LOGINSepuluh tahun lalu, mereka menghancurkan dunianya. Reihan hanyalah remaja yatim yang malang ketika tiga penguasa sekolah, Ardian sang calon politisi, Bimo sang atlet beladiri, dan Mariska sang "Ibu Peri" media sosial memfitnahnya, menghancurkan masa depannya, dan meninggalkan bekas luka jahit permanen di alisnya. Mereka tertawa saat kacamata tebalnya diinjak hingga hancur, membiarkan Reihan tenggelam dalam kegelapan tanpa harapan. Sepuluh tahun kemudian, kegelapan itu balas menatap mereka. Reihan kembali. Bukan lagi sebagai pecundang yang lemah, melainkan sebagai sosok misterius di balik tudung hitam dengan sepasang mata Icy Blue yang membekukan. Ia adalah "Hantu Digital" peretas jenius yang mampu meruntuhkan reputasi, mengunci aset bank, dan membongkar rahasia paling busuk hanya dengan satu ketukan tombol Enter. Satu demi satu, istana megah yang mereka bangun di atas penderitaan Reihan mulai retak. Ardian melihat karier politiknya hancur saat videotron kampanyenya menampilkan dosa masa lalunya. Mariska kehilangan topeng kecantikannya saat dunia melihat sisi iblisnya di depan jutaan pengikut. Bimo gemetar ketakutan saat masa lalunya datang menagih "jahitan" yang belum selesai. Reihan tidak menginginkan permintaan maaf. Ia menginginkan kehancuran total. Dalam 70 hari, ia akan memastikan para predator itu merasakan bagaimana rasanya menjadi mangsa di dunia yang mereka anggap milik mereka sendiri. "Sepuluh tahun aku menanti. Sekarang, bunganya sudah cukup besar untuk kalian bayar dengan nyawa."
View MoreBEEP! BEEP! BEEP!Layar monitor raksasa di hangar Unit 0 mendadak berkedip merah darah. Suara alarm frekuensi tinggi melengking memekakkan telinga, memutus keheningan fajar yang baru saja merayap naik.Barisan kode enkripsi hijau yang sedang disusun Reihan di sudut layar tiba-tiba terhenti, membeku, sebelum akhirnya terhapus secara beruntun bagai barisan kartu domino yang tumbang."Sial! Apa yang terjadi?!" Reihan tersentak dari kursinya.Jemarinya langsung menari gila di atas papan ketik, mencoba menahan laju keruntuhan data. Kopi hitamnya yang mendingin tersenggol, menumpahkan cairan gelap di tepi meja komando. Keringat dingin seketika membasahi pelipisnya."Sistem kita... sistem kita diserang balik!"Tuan Penjaga yang sedang memeriksa magazen senjatanya di sudut hangar mendongak tajam. Sepasang matanya menyipit, menangkap pendaran cahaya merah yang memantul di dinding baja markas mereka. Tanpa suara, ia melangkah mendekat, aur
"Dia memang monster, Reihan. Tapi malam ini kita membuktikan bahwa monster pun bisa dicuri rahasianya dari bawah tempat tidurnya sendiri. Perang dingin di balik layar sudah selesai. Sekarang, permainan yang sesungguhnya baru saja dimulai."Ucapan final Tuan Penjaga di dalam van logistik itu terus terngiang di kepala Reihan, bahkan ketika fajar menyingsing dan menyiram hangar Unit 0 dengan semburat cahaya keunguan yang dingin.Pukul lima pagi. Reihan sudah berganti pakaian bersih, namun aroma pekat zat kimia asam dan hawa klaustrofobik dari poros udara mansion Julian seolah masih menempel erat di kulitnya.Tubuh fisiknya telah aman di dalam markas, tetapi jiwanya tertinggal di bawah sana. Saraf di pelipisnya berdenyut konstan, dipicu oleh kombinasi sisa adrenalin dan segelas kopi hitam pekat yang sengaja ia biarkan mendingin di sudut meja komando."Sepuluh nama," gumam Reihan, memandangi manifes digital berjudul Eternal Beauty yang berhasil ia reng
"Jika sosiopat itu melongokkan kepalanya ke dalam lorong ini sebelum transfer datamu selesai, kita tidak akan pernah bisa keluar lewat jalan ini lagi."Suara ketukan pantofel Julian Drax di atas lantai marmer perpustakaan terdengar makin nyaring, merambat turun melalui dinding lorong beton bagai ketukan jam kematian.Di dasar laboratorium, Reihan merasakan dadanya menyempit parah. Oksigen seolah lenyap dari sekitar mereka. Matanya terpaku gila pada bilah kemajuan di layar laptop taktis yang masih merayap menyiksa.89%... 91%... 93%..."Tuan Penjaga, langkahnya sudah di ambang pintu tangga. Aku harus cabut kabelnya sekarang atau kita tertangkap!" Reihan berbisik panik, jemarinya yang gemetar hebat sudah bersiap menyentak konektor data.Keberanian digitalnya hancur lebur di hadapan ancaman fisik yang nyata.Namun, sebelum jemari Reihan sempat menarik kabel, sebuah cengkeraman sedingin es dan sekeras baja mengunci pergelangan tangannya.
"Siapkan laptopmu, Reihan. Kita baru saja melangkah masuk ke dalam perut monster yang sesungguhnya."Peringatan Tuan Penjaga bergema rendah, nyaris tenggelam oleh deru napas Reihan yang memburu. Mereka mulai menuruni undakan tangga beton yang dingin dan lembap.Di depan mereka, seberkas cahaya putih dari senter taktis Tuan Penjaga membelah kegelapan yang pekat, menyingkap dinding-dinding semen telanjang yang tidak dilapisi cat. Setiap langkah sepatu taktis mereka yang beradu dengan semen menghasilkan gema tipis yang janggal, seolah-olah ruang bawah tanah ini sengaja dirancang untuk meredam jeritan.Ketika mereka mencapai dasar tangga, deretan lampu tabung fluresen di langit-langit mendadak menyala otomatis, memancarkan cahaya putih steril yang menyilaukan mata.Reihan tersentak, refleks menutupi wajahnya dengan lengan. Saat matanya berhasil menyesuaikan diri dengan intensitas cahaya, darahnya seakan membeku.Ruangan di hadapan m
"Besok siang, saat sosiopat itu sibuk memikirkan Aura di ruang rapatnya, kita akan merangsek masuk secara fisik ke dalam rumahnya. Kau akan memasang alat pelacak fisik langsung pada server lokal di lantai tersembunyi itu."Kalimat final Tuan Penjaga semalam menjelma menjadi kenyataan yan
Click. Click. Click.Jemari Reihan bergerak dengan ritme yang konstan, mengeksekusi rentetan skrip eksploitasi siber tingkat tinggi di tengah keheningan hangar Unit 0 yang mencekam. Pukul dua dini hari. Pendaran biru dari monitor menyinari wajahnya yang pias, memantulkan bayangan ta
Pendaran biru dari deretan monitor komputer memantulkan bayangan dingin di wajah Reihan. Di dalam ruang kerja yang gelap gulita itu, hanya ada suara desing halus kipas CPU yang berputar konstan, beradu dengan ketukan ritmis jemarinya di atas keyboard.Aroma kopi hitam yang mulai mendingi
Jemari Reihan bergerak laksana badai di atas papan ketik, mengeksekusi baris-baris kode skrip yang langsung menyusup ke dalam server terdalam Drax Enterprises. Di bawah temaram lampu hangar Unit 0, wajahnya tampak pias namun memancarkan aura dingin yang mengerikan. Di layarnya, alg
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.