LOGINAmanda, seorang ibu tunggal anak satu, tampak seperti ibu biasa pada umumnya. Mengantar-jemput anak sekolah, pergi ke warung, hingga bekerja dari rumah. Tak ada yang tahu kalau dahulu, Amanda merupakan pemimpin organisasi gelap pemerintah, Red Eyes, yang bertugas memberantas para pejabat kriminal dalam bayang-bayang. Amanda kira, dia bisa hidup tenang setelah resign. Namun, seseorang rupanya telah mencarinya sejak lama untuk memberikan pelajaran bagi Amanda yang telah berani mengusik kehidupan gelap para pejabat. Mereka sampai menyeret Clara, putri semata wayang Amanda, ke dalam masalah tersebut. Demi keselamatan anaknya, Amanda harus memutuskan satu dari dua pilihan. Antara menyerahkan kasus ini ke pihak berwajib, atau kembali menghadapi masa lalunya untuk menyelesaikan semuanya sendiri.
View More“Hei, lihat! Itu Si Manda! Aneh banget lihat dia di sini.”
Obrolan yang sengaja diucapkan agak keras itu diakhiri dengan cekikikan khas ibu-ibu kompleks. Di warung sembako yang tidak seberapa besar, beberapa wanita paruh baya tengah membeli kebutuhan dasar mereka. Termasuk Amanda Shayne, seorang ibu tunggal dan paling muda di antara ibu-ibu lain di kompleks perumahan itu. “Wah, Bu Amanda. Tumben ke sini siang-siang. Biasanya, pagi banget kalau mau belanja,” sapa si pemilik warung “Ah, iya, Bang. Soalnya bahan-bahan di rumah sudah habis. Butuh buat makan malam,” jawab Amanda yang tersenyum tipis. Wanita berusia 45 tahun itu tidak pernah keluar rumah, kecuali untuk mengantar jemput putrinya, Clara, dan membeli kebutuhan sehari-hari. Selain itu, Amanda tidak kerja kantoran, melainkan memiliki usaha pribadi online. Tentu hal tersebut menimbulkan spekulasi-spekulasi yang tidak benar dari para tetangga. Ibu-ibu yang sebelumnya menyindir Amanda kembali berbicara, “Dia nggak pernah keluar di siang hari kalau bukan jemput anaknya, kan? Apa kali ini dia punya urusan?” Wanita lain yang bertubuh gempal menyahut, “Jangan-jangan, dia jadi gundik? Kalau wanita simpanan kan, memang harus curi-curi waktu.” “Oh, sudah jadi simpanan, ya? Makanya pas anaknya sekolah, giliran dia ketemu cowoknya? Ngeri ih, pemain dia ternyata,” kata ibu-ibu berpenampilan menor sembari bergidik, “pantas saja suaminya pergi ninggalin dia. Murahan.” Mereka mungkin berharap telinga Amanda panas mendengar semua itu. Kata-kata mereka memang sudah keterlaluan. Bahkan, raut wajah si pemilik toko berubah karena merasa tidak enak dengan Amanda. Sudah lima tahun Amanda dijadikan bahan gosip harian. Sejak dia datang kemari dengan satu anak tanpa suami, apa saja tentangnya dibahas. Mulai dari ke mana suaminya, hingga bagaimana dia menghidupi Clara seorang diri. Mereka memang menyebarkan gosip bohong, tapi Amanda selalu membiarkannya. Dia malas menciptakan drama baru di kehidupan kecilnya ini. Selagi tidak berdampak langsung pada putrinya, dia lebih memilih menghindari konflik. “Uangnya pas, ya, Bang.” Amanda menyerahkan uang kertas sejumlah harga barang yang dibelinya, lantas berjalan keluar warung. Amanda sempat bertatap muka dengan tiga wanita yang sedari tadi membicarakannya. Ketiganya terdiam ketika Amanda melewati mereka. Namun, raut wajah mereka tampak sekali sedang mengejek Amanda. Sayangnya, dia sama sekali tidak menggubris ucapan mereka. Amanda hanya tersenyum simpul dan berkata sambil berlalu, “Mari, Bu.” Apa pun yang orang-orang katakan, Amanda tak pernah memasukkannya ke hati. Dia juga tak peduli dengan orang lain dan memilih menyendiri di lingkungan masyarakat. Itulah mengapa, Amanda memilih belanja di pagi buta saat wanita-wanita bermulut pedas itu belum terbangun. Namun kali ini, dia lupa kalau beras di rumah sudah tak bersisa. Amanda melihat jam di layar ponsel. Baru jam 1 siang. Masih ada waktu sebelum jam kepulangan anaknya. Amanda kembali pulang ke rumah, berniat menyiapkan pesanan klien yang menumpuk. Dua jam lamanya Amanda mengerjakan seluruh pernak-pernik yang harus dikirim hari ini. Tepat pukul tiga, dia mengirim pesanan klien, kemudian berlanjut menjemput Clara di sekolahnya. Sepanjang jalan, paha Amanda terasa bergetar. Dia melirik ke bawah, menyadari bahwa ponsel yang disimpannya di saku celana bergetar karena ada panggilan telepon. Namun, Amanda tak segera mengangkatnya. Dia tetap mengendarai motor karena dia sudah menduga siapa penelepon itu. Rata-rata kontak di ponsel Amanda adalah para klien yang memesan pernak-pernik handmade buatannnya, juga rekan kerja freelance-nya. Belum pernah ada yang menelepon nomornya langsung. Hanya ada satu orang yang dua minggu terakhir ini selalu menghubunginya. ‘Ah, lagi-lagi...’ Amanda menggerutu dalam hati begitu melihat ponselnya saat sudah sampai di sekolah Clara. Lagi-lagi, itu nomor tak dikenal. Daftar panggilannya selama dua minggu pun penuh dengan nomor tak dikenal yang berbeda-beda. Meski begitu, Amanda tahu semuanya berasal dari orang yang sama. Orang yang Amanda tak mau lagi berurusan dengannya. Amanda kira, dengan terus menolak dan memblokir nomornya, orang itu akan mengerti. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Panggilan tersebut masih terus berlanjut sampai hari ini. Amanda membatin, ‘Kapan dia akan berhenti?’ Entah apa alasan orang itu terus menghubunginya tanpa kenal lelah, Amanda tak mau tahu. Bahkan di kali pertama ditelepon, Amanda terus terang tak mau dihubungi. Tanpa ingin tahu lebih banyak soal orang tersebut. Tanpa memusingkan panggilan tadi, Amanda segera menuju gedung sekolah yang mulai sepi. Hanya tersisa beberapa murid yang masih bermain di halaman sekolah. Biasanya, Clara sudah menunggu dengan manis di depan gerbang. Namun kali ini, gadis berumur 15 tahun itu tak ada di sana. “Bu Guru, apa Anda melihat Clara?” Amanda bertanya pada wali kelas Clara yang kebetulan ada di sekitar gerbang. “Clara?” Bu Guru berusaha mengingat-ingat. “Maaf, saya lihat terakhir dia masih di koridor bareng temannya.” “Biasanya Clara ada di gerbang. Sekarang nggak ada. Apa Ibu tahu kira-kira dia pergi ke mana?” tanya Amanda lagi Melihat Clara tak lagi berada dalam penjagaannya, Amanda mulai berpikir yang tidak-tidak. Melihat wajah Amanda berubah panik dan berkeringat, Bu Guru akhirnya memberi saran, “Coba Ibu cari di sekitar sekolah. Kadang, ada anak-anak yang pergi ke gang sebelah untuk jajan karena di sana ada kafe.”“Eh, Paman Viktor? Kenapa Paman di sini? Nggak ikut pelantikan?” tanya Clara sembari melepas pelukannya.Viktor tersenyum tipis. “Aku mengundurkan diri. Red Eyes akan dibangun kembali. Kalau aku terus di anggota parlemen, akan mudah dilacak. Jadi, lebih baik aku melakukan hal lain untuk menutupi pekerjaan asliku.”“Oh, begitu, ya.” Clara kemudian beralih ke Amanda. “Omong-omong, kalau Mama bekerja sebagai Red Eyes secara resmi lagi, apa aku akan tetap di Janvel seterusnya?” Amanda mengusap kepala Clara pelan tanpa memudarkan senyumnya. “Nggak, kok. Clara akan tetap tinggal bersama Mama.”“Memangnya nggak bahaya?” tanya Clara, masih ingat betul kejadian yang menimpa dirinya dan Amanda di rumah aslinya dulu.“Tenang saja. Red Eyes nanti akan membangun markas baru, dan kita akan punya bagian sendiri di sana untuk tempat tinggal. Jadi, Mama bisa membersamaimu dan Red Eyes sekaligus. Soal berangkat sekolah, akan kami bangun akses tersembunyi yang nggak diketahui siapa pun,” tutur Ama
“Berita Nasional terbaru hari ini, hasil Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden Santara akhirnya resmi diumumkan. Berikut kami tampilkan hasil akhir perolehan suara dari ketiga pasangan calon presiden dan wakil presiden.” Suara pemberitaan yang menggema di setiap sudut stasiun membuat Clara sempat mendongak sekilas.Matanya bergerak menatap layar besar yang terpampang di tengah-tengah peron. Layar yang seukuran TV itu terdapat empat buah, terpasang di masing-masing sisi sebuah pilar. Biasanya layar itu menampilkan program stasiun TV yang berbeda-beda. Tapi berhubung hari ini adalah hari istimewa bagi rakyat Santara, semuanya sengaja diatur untuk menampilkan berita.Clara kembali menatap layar ponselnya setelah menonton berita beberapa detik. Bukan karena dia tidak tertarik dengan hasil pemilu presiden, tapi ada yang lebih penting darinya. Hari ini juga hari istimewanya, di mana dia akan bertemu dengan ibunya yang sudah lama sekali tidak bertatap muka.Meski tampak tak peduli, C
Melihat Viktor yang berdiri tanpa ragu menggantikan posisinya, Amanda tertegun. Entah dari kapan Viktor bersiap-siap akan hal ini. Pria itu tidak terlihat kaku, bicaranya lugas dan tegas di hadapan anggota lain. Dia benar-benar menggantikan posisi Amanda dengan baik. “Dengar semua.” Viktor berseru lantang untuk mengheningkan ruangan yang sempat ramai oleh desas-desus para anggota. “Kita masih mendapat sedikit bukti untuk perdagangan manusia, organ tubuh, dan obat keras. Untuk kasus narkoba dan uang palsu lebih mudah didapat, juga untuk penyusup di tim sukses sudah ditemukan. Artinya, kita masih perlu menjalankan strategi yang sama untuk beberapa hari ke depan. Sesuai arahan Nyonya Amanda, kita baru bisa melaju ke langkah berikutnya jika bukti sudah sangat cukup.” Dia mengimbuhkan, “Tidak perlu terburu-buru, ingat kata-kata Red One. Daripada salah langkah karena terlalu agresif, lebih baik berjalan perlahan dengan tetap waspada. Kita masih punya waktu lebih dari cukup sampai pemilu
"Sampai jumpa, Mama!” Clara berseru dari di depan kereta, melambai-lambaikan tangan pada Amanda. Di sebelah kanan-kirinya, Lukas dan Miria ikut melambai serta mengucapkan selamat tinggal. Mereka semua membawa koper besar dan tas ransel. Sementara Amanda berada beberapa meter dari mereka, menyaksikan mereka masuk ke kereta tanpa dirinya. “Jaga dirimu, Clara! Kita akan bertemu lagi nanti,” balas Amanda dengan senyum terlebarnya. Amanda tidak berhenti melambai sampai Clara dan orang tuanya menghilang dari pandangannya, sekalipun mereka sudah di dalam kereta dan memandanginya untuk terakhir kali. Hari ini mereka memang berpisah, tapi itu sama sekali tidak meninggalkan kesedihan dalam hatinya. Karena dia tahu, perpisahan sementara ini adalah jalan terbaik agar hidup Clara tetap terjamin aman. Beberapa malam sebelumnya, Amanda sudah membulatkan tekad setelah berdiskusi berkali-kali dengan Lukas dan Miria. Demi keselamatan Clara, mereka akan mengungsikan Clara ke Janvel, kota di s
“Sampai jumpa, Kakek, Nenek!” seru Clara yang berjalan mengekor di belakang Amanda. Tangan kanannya melambai-lambai, sementara tangan kirinya menarik koper yang dia bawa saat kabur kemarin.Lukas dan Miria balas melambai dengan raut sumringah, melepas kepergian putri dan cucu mereka dengan tenang.
“Ini semua jebakan,” kata Viktor getir, “Julias telah memasang kamera tersembunyi karena tahu kita akan datang. Dan dia yang mengatur semua narasi ini.”Amanda dan Ingrid menatap ke arahnya secara bersamaan. Di ruangan sebelah, Cillian dan lainnya juga sedang ramai membahas soal konten ini. Suara
“Cek, cek. Kiara, bagaimana situasi di sana?” Suara Viktor terdengar di alat komunikasi yang terpasang di telinga Kiara. Namun, tidak ada jawaban yang keluar. “... Kiara? Halo, apa kamu sudah—” “Berisik!” tukas Kiara dengan ketus, “aku baru saja menyembunyikan dia di kamar! Jangan ngomong t
Suara pintu digedor membuat Amanda dan yang lain di villa tersentak kaget. Semuanya langsung berkeringat dingin, menanti apa yang akan dilakukan Gally untuk menutupi penyamarannya. Pintu terdengar terbuka, disertai suara Gally, “Oh, maaf, aku nggak sengaja mengunci pintu. Ada apa, Kawan?” Oran






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews