Chapter: Perdagangan Anak“Sampai jumpa, Mama!” Clara berseru dari di depan kereta, melambai-lambaikan tangan pada Amanda. Di sebelah kanan-kirinya, Lukas dan Miria ikut melambai serta mengucapkan selamat tinggal. Mereka semua membawa koper besar dan tas ransel. Sementara Amanda berada beberapa meter dari mereka, menyaksikan mereka masuk ke kereta tanpa dirinya. “Jaga dirimu, Clara! Kita akan bertemu lagi nanti,” balas Amanda dengan senyum terlebarnya. Amanda tidak berhenti melambai sampai Clara dan orang tuanya menghilang dari pandangannya. Hari ini mereka memang berpisah, tapi itu sama sekali tidak meninggalkan kesedihan dalam hatinya. Karena dia tahu, perpisahan sementara ini adalah jalan terbaik agar hidup Clara tetap terjamin aman. Malam sebelumnya, Amanda sudah membulatkan tekad setelah berdiskusi dengan Lukas dan Miria. Demi keselamatan Clara, mereka akan mengungsikan Clara ke kota sebelah Ibu Kota. Lukas dan Miria akan menemaninya tinggal di apartemen dengan sistem keamanan yang ketat, sehingga
Terakhir Diperbarui: 2026-07-03
Chapter: Datang Kembali“Sampai jumpa, Mama!” Clara berseru dari di depan kereta, melambai-lambaikan tangan pada Amanda.Di sebelah kanan-kirinya, Lukas dan Miria ikut melambai serta mengucapkan selamat tinggal. Mereka semua membawa koper besar dan tas ransel. Sementara Amanda berada beberapa meter dari mereka, menyaksikan mereka masuk ke kereta tanpa dirinya.“Jaga dirimu, Clara! Kita akan bertemu lagi nanti,” balas Amanda dengan senyum terlebarnya. Amanda tidak berhenti melambai sampai Clara dan orang tuanya menghilang dari pandangannya. Hari ini mereka memang berpisah, tapi itu sama sekali tidak meninggalkan kesedihan dalam hatinya. Karena dia tahu, perpisahan sementara ini adalah jalan terbaik agar hidup Clara tetap terjamin aman.Malam sebelumnya, Amanda sudah membulatkan tekad setelah berdiskusi dengan Lukas dan Miria. Demi keselamatan Clara, mereka akan mengungsikan Clara ke kota sebelah Ibu Kota. Lukas dan Miria akan menemaninya tinggal di apartemen dengan sistem keamanan yang ketat, sehingga ti
Terakhir Diperbarui: 2026-06-30
Chapter: BimbangBukan Amanda namanya kalau hanya pasrah dan menyerahkan diri. Dia berontak hingga lepas dari tanah pria tadi. Berbagai pukulan dia arahkan ke titik-titik lemah si pria, membuat lawannya terhuyung dan menunduk dalam. Kalau saja lawannya hanya tidak lebih dari dua orang, Amanda sudah meringkus mereka dari tadi. Dilihat dari sisi mana pun, , tidak akan bisa menang melawan lima orang sekaligus. Setiap dia membuat mereka terpukul mundur selangkah, mereka akan maju dua langkah. “Mama!” jerit Clara ketika tangan Amanda tertangkap dan tubuhnya dijatuhkan ke lantai. Meski begitu, Clara tidak gegabah langsung menghampiri ibunya. Dia tetap berdiri di balik dinding toilet dengan mata melebar. Amanda menggigit bibir, tidak bisa bergerak karena tubuhnya yang tertelungkup di lantai tertekan oleh lutut salah satu penyerangnya. Belum ada sebulan sejak Clara diculik, trauma dalam diri Clara pastilah belum pulih sepenuhnya. Amanda seketika merasa bersalah pada Clara yang harus mengalami penganca
Terakhir Diperbarui: 2026-06-28
Chapter: Waktunya BerhentiMelihat Amanda yang terlihat tidak nyaman berbicara soal tetangganya, Viktor pun memilih diam. Amanda menyuruhnya untuk menjaga Clara selama dia menyiapkan barang-barang yang hendak dibawa. Clara sudah mulai bernapas normal dan Viktor membawakannya air minum untuk menenangkan diri. Dalam waktu lima belas menit, Amanda sudah keluar dengan membawa dua koper besar dan dua tas ransel. “Mohon bantuannya, Viktor,” ucap Amanda. Viktor mengangguk, membantu Amanda membawa barang-barangnya. Sementara Amanda menuntun Clara untuk berjalan ke ujung gang, di mana mobil Viktor terparkir. Amanda mengunci rumahnya, sengaja meninggalkan kelima pria yang terkapar itu di dalam. Dalam perjalanan, Viktor tak banyak mengajak Amanda bicara. Dia paham situasi, membiarkan Amanda menenangkan putrinya yang masih panik. Clara menyandarkan kepala di bahu Amanda, pasrah pada pelukan ibunya, sementara Amanda tak henti-hentinya mengusap kepala Clara. Viktor hanya sekali bicara untuk menanyakan tujuan mereka. D
Terakhir Diperbarui: 2026-06-26
Chapter: Bantuan ViktorKedatangan Viktor layaknya sebuah mukjizat bagi Amanda. Padahal dia sudah tidak menghubungi Viktor sejak kemarin, entah bagaimana Viktor bisa datang ke rumahnya tepat waktu. Bawahan kepercayaannya ini selalu hadir di saat Amanda membutuhkannya, seperti memiliki insting tersendiri terhadapnya.Viktor memang ahli bela diri yang hebat. Seingat Amanda, selain penyamaran, Viktor meraih peringkat paling atas dalam keahlian bertarung ketika masa akademi dulu. Meski begitu, lawannya adalah orang bertubuh besar. Baru satu yang tumbang, tiga lainnya menerjangnya. Belum lagi pria yang mencekik Clara melepaskan cengkeramannya dan bergabung mengeroyok Viktor.Amanda hendak membantu Viktor, tapi suara batuk Clara menarik perhatiannya. Dia lantas mendekat pada Clara dan membantunya duduk, menuntunnya untuk menarik napas panjang. Clara tersengal hebat, sulit mengambil napas setelah lehernya tercekat. “Dasar pengganggu!” bentak salah satu pria yang membanting tubuh Viktor ke lantai, “padahal tingg
Terakhir Diperbarui: 2026-06-24
Chapter: Amanda Diserang (2)Bukan Amanda namanya kalau hanya pasrah dan menyerahkan diri. Dia berontak hingga lepas dari tanah pria tadi. Berbagai pukulan dia arahkan ke titik-titik lemah si pria, membuat lawannya terhuyung dan menunduk dalam.Kalau saja lawannya hanya tidak lebih dari dua orang, Amanda sudah meringkus mereka dari tadi. Dilihat dari sisi mana pun, dia tidak akan bisa menang melawan lima orang sekaligus. Setiap dia membuat mereka terpukul mundur selangkah, mereka akan maju dua langkah.“Mama!” jerit Clara ketika tangan Amanda tertangkap dan tubuhnya dijatuhkan ke lantai. Meski begitu, Clara tidak gegabah langsung menghampiri ibunya. Dia tetap berdiri di balik dinding toilet dengan mata melebar. Amanda menggigit bibir, tidak bisa bergerak karena tubuhnya yang tertelungkup di lantai tertekan oleh lutut salah satu penyerangnya. Belum ada sebulan sejak Clara diculik, trauma dalam diri Clara pastilah belum pulih sepenuhnya. Amanda seketika merasa bersalah pada Clara yang harus mengalami penganca
Terakhir Diperbarui: 2026-06-22
Chapter: BAB 133 - Perasaan Leon“Kamu mau yang mana, Rose?” tanya Leon, berbisik di telinga Rose agar si penjual tidak mendengar namanya.“Uhhh ... aku bingung.” Bola mata Rose terus bergerak, menyusuri satu per satu pakaian yang menggantung.Model pakaian di sini semuanya model pria, sehingga Rose sulit menentukan yang cocok untuknya. Dia kemudian berbalik, diam-diam membuka kain jubahnya untuk mengintip model baju yang sedang dikenakannya. “Kaos dan jaket ... juga celana slim,” ucap Rose lirih, “tapi mana yang harus kubeli?”Leon menengok pada Rose, berbisik lagi, “Apa kamu butuh bantuan? Aku bisa mencarikannya untukmu.”“Eh? Benarkah? Kalau begitu, bisa kamu bantu cari kaos, jaket, dan celana slim?” Rose mendongak, membalas dengan suara yang lirih pula.“Tentu,” jawab Leon, senyumnya tersungging manis.Dia beralih pada pemilik toko yang masih menanti “Pak, di mana aku bisa mencari pakaian dengan ukuran yang paling kecil?”Pemilik toko mengerutkan dahi, matanya tampak memindai tubuh Leon. “Tapi kamu tingg
Terakhir Diperbarui: 2026-09-04
Chapter: BAB 132 - Butik“Leon? Kenapa kamu ada di sini?” tanya Rose, tak berkedip melihat Leon yang mendekatinya.“Seharusnya aku yang berkata seperti itu! Kamu seharusnya bersama Shin, kan? Di mana dia?” Leon balik bertanya. “Kamu sudah berada jauh dari kios bahan bakar.”“Eh? Bagaimana kamu tahu? Sungguh, aku bingung di mana lokasiku sekarang,” keluh Rose.Leon mengangkat dagu, menampakkan kebanggaan pada dirinya sendiri. “Yah, aku kan, cepat hafal suatu tempat. Cukup dengan memutari pasar ini sekali, aku sudah hafal letak kios-kiosnya. Belum lama aku melewati toko bahan bakar. Kalau kamu sedang kembali ke jalur keluar, seharusnya tidak berada di sini.”“Begitulah, aku tersesat. Shin terpisah denganku, terakhir kali dia berada di kios senjata sebelah toko bahan bakar. Dia melihat-lihat terlalu lama, jadi aku tarik dia untuk pergi. Tapi ternyata ... aku salah menarik orang.” Rose bercerita dengan wajah memerah kepalang malu, kepalanya menunduk dalam-dalam.“Maksudmu kios yang khusus menjual senapan?” D
Terakhir Diperbarui: 2026-09-03
Chapter: BAB 131 - Tersesat“Sial, aku tersesat ....” Bahu Rose merosot begitu menyadari Shin telah terpisah dengannya.Beberapa waktu yang lalu, setelah Cade menyuruh Shin untuk menemani Rose, keduanya pergi ke pasar bagian utara yang merupakan jalur pedagang bahan bakar dan pakaian. Sementara Cade dan lainnya pergi ke pasar bagian barat. Kedua pasar itu masih bergabung menjadi satu, hanya jalur masuknya yang dibedakan. Brookslein membagi pasarnya menjadi beberapa bagian agar kerumunan tidak terkumpul menjadi satu. Juga agar mobilitas di pasar bisa berjalan lancar meskipun ramai.“Wah, pasarnya luas.” Rose terpana begitu memasuki pintu masuk pasar yang ditandai dengan dua pilar tinggi dengan obor menyala di atasnya.Shin menyentuh kepala Rose yang mendongak terlalu tinggi, mendorongnya pelan untuk menunduk. “Jangan mengangkat kepala tinggi-tinggi. Identitasmu bisa ketahuan nanti.”“Iya, iya,” gerutu Rose.“Juga jangan banyak bicara,” tambah Shin.Rose mendesis, mulai kesal. “Aku tahu, Bodoh.”Tangan Sh
Terakhir Diperbarui: 2026-09-01
Chapter: BAB 130 - Pakaian Baru“P-pakaian?” Rose terpana, mulutnya sampai terbuka lama. Dia menatap uang kertas di tangan Cade, menghitung jumlahnya, lalu balas berbisik, “Kamu memberiku ini semua? Terlalu banyak, Cade.”“Justru itu. Ambillah, cepat.” Cade menarik tangan Rose, menjejalkan lipatan Goldyn itu ke dalam genggamannya. “Kamu belum punya baju baru sejak awal kuberikan, kan?”“Aku tak masalah dengan apa yang kumiliki sekarang. Kenapa tiba-tiba kamu menyuruhku beli baju baru?” tanya Rose lagi, tak mengerti kenapa Cade tiba-tiba saja menyuruhnya membeli pakaian.Pakaian yang Rose pakai selama perjalanan ini memang pemberian Cade saat singgah di Haven. Rose belum pernah memberi yang baru karena tak punya uang. Tak punya barang yang bisa ditukar juga. Dalam perjalanan, dia tak pernah memikirkan pakaian baru. Kebutuhan logistik kelompoknya lebih penting untuk dipenuhi terlebih dahulu. Namun, dia tak pernah mempermasalahkannya. Setidaknya, dia memiliki pakaian lebih dari satu untuk dipakai bergantian. Ro
Terakhir Diperbarui: 2026-08-29
Chapter: BAB 129 - Ledakan Konflik Riders dan HuntersBunyi ledakan yang mengejutkan itu menghentikan aktivitas penduduk dalam sekejap. Termasuk Rose yang baru saja akan menyantap sup dagingnya. Tangannya yang sudah menyendok kini dia turunkan kembali, selagi pandangannya tertuju pada penduduk Brookslein yang kembali beraktivitas.Ini mengherankan. Mereka hanya terkejut sejenak, melihat ke udara, lalu melanjutkan kegiatan mereka. Seolah-olah suara ledakan itu adalah hal yang sudah biasa terjadi.Sementara Rose dan teman-temannya masih membeku di tempat, saling pandang satu sama lain. Mereka sudah berpikir macam-macam soal ledakan yang terdengar cukup dekat.Rose yang merasa janggal pun bertanya pada penduduk Brookslein yang datang membawakan air minum. “Maaf, barusan tadi suara apa? Sepertinya itu ledakan yang besar.”“Oh, yang tadi? Itu bukan masalah besar. Sudah sering kami mendengarnya, karena tak jauh dari ini, para Hunters dan Riders sedang berkonflik. Yah, sudah lama terjadi, tapi mereka belum berhenti juga,” jelas si penduduk
Terakhir Diperbarui: 2026-08-25
Chapter: BAB 128 - BrooksleinFoschter, Mandeville, Canyster ... lalu selanjutnya Brookslein. Rose sudah melewati empat wilayah dalam waktu empat hari, menyisakan seperempat jalan menuju Sanctuary Dome. Dia dan teman-temannya sengaja singgah di satu wilayah tiap satu hari. Selain ingin menikmati perjalanan dengan tidak terburu-buru, mereka juga menyisihkan waktu untuk Rose berlatih.Latihan menembak bersama Shin cukup lancar. Rose sudah bisa mengenai target walau masih sedikit meleset. Shin tak lagi sering memarahinya, tapi justru karena itu, Rose jadi merasa aneh. Dia tak biasa melihat Shin yang lembut dan berbicara dengan nada rendah. Terlebih pada waktu-waktu di mana Shin berada di belakang Rose persis untuk memastikan bidikannya benar. Wajahnya benar-benar berada di samping wajah Rose, membuat pipi Rose terkadang bersemu merah.Bukan hanya Shin saja yang memperlakukannya seperti murid kesayangan. Leon pun mengajarinya cara bertarung memakai belati layaknya guru profesional. Guru pribadi, lebih tepatnya.
Terakhir Diperbarui: 2026-08-23