Mag-log inSelalu dihina mandul dan tak pernah disentuh selama tiga tahun menikah, Nadia malah memergoki suaminya selingkuh dengan sahabatnya sendiri. Tidak terima harga dirinya diinjak-injak , Nadia mendatangi Sagara, dokter kandungan sekaligus mantan kekasihnya di masa lalu. Sagara membongkar fakta mengejutkan, bahwa rahim Nadia sehat, masalahnya dia hanya tidak pernah terpuaskan di ranjang. "Aku mau cepat hamil, Sagara," isak Nadia. "Kalau begitu, mari kita lakukan sekarang. Aku akan berikan kepuasan yang suamimu abaikan," balas Sagara, mengunci tubuh Nadia di atas ranjang periksa."
view more"Kamu gimana sih jadi istri? Nyiapin baju suami aja gak bisa! Apa gunanya kamu di sini, Nadia!” kata Mas Azka—suamiku.
“Maaf, Mas.” Hanya kata itu yang keluar dari mulutku. Aku mencoba sabar dengan sifat Mas Azka yang temperamental. Brakk! Azka membanting pintu lemari, lalu duduk di ranjang menatap nyalang diriku. “Kenapa hal seperti ini saja kamu gak bisa?!” Aku hanya bisa menundukkan kepalanya, tak berani menjawab pertanyaan Mas Azka. Padahal aku sudah berusaha menyiapkan kebutuhan suamiku. Tapi ternyata, semua usaha yang dilakukan olehku selama ini, selalu jadi sebuah kesalahan yang fatal! “Selain menjadi istri yang gak berguna, apa yang bisa kamu perbuat, Nadia? Menghabiskan uangku? Kamu hanya perempuan matre yang gak bisa ngasih kemauan aku! Padahal kemauanku cuma satu, Nadia! Tidak lebih. Kenapa kamu gak bisa ngasih?” Aku menangis sesegukan, tak menyangka suamiku akan bertanya seperti itu. Padahal, bulan lalu dia tidak seperti ini. “Dasar perempuan mandul! Sudah gak bisa ngasih keturunan, sekarang malah makin menyusahkan aku saja,” Azka kembali berbicara, membuat hatiku semakin sakit. “Sudah tiga tahun, Nadia! Tiga tahun kamu menikah denganku, dan apa hasilnya? Rahim-mu masih kosong. Lihat teman-temanku, ada yang menikah tiga bulan dan istrinya langsung hamil! Bahkan yang usia pernikahannya denganku sudah memiliki dua anak! Mau sampai kapan aku menunggu? Aku juga ingin punya keturunan dari darah dagingku sendiri, Nadia,” ucap Mas Azka sambil menatap mataku. Sakit rasanya. Kata “anak” adalah hal sensitif bagiku. Bukan karena aku tak bisa memberikan keturunan, tapi memang pada dasarnya belum dikasih. Plakk! Aku memegang pipinya yang baru saja ditampar Azka. Akumenatap suamiku dengan air mata yang sudah mengalir—perih, itulah yang aku rasakan. “Dasar perempuan tidak berguna! Sia-sia aku menikahimu tiga tahun yang lalu. Andai aku tahu kamu tak bisa mengandung anakku, tak akan pernah aku menikahimu, sekalipun kamu yang memohon padaku!” Tamparan barusan adalah tamparan pertama kali di kehidupan pernikahanku dengan Mas Azka, setidaknya setelah tiga tahun kita menikah.. “Kenapa, Mas? Apa aku ngelakuin kesalahan? Kasih tahu aku, Mas, biar aku belajar lagi. Jangan kayak gini,” jawabku, meski hatiku sudah seperti disayat-sayat oleh perkataan Mas Azka hari ini. Bagaimana mungkin Mas Azka melakukan ini tanpa sebab? Apa kesalahanku kali ini? tanyaku dalam hati. “Kamu memang selalu berbuat salah, Nadia. Apa pun yang kamu lakukan itu salah! Kamu belum menjadi istri yang sempurna! Di saat orang lain sudah memiliki anak di usia pernikahan yang masih dibilang dini, sedangkan kamu? Tiga tahun, Nadia! Aku sudah muak menunggu terus!” kata Azka, membuat hatiku semakin sesak. Aku terisak. Apa karena belum memiliki anak menjadi aib untuk suamiku? Apa karena belum memiliki anak aku pantas diperlakukan seperti ini? Kenapa harus aku? Tanpa basa-basi, Azka menarik tanganku, mengganti pakaianku dengan terburu-buru. Entahlah, sifatnya yang seperti ini tak bisa kuterima selama pernikahan kami. Tapi selama ini aku selalu sabar, meskipun kadang aku pun ingin marah. “Kita bakalan ke mana, Mas?” tanyaku, mencoba mencairkan suasana yang sudah canggung. “Kita akan pergi ke dokter spesialis kandungan! Dia adalah rekomendasi dari temanku yang sudah berhasil. Jangan mencoba untuk menolak, Nadia!” katanya tanpa ingin dibantah olehku. “Tapi, Mas—” belum selesai aku berbicara, Mas Azka menatap nyalang mataku. “Bukankah setiap dokter yang kita datangi selalu sama semua jawabannya? Aku sehat, Mas. Kamupun sehat. Kita memang belum dikasih aja. Apa lagi yang mau kamu cek dari aku, Mas?” Azka tak menjawab pertanyaanku. Tanpa pikir panjang, Mas Azka lalu menarik tanganku, membawaku masuk ke mobil. Perjalanan ini sangat hening, hanya ada tangisku yang semakin menjadi-jadi. “Mas, pelan-pelan bawa mobilnya,” ujarku, karena saat ini kami sedang dalam kondisi kebut-kebutan. Azka tak menggubris. Ia tetap menjalankan mobilnya dengan ugal-ugalan, seperti ingin cepat-cepat sampai di tujuan tanpa memperdulikan nyawa kita berdua. Aku terus melafalkan sumpah serapah pada Mas Azka. Dan akupun merasa, emosi yang menguasai Mas Azka sekarang bagaikan sebuah ujian antara hidup dan matiku. Sesampainya di klinik yang cukup mewah, Mas Azka dengan sadisnya menyeret tanganku. Ia seperti sudah tak sabar, padahal antrean hari ini cukup panjang. Kucoba melepaskan tangannya, tapi tidak bisa, cengkeramannya terlalu kuat. Yang bisa kulakukan hanya menunduk malu pada orang-orang yang sedang menatap kami berdua dengan tatapan seolah aku mengharap belas kasihan mereka. “Menurutlah, Nadia,” desis Azka. Ia diam sejenak, mengatur napasnya yang tersengal-sengal. Aku menarik napas panjang. Aroma rumah sakit yang khas, ditambah dengan keputusasaanku ini, membuatku tak bisa berpikiran jernih. Aku ingin kabur dari sini dan pulang ke rumah. Aku sudah lelah setiap hari harus pergi ke setiap rumah sakit hanya untuk berkonsultasi dengan dokter di sana. Azka menarik tanganku dengan kasar, mendekati sebuah ruangan yang bertuliskan “Ruang Praktik Kehamilan”. Entahlah, firasatku mengatakan ada hal yang tak wajar. Sesampainya di depan pintu ruangan tersebut, Mas Azka lalu masuk tanpa mengetuk terlebih dahulu. Sepertinya Mas Azka sudah kenal dengan dokter yang ada di dalam. Aku menghela napas, semakin menundukkan kepalaku. Sungguh, aku tak ingin ada di posisi ini—menjadi “perempuan gagal” yang harus bolak-balik ke rumah sakit hanya untuk mencari sebuah pernyataan yang seharusnya bisa semua perempuan dapatkan. “Selamat pagi, Pak Azka. Ada yang bisa saya bantu?” tanya dokter yang sedang ada di depan Mas Azka. Aku menoleh—deg. Jantungku hampir copot setelah melihat siapa yang ada di depannya. “Dia…”Aku tetap memejamkan mataku. Aku berusaha mengatur nafasku agar tak terdengar oleh mereka. Tubuhku sengaja tak aku gerakkan, agar mereka berpikir aku masih pingsan. Terdengar langkah kaki mendekat ke arahku. Aku bisa merasakan laki-laki itu menatapku. Entah dia mengamatiku atau hanya memastikan apakah aku masih pingsan atau sudah bangun. "Cantik juga ya..." gumam laki-laki itu. Nadanya berubah, bukan lagi datar seperti tadi di telepon. Jantungku langsung berdetak cepat. Aku berusaha untuk tak bergerak dan tak panik. Tangan laki-laki itu memegang pipiku, dingin dan asing. Aku hampir bereaksi menerima sentuhan itu. Refleks. Aku menormalkan detak jantungku. Aku menahan diri mati-matian, meskipun rasanya aku ingin marah pada laki-laki ini. "Masih pingsan ya..." suaranya pelan. Ada jeda yang terasa sunyi. Lalu sesuatu yang membuatku semakin merinding. "Sayang kalau cuma ditinggalin gini aja..." Tangan laki-laki itu mulai bergerak, perlahan, menyusuri setiap sisi wajahku, hingga
Aku menatap jalanan yang sedang kulewati. Rasanya tak asing, tapi aku lupa ke mana arah jalan ini. Ada perasaan ganjil yang mengusik, seperti deja vu yang samar namun terus memanggil ingatanku. Tiba-tiba ada satu pemandangan yang membuka sebuah ingatan yang terkubur di dalam pikiranku, seperti potongan puzzle yang perlahan kembali menyatu. Sebuah desiran ombak terdengar, seolah membawa kembali rasa yang pernah kurasakan—hangat, sekaligus menyakitkan. Aku memejamkan mata, mencoba mengingatnya kembali, menelusuri jejak-jejak kenangan yang bersembunyi di balik pikiranku. Sagara yang sedang tersenyum ke arahku di sebuah pantai terlintas dalam pikiranku, begitu jelas seolah itu baru saja terjadi. Kenapa harus Sagara lagi? Kenapa rasanya di setiap tempat yang kukunjungi, selalu ada kenanganku bersamanya, seakan aku tak pernah benar-benar bisa lepas darinya? “Kita mau ke Pantai Tanjung Lesung ya, Mas?” tanyaku. Sekarang aku ingat ke mana arah jalan ini membawa kami. Mas Azka men
Mas Azka langsung berhenti. Tatapan wajahnya seolah menyiratkan kekecewaan atas penolakanku. “Dari kapan?” tanya Mas Azka, suaranya terdengar lebih datar dari biasanya. Sebenarnya aku sedang tidak halangan. Hanya saja, aku memang tak ingin lagi disentuh olehnya. Entah kenapa, ada rasa jijik yang muncul saat ia tadi menciumku, sesuatu yang dulu tak pernah kurasakan. Pikiranku langsung melayang ke malam sebelumnya, saat aku mengetahui sesuatu yang membuat dadaku sesak—Mas Azka Dan Viona melakukan itu di kamar tamu. Bayangan itu terus berputar di kepalaku, seolah menolak untuk pergi. “Sudah dua hari,” bohongku. “Aku mau tidur, Mas. Kalau kamu mau di sini, boleh kok. Aku gak akan melarang. Aku duluan ya, Mas. Sudah capek,” lanjutku, mencoba terdengar biasa saja. Aku tidak ingin kebohonganku terungkap, jadi aku memilih mengakhiri percakapan lebih cepat dan berpura-pura tidur. Sebelum benar-benar memejamkan mata, aku mendengar suara pintu dibanting keras. Namun, aku tak meng
Hatiku cemas, bagaimana kalau Mas Azka menanyakan kembali tentang cincin ini? Aku hanya pura-pura tak terjadi apa-apa sambil menikmati perlakuan baru Mas Azka. Meskipun banyak yang bercongkol di pikiranku tentang semua ini, tapi aku hempaskan hanya untuk menikmati semua rasa yang sedang aku rasakan. "Sayang, apa ada tempat yang mau kamu kunjungi?" tanya Mas Azka padaku. Aku menoleh ke arah suamiku. Tumben sekali Mas Azka mau mengajakku jalan-jalan? "Aku lagi suka lihat sunset, gimana kalau kita ke pantai aja? Yang dekat juga boleh, jangan jauh-jauh," balasku pada Mas Azka. Mas Azka menatapku, ia tersenyum. "Kenapa pantai, sayang?" tanyanya padaku. Aku membalas senyumnya. "Bukankah kamu tahu aku nggak terlalu suka keramaian, Mas?" tanyaku balik pada Mas Azka. Mas Azka menganggukkan kepalanya seolah ia mengiyakan permintaanku. Ketika hari sudah terlalu larut, akhirnya Mas Azka mengajakku untuk pulang ke rumah. "Nad," ucapnya ketika kami baru masuk ke dalam mobil. Aku menatap
Hamil," beoku. Nyawaku rasanya hilang seketika. Bagaimana bisa? Dan kenapa malah seperti Mas Azka mengemis untuk bersamaku, tetapi sudah akan mempunyai anak dari perempuan lain? Kenapa hari ini terjadi? Ketakutanku akhirnya terbukti. "Bagaimana bisa, Mas?" tanyaku pada Mas Azka. Rasa sakit kemba
"Aku bunuh kamu!" ucap Mas Azka sambil berjalan ke arahku. Sepertinya sifat temperamen Mas Azka sudah melekat dalam dirinya. Apa Mas Azka punya dua kepribadian? Mas Azka yang sekarang dan Mas Azka yang tadi malam sungguh berbanding seratus delapan puluh derajat. "Bunuh saja, Mas. Tapi akan kup
Beberapa menit, situasi menjadi canggung. Dipta dan Sela saling memperkenalkan diri mereka masing-masing. Hatiku tak tenang. Takut kalau Dipta tiba-tiba mengaku menyukaiku. Aku tak mau hubungan yang baru saja kubangun dengan Sela menjadi asing lagi. "Kak Dipta, kita mau makan. Kak Dipta mau di si
Sela mengangguk. Jadi dia adalah adik Sagara? Astaga, kenapa aku tak bisa mengenalinya? Padahal dulu rasanya aku bisa dibilang dekat dengannya. "Aku gak suka Kak Nadia lupa sama aku," ucap Sela sambil mencebikkan bibirnya. Namun, selang beberapa detik kemudian, dia tersenyum lebar. "Pantas saja






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Rebyu