LOGINBerawal dari sedikit menyentuh bibir Vino, Sally berakhir mendapatkan ciuman penuh gairah dari Vino, sahabat masa kecilnya. Gara-gara iseng bikin konten Viral, persahabatan Vino dan Sally menjadi canggung. Bagaimana gak canggung kalau konten itu konsepnya mencium sahabat cowok kamu sendiri. “Kiss Your Best Friend”
View More“Vino… bikin video yang lagi viral itu, yuk!” seru Sally antusias sembari mengeluarkan ponselnya.
“Video apaan?” jawab Vino acuh tak acuh. Matanya tak beralih dari layar ponsel yang digenggam horizontal. Jemarinya lincah menekan tombol di layar—ia sedang sibuk di tengah pertempuran Mobile Legends. “Bawel! Sini, ah!” dumal Sally kesal. Tanpa aba-aba, Sally menarik paksa kepala Vino agar menghadap kamera yang sudah dalam posisi standby. Cup. Bibir Sally menyentuh bibir Vino dengan cepat. Pria tampan yang biasanya bersikap santai itu mendadak membeku. Keheningan tercipta selama satu detik, sebelum akhirnya Vino melempar ponselnya ke sofa. Ia berbalik, menarik wajah Sally, dan membalas ciuman itu dengan penuh gelora. Sally terkesiap, tak sempat mengelak. Ciuman Vino yang intens seolah menghentikan napasnya selama beberapa detik yang terasa sangat lama. “Vino, gila!” umpat Sally setelah berhasil melepaskan diri. Ia segera menyambar ponselnya dari tripod portabel dan memasukkannya kasar ke dalam tas. Vino berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi, napasnya masih sedikit memburu. “C'mon, salahku di mana? Kan kamu yang mulai duluan.” “Masih nanya?!” “Sal… kamu yang nyosor duluan, lho!” bela Vino tak mau kalah. “Itu tuh cuma konten, Vino! Cuma konten!” teriak Sally frustrasi. “Konten? Cium aku itu kamu anggap konten?” “Kamu nggak lihat kameraku sudah on?” Vino tampak benar-benar bingung. “Konten apaan sih itu?” Mata Sally mulai memerah, berkaca-kaca karena emosi yang campur aduk. “Makanya kalau orang ngomong itu didengerin! Jangan game terus yang diurusin!” keluhnya kesal. “Aku sudah bilang, mau bikin konten yang lagi viral: Kiss Your Best Friend!” “Lalu salahku di mana, Sal?” “Kamu nyiumnya beneran!” semprot Sally, suaranya bergetar. “Apa itu salah?” tanya Vino pelan, menatap Sally tajam. Sally menghentakkan kakinya, tak mampu menjawab. Mereka bersahabat sejak kecil, tumbuh besar karena rumah mereka bersebelahan. Tidak ada satu momen yang mereka lewatkan, mereka bersama hingga bangku SMA. Persahabatan mereka sudah seperti saudara, bahkan setelah Vino pindah ke apartemen sendiri karena orang tuanya ke luar negeri. Namun, ciuman tadi mengubah segalanya. Sally tahu ada yang salah. Terutama karena di jarinya melingkar sebuah cincin—ia sudah memiliki tunangan, dan reaksi Vino tadi jelas bukan sekadar akting untuk konten media sosial yang dia harapkan. Yang lakukan tadi itu sangat jelas, Vino tidak sedang bermain peran. Tekanan tangan Vino di tengkuknya, cara pria itu menarik napas di sela ciuman mereka, dan sorot mata Vino yang menggelap saat mereka terlepas—itu semua adalah pernyataan perang terhadap status "sahabat" mereka. Yang paling menakutkan bagi Sally bukan hanya tindakan Vino, melainkan reaksinya sendiri. Mengapa ia tidak langsung menampar Vino? Mengapa selama beberapa detik yang memabukkan itu, ia justru memejamkan mata dan membiarkan dirinya hanyut? Rasa bersalah mulai merayap, mencekik lehernya. Bayangan wajah tunangannya yang tenang dan penuh percaya diri melintas di benaknya, membuat Sally merasa seperti pengkhianat paling kotor di dunia. Tapi itu bukan salah Vino, dia yang memulai. "Vino bodoh," isaknya pelan, air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya jatuh juga. Vino terpaku di sofa. Keberangkatan Sally yang terburu-buru meninggalkan keheningan yang menyesakkan di apartemennya. Suara victory dari ponselnya yang tergeletak di lantai terdengar hambar, kontras dengan gemuruh di dadanya. Ia menyentuh bibirnya sendiri. Dingin, namun sisa kehangatan ciuman tadi masih terasa nyata. "Brengsek," bisiknya pada diri sendiri. Vino bukan laki-laki bodoh. Ia tahu Sally hanya ingin mengikuti tren konyol di media sosial demi konten. Tapi saat bibir Sally menyentuhnya, ada sesuatu yang "putus" di kepala Vino. Refleks yang selama belasan tahun ia tekan dalam-dalam—tepatnya sejak mereka lulus SMA—meledak begitu saja. Ia baru sadar betapa fatal tindakannya. "Dia punya tunangan, Vin. Sadar!" batinnya memaki. Vino memungut ponselnya, layar yang retak kecil akibat dilempar tadi seolah menggambarkan persahabatan mereka saat ini. Ia teringat wajah Sally yang memerah; bukan merah karena malu yang manis, tapi merah karena marah dan... takut? Ketakutan Sally itulah yang paling menyakiti Vino. Sahabatnya itu takut karena Vino baru saja melanggar batas suci "saudara" yang selama ini mereka jaga. Vino menyadari bahwa dengan satu ciuman balasan tadi, ia tidak hanya merusak konten Sally, tapi juga merusak zona nyaman yang mereka bangun selama puluhan tahun. Ia berjalan ke arah jendela besar apartemennya, menatap lampu kota yang mulai menyala. Pikirannya melayang pada sosok tunangan Sally—pria mapan, pilihan orang tua Sally, yang selalu membuat Vino merasa seperti "anak kecil yang hanya bisa main game." "Cuma konten, katanya?" Vino tertawa getir." Tapi kenapa rasanya sepi begini saat kamu pergi, Sal?" Vino tahu, mulai besok, segalanya tidak akan pernah sama lagi. Ia harus memilih, apakah mengejar Sally dan mengakui bahwa itu bukan sekadar reaksi spontan, atau berpura-pura itu adalah kesalahan tak sengaja agar ia tidak kehilangan sahabat terbaiknya selamanya.Sally berdiri kaku. Suara parau di luar gerbang tadi bagaikan silet yang merobek keheningan butik yang steril. Ia tidak bisa lagi berpura-pura menjadi patung porselen.Andrew baru saja hendak memanggil pelayan untuk membawakan tiara, namun Sally bergerak lebih cepat. Ia tidak peduli pada ekor gaunnya yang panjang dan menyapu lantai marmer.Dengan gerakan yang tiba-tiba, ia berbalik arah, menjauh dari cermin dan menuju jendela besar yang menghadap ke jalanan."Tunggu, Bang. Aku... aku merasa sesak. Aku butuh udara sebentar." Sally suaranya bergetar, tapi tegas."Sally, AC di sini sudah diatur dengan suhu terbaik. Jangan bertingkah. Kembali ke podium." Andrew langkah kakinya terdengar berat mendekat.Sally tidak berhenti. Tangannya menyentuh gagang pintu kaca yang berat. Ia melihat ke arah gerbang.Di sana, ia melihat keributan kecil: Vino yang ditarik paksa oleh dua satpam, dan sebuah kertas putih—surat itu—terjatuh di atas aspal, terinjak oleh sepatu bot penjaga."Berhenti! Jangan kas
Vino mengetuk kaca jendela mobil Andrew. Tok! Tok! Suaranya lemah, kalah oleh deru angin, namun getarannya sampai ke jantung Sally."Sally! Sekali saja... bicara!" Vino gerak bibirnya terbaca dari balik kaca.Sally memalingkan wajah. Ia tak sanggup melihat tangan Vino yang gemetar memegang kemudi motor sambil terus menatapnya."Abang, tolong... lebih cepat." Sally berbisik, suaranya tercekat.Andrew tersenyum tipis—sebuah senyum kemenangan yang dingin. Ia menginjak pedal gas lebih dalam. Mobil mewah itu melesat, meninggalkan motor tua Vino yang mulai kehilangan tenaga di tanjakan jembatan layang.Sosok Vino mengecil di spion, tertutup oleh kepulan asap hitam truk-truk besar.Mobil berhenti dengan halus di depan sebuah butik megah berpilar putih. Tempat itu terlihat seperti kuil, namun bagi Sally, itu adalah rumah duka bagi impiannya. Pelayan butik sudah berdiri rapi menyambut mereka.Andrew turun, lalu membukakan pintu untuk Sally dengan gerakan yang sangat sopan, namun posesif.Saat
Di atas meja makan, uap kopi Mama mengepul tipis, menari-nari di antara piring porselen yang berkilau. Cahaya pagi yang masuk lewat celah gorden tampak seperti jeruji emas yang membelah ruangan.Sally masih berdiri, tangannya memegang sandaran kursi kayu hingga sendi-sendi jarinya memutih. Ia menatap ibunya—wanita yang tampak seperti patung marmer; indah, kokoh, namun tak bergeming.“Apakah Mama pernah sekali saja... melihat ke dalam mataku? Bukan melihat masa depan yang Mama susun, tapi melihat aku?" Sally suaranya parau, memecah kesunyian yang tajam.Mama tidak langsung menjawab. Ia meletakkan cangkirnya dengan perlahan. Denting porselen itu terdengar seperti lonceng kematian bagi harapan Sally.Mama menatap lurus ke arah liontin di lehernya, bukan ke arah Sally"Aku melihatmu setiap kali aku menutup mata, Sally. Aku melihatmu kelaparan. Aku melihatmu kedinginan. Itu sudah cukup untuk membuatku berhenti peduli pada air matamu hari ini."Mama berdiri. Kursinya berderit pelan di atas
Dua nyawa. Hanya itu yang tersisa darinya. "Besarkan mereka dengan layak, jangan biarkan mereka memohon pada dunia," bisik suaminya malam itu. Janji itu bukan sekadar kalimat, itu adalah bebannya yang paling berat sekaligus kompas hidupnya.Dia sudah bersumpah pada Papa Rian dan Sally, dan dia tidak akan membiarkan kemiskinan atau kesulitan menyentuh ujung jari mereka sedikit pun.Mama meraba liontin kecil di lehernya, sebuah perhiasan tua yang menyimpan foto kecil mendiang suaminya.Ia tahu Sally memandangnya sebagai tiran. Ia tahu Rian mungkin merasa tertekan oleh ekspektasi besar yang ia pikul.Namun, setiap kali Mama melihat kemapanan Andrew, ia melihat sebuah perisai. Baginya, Andrew bukan sekadar tunangan untuk Sally, melainkan janji yang terpenuhi bahwa Sally akan memiliki pundak yang kokoh untuk bersandar—sesuatu yang hilang dari hidup Mama terlalu cepat."Papa akan bangga melihat kalian sekarang," bisik Mama hampir tak terdengar, suaranya serak oleh kerinduan yang ia kubur da
Keheningan panjang menyelimuti ruangan. Rian menunduk, menatap lantai marmer yang seolah memantulkan bayangan masa lalu mereka. Ia menarik napas dalam_panjang, seolah sedang membuang seluruh beban ekspektasi yang selama ini ia pikul sendiri. Saat ia mendongak kembali, sorot matanya yang tajam perl
“Kenapa ya, Vin… kita harus nunggu enam bulan untuk bisa ketawa lepas bareng kaya gini lagi?” Sally suaranya sedikit bergetar. “Mungkin karena kita sedang mencoba menjaga perasaan satu sama lain, sal.” Vino terdiam sejenak, tatapan nya melembut. “Aku sering kangen momen-momen konyol kita, tapi
Nah… akhirnya beres juga.” Sally suaranya puas karena berhasil memecahkan masalah dikomputer Vino. “Wah… Sal, kamu memang terbaik! Terima kasih Sal.” Vino reflek memeluk Sally, karena rasa gembira nya. Vino tidak segera melepaskan pelukannya. Wangi parfum Sally yang lembut seolah menjadi pemena
"Lakukan yang terbaik, Dok. Kami serahkan semuanya pada tim medis," ucap Rian tenang, meski matanya terpaku pada ponsel di tangan Sally yang bergetar hebat. Sebuah notifikasi dari "Mama" muncul. Wajah Sally pias, dunianya runtuh dalam satu baris kalimat."Kasih ponselnya ke Abang," perintah Rian r
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore