
IBLIS BERMATA BIRU ( Pembalasan Sang Hantu Digital )
Sepuluh tahun lalu, mereka menghancurkan dunianya.
Reihan hanyalah remaja yatim yang malang ketika tiga penguasa sekolah, Ardian sang calon politisi, Bimo sang atlet beladiri, dan Mariska sang "Ibu Peri" media sosial memfitnahnya, menghancurkan masa depannya, dan meninggalkan bekas luka jahit permanen di alisnya. Mereka tertawa saat kacamata tebalnya diinjak hingga hancur, membiarkan Reihan tenggelam dalam kegelapan tanpa harapan.
Sepuluh tahun kemudian, kegelapan itu balas menatap mereka.
Reihan kembali. Bukan lagi sebagai pecundang yang lemah, melainkan sebagai sosok misterius di balik tudung hitam dengan sepasang mata Icy Blue yang membekukan. Ia adalah "Hantu Digital" peretas jenius yang mampu meruntuhkan reputasi, mengunci aset bank, dan membongkar rahasia paling busuk hanya dengan satu ketukan tombol Enter.
Satu demi satu, istana megah yang mereka bangun di atas penderitaan Reihan mulai retak.
Ardian melihat karier politiknya hancur saat videotron kampanyenya menampilkan dosa masa lalunya.
Mariska kehilangan topeng kecantikannya saat dunia melihat sisi iblisnya di depan jutaan pengikut.
Bimo gemetar ketakutan saat masa lalunya datang menagih "jahitan" yang belum selesai.
Reihan tidak menginginkan permintaan maaf. Ia menginginkan kehancuran total. Dalam 70 hari, ia akan memastikan para predator itu merasakan bagaimana rasanya menjadi mangsa di dunia yang mereka anggap milik mereka sendiri.
"Sepuluh tahun aku menanti. Sekarang, bunganya sudah cukup besar untuk kalian bayar dengan nyawa."
Read
Chapter: (S2) 20. NARROW ESCAPE"Jika sosiopat itu melongokkan kepalanya ke dalam lorong ini sebelum transfer datamu selesai, kita tidak akan pernah bisa keluar lewat jalan ini lagi."Suara ketukan pantofel Julian Drax di atas lantai marmer perpustakaan terdengar makin nyaring, merambat turun melalui dinding lorong beton bagai ketukan jam kematian.Di dasar laboratorium, Reihan merasakan dadanya menyempit parah. Oksigen seolah lenyap dari sekitar mereka. Matanya terpaku gila pada bilah kemajuan di layar laptop taktis yang masih merayap menyiksa.89%... 91%... 93%..."Tuan Penjaga, langkahnya sudah di ambang pintu tangga. Aku harus cabut kabelnya sekarang atau kita tertangkap!" Reihan berbisik panik, jemarinya yang gemetar hebat sudah bersiap menyentak konektor data.Keberanian digitalnya hancur lebur di hadapan ancaman fisik yang nyata.Namun, sebelum jemari Reihan sempat menarik kabel, sebuah cengkeraman sedingin es dan sekeras baja mengunci pergelangan tangannya.
Last Updated: 2026-06-17
Chapter: (S2) 19. THE DISCOVERY"Siapkan laptopmu, Reihan. Kita baru saja melangkah masuk ke dalam perut monster yang sesungguhnya."Peringatan Tuan Penjaga bergema rendah, nyaris tenggelam oleh deru napas Reihan yang memburu. Mereka mulai menuruni undakan tangga beton yang dingin dan lembap.Di depan mereka, seberkas cahaya putih dari senter taktis Tuan Penjaga membelah kegelapan yang pekat, menyingkap dinding-dinding semen telanjang yang tidak dilapisi cat. Setiap langkah sepatu taktis mereka yang beradu dengan semen menghasilkan gema tipis yang janggal, seolah-olah ruang bawah tanah ini sengaja dirancang untuk meredam jeritan.Ketika mereka mencapai dasar tangga, deretan lampu tabung fluresen di langit-langit mendadak menyala otomatis, memancarkan cahaya putih steril yang menyilaukan mata.Reihan tersentak, refleks menutupi wajahnya dengan lengan. Saat matanya berhasil menyesuaikan diri dengan intensitas cahaya, darahnya seakan membeku.Ruangan di hadapan m
Last Updated: 2026-06-14
Chapter: (S2) 18. TACTICAL INFILTRATION"Besok siang, saat sosiopat itu sibuk memikirkan Aura di ruang rapatnya, kita akan merangsek masuk secara fisik ke dalam rumahnya. Kau akan memasang alat pelacak fisik langsung pada server lokal di lantai tersembunyi itu."Kalimat final Tuan Penjaga semalam menjelma menjadi kenyataan yang mencekik pada pukul 13.15 siang ini. Udara di dalam kabin van logistik terselubung yang terparkir tiga ratus meter dari perimeter mansion Julian terasa pengap oleh ketegangan. Reihan menarik napas dalam-dalam, merasakan rompi taktis hitam tanpa atribut—ghost gear—terasa berat menekan dadanya.Sebagai peretas yang terbiasa bertarung dari jarak aman di balik kehangatan layar monitor, berada langsung di garis depan medan fisik seperti ini membuat jantungnya bertalu liar, menghantam rusuknya tanpa ampun."Tim lapangan mengonfirmasi melalui interkom," suara Tuan Penjaga memecah keheningan, memutus kepanikan internal Reihan. Pria paruh baya itu sed
Last Updated: 2026-06-13
Chapter: (S2) 17. DARK GALLERY Click. Click. Click.Jemari Reihan bergerak dengan ritme yang konstan, mengeksekusi rentetan skrip eksploitasi siber tingkat tinggi di tengah keheningan hangar Unit 0 yang mencekam. Pukul dua dini hari. Pendaran biru dari monitor menyinari wajahnya yang pias, memantulkan bayangan tajam yang menari-nari di dinding beton.Setelah tiga belas menit jalur siber rumah Julian Drax menganga akibat kebocoran IP address sebelumnya, pertahanan enkripsi kediaman mewah itu kini runtuh satu per satu seperti deretan kartu domino."Sistem keamanan berlapis firewall perimeter luar... tumbang," desis Reihan. Suaranya rendah, hampir menyerupai bisikan, tertelan oleh desing halus kipas superkomputer di bawah meja. "Aku memotong jalur enkripsi CCTV lokal. Kita masuk, Tuan Penjaga."Layar utama di hadapan mereka mendadak terbelah menjadi dua belas jendela video langsung (live feed). Satu per satu ruangan di dalam mansion megah yang terletak di perbukitan terisolas
Last Updated: 2026-06-12
Chapter: (S2) 16. THE PHANTOM TRACEPendaran biru dari deretan monitor komputer memantulkan bayangan dingin di wajah Reihan. Di dalam ruang kerja yang gelap gulita itu, hanya ada suara desing halus kipas CPU yang berputar konstan, beradu dengan ketukan ritmis jemarinya di atas keyboard.Aroma kopi hitam yang mulai mendingin dan mengental di sudut meja mengiringi pergerakan baris demi baris kode data di layar. Indikator aktivitas digital targetnya berkedip-kedip, memancarkan warna merah yang agresif.Log aktivitas siber milik Julian merayap naik, menembus grafik normal di larut malam yang sunyi ini.Reihan menghentikan ketukannya. Ia menyandarkan punggung ke kursi, membiarkan tubuhnya ditelan kegelapan saat matanya tetap mengunci layar utama.Melalui software pengawasan terenkripsi yang ditanamnya, Reihan bisa melihat apa yang sedang terjadi di seberang sana secara real-time.Julian tidak lagi menyentuh dokumen bisnis. Pria itu telah mengabaikan tumpukan surat elektronik kantorny
Last Updated: 2026-06-11
Chapter: (S2) 15. THE TRAP IS SET"Nyalakan servernya, Reihan. Mari kita ciptakan 'Aura' di dunia maya, dan biarkan monster yang sedang terluka itu menggigit umpan kita hingga ke hulu ledaknya."Perintah Tuan Penjaga langsung disambut oleh hantaman jemari Reihan pada tombol pengaktifan server sekunder Unit 0.Ruang hangar yang remang seketika diterangi oleh pendaran cahaya biru dari belasan monitor yang memuat puluhan ribu baris kode pemodelan generatif hiper-realistis.Keheningan yang mencekik di dalam ruangan itu berganti menjadi sebuah kalkulasi digital yang dingin dan mematikan. Mereka tidak lagi sekadar bertahan. Mereka sedang merajut jaring laba-laba untuk menjerat seorang predator yang terluka."Memulai pembuatan basis data profil," suara Reihan terdengar mekanis, berkejaran dengan deru kipas superkomputer yang berputar di batas maksimal."Aku tidak menggunakan wajah dari orang yang benar-benar hidup, Tuan Penjaga. Julian terlalu cerdas. Jika dia melakukan pencaria
Last Updated: 2026-06-09

PELAMPIASAN HASRAT MAS ARYA
"Menjadi milikku atau besok kamu tidur di jalanan tanpa masa depan. Pilih, Sari."
Bagi Sari, dunia seolah tidak pernah berhenti menghujamnya dengan kesialan. Diusir dari kosan, tunggakan kuliah yang mencekik, hingga sebuah kecelakaan kecil yang menghancurkan spion mobil mewah milik Arya Pratama. Dosen baru yang memiliki tatapan sedingin es dan kekuasaan tanpa batas.
Sari mengira Arya adalah penolong saat pria itu menawarkan jalan keluar. Namun, ia salah besar. Di balik wajah tampan dan wibawa seorang pendidik. Arya adalah predator yang siap menerkam mangsanya.
Alih-alih uang ganti rugi, Arya menuntut sesuatu yang jauh lebih berharga: Tubuh Sari.
Sari terpaksa menandatangani kontrak tak tertulis. Menjadi asisten pribadi Arya berarti harus siap melayani setiap keinginan pria itu. Kapan pun, di mana pun, dan dalam bentuk apa pun.
Sari terjebak di antara rasa terpaksa yang mendalam dan getaran asing yang mulai membakar kulitnya setiap kali jemari Arya menyentuhnya.
Ia hanyalah sebuah pelampiasan nafsu. Tapi mungkin ada rahasia gelap yang disembunyikan Arya di balik obsesi gilanya pada Sari?
Read
Chapter: 18. LUKA YANG DISENGAJA Langkah kaki Andra terhenti tepat dua meter di depan mobil mewah Arya. Napasnya memburu, matanya memerah menatap tangan Arya yang masih melingkar posesif di pinggang Sari.Di sekeliling mereka, waktu seolah melambat. Mahasiswa yang berlalu-lalang mulai memperlambat langkah, bisik-bisik tajam mulai mengudara seperti polusi yang menyesakkan."Sari... apa maksud semua ini?" suara Andra bergetar, antara amarah dan luka yang dalam. "Kenapa kamu keluar dari mobilnya? Kenapa kamu bersama dia?"Sari merasakan remasan Arya di pinggangnya menguat. Sebuah peringatan bisu yang dingin. Ia mendongak sejenak, melihat rahang tegas Arya dan tatapan matanya yang seolah sedang menonton sebuah pertunjukan komedi membosankan.Sari tahu, jika ia tidak bicara sekarang, nasib Andra akan berakhir di tangan pria ini.Sari menarik napas panjang, mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya untuk menghancurkan hati pria yang selalu tulus padanya."Andra, berhenti mengga
Last Updated: 2026-06-17
Chapter: 17. KLAIM UNTUK ANDRACahaya matahari pagi menyusup malu-malu melalui celah gorden blackout di kamar utama, memantul pada seprai sutra yang berantakan.Sari terbangun dengan perasaan yang asing. Ada ketenangan yang sempat singgah, sisa-sisa kelembutan Arya di bawah guyuran air semalam yang masih membekas di ingatannya.Namun, ketenangan itu menguap saat ia menyadari sisi tempat tidur di sampingnya sudah dingin.Ia menoleh ke arah balkon. Di sana, Arya Pratama sudah berdiri tegak, membelakangi kamar. Kemeja hitam elegannya melekat sempurna di tubuh tegapnya, lengannya digulung hingga siku, memperlihatkan jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.Ia sedang menyesap kopi hitam sambil membaca tumpukan berkas riset, tampak seperti potret pria sukses yang tidak tersentuh noda apa pun."Sudah bangun?" suara bariton Arya terdengar tanpa ia perlu berbalik.Sari tersentak, segera menarik selimut menutupi dadanya. "I-iya, Mas.""Ber
Last Updated: 2026-06-14
Chapter: 16. SENTUHAN DI KAMAR MANDISuara deru mesin mobil yang mati seketika meninggalkan kesunyian yang mencekik saat mereka tiba di rumah. Sari melangkah keluar dengan bahu yang merosot, matanya sejenak memperhatikan bangunan mewah yang kini menjadi penjara emasnya.Begitu pintu depan terkunci otomatis di belakang mereka, atmosfer berubah. Di kampus, Arya adalah dinding beton yang dingin. Di sini, ia adalah api yang siap melalap apa saja.Setelah masuk ke dalam kamar. Arya melepas jas abu-abunya, menyampirkannya di sofa dengan gerakan yang sangat tenang. Ketenangan yang justru membuat bulu kuduk Sari meremang.Pria itu melonggarkan dasinya, lalu menoleh pada Sari yang masih mematung di dekat pintu kamar mereka."Hari ini sangat melelahkan, bukan?" suara Arya rendah, bergema di ruangan yang kedap suara itu. Ia melangkah mendekat, memperkecil jarak hingga Sari bisa mencium aroma sandalwood yang bercampur dengan ketegangan. "Riset, kelas seminar, dan... drama di lorong tadi. Tubuhku
Last Updated: 2026-06-13
Chapter: 15. MAAF ANDRALangkah kaki Sari yang tergesa menghantam aspal gerbang fakultas dengan irama yang kacau, persis seperti detak jantungnya. Ia menarik kerah kemejanya lebih tinggi. Memastikan kain kaku itu menyembunyikan tanda merah di bahunya. Bekas pembersihan Arya kemarin. "Sari! Berhenti!"Suara itu membuat Sari membeku sesaat. Andra berlari kecil menghampirinya, wajahnya tampak kuyu seolah tidak tidur semalaman. Matanya memindai wajah Sari dengan kecemasan yang begitu tulus, sebuah kontras yang menyakitkan dibandingkan tatapan predator yang ia terima kemarin sore."Sari, syukurlah kamu datang. Aku menunggumu dari tadi," ucap Andra dengan napas terengah. "Apa yang terjadi kemarin? Setelah kamu masuk ke ruangan Pak Arya, kamu tidak bisa dihubungi. Apa dia... apa dia melakukan sesuatu?"Sari mengepalkan tangan di samping tubuhnya. Suara Arya bergema di kepalanya seperti mantra terkutuk." Jangan pernah bicara padanya lagi". Ia bisa merasakan tatapan ta
Last Updated: 2026-06-12
Chapter: 14. KEKUASAAN YANG MENEKANBunyi klik dari kunci otomatis di meja kerja Arya bergema seperti suara vonis mati di telinga. Sari tersentak, bahunya merosot saat menyadari bahwa ia hanya berdua saja dengan Arya di sini.Ruangan ini tidak lagi terasa seperti kantor dosen yang terhormat. Baginya, ini adalah sebuah altar pengorbanan di mana ia adalah korbannya.Arya tidak duduk. Ia berdiri mematung di depan jendela besar, membelakangi pintu, menatap siluet gedung-gedung kampus yang mulai memanjang tertimpa cahaya senja. Keheningan yang menyelimuti mereka begitu pekat, hingga detak jantung Sari yang berpacu liar terasa memekakkan telinga."Mendekatlah," suara Arya terdengar dingin, mengiris kesunyian tanpa menoleh sedikit pun.Sari melangkah dengan kaki yang terasa seberat timah. Setiap jengkal ia mendekat, aura intimidasi dari pria itu semakin mencekik oksigen di sekitarnya.Arya berbalik perlahan, matanya yang gelap langsung terkunci pada kedua bahu Sari. Titik di mana
Last Updated: 2026-06-11
Chapter: 13. RANTAI TAK KASAT MATA"Saya mengumumkan bahwa asisten riset utama untuk proyek jurnal internasional semester ini adalah Sari."Suara bariton Arya Pratama bergema di ruang seminar yang sunyi, memotong keheningan dengan otoritas yang tak terbantahkan. Ia berdiri di balik podium dengan kemeja abu-abu gelap yang lengannya digulung hingga siku, memancarkan aura intelek sekaligus dominasi yang membuat seisi kelas terpukau."Sari adalah mahasiswi dengan dedikasi tinggi. Mulai hari ini, ia akan bekerja langsung di bawah pengawasan saya untuk memastikan proyek ini selesai tepat waktu."Tepuk tangan riuh pecah dari teman-teman sekelasnya. Beberapa mahasiswi menatap Sari dengan iri, membayangkan betapa beruntungnya bisa menghabiskan waktu berjam-jam bersama dosen idola kampus itu.Namun, bagi Sari, pengumuman itu adalah vonis mati bagi kebebasannya. Ia hanya bisa menunduk, meremas jemarinya di bawah meja hingga buku-bukunya memutih.Di balik senyum profesional Arya, Sari
Last Updated: 2026-06-09