
IBLIS BERMATA BIRU ( Pembalasan Sang Hantu Digital )
Sepuluh tahun lalu, mereka menghancurkan dunianya.
Reihan hanyalah remaja yatim yang malang ketika tiga penguasa sekolah, Ardian sang calon politisi, Bimo sang atlet beladiri, dan Mariska sang "Ibu Peri" media sosial memfitnahnya, menghancurkan masa depannya, dan meninggalkan bekas luka jahit permanen di alisnya. Mereka tertawa saat kacamata tebalnya diinjak hingga hancur, membiarkan Reihan tenggelam dalam kegelapan tanpa harapan.
Sepuluh tahun kemudian, kegelapan itu balas menatap mereka.
Reihan kembali. Bukan lagi sebagai pecundang yang lemah, melainkan sebagai sosok misterius di balik tudung hitam dengan sepasang mata Icy Blue yang membekukan. Ia adalah "Hantu Digital" peretas jenius yang mampu meruntuhkan reputasi, mengunci aset bank, dan membongkar rahasia paling busuk hanya dengan satu ketukan tombol Enter.
Satu demi satu, istana megah yang mereka bangun di atas penderitaan Reihan mulai retak.
Ardian melihat karier politiknya hancur saat videotron kampanyenya menampilkan dosa masa lalunya.
Mariska kehilangan topeng kecantikannya saat dunia melihat sisi iblisnya di depan jutaan pengikut.
Bimo gemetar ketakutan saat masa lalunya datang menagih "jahitan" yang belum selesai.
Reihan tidak menginginkan permintaan maaf. Ia menginginkan kehancuran total. Dalam 70 hari, ia akan memastikan para predator itu merasakan bagaimana rasanya menjadi mangsa di dunia yang mereka anggap milik mereka sendiri.
"Sepuluh tahun aku menanti. Sekarang, bunganya sudah cukup besar untuk kalian bayar dengan nyawa."
قراءة
Chapter: 6. 24 JAM MENUJU KEBANGKRUTANPukul empat pagi di kantor pusat pemenangan Ardian adalah sarang kepanikan. Ruangan yang biasanya riuh dengan strategi politik itu kini dipenuhi aroma kopi basi dan kepulan asap rokok yang menyesakkan. Ardian duduk di kursi kebesarannya, dasinya sudah longgar, rambutnya yang klimis berantakan. Di hadapannya, tiga orang pria bertubuh tegap dari vendor logistik kampanye berdiri dengan wajah tidak bersahabat."Pak Ardian, kami sudah menyelesaikan pemasangan baliho dan panggung di lima titik sesuai kontrak. Jatuh temponya subuh ini. Jika pelunasan tidak masuk, kru kami akan membongkar semuanya sebelum matahari terbit," ucap pria tertua dengan nada mengancam.Ardian memijat pelipisnya yang berdenyut. "Tenanglah. Uangnya sudah siap di rekening yayasan. Bendaharaku sedang memprosesnya."Ia meraih laptopnya, mencoba masuk ke portal Internet Banking prioritas miliknya. Jemarinya mengetikkan kata sandi dengan cepat. Namun, alih-alih melihat saldo miliaran rupiah, layar monitornya hanya menampil
آخر تحديث: 2026-03-27
Chapter: 5. PENYUSUP DI BALIK DINDINGApartemen Mariska yang biasanya riuh dengan suara musik dan tawa palsu para sosialita, kini terasa seperti bangkai gedung yang membusuk. Sejak skandal penyiksaan itu meledak di live streaming, pintu depan rumah itu tidak berhenti digedor wartawan, hingga akhirnya polisi memasang garis kuning. Mariska mengunci diri di kamar utama, menenggelamkan diri dalam botol-botol wine mahal dan obat penenang, membiarkan rumahnya jatuh dalam kegelapan.Namun, bagi Reihan, garis polisi hanyalah pita dekorasi yang tidak berarti.Ia bergerak di dalam saluran udara, merayap dengan presisi seorang teknisi bayangan. Sepatu taktisnya tidak menimbulkan suara saat ia turun melalui panel plafon di ruang lobi dalam. Reihan mendarat dengan lentur, tudung hoodie-nya tetap menutupi wajah. Mata Icy Blue-nya berpendar dingin, memindai ruangan yang kini berantakan dengan pecahan kaca dan botol kosong.Langkah pertamanya adalah menuju meja rias Mariska. Dengan sarung tangan hitam, ia mulai memindahkan barang-barang
آخر تحديث: 2026-03-27
Chapter: 4. JAHITAN YANG TERBUKA KEMBALIMalam di Jakarta Pusat seharusnya menjadi waktu bagi Bimo untuk berpesta. Sebagai pemilik sasana bela diri ternama yang melatih anak-anak pejabat dan pengusaha, dunianya adalah tentang otot, kekuasaan, dan rasa hormat yang dipaksakan. Namun, sejak kejadian di lobi gedung Media Center malam itu, rasa hormat itu berganti menjadi paranoia yang mencekik.Bimo berdiri di depan loker pribadinya di dalam ruang ganti VIP sasananya. Napasnya masih menderu setelah sesi latihan tanding yang brutal. Caranya meluapkan ketakutan yang tidak bisa ia jelaskan. Keringat bercucuran dari tubuh kekarnya yang penuh tato, uap panas seolah menguar dari pundaknya yang lebar. Ia memasukkan kunci, memutarnya, dan menarik pintu besi itu terbuka.Deg.Jantung Bimo seolah berhenti berdetak. Di atas tumpukan handuk bersihnya, terdapat sebuah benda yang tidak seharusnya ada di sana. Sebuah kotak plastik transparan kecil berisi gulungan benang jahit medis berwarna hitam dan sebilah jarum bedah melengkung yang berkila
آخر تحديث: 2026-03-27
Chapter: 3. TOPENG IBU PERI YANG RUSAKKamar wardrobe Mariska adalah definisi dari kemewahan yang memuakkan. Dindingnya dilapisi beludru krem, rak-rak kaca memamerkan koleksi tas seharga satu unit apartemen, dan lampu gantung kristal yang membiaskan cahaya keemasan. Di tengah ruangan itu, Mariska duduk di depan meja rias yang dipenuhi ring-light besar. Wajahnya dipoles sempurna, bulu matanya lentik, dan senyumnya... ah, senyum itu adalah aset terbesarnya.Di depan layar ponselnya, angka penonton Live Streaming terus merangkak naik. 15.000... 20.000... 30.000 penonton."Halo, kesayangan Ibu Peri! Hari ini aku mau unboxing koleksi terbaru dari Paris yang baru sampai tadi pagi," suara Mariska terdengar sangat manis, begitu lembut hingga hampir terdengar seperti nyanyian. "Semua hasil penjualan barang pre-loved minggu lalu sudah aku donasikan ke panti asuhan, lho. Terima kasih ya sudah bantu anak-anak yatim kita."Kolom komentar dibanjiri pujian. 'Cantik banget Kak Mariska!', 'Benar-benar malaikat tanpa sayap!', 'Panutan bange
آخر تحديث: 2026-03-27
Chapter: 2. RETAKAN PERTAMASuara riuh rendah di lapangan kampanye berubah menjadi gumaman horor yang mencekam. Ribuan pasang mata kini tidak lagi menatap Ardian sebagai pahlawan rakyat, melainkan sebagai pria yang berdiri di depan bukti kekejaman masa lalu. Audio tangisan remaja yang memohon ampun itu terus bergema, memantul di antara gedung-gedung tinggi, menciptakan atmosfer yang menyesakkan dada.Di atas panggung, Ardian merasa oksigen di sekitarnya mendadak hilang. Lampu sorot yang tadinya terasa membanggakan kini seolah-olah menjadi lampu interogasi yang menguliti setiap lapisan kemunafikannya. Ia mencoba berdehem, tangannya yang memegang mikrofon gemetar hebat hingga suaranya terdengar goyah di seluruh penjuru lapangan."Harap tenang... ini... ini adalah sabotase dari lawan politik! Teknisi sedang menangani ini!" teriak Ardian, namun suaranya pecah di akhir kalimat.Ia menoleh ke belakang, menatap videotron yang masih menampilkan gambar kacamata hancur bersimbah darah. Foto itu seolah-olah memiliki nyawa,
آخر تحديث: 2026-03-27
Chapter: 1. IBLIS BERMATA BIRUDi pusat Jakarta yang bising, lantai empat puluh dua apartemen The Horizon adalah sebuah kuburan sunyi. Hanya ada pendar biru dari tiga monitor melengkung yang menerangi rahang tegas seorang pria di balik hoodie hitam. Reihan. Tangannya diam, namun matanya yang sedingin es tertutup lensa Icy Blue menatap tajam ke arah layar tengah.Di sana, wajah Ardian terpampang raksasa. Pria itu sedang berdiri di atas panggung kampanye, dikelilingi ribuan lautan manusia yang memuja-mujanya seperti nabi baru. Ardian tampak sempurna, jas custom-made, senyum putih cemerlang, dan retorika yang membius.Pria itu tersenyum lebar, melambaikan tangan dengan gaya karismatik yang sangat terukur. Di belakangnya, sebuah videotron raksasa menampilkan wajahnya yang sedang tersenyum. Citra seorang calon pemimpin yang jujur, bersih, dan berwibawa."Keadilan adalah hak setiap warga! Saya tidak akan membiarkan ada satu pun dari kalian yang tertindas!" Suara Ardian menggelegar melalui pengeras suara, disambut teriaka
آخر تحديث: 2026-03-27