Se connecter"Kau punya waktu kurang dari tiga puluh menit, Peretas muda. Gunakan sisa waktumu dengan baik, karena enkripsi itu dibuat untuk memastikan bahwa dunia tidak akan pernah melihat rahasia di dalam galeriku."
Ejekan Julian Drax berdengung di dalam studio Gotik yang remang-remang, menyatu dengan pekikan konstan alarm frekuensi tinggi dari mainframe komputer lokal.Di sudut layar, angka digital merah terus menyusut tanpa ampun.00:28:45.Dua puluh delapan menit empat"Kau punya waktu kurang dari tiga puluh menit, Peretas muda. Gunakan sisa waktumu dengan baik, karena enkripsi itu dibuat untuk memastikan bahwa dunia tidak akan pernah melihat rahasia di dalam galeriku."Ejekan Julian Drax berdengung di dalam studio Gotik yang remang-remang, menyatu dengan pekikan konstan alarm frekuensi tinggi dari mainframe komputer lokal.Di sudut layar, angka digital merah terus menyusut tanpa ampun.00:28:45.Dua puluh delapan menit empat puluh lima detik sebelum pembersihan massal terjadi. Reihan langsung mengambil alih terminal utama Julian, menghubungkan laptop taktisnya dengan kabel intersep ganda. Jemarinya yang dingin mulai menghantam papan ketik dengan kecepatan ekstrem. Di atas monitor, barisan kode enkripsi destruktif bergerak turun bagai air terjun digital hitam-hijau, memakan, menimpa, dan memusnahkan seluruh klaster data kejahatan Julian yang tersebar di berbagai cloud server publik.Keringat dingin
Menembus sisa asap kelabu dari panel pilar yang hancur, Tuan Penjaga dan Reihan merangsek bagai badai melewati pintu besi sekunder yang terbuka sebagian. Mereka merayap masuk ke ruang pribadi Julian Drax. Sebuah ruangan melingkar berarsitektur gotik modern yang berfungsi sebagai studio kerja sekaligus ruang kendali darurat miliknya.Di tengah ruangan, di bawah pendaran redup lampu darurat, Julian sedang berusaha mengikat tubuh Rhena yang setengah sadar ke sebuah kursi pelarian yang terhubung dengan lift dinding vertikal khusus. Kehadiran kilat Unit 0 menghancurkan rencana pelarian instannya."Berhenti di tempat, Drax!" Tuan Penjaga meraung, suara baritonnya menggetarkan dinding ruangan.Julian bergerak secepat kilat. Dari balik celemek bedahnya, ia menarik sebuah pistol saku kaliber kecil dan melepaskan satu tembakan liar.DOR! Peluru menyerempet pelat baja di rompi taktis Tuan Penjaga, memercikkan bunga api. Namun, kemarahan murni yang
"Selamat datang di pameranku yang sesungguhnya, Unit 0. Langkah kaki kalian di dalam ruangan ini telah mengaktifkan sesuatu yang tidak akan bisa kalian hentikan dengan senjata api bodoh itu."Selesai Julian mengucapkan kalimat terkutuk itu, bunyi KLAK mekanis yang berat berdentang dari balik meja bedah besi.Detik berikutnya, keheningan aula neoklasik itu pecah oleh gemuruh raksasa yang mengerikan. Suara derit rantai besi tebal dan roda gigi berkarat yang bergesek kasar menggema dari dalam dinding beton, menggetarkan lantai marmer di bawah kaki mereka.BRAAAKK!Dari balik langit-langit, tiga bilah sekat jeruji besi tebal meluncur turun dengan kecepatan hidrolik murni yang tidak membutuhkan daya listrik kota. Sekat-sekat itu menghantam lantai dengan daya hantam masif, menimbulkan percikan api dan memotong aula menjadi beberapa bagian terisolasi.Tuan Penjaga dan Reihan seketika terpisah sejauh lima meter, terkurung di balik jeruji baja yan
BOOM!Dentuman peledak tempel analog menghancurkan engsel pintu sekat baja menghasilkan deburan debu dan serpihan beton purba dari langit-langit terowongan.Pintu baja tebal itu terhempas ke dalam, membentur lantai dengan suara dentang logam yang memekakkan telinga. Asap mesiu abu-abu yang pekat dan berbau belerang seketika menyembur keluar, mengaburkan pandangan.Tanpa menunggu asap mereda, Tuan Penjaga merangsek masuk terlebih dahulu. Senapan taktisnya terangkat lurus ke depan dada, memotong sisa kepulan asap dengan moncong senjata yang siap memuntahkan timah panas.Di belakangnya, Reihan melangkah masuk dengan jantung yang menghantam rongga dada begitu keras, menggenggam pistol cadangannya dengan tangan dingin yang gemetar hebat.Namun, begitu mereka melewati ambang pintu, pemandangan di dalam ruangan itu seketika membekukan darah di dalam nadi mereka.Di balik pintu itu, mereka tidak menemukan bunker militer yang berantakan a
"Nyalakan sentermu. Saatnya kita turun ke labirin dan mengambil kembali prajurit kita dengan cara lama."Pintu besi berbentuk lingkaran di sudut gardu utilitas kuno itu mengerang berat saat Tuan Penjaga mendobraknya dengan hantaman bahu yang keras. Begitu celah terbuka, aroma udara yang membusuk. Perpaduan pekat antara lumut basah, karat berabad-abad, dan bau tanah mati langsung menyengat indra penciuman, seolah-olah mereka baru saja membuka mulut neraka.Di bawah pendaran redup senter militer yang bergoyang, sebuah tangga besi vertikal yang berkarat mengarah lurus ke dalam kegelapan pekat perut bumi. Reihan melirik jam digital di pergelangan tangannya. Angka merah itu berkedip di kegelapan, memancarkan teror visual yang kejam.01:55:22.Satu jam lima puluh lima menit lagi sebelum tubuh Rhena mulai kaku dan Julian mengeksekusinya secara konvensional. Waktu seakan bertransformasi menjadi pisau yang perlahan menyayat kewarasan Reihan.
"Kita harus mematikan seluruh pasokan listrik di distrik pelabuhan tua itu terlebih dahulu untuk melumpuhkan sistem keamanan otomatisnya. Kita akan membuat seluruh wilayah kekuasaannya gelap gulita sebelum kita turun ke neraka."Rencana ekstrem itu langsung menghentak atmosfer di dalam van taktis Unit 0. Van itu melesat cepat membelah sisa-sisa kegelapan subuh Jakarta Utara yang berkabut, menuju ke satu titik fatal: Gardu Induk Distribusi Listrik Sektor Utara. Dengan lumpuhnya jaringan siber publik akibat ulah Julian sebelumnya, Reihan tidak memiliki cara untuk melakukan peretasan dari jarak jauh. Mereka harus menyusup langsung, menyentuh sirkuit fisik gardu tersebut secara manual. Sementara angka merah di sudut laptop Reihan terus berkedip kejam, menyusut melewati batas kritis.02:20:14.Waktu terus mengikis sisa hidup Rhena tanpa ampun. Setiap detik yang hilang terasa seperti jeratan yang semakin mencekik leher mereka.Van berhenti den
Ardian menghantamkan tubuhnya ke tengah kerumunan manusia yang memadati trotoar Sudirman di jam pulang kantor.Napasnya tersengal, berbau asam dan keputusasaan. Matanya yang cekung menyisir lautan kemeja kantoran yang rapi, mencari satu sosok yang ia yakini baru saja berdiri di dekat pil
Uap panas dari mesin pengering binatu membubung tinggi, menciptakan atmosfer pengap yang membuat paru-paru terasa sesak.Mariska berdiri gemetar di depan gunungan seprai kasar milik barak narapidana. Tangannya yang dulu selalu dihiasi kuku manicure seharga jutaan rupiah, kini memerah dan
Uap panas dari mesin pengering binatu membubung tinggi, menciptakan atmosfer pengap yang membuat paru-paru terasa sesak. Mariska berdiri gemetar di depan gunungan seprai kasar milik barak narapidana. Tangannya yang dulu selalu dihiasi kuku manicure seharga jutaan rupiah, kini
Reihan menarik napas dalam di balik masker hitamnya, membenarkan letak topi kurir yang menutupi sebagian dahinya.Ia berdiri di depan pintu mahoni setinggi tiga meter yang kini tampak kusam, tak lagi mengilap seperti saat Mariska pertama kali memamerkannya di vlog House Tour yang menembus







