เข้าสู่ระบบCade menatap Shin melalui spion dengan dahi berkerut. “Bukannya kamu dulu bergabung karena mencurigai Rose? Dengan mengancam kami? Kenapa sekarang malah mau ikutan ke Sanctuary Dome? Kepalamu terbentur?”Pertanyaan beruntun Cade membuat Shin merasa terpojok. Dia tak bisa mengelak karena Cade memang benar. Dia sendiri yang dulu berkata kalau mau ikut dalam perjalanan ini karena heran mengapa Cade bisa begitu protektif pada Rose.Setelah mendampingi Rose cukup lama, Shin akhirnya memahami kenapa Cade bisa tampak terikat dengan Rose. Karena wanita itu memang punya daya tarik sendiri, dari sifatnya yang tak sama seperti wanita lain. Membuat Shin mau tak mau menumbuhkan perasaan yang sama dengan lelaki lain di sini.“Aku sudah tak curiga dengannya,” tukas Shin asal.“Jadi, kamu tak ada alasan lagi untuk berada di sini, kan?” tanya Cade, tersenyum miring, “atau kamu takut untuk kembali pada River karena sudah terlalu lama bersama kami?”“Hah? Apa maksudmu? Aku tidak akan pergi!” bantah
Begitu Shin berhasil masuk ke dalam mobil, dia dan Leon pindah ke bagasi belakang. Mereka paham tugas mereka selanjutnya, yaitu menyingkirkan sekawanan serigala. Leon membuka pintu bagasi, lalu menyiapkan senapan besar yang sama seperti yang dia gunakan saat dikejar Riders beberapa hari lalu. “Oh, astaga. Aku nostalgia,” dengus Leon, “lagi-lagi aku yang mengerjakan ini.” Shin terbahak. “Ah, aku baru ingat. Kamu yang waktu itu menembak dari belakang mobil saat reguku menyergap mobil kalian, ya? Tembakannya payah sekali.” Darah Leon terasa mendidih mendengarnya. “Kalau payah, aku tak akan mampu menghabisi anggota regumu seluruhnya, tahu!” “Ya, ya. Tapi kamu tak bisa mencegatku, kan? Buktinya, aku bisa lolos darimu saat itu,” kata Shin yang terkekeh. Leon menampar keras bahu Shin, menggerutu kesal, “Tutup mulutmu, Keparat!” “Begitukah caramu bicara pada teman?” ledek Shin. Suara Leon makin meninggi. “Kamu bukan temanku!” Leon memang sasaran empuk bagi Shin, sebab dia se
“Cepat, cepat! Kita harus segera menyalakan mobilnya!” Alan berseru kepada Cade dan Rose seraya berlari menuju mobil Hunters yang teronggok di tengah tanah berpasir.Rose berlari dengan tatapan tertuju pada kawanan serigala di kejauhan. Sosok Shin dan Leon terlihat sedang melaju menjauhi para serigala di bawah sinar rembulan yang semakin terang. Dalam hatinya, Rose merasa khawatir, takut dia harus melihat keduanya diterkam serigala dengan mata kepalanya sendiri.Demi menyingkirkan bayangan-bayangan yang tak dia inginkan terjadi, Rose menggeleng kuat-kuat. Dia berharap bisa kembali tenang setelah menarik napas panjang. Namun, yang ada di hadapannya justru membuat dirinya mematung.Rose baru saja hendak memacu larinya, tapi mayat bergelimpangan di sekitar mobil Hunters membekukan langkahnya seketika. Sejenak dia lupa, bahwa para serigala memakan para Hunters di dekat mobil mereka. Yang artinya, dia harus melewati mayat yang bentuknya tidak utuh lagi.Kalau saja dia bisa berjalan sa
Cerita Alan membuat Rose pada akhirnya memahami bahwa semua manusia selain di Pulau Pandora sama-sama menderita. Baik penduduk Wilayah Luar maupun Sanctuary Dome. Yang benar-benar makmur hanyalah para petinggi negara di pulau khusus mereka.“Berburu wanita di luar wilayah sendiri memang sangat berisiko. Seperti kondisi Hunters dari Sanctuary Dome 02 itu. Mereka berakhir disantap serigala.” Tatapan Alan kembali ke kawanan serigala yang belum juga menyelesaikan makan malamnya. “Tapi, mau kembali pun, mereka juga tak akan hidup. Tak heran kalau banyak dari mereka yang lebih memilih berkelana dan tidak kembali.”“Maksudnya, ada yang memilih kabur? Sepertimu?” tanya Cade, “bukannya tiap mobil Hunters selalu dipantau? Kalau ada yang hilang, setahuku akan dikirim unit lain untuk mencarinya, kan?”Alan menghela napas. “Memang. Tapi yang bisa dilacak hanyalah mobilnya. Kalau mereka kabur dengan meninggalkan mobil sepertiku, akan sulit ditemukan. Selain itu, kalau sudah berada di wilayah San
Ini pertama kalinya Rose melihat serigala secara langsung. Selama ini, dia hanya melihatnya di televisi atau internet. Dia tak pernah menyangka bahwa serigala memiliki tubuh sebesar itu, bahkan di tengah wilayah yang gersang dan tandus. “Apa serigala memang sebesar itu? Kukira mereka akan kurus karena dunia yang mengering,” komentar Rose.“Serigala tak akan kurus, karena dia memakan manusia, bukan tumbuhan,” sahut Shin yang berada di sebelah Leon, “seperti yang kamu lihat, dia sedang menyantap mayat entah siapa itu.”Ketika Rose mengarahkan pandangannya pada sekelompok orang yang dimakan serigala, perut Rose merasa mual kembali. Satu-satunya hal di Wilayah Luar yang Rose belum bisa beradaptasi adalah melihat mayat atau darah. Entah kapan dia akan merasa biasa saja ketika melihat hal-hal keji seperti ini.Terlebih, mayat-mayat yang tergeletak tak jauh di hadapannya kini masih terlihat segar. Benar-benar baru kehilangan nyawa karena para serigala menerkam mereka. Rose melihat denga
“Leon, apa masih jauh lagi? Kita harus segera keluar dari hutan ini,” tanya Cade, sesekali menengok sekitar, memastikan keadaan aman.“Kalau tidak salah, kita akan keluar dari hutan Danshire sebentar lagi,” jawab Leon, menaruh tangan di dagu, “yah, mungkin sekitar 15-20 menit lagi.”“Semoga perhitunganmu akurat,” kata Shin, “aku mulai bosan melihat pohon.”Alan ikut bersuara, tapi tatapannya terarah pada Rose. “Omong-omong, kamu baik-baik saja, Rose? Katakan padaku jika bekas bengkakmu terasa sakit lagi.”“Aku baik-baik saja. Obatmu benar-benar manjur,” jawab Rose.“Sungguh?” Cade yang menjadi sensitif setiap Rose bicara dengan yang lain menimpali—apalagi melihat Alan masih menggandeng tangan Rose tanpa sadar. “Beberapa kali kamu hampir tersandung saat berlari, kan?”Rose mengangguk-angguk. “Aku sudah bisa jalan sendiri,” katanya, tersenyum lebar.Tapi senyumnya seketika hilang begitu Cade membalas, “Begitukah? Bukannya kamu masih jalan dituntun?”Mata Rose tertuju pada tangan
Mendengar Leon melantur seperti itu, Cade menukas, “Jangan mengada-ngada.”Pasalnya, perkataan Leon sempat membuat Cade hilang fokus sejenak. Cade melirik kanan, kiri, dan belakang melalui spion, memastikan tidak ada apa pun yang mengikuti mereka.“Hei, kamu yang bilang sendiri pada Rose tadi kal
“Oh, aku hampir lupa,” gumam Cade.Baru beberapa meter dari tempat tinggal Rose, Cade berhenti melangkah. Dia berbalik menghadap Rose sembari merogoh isi ransel besarnya. Tangannya menarik keluar sebuah jubah hitam besar bertudung dari ransel tersebut.Cade melemparkan jubah itu pada Rose yang bera
Rose tak lagi mendengar langkah kaki pria itu. Tangannya mulai membuka pintu lemari, tapi hatinya masih bimbang. Apakah pria itu sudah sungguhan pergi?Udara pengap di dalam lemari membuat Rose tak bisa bersembunyi lama. Dia pun keluar dari lemari, berjalan memeriksa keadaan dengan pelan. Hingga ka
“Lepaskan! Lepaskan aku, dasar lelaki menjijikkan!”Rose meronta-ronta di balik jaring-jaring yang menutupi seluruh tubuhnya. Entah terbuat dari apa, jaring itu menempel pada kulitnya sehingga dia tidak bisa bergerak bebas. Raungan Rose terdengar makin keras, membuat seorang lelaki yang mendekatiny







