Chapter: Permintaan Maaf Satya“Biar Ghea aja, Ma,” bisik Ghea sambil menahan lengan Mamanya.Ghea membuka pintu kayu depan yang sedikit berderit. Begitu ia melangkah ke teras, pemandangan di depannya terasa sangat surealis.Satya Adhitama, pria yang biasanya dikelilingi asisten dan pengawal di gedung pencakar langit, kini berdiri di depan pagar rumahnya yang sederhana.Kemeja putihnya yang bermerek itu sudah tidak rapi lagi, dua kancing teratasnya terbuka, dan wajahnya tampak kuyu seolah ia tidak tidur sejak pesta tempo hari.“Ghe...” panggil Satya, suaranya parau. Matanya langsung mengunci sosok Ghea, ada kilat lega sekaligus ketakutan yang dalam di sana.Ghea berjalan perlahan mendekati pagar, tangannya melipat di depan dada. “Kamu ngapain di sini, Sat? Bagaimana bisa kamu tahu alamat rumah Mamaku?”“Aku cari di berkas karyawan pusat semalam. Kamu nggak angkat teleponku, Ghe. Kamu matikan ponsel berjam-jam. Aku pikir kamu mau menghilang selamanya,” ujar Satya cepat, kalimatnya saling berkejaran. Ia memegang ping
Last Updated: 2026-05-01
Chapter: Wejangan di Tepi KolamTembok pertahanan yang Ghea bangun setinggi langit di Jakarta akhirnya runtuh total di depan kolam ikan kecil itu. Ghea menunduk, membiarkan air matanya jatuh bebas menembus celah-celah amben bambu yang ia duduki.Suara gemericik air dari pipa bambu seolah menjadi musik latar bagi isak tangisnya yang selama ini ia telan bulat-bulat demi profesionalitas.Sita tidak mencoba menghentikan tangis itu. Ia hanya menggeser duduknya, merangkul bahu putrinya, dan membiarkan kepala Ghea bersandar di bahunya yang meski mulai ringkih, tetap terasa seperti tempat paling aman di dunia.“Tumpahin aja semua, Ghe. Jangan ada yang disisain di dalam. Nanti malah jadi penyakit,” bisik sang Mama lembut.Setelah beberapa menit, isak Ghea mulai mereda. Ia mengambil napas panjang yang gemetar, menyeka pipinya dengan punggung tangan.“Ghea capek, Ma. Ghea ngerasa kayak lagi main peran di film yang skenarionya jahat banget buat Ghea. Ghea sayang sama dia, tapi Ghea juga benci sama posisi Ghea sendiri.”Ghea mul
Last Updated: 2026-05-01
Chapter: Pulang ke RumahPerjalanan menuju pinggiran kota memakan waktu hampir dua jam. Begitu ojek daring yang ditumpanginya berhenti di depan sebuah pagar kayu yang catnya sudah mulai mengelupas, Ghea mengembuskan napas panjang.Udara di sini terasa berbeda; tidak ada aroma pengharum ruangan otomatis atau bau kopi mahal. Yang ada hanyalah bau tanah basah sisa hujan semalam dan aroma tumisan bumbu dari dapur tetangga.Rumah Mamanya adalah sebuah bangunan sederhana dengan cat tembok warna krem yang mulai kusam. Sangat kontras dengan dinding marmer Italia dan kaca antipeluru di gedung Adhitama Group yang setiap hari ia singgahi.Namun, di sini Ghea tidak perlu menegakkan punggung atau mengatur ekspresi wajahnya agar terlihat sempurna.“Ghea? Ya ampun, anak Mama sudah sampai,” suara lembut itu muncul dari balik pintu kasa.Sita, ibunya Ghea, keluar dengan daster batik kesayangannya. Rambutnya yang mulai memutih disanggul asal. Ghea langsung menghambur ke pelukan Mamanya, menghirup aroma minyak kayu putih dan sa
Last Updated: 2026-04-28
Chapter: Kontrak Tanpa HatiSisa siang itu dilewati Ghea dengan produktivitas yang menakutkan. Ia tidak lagi melirik ponselnya, tidak juga mencuri pandang ke arah pintu besar ruangan Satya untuk sekadar memastikan apakah pria itu sudah makan atau belum.Ghea duduk tegak di kubikelnya, jemarinya menari lincah di atas papan ketik, menyusun laporan audit yang sebenarnya baru jatuh tempo tiga hari lagi.Bagi Ghea, setiap baris angka yang ia input adalah benteng. Ia sedang membangun jarak yang nyata, memastikan bahwa satu-satunya alasan ia masih berada di gedung mentereng ini adalah demi rupiah, bukan lagi demi perasaan yang hanya memberinya luka.Di dalam ruangannya, Satya merasa seperti sedang diawasi oleh hantu. Berkali-kali ia memanggil Ghea melalui interkom untuk hal-hal sepele, meminta jadwal ulang, menanyakan alamat email vendor, atau sekadar meminta air mineral tambahan, hanya untuk melihat apakah ada retakan di wajah dingin asistennya itu.Namun, Ghea selalu masuk dengan sikap yang sempurna.“Ada lagi yang B
Last Updated: 2026-04-28
Chapter: Alibi Pemegang SahamPukul dua belas siang. Suasana restoran Jepang di lantai dasar gedung kantor itu terasa mencekam, meskipun dekorasinya dirancang untuk ketenangan.Satya sengaja memesan ruangan privat, sebuah tatami tertutup agar tidak ada telinga yang mencuri dengar pembicaraan mereka.Di depan mereka, set menu sashimi yang mahal sama sekali tidak disentuh. Aroma wasabi dan kecap asin menguap sia-sia di antara dua orang yang sedang terjebak dalam perang dingin.Satya meletakkan sumpitnya dengan kasar. Ia sudah tidak tahan lagi dengan sikap Ghea yang sejak tadi hanya diam, makan dengan gerakan robotik seolah-olah ia sedang menjalani prosedur medis.“Ghe, aku mohon, berhenti bersikap seolah-olah aku ini orang asing,” buka Satya, suaranya rendah namun penuh penekanan.Ghea menyeka sudut bibirnya dengan serbet kain putih. Ia mendongak, matanya tetap datar tanpa riak emosi sedikit pun.“Tadi Bapak bilang ada hal mendesak soal agenda minggu depan yang mau dibicarakan. Silakan, Pak Satya. Waktu makan siang
Last Updated: 2026-04-27
Chapter: Profesionalitas yang MembekuPagi itu, sinar matahari yang menerobos masuk melalui jendela kaca kantor Adhitama Group terasa lebih tajam dari biasanya. Ghea tiba tiga puluh menit lebih awal.Wajahnya dipulas dengan riasan yang lebih tegas, lipstik merah gelap dan garis mata yang tajam, seolah ia sedang mengenakan baju zirah sebelum turun ke medan perang.Tidak ada lagi sisa mata sembab dari tangis semalam. Semuanya telah terkubur di bawah lapisan bedak dan tekad yang membeku.Ghea berdiri di dapur kecil area eksekutif, menyeduh kopi hitam tanpa gula kesukaan Satya. Gerakannya mekanis, tanpa emosi.Ia menaruh cangkir itu di atas nampan perak, lalu melangkah menuju ruangan CEO. Di tangannya yang lain, sebuah tablet berisi jadwal harian tergenggam erat.Ceklek.Ghea masuk tanpa mengetuk terlalu lama. Satya sudah duduk di balik meja besarnya, wajahnya tampak kuyu, dengan lingkaran hitam di bawah mata yang tidak bisa disembunyikan oleh kacamata berbingkai tipisnya.Begitu melihat Ghea masuk, Satya langsung menegakkan
Last Updated: 2026-04-27