Cinta Terlarang Di Ruang Konsultasi

Cinta Terlarang Di Ruang Konsultasi

last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-03-12
โดย:  Rabecca keeganอัปเดตเมื่อครู่นี้
ภาษา: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
10
1 คะแนน. 1 ทบทวน
7บท
14views
อ่าน
เพิ่มลงในห้องสมุด

แชร์:  

รายงาน
ภาพรวม
แค็ตตาล็อก
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป

Selalu dihina mandul dan tak pernah disentuh selama tiga tahun menikah, Nadia malah memergoki suaminya selingkuh dengan sahabatnya sendiri. Tidak terima harga dirinya diinjak-injak , Nadia mendatangi Sagara, dokter kandungan sekaligus mantan kekasihnya di masa lalu. Sagara membongkar fakta mengejutkan, bahwa rahim Nadia sehat, masalahnya dia hanya tidak pernah terpuaskan di ranjang. "Aku mau cepat hamil, Sagara," isak Nadia. "Kalau begitu, mari kita lakukan sekarang. Aku akan berikan kepuasan yang suamimu abaikan," balas Sagara, mengunci tubuh Nadia di atas ranjang periksa."

ดูเพิ่มเติม

บทที่ 1

Bab 1 Istri Macam Apa Kamu?!

"Kamu gimana sih jadi istri? Nyiapin baju suami aja gak bisa! Apa gunanya kamu di sini, Nadia!” kata Mas Azka—suamiku.

“Maaf, Mas.”

Hanya kata itu yang keluar dari mulutku. Aku mencoba sabar dengan sifat Mas Azka yang temperamental.

Brakk!

Azka membanting pintu lemari, lalu duduk di ranjang menatap nyalang diriku. “Kenapa hal seperti ini saja kamu gak bisa?!”

Aku hanya bisa menundukkan kepalanya, tak berani menjawab pertanyaan Mas Azka.

Padahal aku sudah berusaha menyiapkan kebutuhan suamiku. Tapi ternyata, semua usaha yang dilakukan olehku selama ini, selalu jadi sebuah kesalahan yang fatal!

“Selain menjadi istri yang gak berguna, apa yang bisa kamu perbuat, Nadia? Menghabiskan uangku? Kamu hanya perempuan matre yang gak bisa ngasih kemauan aku! Padahal kemauanku cuma satu, Nadia! Tidak lebih. Kenapa kamu gak bisa ngasih?”

Aku menangis sesegukan, tak menyangka suamiku akan bertanya seperti itu. Padahal, bulan lalu dia tidak seperti ini.

“Dasar perempuan mandul! Sudah gak bisa ngasih keturunan, sekarang malah makin menyusahkan aku saja,” Azka kembali berbicara, membuat hatiku semakin sakit.

“Sudah tiga tahun, Nadia! Tiga tahun kamu menikah denganku, dan apa hasilnya? Rahim-mu masih kosong. Lihat teman-temanku, ada yang menikah tiga bulan dan istrinya langsung hamil! Bahkan yang usia pernikahannya denganku sudah memiliki dua anak! Mau sampai kapan aku menunggu? Aku juga ingin punya keturunan dari darah dagingku sendiri, Nadia,” ucap Mas Azka sambil menatap mataku. Sakit rasanya.

Kata “anak” adalah hal sensitif bagiku. Bukan karena aku tak bisa memberikan keturunan, tapi memang pada dasarnya belum dikasih.

Plakk!

Aku memegang pipinya yang baru saja ditampar Azka. Akumenatap suamiku dengan air mata yang sudah mengalir—perih, itulah yang aku rasakan.

“Dasar perempuan tidak berguna! Sia-sia aku menikahimu tiga tahun yang lalu. Andai aku tahu kamu tak bisa mengandung anakku, tak akan pernah aku menikahimu, sekalipun kamu yang memohon padaku!”

Tamparan barusan adalah tamparan pertama kali di kehidupan pernikahanku dengan Mas Azka, setidaknya setelah tiga tahun kita menikah..

“Kenapa, Mas? Apa aku ngelakuin kesalahan? Kasih tahu aku, Mas, biar aku belajar lagi. Jangan kayak gini,” jawabku, meski hatiku sudah seperti disayat-sayat oleh perkataan Mas Azka hari ini.

Bagaimana mungkin Mas Azka melakukan ini tanpa sebab? Apa kesalahanku kali ini? tanyaku dalam hati.

“Kamu memang selalu berbuat salah, Nadia. Apa pun yang kamu lakukan itu salah! Kamu belum menjadi istri yang sempurna! Di saat orang lain sudah memiliki anak di usia pernikahan yang masih dibilang dini, sedangkan kamu? Tiga tahun, Nadia! Aku sudah muak menunggu terus!” kata Azka, membuat hatiku semakin sesak.

Aku terisak. Apa karena belum memiliki anak menjadi aib untuk suamiku? Apa karena belum memiliki anak aku pantas diperlakukan seperti ini? Kenapa harus aku?

Tanpa basa-basi, Azka menarik tanganku, mengganti pakaianku dengan terburu-buru. Entahlah, sifatnya yang seperti ini tak bisa kuterima selama pernikahan kami. Tapi selama ini aku selalu sabar, meskipun kadang aku pun ingin marah.

“Kita bakalan ke mana, Mas?” tanyaku, mencoba mencairkan suasana yang sudah canggung.

“Kita akan pergi ke dokter spesialis kandungan! Dia adalah rekomendasi dari temanku yang sudah berhasil. Jangan mencoba untuk menolak, Nadia!” katanya tanpa ingin dibantah olehku.

“Tapi, Mas—” belum selesai aku berbicara, Mas Azka menatap nyalang mataku.

“Bukankah setiap dokter yang kita datangi selalu sama semua jawabannya? Aku sehat, Mas. Kamupun sehat. Kita memang belum dikasih aja. Apa lagi yang mau kamu cek dari aku, Mas?”

Azka tak menjawab pertanyaanku. Tanpa pikir panjang, Mas Azka lalu menarik tanganku, membawaku masuk ke mobil. Perjalanan ini sangat hening, hanya ada tangisku yang semakin menjadi-jadi.

“Mas, pelan-pelan bawa mobilnya,” ujarku, karena saat ini kami sedang dalam kondisi kebut-kebutan.

Azka tak menggubris. Ia tetap menjalankan mobilnya dengan ugal-ugalan, seperti ingin cepat-cepat sampai di tujuan tanpa memperdulikan nyawa kita berdua.

Aku terus melafalkan sumpah serapah pada Mas Azka. Dan akupun merasa, emosi yang menguasai Mas Azka sekarang bagaikan sebuah ujian antara hidup dan matiku.

Sesampainya di klinik yang cukup mewah, Mas Azka dengan sadisnya menyeret tanganku. Ia seperti sudah tak sabar, padahal antrean hari ini cukup panjang.

Kucoba melepaskan tangannya, tapi tidak bisa, cengkeramannya terlalu kuat. Yang bisa kulakukan hanya menunduk malu pada orang-orang yang sedang menatap kami berdua dengan tatapan seolah aku mengharap belas kasihan mereka.

“Menurutlah, Nadia,” desis Azka. Ia diam sejenak, mengatur napasnya yang tersengal-sengal.

Aku menarik napas panjang. Aroma rumah sakit yang khas, ditambah dengan keputusasaanku ini, membuatku tak bisa berpikiran jernih. Aku ingin kabur dari sini dan pulang ke rumah. Aku sudah lelah setiap hari harus pergi ke setiap rumah sakit hanya untuk berkonsultasi dengan dokter di sana.

Azka menarik tanganku dengan kasar, mendekati sebuah ruangan yang bertuliskan “Ruang Praktik Kehamilan”. Entahlah, firasatku mengatakan ada hal yang tak wajar.

Sesampainya di depan pintu ruangan tersebut, Mas Azka lalu masuk tanpa mengetuk terlebih dahulu. Sepertinya Mas Azka sudah kenal dengan dokter yang ada di dalam.

Aku menghela napas, semakin menundukkan kepalaku. Sungguh, aku tak ingin ada di posisi ini—menjadi “perempuan gagal” yang harus bolak-balik ke rumah sakit hanya untuk mencari sebuah pernyataan yang seharusnya bisa semua perempuan dapatkan.

“Selamat pagi, Pak Azka. Ada yang bisa saya bantu?” tanya dokter yang sedang ada di depan Mas Azka.

Aku menoleh—deg. Jantungku hampir copot setelah melihat siapa yang ada di depannya.

“Dia…”

แสดง
บทถัดไป
ดาวน์โหลด

บทล่าสุด

บทอื่นๆ

ถึงผู้อ่าน

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

ความคิดเห็น

Iman Nurjaman
Iman Nurjaman
menurutku bagus sih bukunya
2026-03-12 16:48:29
0
0
7
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status