Chapter: Bab 46 PelarianSuara bariton Arion menggema melalui pengeras suara, memenuhi setiap sudut Grand Ballroom dengan otoritas yang tenang. Ia sedang berdiri di atas podium, bermandikan cahaya spotlight yang membuatnya tampak seperti dewa bisnis yang tak tersentuh. Ia bicara tentang visi, masa depan Richie Group, dan dedikasi. Namun, setiap kata yang keluar dari mulutnya terasa seperti duri di telingaku. “Itu jawabannya,” katanya tadi. Sebuah ciuman nekat di balik pilar. Sebuah tindakan impulsif yang lahir dari kecemburuan, bukan dari keberanian untuk mengakuiku di depan dunia. Baginya, mungkin itu adalah pernyataan cinta yang paling maksimal yang bisa ia berikan di tengah sangkar emas ini. Tapi bagiku? Itu hanyalah pengingat pahit bahwa aku adalah rahasia yang ia simpan di balik bayangan pilar pualam, sementara Clarissa adalah sosok yang ia bawa ke hadapan kakeknya. Aku tidak bisa di sini lagi. Paru-paru rasanya menyempit set
Last Updated: 2026-03-29
Chapter: Bab 45 Perang DinginLantai dansa Grand Ballroom mulai dipenuhi pasangan yang bergerak mengikuti irama waltz yang lembut, namun di sudut area buffet, atmosfer terasa seperti medan perang yang membeku. Arion tidak datang dengan ledakan kemarahan. Ia melangkah tenang, satu tangannya diselipkan ke saku celana berbahan mahal yang ia kenakan, sementara tangan lainnya memegang gelas sampanye yang isinya hampir tak berkurang. "Dennis. Aku tidak menyangka firma arsitekturmu memberikan waktu luang untuk berpesta," suara Arion memecah tawa kami. Nadanya rendah, halus, namun mengandung ketajaman yang sanggup mengiris udara. Dennis menoleh, senyum santainya tidak luntur sedikit pun. Sebagai pria yang sudah sering menghadapi klien-klien sulit, dia tahu cara menghadapi 'singa' seperti Arion. "Pak Arion. Sebuah kehormatan bisa diundang langsung oleh kakek Anda. Dan tentu saja, bertemu dengan rekan kerja lama seperti Canna adalah bonus yang tidak terduga."
Last Updated: 2026-03-28
Chapter: Bab 44 Sang PenggodaAku menyesap jus jeruk di tanganku, namun rasanya tiba-tiba menjadi tawar. Dari sudut balkon tempatku berdiri bersama Mas Redy, pemandangan aula di bawah sana terlihat seperti panggung sandiwara yang megah. Dan pusat gravitasi panggung itu, tentu saja, adalah Arion. Ia baru saja selesai menyalami beberapa investor dari Singapura ketika seorang pria paruh baya berperawakan tinggi besar, dengan setelan jas yang tampak sangat mahal, membelah kerumunan. Pria itu memiliki aura otoritas yang kuat, tipe orang yang tidak perlu berteriak untuk didengar. Namun, bukan pria itu yang membuat dadaku tiba-tiba terasa sesak. Di lengannya, ia menggandeng seorang gadis. Gadis itu sangat cantik—tipe kecantikan yang terpahat sempurna, seperti boneka porselen. Ia mengenakan gaun merah marun yang memeluk lekuk tubuhnya dengan berani, kontras dengan gaun biru mudaku yang lebih kalem. Rambutnya disanggul modern, memperlihatkan leher jenjang dan anting berlian yang berkilau setiap kali ia menggerakkan ke
Last Updated: 2026-03-27
Chapter: Bab 43 Perkenalan Keluarga RichieDarahku terasa berdesir hebat saat melihat langkah lebar Arion yang membelah kerumunan. Tatapannya yang tadi hangat kini berubah menjadi sedingin es, lurus tertuju pada Kevin, pria yang masih setia mengulurkan tangannya di depanku. Arion tidak berlari, tapi aura otoritas yang dipancarkannya membuat beberapa tamu spontan memberi jalan. "Kevin. Senang melihatmu hadir," suara Arion terdengar berat dan datar saat ia tiba di sampingku. Ia tidak langsung menyentuhku, namun ia berdiri sangat dekat—begitu dekat hingga aroma parfum kayu cendananya menelan aroma parfum Kevin. Arion menatap pria itu dengan tatapan yang seolah-olah sedang mengaudit kerugian perusahaan. "Oh, Pak Arion! Saya hanya sedang mencoba berkenalan dengan Nona Canna ini. Luar biasa, Richie Group punya 'aset' seindah ini," jawab Kevin dengan tawa canggung, menarik kembali tangannya yang diabaikan. Rahang Arion mengeras. "Dia bukan sekadar 'aset'. Dia adalah alasan
Last Updated: 2026-03-26
Chapter: Bab 42 Menuju PestaSabtu pagi tiba dengan atmosfer yang berbeda. Udara Jakarta seolah ikut bergetar menyambut perayaan ulang tahun emas Richie Group. Namun, sebuah getaran di nakas membuyarkan lamunan pagiku. Sebuah pesan dari Arion. "Canna, maafkan aku. Aku tidak bisa menjemputmu sore nanti. Kakek mendadak memintaku datang ke hotel lebih awal untuk menyambut beberapa tamu VVIP dari luar negeri. Aku harus standby di sana sejak siang. Tapi jangan khawatir, Pak Salim sudah kuinstruksikan untuk menjemputmu jam 6 teng. Jangan telat, atau aku akan mati penasaran di sini." Aku tersenyum tipis, jemariku menari di atas layar. "Tidak apa-apa, Arion. Fokuslah pada acaramu. Aku akan sampai di sana tepat waktu bersama Pak Salim. Semangat untuk pidatonya!" Meskipun ada sedikit rasa kecewa karena tidak bisa berangkat bersamanya, aku paham tanggung jawab yang dipikulnya hari ini. Justru ini memberiku waktu lebih banyak untuk "berperang" dengan alat rias. Pukul 16.00 tepat, aku mulai ritual transformasiku. Aku
Last Updated: 2026-03-25
Chapter: Bab 41 Gaun MewahJumat pagi menyapa ibu kota dengan langit yang sedikit mendung, seolah memberikan suasana tenang sebelum badai kesibukan peresmian ulang tahun perusahaan yang ke-50 besok. Aku tiba di kantor tiga puluh menit lebih awal dari biasanya. Suasana lantai 22 masih sepi, hanya terdengar suara dengung mesin kopi dan langkah kakiku yang bergema di koridor. Aku segera duduk di meja kerjaku, membuka MacBook, dan mulai menyisir ulang jadwal harian Arion. Hari ini cukup padat: rapat koordinasi akhir dengan vendor jam 10, makan siang dengan dewan direksi jam 12, dan peninjauan gladi resik di hotel jam 3 sore. Aku mencatat semuanya dengan rapi di tablet, siap untuk dibacakan saat bosku itu tiba. Tepat pukul 09.00, pintu lift terbuka. Arion melangkah keluar dengan gagah, namun ada yang berbeda pagi ini. Selain tas kerjanya, ia menjinjing sebuah paperbag besar berwarna putih dengan logo brand ternama yang berlapis emas. Ia tidak berhenti di meja Mas Redy yang baru saja t
Last Updated: 2026-03-24