MasukLeon jatuh terlentang di tanah, terbebani oleh tubuh Rose yang menindihnya. Tanpa ragu, Rose mengangkat tangannya yang mengepal, lalu melayangkannya tepat di wajah Leon.Satu pukulan.Dua pukulan.Tiga, empat, ... dan seterusnya.Tidak ada yang bisa menghitung pukulan Rose dengan tepat karena gerakan tangannya sangat cepat. Di tengah pukulannya yang tiada hentinya, mulut Rose mengucapkan segala sumpah serapah untuk Leon.“Sialan kamu! Kriminal! Cabul! Bedebah! Keparat!” umpat Rose, berulang-ulang mengatakan kata-kata serupa.Cade tidak menghentikannya. Dia membiarkan Leon dipukuli habis-habisan oleh Rose. Dia biarkan Rose meluapkan seluruh emosinya sampai puas. Karena dia tahu betul bahwa Leon adalah orang yang mempersilakan Rose digilir malam itu. Juga telah menembak kaki Rose sampai baru bisa pulih hari ini.Entah berapa menit berlalu, Rose berhenti setelah melihat wajah Leon babak belur. Memar di mana-mana. Matanya bengkak dan mulutnya sobek. Darah keluar dari hidung dan m
Begitu menyadari kalau pengendara motor itu bisa jadi salah satu Riders, Rose menelan ludah gugup. Badannya merinding, lalu dia berbalik kembali menghadap depan dengan sangat perlahan. Keringat mulai membasahi dahinya.Melihat raut wajah Rose yang mendadak ketakutan, Cade berkata, “Itu bukan Riders. Riders selalu berkelompok. Mereka terbagi menjadi beberapa unit dan tidak pernah ada yang berjalan terpisah. Siapa pun yang memisahkan diri, akan dimusuhi dan dicari-cari oleh mereka untuk dipenggal.”Sekali lagi, Rose meneguk ludah. “Artinya ... anggota Riders tidak bisa keluar dari kelompoknya?”“Ya. Sekali masuk, kamu harus tetap di sana. Kalau nekat, bayarannya nyawa,” ujar Cade. Nadanya santai walaupun yang dia bicarakan adalah soal hidup dan mati.“Kenapa kamu bisa tahu banyak soal mereka? Kamu pernah bertemu?” tanya Rose lagi.Cade mendesah berat, seakan pertanyaan Rose adalah sesuatu yang tak perlu lagi jawaban. “Semua orang juga tahu itu. Informasi soal Riders sudah tersebar
Butuh waktu satu jam sampai Jonas mempersilakan mereka pergi. Walau siluet para Riders sudah tidak ada di depan badai pasir, mereka tetap harus waspada. Berjaga-jaga jikalau Riders masih berkeliaran di sekitar wilayah Haven. “Jaga diri kalian baik-baik, ya!” pesan Jonas saat mobil Cade melaju melewati gerbang masuk Haven, menembus badai pasir yang sudah siap menelan mereka. Rose merapatkan tudung ketika mereka memasuki area badai pasir. Dia menunduk, lutut ditekuk, dan tangan menahan belakang kepala agar pandangannya terus ke bawah. Sementara Cade, dia sudah siap dengan kacamata pelindung bermodel goggles yang mampu menghalau pasir-pasir masuk ke matanya. Jaket dan tudungnya dirapatkan, sehingga tidak ada pasir yang dapat terselip ke dalam tubuhnya. Dengan begitu, dia lebih mudah mengendalikan mobil yang terseret ke sana kemari. Mereka terbebas dari belenggu badai pasir setelah lima belas menit. Pakaian mereka sedikit berantakan, kaki mereka juga dipenuhi pasir, tapi setidakny
“Baiklah. Ayo kita berangkat,” kata Cade, masuk kembali hanya untuk mengambil ranselnya, “jika mulai jalan terlalu sore, jalanan akan lebih berbahaya.” Ujung mata Cade menangkap sosok Rose yang sedang mengaitkan tali tas serutnya di kedua pundaknya. Dia sudah melihat berbagai macam sisi Rose dalam dua hari terakhir. Baik diri Rose yang keras kepala, maupun yang lemah seperti malam dia bermimpi buruk waktu itu. Rose memang tak selamanya kuat. Tak selamanya tangguh. Namun, Cade tahu bahwa Rose memiliki tekad yang lebih besar darinya. Tekad yang membuat pemiliknya tak mudah menyerah bahkan di saat dirinya tak lagi berdaya. Sama seperti kakak perempuannya yang menjadi penyesalan terbesar Cade sampai sekarang. ‘Aku harus melindunginya. Demi menebus dosa-dosaku pada Carmen,’ batin Cade dengan terus memperhatikan Rose sebelum mereka naik ke mobil. Rose tidak lagi duduk di jok belakang. Dia duduk di jok samping supir, sebelah Cade, sementara jok belakang digunakan untuk menyimpan ran
Rose mengerutkan dahi mendengar pengakuan Cade. “Kamu punya kakak?” “Dulunya. Tapi dia ditangkap Riders dan digilir sebelum dibawa ke Sanctuary Dome. Dia sudah memberontak sekeras yang dia bisa, tapi tetap kalah tenaga. Aku melihatnya sendiri bagaimana dia terus berjuang untuk membela diri walau terlihat mustahil. Sama sepertimu, Rose.” Cade bercerita, matanya bergerak ke bawah, menatap sayu kedua kakinya. Sekelebat ingatan masa lalu muncul di benak Cade. Teringat jelas wajah sang kakak yang lembut, tapi mampu menjadi tegas ketika prinsipnya dilanggar. Teringat bagaimana kakaknya meronta sekuat tenaga sampai para Riders kewalahan. Cade melanjutkan, tangan kirinya mencengkeram ranselnya dengan kuat. “Melihatmu yang mirip dengan kakakku membuatku akhirnya memahami kalimatmu sebelumnya. Tentang Sanctuary Dome yang dapat memberikan segalanya, tapi merenggut kebebasan para wanita.” Dia kemudian berdiri, menepuk-nepuk lututnya yang kotor karena debu di lantai. Rose berjengit keti
Rose langsung memelototi Cade begitu mendengar celotehan asalnya. Tiada angin, tiada hujan, tiba-tiba saja memintanya untuk tinggal di Haven. Berdua dengannya pula.“Kamu mabuk? Omonganmu seperti orang yang meracau,” sindir Rose, kembali mengemas barang-barangnya setelah menoleh pada Cade sebentar.Selama di Haven, Cade memberinya beberapa barang untuk digunakan pribadi. Pakaian ganti, perlengkapan pertolongan pertama, hingga jubah sendiri. Dia juga memberikan Rose tas serut kecil untuk membawa barangnya sendiri. Saat Rose bertanya soal berapa banyak yang telah Cade habiskan untuk barang-barang itu, dia tak mau menjawab. Selalu menghindar. Bahkan ketika sudah didesak pun, dia memilih membisu dan pergi.Karenanya, sikap Rose sedikit melunak terhadap Cade. Prasangka baik yang muncul membuat hatinya sedikit terbuka untuk Cade.Dan pertanyaan terakhir Cade ini meningkatkan keyakinan Rose bahwa dirinya tidak lagi dianggap barang dagangan. Walau pertanyaan itu terdengar aneh karena ke







