FAZER LOGINSepuluh tahun lalu, mereka menghancurkan dunianya. Reihan hanyalah remaja yatim yang malang ketika tiga penguasa sekolah, Ardian sang calon politisi, Bimo sang atlet beladiri, dan Mariska sang "Ibu Peri" media sosial memfitnahnya, menghancurkan masa depannya, dan meninggalkan bekas luka jahit permanen di alisnya. Mereka tertawa saat kacamata tebalnya diinjak hingga hancur, membiarkan Reihan tenggelam dalam kegelapan tanpa harapan. Sepuluh tahun kemudian, kegelapan itu balas menatap mereka. Reihan kembali. Bukan lagi sebagai pecundang yang lemah, melainkan sebagai sosok misterius di balik tudung hitam dengan sepasang mata Icy Blue yang membekukan. Ia adalah "Hantu Digital" peretas jenius yang mampu meruntuhkan reputasi, mengunci aset bank, dan membongkar rahasia paling busuk hanya dengan satu ketukan tombol Enter. Satu demi satu, istana megah yang mereka bangun di atas penderitaan Reihan mulai retak. Ardian melihat karier politiknya hancur saat videotron kampanyenya menampilkan dosa masa lalunya. Mariska kehilangan topeng kecantikannya saat dunia melihat sisi iblisnya di depan jutaan pengikut. Bimo gemetar ketakutan saat masa lalunya datang menagih "jahitan" yang belum selesai. Reihan tidak menginginkan permintaan maaf. Ia menginginkan kehancuran total. Dalam 70 hari, ia akan memastikan para predator itu merasakan bagaimana rasanya menjadi mangsa di dunia yang mereka anggap milik mereka sendiri. "Sepuluh tahun aku menanti. Sekarang, bunganya sudah cukup besar untuk kalian bayar dengan nyawa."
Ver maisDi pusat Jakarta yang bising, lantai empat puluh dua apartemen The Horizon adalah sebuah kuburan sunyi. Hanya ada pendar biru dari tiga monitor melengkung yang menerangi rahang tegas seorang pria di balik hoodie hitam. Reihan. Tangannya diam, namun matanya yang sedingin es tertutup lensa Icy Blue menatap tajam ke arah layar tengah.
Di sana, wajah Ardian terpampang raksasa. Pria itu sedang berdiri di atas panggung kampanye, dikelilingi ribuan lautan manusia yang memuja-mujanya seperti nabi baru. Ardian tampak sempurna, jas custom-made, senyum putih cemerlang, dan retorika yang membius.
Pria itu tersenyum lebar, melambaikan tangan dengan gaya karismatik yang sangat terukur. Di belakangnya, sebuah videotron raksasa menampilkan wajahnya yang sedang tersenyum. Citra seorang calon pemimpin yang jujur, bersih, dan berwibawa.
"Keadilan adalah hak setiap warga! Saya tidak akan membiarkan ada satu pun dari kalian yang tertindas!" Suara Ardian menggelegar melalui pengeras suara, disambut teriakan histeris para pendukungnya yang mendamba perubahan.
"Hmmhhh ... " Reihan mendengus. Sebuah tawa hambar keluar dari bibir tipisnya. Ia meraba bekas luka jahit di atas alis kirinya, sebuah tanda mata yang ditinggalkan kelompok Ardian sepuluh tahun lalu. Luka itu adalah alasan mengapa ia berhenti menjadi manusia dan memilih menjadi bayangan.
"Keadilan, Ardian?" bisik Reihan. Suaranya rendah, serak, seolah keluar dari dasar sumur yang gelap. "Mari kita lihat seberapa adil dunia ini saat mereka tahu siapa kau sebenarnya."
Jari-jari Reihan mulai menari di atas keyboard. Bukan ketikan sembarangan, melainkan barisan instruksi coding yang menyerang protokol keamanan server utama pusat data kota. Kecepatannya tidak masuk akal. Barisan teks hijau mengalir deras, merobohkan satu demi satu tembok api (firewall) yang menjaga videotron raksasa di belakang panggung Ardian.
Baginya, keamanan digital mereka hanyalah pintu kayu yang rapuh. Terlalu mudah untuk seorang hantu yang telah menghabiskan satu dekade mengasah taringnya di kegelapan internet.
"Hancur kau!" seru Raihan setelah menekan tombol enter pada laptopnya.
Dalam satu kedipan mata, sorak-sorai di lapangan itu mendadak senyap.
Layar raksasa di belakang Ardian yang tadinya menampilkan slogan-slogan heroik, tiba-tiba berderit statis. Warna biru berubah menjadi merah darah. Audio yang tadinya megah digantikan oleh rekaman suara rendah yang terdistorsi, namun cukup jelas untuk didengar oleh seluruh massa.
"Tolong, Ardian... kacamataku pecah... aku tidak bisa melihat..."
Itu suara Reihan remaja. Gemetar, hancur, dan penuh isak tangis.
Reihan memejamkan mata. Tangannya mengepal di atas meja hingga buku jarinya memutih dan gemetar. Ia menarik napas panjang, menenangkan denyut nadinya yang mulai berpacu liar. Belum saatnya emosi mengambil alih. Ia kembali fokus ke layar. Matanya yang berwarna biru es berkilat tajam di bawah cahaya monitor. Lapisan pertahanan terakhir telah terbuka. Ia kini memiliki kendali penuh atas videotron raksasa di panggung kampanye itu.
"Hahaha! Lihat si buta ini! Orang miskin sepertimu memang tidak pantas melihat masa depan. Kacamata ini? Ini sampah, sama seperti pemiliknya!"
Lalu terdengar suara PRAKK!! bunyi plastik hancur yang diinjak sepatu lars, diikuti tawa terbahak-bahak yang sangat dikenali sebagai suara masa muda Ardian. Foto close-up kacamata tebal yang hancur berkeping di atas semen kotor muncul di layar, menggantikan wajah Ardian yang berwibawa.
Detik berikutnya, suara tangisan seorang remaja mulai membahana ke seluruh lapangan kampanye, menggetarkan dada setiap orang yang hadir, menggantikan janji-janji manis politik Ardian sang calon anggota dewan.
Reihan memejamkan mata sejenak, menghirup udara dingin ruangan itu dalam-dalam. Dadanya sesak, namun matanya tetap kering. "Sekarang masa depanmu akan berakhir di sini," gumamnya pelan.
Ardian membeku di atas panggung. Mikrofon di tangannya hampir jatuh. Ia menoleh ke belakang dengan wajah yang mendadak sepucat kertas. Ribuan orang di bawahnya mulai berbisik, lalu riuh rendah. Citra pria teladan itu retak dalam hitungan detik.
Reihan menyaksikan kekacauan itu dari monitornya. Ia tidak tersenyum. Kepuasan ini terlalu dingin untuk dirayakan. Ia menarik tudung hoodie-nya rendah-rendah, memakai masker hitam, dan beranjak dari kursi.
"Itu baru pembukaan, Ardian. Aku ingin melihat matamu saat semuanya benar-benar berakhir."
Lobi gedung Media Center di seberang lapangan kampanye itu sangat mewah, penuh dengan marmer dan aroma parfum mahal. Reihan berjalan menembus kerumunan orang yang panik keluar karena kekacauan di luar. Postur tubuhnya tegak, namun gerakannya sehalus hantu.
Saat ia melangkah menuju pintu keluar, sebuah rombongan pria berbadan besar masuk dengan terburu-buru. Di tengah mereka, seorang pria dengan otot yang seolah ingin meledakkan kaos ketatnya sedang memaki di telepon.
Bimo. Dia adalah target Reihan selanjutnya.
Pukul empat pagi di kantor pusat pemenangan Ardian adalah sarang kepanikan. Ruangan yang biasanya riuh dengan strategi politik itu kini dipenuhi aroma kopi basi dan kepulan asap rokok yang menyesakkan. Ardian duduk di kursi kebesarannya, dasinya sudah longgar, rambutnya yang klimis berantakan. Di hadapannya, tiga orang pria bertubuh tegap dari vendor logistik kampanye berdiri dengan wajah tidak bersahabat."Pak Ardian, kami sudah menyelesaikan pemasangan baliho dan panggung di lima titik sesuai kontrak. Jatuh temponya subuh ini. Jika pelunasan tidak masuk, kru kami akan membongkar semuanya sebelum matahari terbit," ucap pria tertua dengan nada mengancam.Ardian memijat pelipisnya yang berdenyut. "Tenanglah. Uangnya sudah siap di rekening yayasan. Bendaharaku sedang memprosesnya."Ia meraih laptopnya, mencoba masuk ke portal Internet Banking prioritas miliknya. Jemarinya mengetikkan kata sandi dengan cepat. Namun, alih-alih melihat saldo miliaran rupiah, layar monitornya hanya menampil
Apartemen Mariska yang biasanya riuh dengan suara musik dan tawa palsu para sosialita, kini terasa seperti bangkai gedung yang membusuk. Sejak skandal penyiksaan itu meledak di live streaming, pintu depan rumah itu tidak berhenti digedor wartawan, hingga akhirnya polisi memasang garis kuning. Mariska mengunci diri di kamar utama, menenggelamkan diri dalam botol-botol wine mahal dan obat penenang, membiarkan rumahnya jatuh dalam kegelapan.Namun, bagi Reihan, garis polisi hanyalah pita dekorasi yang tidak berarti.Ia bergerak di dalam saluran udara, merayap dengan presisi seorang teknisi bayangan. Sepatu taktisnya tidak menimbulkan suara saat ia turun melalui panel plafon di ruang lobi dalam. Reihan mendarat dengan lentur, tudung hoodie-nya tetap menutupi wajah. Mata Icy Blue-nya berpendar dingin, memindai ruangan yang kini berantakan dengan pecahan kaca dan botol kosong.Langkah pertamanya adalah menuju meja rias Mariska. Dengan sarung tangan hitam, ia mulai memindahkan barang-barang
Malam di Jakarta Pusat seharusnya menjadi waktu bagi Bimo untuk berpesta. Sebagai pemilik sasana bela diri ternama yang melatih anak-anak pejabat dan pengusaha, dunianya adalah tentang otot, kekuasaan, dan rasa hormat yang dipaksakan. Namun, sejak kejadian di lobi gedung Media Center malam itu, rasa hormat itu berganti menjadi paranoia yang mencekik.Bimo berdiri di depan loker pribadinya di dalam ruang ganti VIP sasananya. Napasnya masih menderu setelah sesi latihan tanding yang brutal. Caranya meluapkan ketakutan yang tidak bisa ia jelaskan. Keringat bercucuran dari tubuh kekarnya yang penuh tato, uap panas seolah menguar dari pundaknya yang lebar. Ia memasukkan kunci, memutarnya, dan menarik pintu besi itu terbuka.Deg.Jantung Bimo seolah berhenti berdetak. Di atas tumpukan handuk bersihnya, terdapat sebuah benda yang tidak seharusnya ada di sana. Sebuah kotak plastik transparan kecil berisi gulungan benang jahit medis berwarna hitam dan sebilah jarum bedah melengkung yang berkila
Kamar wardrobe Mariska adalah definisi dari kemewahan yang memuakkan. Dindingnya dilapisi beludru krem, rak-rak kaca memamerkan koleksi tas seharga satu unit apartemen, dan lampu gantung kristal yang membiaskan cahaya keemasan. Di tengah ruangan itu, Mariska duduk di depan meja rias yang dipenuhi ring-light besar. Wajahnya dipoles sempurna, bulu matanya lentik, dan senyumnya... ah, senyum itu adalah aset terbesarnya.Di depan layar ponselnya, angka penonton Live Streaming terus merangkak naik. 15.000... 20.000... 30.000 penonton."Halo, kesayangan Ibu Peri! Hari ini aku mau unboxing koleksi terbaru dari Paris yang baru sampai tadi pagi," suara Mariska terdengar sangat manis, begitu lembut hingga hampir terdengar seperti nyanyian. "Semua hasil penjualan barang pre-loved minggu lalu sudah aku donasikan ke panti asuhan, lho. Terima kasih ya sudah bantu anak-anak yatim kita."Kolom komentar dibanjiri pujian. 'Cantik banget Kak Mariska!', 'Benar-benar malaikat tanpa sayap!', 'Panutan bange












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.