LOGINSatya adalah CEO galak yang menderita "trauma jatuh cinta" gara-gara melihat mantan kekasihnya, Ghea, bersantai di kafe dengan pria lain. Ghea yang tidak tahu bahwa bos barunya adalah sang mantan, syok berat di hari pertama kerja. Satya yang gengsi tinggi langit berusaha bersikap profesional meskipun hatinya copy-paste deg-degan seperti zaman kuliah. Situasi menjadi kacau ketika si sepupu muncul lagi di kantor untuk menjemput Ghea, membuat Satya nyaris meledak karena cemburu buta yang salah alamat (lagi).
View MoreLangkah kaki Satya terasa jauh lebih ringan saat ia menyusuri lorong sunyi menuju unit apartemen pribadinya. Suasana malam yang larut di luar sana seolah membawa pergi semua ketegangan yang menggunung sejak pagi.Konflik dengan ibunya, keputusasaan Wijaya di basement, hingga semua intrik kotor Clarissa kini resmi menjadi lembaran masa lalu yang sudah ia tutup rapat-rapat.Begitu pintu jati itu terbuka setelah bunyi klik digital yang familier, aroma terapi lavender yang menenangkan langsung menyambut indra penciumannya.Dan di sana, berdiri di dekat meja makan kecil dengan pakaian santainya, Ghea menoleh. Sebuah senyuman khas yang lembut dan tulus terukir di wajahnya yang tampak lelah namun lega.Tanpa membuang waktu satu detik pun, Satya melangkah lebar dan langsung membawa Ghea ke dalam dekapannya. Ia memeluk tubuh wanita itu dengan sangat erat, menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Ghea, menghirup aroma yang selalu menjadi rumah baginya."Sat... kamu kenapa? Kok erat banget?" bisik
Lampu remang basement apartemen Satya memantulkan bayangan sunyi malam itu. Satya berjalan dengan langkah berat, melonggarkan ikatan dasinya yang terasa mencekik sejak rapat maraton tadi siang.Baru saja ia mengeluarkan kunci akses mobil dari sakunya, sebuah bayangan pria paruh baya keluar dari balik pilar beton.Langkahnya tergesa-gesa, wajahnya yang biasa angkuh kini tampak kuyu dan dipenuhi keringat dingin. Itu Wijaya, pemilik Wijaya Grup sekaligus ayah Clarissa.“Satya! Tunggu, Sat. Saya butuh bicara sama kamu,” panggil Wijaya dengan suara yang serak, kehilangan wibawa yang biasanya ia pamerkan di lantai bursa.Satya menghentikan langkahnya, tangannya masih memegang gagang pintu mobil. Ia menatap pria di depannya tanpa ekspresi, seolah-olah yang berdiri di sana hanyalah angin lalu. “Malam, Pak Wijaya. Maaf, tapi urusan kita di kantor tadi siang sudah selesai secara legal.”“Tolong, Satya. Kasih saya waktu sebentar. Kita bicara empat mata, jangan di sini,” mohon Wijaya, matanya ber
Sinar matahari pagi yang menerobos masuk lewat jendela kaca besar di lobi kantor Adhitama Group tidak mampu mencairkan suasana dingin yang dibawa oleh Rani Adhitama.Dengan langkah kaki yang menghentak keras, suara sepatunya bergema di lantai marmer layaknya detak jam kematian. Wajahnya tertutup riasan tebal, namun gurat kemarahan di matanya tidak bisa disembunyikan.“Ghea mana?!” bentak Rani begitu sampai di depan meja resepsionis lantai eksekutif.Staf administrasi yang sedang merapikan berkas tersentak kaget hingga menjatuhkan pulpennya. “Maaf, Bu Rani... Bu Ghea belum terlihat sejak jam masuk tadi. Absensinya masih kosong.”Rani mendesis, tangannya mencengkeram pinggiran meja. “Lalu Satya? Jangan bilang dia juga nggak ada di ruangannya.”“Pak Satya... kami juga tidak tahu, Bu. Beliau tidak bisa dihubungi sejak tadi malam. Di apartemennya juga katanya kosong saat orang suruhan Ibu mengecek ke sana,” jawab staf itu dengan suara bergetar ketakutan.Rani membalikkan badan, napasnya me
Aula utama Hotel Grand Mulia malam itu disulap menjadi lautan kemewahan. Kristal-kristal lampu gantung membiaskan cahaya keemasan ke seluruh ruangan, memantul di atas gaun-gaun mahal dan jas custom para tamu undangan.Rani Adhitama berdiri di tengah kerumunan, memegang gelas kristal berisi wine putih, tertawa anggun bersama beberapa rekan bisnis dari konsorsium bank. Ia tampak seperti ratu yang baru saja memenangkan wilayah jajahan baru—tenang, berkuasa, dan sangat puas.Satya memperhatikan ibunya dari kejauhan. Jas tuksedo hitam yang ia kenakan terasa mencekik, bukan karena ukurannya yang salah, tapi karena kepalsuan udara di ruangan ini. Ia melangkah tenang, membelah kerumunan hingga berdiri tepat di samping Rani.“Mama kelihatan senang banget malam ini,” sindir Satya pelan, suaranya teredam musik klasik yang dimainkan orkestra di sudut aula.Rani menoleh, senyumnya tidak luntur sedikit pun saat menatap putranya. “Tentu saja. Ini malam besar kita, Satya. Tiga puluh tahun Adhitama be
Gerbang besi raksasa kediaman Adhitama terbuka perlahan, menyambut sedan biru Satya yang menderu masuk dengan kecepatan yang tidak biasa.Begitu mesin mati, Satya tidak langsung turun. Ia menggenggam kemudi erat-berat, mencoba menetralisir gemuruh di dadanya. Ia tahu, di balik pintu kayu jati besar
“Biar Ghea aja, Ma,” bisik Ghea sambil menahan lengan Mamanya.Ghea membuka pintu kayu depan yang sedikit berderit. Begitu ia melangkah ke teras, pemandangan di depannya terasa sangat surealis.Satya Adhitama, pria yang biasanya dikelilingi asisten dan pengawal di gedung pencakar langit, kini berdi
Tembok pertahanan yang Ghea bangun setinggi langit di Jakarta akhirnya runtuh total di depan kolam ikan kecil itu. Ghea menunduk, membiarkan air matanya jatuh bebas menembus celah-celah amben bambu yang ia duduki.Suara gemericik air dari pipa bambu seolah menjadi musik latar bagi isak tangisnya ya
Pagi hari di kantor terasa jauh lebih menyesakkan dibanding biasanya. Ghea masih dihantui oleh bayangan mobil asisten Rani yang menyorot mereka di parkiran kafe semalam.Sepanjang perjalanan ke kantor, ia terus mengecek ponselnya, berharap ada pesan dari Satya yang menjelaskan situasi, namun pria i












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.