Share

BAB 20 - Siapa Riders?

Author: Anna Naura
last update publish date: 2026-05-23 23:25:58
“Baiklah. Ayo kita berangkat,” kata Cade, masuk kembali hanya untuk mengambil ranselnya, “jika mulai jalan terlalu sore, jalanan akan lebih berbahaya.”

Ujung mata Cade menangkap sosok Rose yang sedang mengaitkan tali tas serutnya di kedua pundaknya. Dia sudah melihat berbagai macam sisi Rose dalam dua hari terakhir. Baik diri Rose yang keras kepala, maupun yang lemah seperti malam dia bermimpi buruk waktu itu.

Rose memang tak selamanya kuat. Tak selamanya tangguh. Namun, Cade tahu bahwa Rose
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Menjadi Tawanan Empat Pria Tampan   BAB 106 - Ibu Roee

    Cukup lama Leon berdiam diri di luar pintu menunggu Cade kembali. Padahal sudah hampir dua jam sejak Alan dan Shin pergi—juga Cade—tapi tak ada tanda-tanda satu pun dari mereka akan kembali.“Cade mencari kayu bakar di mana, sih? Apa dia menyusul Alan dan Shin, meninggalkanku sendiri di sini?” dengus Leon, ujung kakinya mengetuk-ngetuk tanah gelisah.Kemudian, dia merasakan sensasi geli yang tak tertahankan dari bawah perutnya. Leon sontak merapatkan pahanya, sedikit menunduk demi menahan cairan di kandung kemihnya yang sudah merengek ingin keluar.“Sial, di saat begini malah kebelet,” decak Leon, “ini pasti karena udara yang sangat dingin.”Meski dia sendiri yang keluar ruangan karena tidak tahan melihat keadaan Rose, masih ada keraguan dalam dirinya saat dia harus meninggalkan Rose untuk buang air. Dia tak mau buang air di sungai depan ruangan begitu saja. Kalau sampai salah satu kawannya tiba-tiba datang, dia akan malu bukan kepalang.Setidaknya, dia harus buang air beberapa meter

  • Menjadi Tawanan Empat Pria Tampan   BAB 104 - Linglung

    Cukup lama Leon berdiam diri di luar pintu menunggu Cade kembali. Padahal sudah hampir dua jam sejak Alan dan Shin pergi—juga Cade—tapi tak ada tanda-tanda satu pun dari mereka akan kembali.“Cade mencari kayu bakar di mana, sih? Apa dia menyusul Alan dan Shin, meninggalkanku sendiri di sini?” dengus Leon, ujung kakinya mengetuk-ngetuk tanah gelisah.Kemudian, dia merasakan sensasi geli yang tak tertahankan dari bawah perutnya. Leon sontak merapatkan pahanya, sedikit menunduk demi menahan cairan di kandung kemihnya yang sudah merengek ingin keluar.“Sial, di saat begini malah kebelet,” decak Leon, “ini pasti karena udara yang sangat dingin.”Meski dia sendiri yang keluar ruangan karena tidak tahan melihat keadaan Rose, masih ada keraguan dalam dirinya saat dia harus meninggalkan Rose untuk buang air. Dia tak mau buang air di sungai depan ruangan begitu saja. Kalau sampai salah satu kawannya tiba-tiba datang, dia akan malu bukan kepalang.Setidaknya, dia harus buang air beberapa meter

  • Menjadi Tawanan Empat Pria Tampan   BAB 103 - Tanaman Herbal

    “Itulah mengapa kamu melakukan perjalanan ke Sanctuary Dome bersama Cade?” tanya Shin, merasa tertarik dengan perbincangan ini, “tidakkah kamu berpikir perjalananmu ini sangat berbahaya? Maksudku, bagaimana kamu bisa semudah itu memutuskan pergi ke sana?”Rose menatap langit-langit ruangan. “Keinginan untuk membawa ibuku pergi sudah ada dalam diriku sejak beliau dibawa pergi. Tapi aku tahu bahwa keinginan itu terlalu tinggi untuk direalisasikan, jadi aku hanya mendekam di rumah selama ini. Sampai akhirnya Cade menawarkan bantuan untuk membawaku ke sana. Bukan hanya itu, dia juga berniat membantuku menyelinap dan menyelamatkan ibuku.”“Cade seakan menjadi jalan keluar yang selama ini kucari-cari. Dia membawakan kesempatan yang tak akan datang lagi jika aku menolaknya. Itulah mengapa aku memutuskan untuk melakukan perjalanan dengannya. Wilayah Luar memang sebuah kejutan bagiku, tapi demi ibuku, dan juga Cade yang rela membantuku, aku tak boleh mundur,” ungkap Rose, diselingi batuk kec

  • Menjadi Tawanan Empat Pria Tampan   BAB 102 - Sadarkan Diri

    Tak ada yang mengelakkan betapa dekatnya Rose dan Cade karena mereka sudah bersama sejak awal perjalanan. Shin juga mengerti itu dan sadar diri bahwa dia baru bergabung beberapa hari lalu. Namun entah mengapa, mendengar Rose mengira dirinya adalah Cade ... ada sedikit kekecewaan dalam dirinya.Apalagi, Rose terus-terusan mengulang pertanyaannya dengan nada memastikan.“Kamu Cade? Atau bukan?” ulang Rose dengan suara yang sama lirihnya.Padahal baru saja siuman, tapi Rose memiliki cukup energi untuk bertanya sebanyak itu. Mungkin Rose sendiri merasa ada yang janggal. Pandangannya yang masih buram membuatnya melihat Shin seperti Cade. Tapi tangannya pasti merasakan yang dia genggam bukanlah tangan Cade.Shin menghela napas pendek. “Kepalamu selalu dipenuhi oleh Cade, ya? Sampai orang bermata sipit sepertiku kamu anggap mirip dengannya.”Rose tampak terkejut, kemudian mengerjapkan mata berkali-kali. Mulutnya yang terbuka tidak mengeluarkan suara apa pun lagi selama beberapa detik, s

  • Menjadi Tawanan Empat Pria Tampan   BAB 101 - Menemani Rose

    Wajah Alan begitu panik saat mendengar laporan dari Shin. Namun, setelah dirinya memeriksa sendiri kondisi Rose, dia menghela napas lega sembari mengusap peluh yang sempat membasahi dahinya.“Kenapa responsmu seperti itu?” tanya Shin, makin mengerut sampai kedua alisnya nyaris bertaut, “kamu tidak melihat Rose sedang meregang nyawa? Lakukan sesuatu!”“Rose baik-baik saja, Shin. Ini adalah reaksi tubuhnya terhadap obat-obatan yang kumasukkan ke dalam tubuhnya. Reaksi normal, bukan pertanda buruk,” jelas Alan perlahan, sekejap menghilangkan kepanikan Shin.Memang benar, orang awam yang melihat kondisi Rose saat ini pasti berpikir macam-macam. Sekilas tampak seperti orang yang tinggal mengembuskan napas terakhir.Demam Rose kembali melonjak. Tubuhnya begitu panas hingga kain kompres cepat mengering. Napasnya pun tersengal, dadanya naik-turun tak beraturan. Kerutan muncul di dahinya, selagi matanya terpejam kuat.“Sungguh? Tapi tubuhnya panas sekali,” kata Shin yang masih setengah y

  • Menjadi Tawanan Empat Pria Tampan   BAB 100

    Alan berkacak pinggang, menatap sinis ke arah Cade yang menggerutu kesal. Pria yang diajaknya bicara tidak menjawab, hanya memalingkan muka sambil mengusap-usap lehernya. Walau terkesan menghindar, Alan menganggap Cade sudah mengerti peringatannya.Pandangannya beralih pada Leon yang sedari tadi juga meringkuk di depan api unggun. Air muka Leon memang tampak sedih, tapi masih ada binar di matanya yang menandakan dia punya harapan .“Kamu sudah memakai vaksinnya?” tanya Alan.“Belum—ah, tapi aku mau suntik sendiri, oke? Tak butuh bantuanmu,” jawab Leon, panik melihat Alan berjalan cepat ke arahnya, “karena Cade tidak langsung memakainya seperti Shin, tadi aku jadi ragu. Tapi, selalu kusimpan di saku celana, kok.”Alis Alan bertaut, seolah tak percaya dengan kata-kata Leon. “Kalau begitu, pakailah—AAAAA!!”“Apa? Ada apa?” Leon terkejut bukan main mendapati Alan mendadak melompat ke balik punggungnya.Dengan penuh gemetar, jari Alan menunjuk sesuatu di rerumputan. “I-itu ... ada ke

  • Menjadi Tawanan Empat Pria Tampan   BAB 2 - Tertangkap

    Rose tak lagi mendengar langkah kaki pria itu. Tangannya mulai membuka pintu lemari, tapi hatinya masih bimbang. Apakah pria itu sudah sungguhan pergi?Udara pengap di dalam lemari membuat Rose tak bisa bersembunyi lama. Dia pun keluar dari lemari, berjalan memeriksa keadaan dengan pelan. Hingga ka

  • Menjadi Tawanan Empat Pria Tampan   BAB 36 - Mobil Pembawa Sial

    Mendengar Leon melantur seperti itu, Cade menukas, “Jangan mengada-ngada.”Pasalnya, perkataan Leon sempat membuat Cade hilang fokus sejenak. Cade melirik kanan, kiri, dan belakang melalui spion, memastikan tidak ada apa pun yang mengikuti mereka.“Hei, kamu yang bilang sendiri pada Rose tadi kal

  • Menjadi Tawanan Empat Pria Tampan   BAB 24 - Peta Wilayah Luar

    “Aku menyuruhmu membuangnya, tapi kenapa kamu malah memungutnya?!” Rode berteriak marah ketika melihat Cad kembali dengan menyeret Leon dan membantunya naik ke mobil. Cade tidak menjawab, lanjut menaiki mobil dan melajukannya kembali. “Hei! Jangan abaikan aku!” bentak Rose tepat di samping tel

  • Menjadi Tawanan Empat Pria Tampan   BAB 1 - Si Pengelana

    “Lepaskan! Lepaskan aku, dasar lelaki menjijikkan!”Rose meronta-ronta di balik jaring-jaring yang menutupi seluruh tubuhnya. Entah terbuat dari apa, jaring itu menempel pada kulitnya sehingga dia tidak bisa bergerak bebas. Raungan Rose terdengar makin keras, membuat seorang lelaki yang mendekatiny

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status