia tadi menciumku, sesuatu yang dulu tak pernah kurasakan. Pikiranku langsung melayang ke malam sebelumnya, saat aku mengetahui sesuatu yang membuat dadaku sesak—Mas Azka Dan Viona melakukan itu di kamar tamu. Bayangan itu terus berputar di kepalaku, seolah menolak untuk pergi. “Sudah dua hari,” bohongku. “Aku mau tidur, Mas. Kalau kamu mau di sini, boleh kok. Aku gak akan melarang. Aku duluan ya, Mas. Sudah capek,” lanjutku, mencoba terdengar biasa saja. Aku tidak ingin kebohonganku terungkap, jadi aku memilih mengakhiri percakapan lebih cepat dan berpura-pura tidur. Sebelum benar-benar memejamkan mata, aku mendengar suara pintu dibanting keras. Namun, aku tak meng
Terakhir Diperbarui: 2026-04-22
Chapter: Bab 42 Menolak BerhubunganHatiku cemas, bagaimana kalau Mas Azka menanyakan kembali tentang cincin ini? Aku hanya pura-pura tak terjadi apa-apa sambil menikmati perlakuan baru Mas Azka. Meskipun banyak yang bercongkol di pikiranku tentang semua ini, tapi aku hempaskan hanya untuk menikmati semua rasa yang sedang aku rasakan. "Sayang, apa ada tempat yang mau kamu kunjungi?" tanya Mas Azka padaku. Aku menoleh ke arah suamiku. Tumben sekali Mas Azka mau mengajakku jalan-jalan? "Aku lagi suka lihat sunset, gimana kalau kita ke pantai aja? Yang dekat juga boleh, jangan jauh-jauh," balasku pada Mas Azka. Mas Azka menatapku, ia tersenyum. "Kenapa pantai, sayang?" tanyanya padaku. Aku membalas senyumnya. "Bukankah kamu tahu aku nggak terlalu suka keramaian, Mas?" tanyaku balik pada Mas Azka. Mas Azka menganggukkan kepalanya seolah ia mengiyakan permintaanku. Ketika hari sudah terlalu larut, akhirnya Mas Azka mengajakku untuk pulang ke rumah. "Nad," ucapnya ketika kami baru masuk ke dalam mobil. Aku menatap
Terakhir Diperbarui: 2026-04-21
Chapter: Bab 41 Ketegangan"Mas, ini…” suaraku sedikit tercekat, mataku masih sibuk menyapu setiap sudut ruangan yang dipenuhi lampu gantung berkilauan dan dekorasi elegan itu. Mas Azka hanya tersenyum, genggamannya di tanganku semakin erat seolah ingin meyakinkanku. “Tenang aja, Nad. Malam ini aku khususkan hanya buat kamu,” ucap Mas Azka lembut. Jantungku berdegup lebih cepat. Ada perasaan hangat yang perlahan muncul dari dalam dadaku. Ada rasa dejavu di setiap perlakuan Mas Azka. Aku mengikuti Mas Azka lalu duduk di meja yang sudah dipesan. Di atas meja terdapat lilin kecil yang sedang menyala, cahayanya seolah sedang menari perlahan, menciptakan suasana yang begitu romantis. Aku menatap Mas Azka dalam-dalam. Dari senyumnya, cara Mas Azka memperlakukanku malam ini… semuanya terasa seperti dulu. Seperti saat ia masih benar-benar hanya milikku, tanpa aku harus bernegatif thinking oleh sikapnya yang berubah. “Kenapa kamu lihat aku begitu?” tanya Mas Azka tiba-tiba, membuatku tersadar dari lamunanku. Aku c
Terakhir Diperbarui: 2026-04-19
Chapter: Bab 40 Sikap Romantis Mas azka"Nadia, maafin aku. Selama ini ternyata aku terlalu jauh berubah. Maafin aku yang selalu main kasar sama kamu. Aku sekarang udah sadar, ternyata memang kamu yang terbaik untukku," ucap Mas Azka. Ada kejanggalan di hatiku, bukannya kemarin dia memilih untuk menerima Viona? Tapi sekarang sikapnya padaku seolah tak terjadi apa-apa. Aku menatap wajah Mas Azka lekat-lekat, aku mencoba mencari celah dari setiap kata yang Mas Azka ucapkan. Nada suaranya lembut, tak seperti biasanya. Tak ada nada tinggi, tak ada tatapan tajam yang selama ini Mas Azka sering berikan padaku. Justru sekarang, Mas Azka terlihat begitu tulus padaku. Tangan Mas Azka menggenggam tanganku, rasanya hangat, tapi anehnya kehangatan itu hanya menjalar di tanganku saja, tak sampai ke hatiku. "Nadia, aku serius. Aku bakalan berubah sekarang," lanjutnya pelan. Mas Azka menatap mataku dengan tatapan seolah-olah tatapan itu tulus padaku. Rasanya masih asing, masih tak habis pikir di dalam pikiranku. Sudah lebih dari seta
Terakhir Diperbarui: 2026-04-18