Chapter: Bab 80: Satu Layar, Dua DuniaDi dalam kafe yang mulai dipenuhi aroma biji kopi yang baru digiling, udara terasa mencekik bagi Vino, meski Maya terus menebar senyum sehangat musim semi."Mengapa udara pagi ini rasanya seperti debu yang menyesakkan, May? Aku melangkah maju, tapi kakiku terasa masih tertinggal di gerimis semalam." Vino berbisik pada diri sendiri, matanya kosong menatap kepulan uap kopi."Itu karena kamu masih memelihara bayang-bayang, Vin. Bayangan tidak akan pernah memberimu kehangatan. Biarkan fajar ini menghapus sisa-sisa yang tak layak dibawa pulang." Maya meletakkan cangkirnya dengan pelan, suaranya lembut namun tajam.Sally menatap layar ponselnya yang berpijar di tengah temaram kamar. Jemarinya melayang di atas papan ketik virtual, ragu antara membiarkan semuanya tetap menjadi misteri atau menuntut sebuah kejujuran yang mungkin akan menghancurkannya.Setelah menarik napas panjang, ia mengetik baris kalimat yang sangat sederhana, namun terasa seberat batu gunung baginya."Vin, kamu lagi di man
Zuletzt aktualisiert: 2026-04-20
Chapter: Bab 79: Lensa Luka: Pagi yang TercuriMaya menatap punggung Vino yang masih terpaku pada jendela. Ada lubang besar di sana, sebuah ruang yang hanya bisa diisi oleh nama Sally, dan Maya membencinya.Baginya, cinta bukan sekadar menunggu, tapi tentang bagaimana memutus tali yang masih mengikat kekasihnya pada dermaga yang salah.Dengan gerakan yang sangat tenang namun terencana, Maya mengeluarkan ponselnya. Ia mendekat ke arah Vino, berdiri cukup dekat hingga bahu mereka nyaris bersentuhan."Vin, lihat ke sini sebentar. Untuk dokumentasi awal tempat ini, tapi dengan sedikit sentuhan manusia," ucap Maya lembut, nada suaranya semanis madu yang menyembunyikan sembilu.Vino menoleh dengan sisa-sisa kesenduan di matanya. Saat itulah, Maya menekan tombol kamera. Di layar ponsel, mereka tampak seperti sepasang kekasih yang sedang berbagi rahasia di sebuah pagi yang romantis.Cahaya matahari yang jatuh di wajah mereka mengaburkan kegelisahan Vino, membuatnya tampak seolah-olah ia sedang menatap Maya dengan penuh arti.Setelah surve
Zuletzt aktualisiert: 2026-04-20
Chapter: Bab 78: Satu Ruang, Dua Detak yang BerbedaCahaya matahari pagi menyelinap di antara celah gedung-gedung kota, membawa hangat yang gagal mencairkan dingin di dada Vino.Di sudut sebuah ruko kosong yang akan menjadi lokasi bisnis barunya, Maya berdiri dengan semangat yang meluap.Ia sibuk membentangkan denah, menunjuk ke sana-kemari dengan binar mata yang penuh ambisi.Namun, bagi Vino, ruangan kosong ini tidak benar-benar kosong. Setiap sudutnya justru memantulkan bayangan yang salah."Vin, menurutmu bagian sini lebih bagus untuk display produk atau area tunggu?" tanya Maya, suaranya riang, memecah lamunan Vino.Vino bergeming. Matanya tertuju pada jendela besar yang menghadap ke jalanan. Di sana, ia seolah melihat Sally sedang berdiri, tertawa kecil sambil mengelap kacamata yang berembun—kebiasaan kecil yang selalu membuat hati Vino berdesir."Vino? Kamu melamun?" Maya menyentuh lengan Vino pelan.Vino tersentak, mencoba menarik kembali jiwanya yang sempat berkelana. "Ah, maaf, May. Sepertinya area tunggu lebih baik di sana.
Zuletzt aktualisiert: 2026-04-17
Chapter: Bab 77: Topeng di Balik RemangMatahari pun mulai hilang cahayanya berganti dengan sinar bulan yang indah. Di dalam kamar yang remang, Sally masih menggenggam ponselnya.Cahaya layar mulai redup, namun jempolnya menahan agar layar tetap menyala. Ia menarik napas panjang, udara terasa berat."Jadi cuma karena nggak enak, Vin? Cuma sejauh itu harga kehadiranku buat kamu?" Sally Berbisik lirih pada diri sendiri.Sally mulai mengetik balasan. Jarinya bergerak cepat, namun kemudian melambat, dan akhirnya berhenti.“Dulu aku akan membalas Hati-hati di jalan, Vin. Kabari kalau sudah sampai. Tapi sekarang... kenapa rasanya kata-kata itu seperti menelan duri?”Ia menghapus semua ketikannya. Layar kembali kosong. Tiba-tiba, pintu kamar diketuk pelan. Andrew muncul dengan membawa sebuah buku, seolah tahu Sally butuh pengalihan.Sally terperanjat, buru-buru membalikkan ponselnya ke atas kasur hingga layarnya yang pucat terbekap bantal.Ia menghapus sisa embun di sudut matanya dengan gerakan secepat kilat, mencoba menyusun kemb
Zuletzt aktualisiert: 2026-04-17
Chapter: Bab 76: Belati dalam Kata MaafMereka sampai di depan pintu kamar Sally. Koridor lantai atas yang sunyi terasa begitu kontras dengan keriuhan palsu di bawah tadi. Andrew melepaskan genggamannya perlahan, namun tidak menjauh. Ia berdiri di sana, menatap Sally dengan tatapan yang seolah bisa membaca setiap inci keraguan yang masih tersisa di hati tunangannya itu."Istirahatlah, Sal," ucap Andrew lembut. "Aku akan di sini, menjagamu sampai kamu benar-benar tertidur."Sally menatap pintu kamarnya, lalu kembali menatap Andrew. "Bang Andrew... kenapa?""Kenapa apa?""Kenapa Abang masih bertahan? Tadi... Abang tahu kan kalau aku masih mengharapkan pembelaan dari Vino? Abang lihat sendiri betapa menyedihkannya aku yang masih berharap pada orang yang sudah memilih jalan lain." Suara Sally kembali pecah, namun kali ini bukan karena amarah pada Maya, melainkan rasa bersalah pada pria di depannya.Andrew tersenyum tipis, sebuah senyum yang membawa ketenangan sekaligus ketegasan."Sal, cinta itu bukan tentang siapa yang lebih d
Zuletzt aktualisiert: 2026-04-17
Chapter: Bab 74: Secangkir Kopi dan RencanaSetiap tawa kecil yang lolos dari bibir Maya dan setiap anggukan mengerti dari Vino terasa seperti dentuman palu yang menghantam dinding pertahanan Sally."Supnya enak, Sally. Kamu harus coba sedikit lagi agar bertenaga," bisik Andrew lembut, sambil menyodorkan mangkuk kecil dengan gerakan yang sangat protektif.Sally menoleh pelan, menatap Andrew dengan mata yang kosong. "Terima kasih, Bang. Abang baik sekali." Ucap sally, suaranya datar.Namun, sedetik kemudian, matanya kembali tertuju pada Vino yang sedang tertawa mendengar candaan Maya. Sally membatin, ”Mengapa tawa itu terasa seperti duri yang tumbuh di sela-sela jariku?”"Vino," panggil Sally pelan, suaranya nyaris tenggelam dalam riuh denting sendok. "Sepertinya kamu sudah menemukan teman bicara yang lebih seru dari biasanya, ya?"Vino menoleh, tersenyum cerah tanpa menyadari badai di mata sahabatnya. "Ah, tidak juga, Sal. Aku hanya baru sadar kalau banyak cerita Maya yang belum sempat kudengar."Sally merasakan remasan halus d
Zuletzt aktualisiert: 2026-04-12