LOGINSejak lahir, Renee adalah gadis tuli yang selalu dihina orang lain. Di usia 20 tahun, ibunya memanfaatkan selembar hasil tes kehamilan untuk memaksa Keluarga Suryana menikahkan putra sulung mereka dengan Renee. Pernikahan itu akhirnya berlangsung selama tiga tahun. Arvin membencinya sampai ke lubuk hati terdalam, tetapi tidak bisa lari dari takdir untuk menikah dengannya. Setelah pernikahan, Arvin kerap bermain api dengan berbagai wanita dan selalu mengabaikannya. Demi mempertahankan citra istri yang baik dan demi anaknya, Renee menahan diri berkali-kali. Sampai suatu hari, cinta sejati Arvin datang mencarinya. Anak laki-laki yang telah dia lahirkan dengan taruhan nyawa, justru memanggil wanita itu dengan sebutan "Mama". Saat itulah dia baru sadar, hati Arvin bukan tidak bisa dihangatkan, tetapi sejak awal memang hanya menyala untuk wanita lain. Renee meninggalkan surat perjanjian cerai, lalu pergi tanpa menoleh lagi. Namun, Arvin justru datang mencarinya, menahan tubuhnya, dan bertanya dengan suara menekan, "Renee, kamu pikir pernikahan ini permainan anak-anak? Bisa nikah dan cerai sesuka hati?" "Mau cerai? Boleh saja, tapi setelah kamu melahirkan anak kedua."
View MoreRenee segera berjalan mendekat, berjongkok di samping kaki Jerico sambil terisak. "Terima kasih, Kakek selalu begitu menghargaiku.""Kenapa bicara begitu?" Jerico tersenyum sambil menepuk kepala Renee. "Kamu itu istri Arvin, ibu Renji. Mana mungkin Kakek nggak menghargaimu?""Kakek tahu betul sifat Arvin itu. Selama ini kamu yang banyak menahan diri.""Kakek, aku ...." Renee ingin mengatakan bahwa dirinya tidak merasa tertekan, tetapi mengingat situasinya sekarang, dia memutuskan untuk terlihat tertekan."Kakek, aku nggak apa-apa. Aku baik-baik saja.""Mm, hidup yang baik, pada akhirnya kamu akan punya hari bersinarmu sendiri."Hari bersinar? Renee belum pernah memikirkannya.Sejak hari dia menikah dengan Arvin, dia tak pernah berpikir ingin berkuasa atau menonjol. Dia hanya ingin hidup tenang dan punya keluarga yang damai.Kalau bukan karena kemunculan Nissa yang tiba-tiba, dia pun tidak akan berakting seperti ini di depan Jerico.Jerico kembali tersenyum. "Tadi Kakek sudah bertemu Re
"Aku sudah tahu. Kalau nggak ada aku, kamu pasti nggak akan memperlakukan Renee dengan baik. Kamu melakukan apa lagi padanya?"Arvin terdiam, untuk sesaat tidak tahu harus bagaimana menjawabnya.Jerico lalu beralih bertanya kepada Renee. Nada suaranya melembut. "Renee, bilang sama Kakek, apa yang bocah ini lakukan padamu?"Renee menunduk. Dia memaksa air mata yang sudah disiapkan keluar dari mata, lalu mendongak menatap Jerico."Kakek, aku bisa mengerti kalau Arvin nggak mencintaiku, tapi aku nggak bisa mengerti, apalagi menerima, kalau dia membawa Nissa ke kamar kami.""Benar begitu?" Jerico menoleh pada Arvin. "Arvin, yang Renee katakan itu benar? Kamu bawa Nissa ke kamar kalian?"Tangan Arvin yang diletakkan di pangkuannya semakin mengepal erat sampai memutih. Namun, dia tetap menunduk dengan patuh."Kakek, Nissa diundang khusus oleh Ibu untuk menjadi guru privatnya Renji. Renji memang sangat menyukainya. Dia mengajar dengan baik juga. Aku awalnya berencana menunggu Renji beradaptas
Sore hari ketika Renee kembali ke rumah lama, Jerico sedang membahas pekerjaan dengan Arvin di ruang kerja.Di ruang bunga, duduk Juwita yang anggun, Nissa yang berdandan rapi, serta Felicia. Ketiganya sedang minum teh sambil mengobrol ringan.Suasana hangat itu mendadak sunyi begitu Renee muncul. Nissa secara refleks mengangkat sudut bibirnya, seperti sedang diam-diam mengumumkan kemenangan.Felicia sejak dulu selalu meremehkan Renee, bahkan malas memberi satu lirikan pun. Sementara itu, Juwita tidak mempersulitnya, bahkan menyapa lebih dulu, "Sudah pulang?"Sungguh sesuatu yang langka. Nada suaranya tidak terlalu baik, tetapi juga tidak sedingin dan sekejam semalam, seakan-akan kejadian semalam sudah dianggap selesai.Renee mengangguk ringan, bersiap melangkah naik. Tiba-tiba, Felicia memanggilnya dari belakang. "Tuli, berhenti!"Langkah kaki Renee terhenti. Dia menoleh dan menatap Felicia dengan tenang. "Kalau nggak bisa menghormati orang lain, aku sarankan ikut beberapa kelas etika
Rosa segera berdiri. Dia menyapa dan menjelaskan, "Tuan Arvin menyuruhku datang membantu Bu Nissa mengurus Renji, jadi aku datang."Renee mengangguk. Dia tidak mengerti kenapa Arvin tiba-tiba memanggil Rosa ke sini. Namun, bagaimanapun juga dengan adanya orang lain yang mengawasi, Nissa seharusnya tidak berani melukai Renji lagi dalam waktu dekat.Dengan nada sebagai Nyonya Keluarga Suryana, Renee menasihatinya, "Kalau kamu sudah datang, uruslah Renji dengan baik.""Baik, Nyonya."Kemudian, Renee berpesan beberapa hal kepada Rosa, memintanya mengawasi Nissa, jangan sampai dia mencelakai Renji.Rosa terkejut dan bertanya, "Apa Nyonya salah paham dengan Bu Nissa? Bu Nissa sangat baik pada Renji."Renee tidak merasa aneh mendengarnya. Nissa terlalu pandai mengambil hati. Di Keluarga Suryana, dari yang tua hingga yang muda, dari majikan hingga pembantu, siapa yang tidak dibuat tunduk olehnya?"Pokoknya lakukan saja seperti yang kubilang." Renee merenung sesaat, lalu memberikan amplop besar












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore