FAZER LOGIN"Menjadi milikku atau besok kamu tidur di jalanan tanpa masa depan. Pilih, Sari." Bagi Sari, dunia seolah tidak pernah berhenti menghujamnya dengan kesialan. Diusir dari kosan, tunggakan kuliah yang mencekik, hingga sebuah kecelakaan kecil yang menghancurkan spion mobil mewah milik Arya Pratama. Dosen baru yang memiliki tatapan sedingin es dan kekuasaan tanpa batas. Sari mengira Arya adalah penolong saat pria itu menawarkan jalan keluar. Namun, ia salah besar. Di balik wajah tampan dan wibawa seorang pendidik. Arya adalah predator yang siap menerkam mangsanya. Alih-alih uang ganti rugi, Arya menuntut sesuatu yang jauh lebih berharga: Tubuh Sari. Sari terpaksa menandatangani kontrak tak tertulis. Menjadi asisten pribadi Arya berarti harus siap melayani setiap keinginan pria itu. Kapan pun, di mana pun, dan dalam bentuk apa pun. Sari terjebak di antara rasa terpaksa yang mendalam dan getaran asing yang mulai membakar kulitnya setiap kali jemari Arya menyentuhnya. Ia hanyalah sebuah pelampiasan nafsu. Tapi mungkin ada rahasia gelap yang disembunyikan Arya di balik obsesi gilanya pada Sari?
Ver maisBunyi mesin ATM yang menderu pelan di pojokan minimarket terdengar seperti lonceng kematian bagi Sari. Ia menahan napas saat angka-angka di layar buram itu muncul.
Rp30.150,-
Lutut Sari terasa lemas seketika. Perutnya yang sedari pagi hanya diisi gorengan dingin sisa semalam mendadak melilit perih. Ia segera menarik kartunya, seolah-olah jika ia menatap layar itu lebih lama, sisa saldonya akan menguap habis.
Air mata mulai menggenang, tapi ia buru-buru menyekanya dengan punggung tangan yang kasar. Percuma. Menangis tidak akan mengubah tiga puluh ribu menjadi tiga juta.
Sari berjalan gontai membelah terik matahari menuju kampus. Keringat dingin mulai merembes di antara sela-sela rambut.
Saat ia melangkah masuk ke ruang kelas yang riuh, getaran ponsel di saku almamaternya membuat jantungnya mencelos.
Sebuah pesan W******p dari nomor asisten pengelola kos.
“Mbak Sari, besok sore kamar 302 harus kosong kalau tunggakan 3 bulan belum lunas. Ini perintah langsung dari pemilik yang baru. Mohon kerja samanya.”
Pandangan Sari mengabur. Pemilik baru? 'Pemilik baru itu pasti tidak punya hati,' batinnya. Ia meremas ponselnya hingga buku jarinya memutih.
Dunia seolah sedang berusaha mencekiknya perlahan, tanpa memberinya ruang untuk sekadar mengambil napas.
Tiba-tiba suasana kelas yang tadinya riuh oleh obrolan mahasiswa mendadak senyap, seolah-olah oksigen di ruangan itu baru saja ditarik keluar secara paksa.
Sari mendongak. Di ambang pintu, seorang pria berdiri dengan aura yang begitu mendominasi. Kemeja hitam yang membalut tubuh tegapnya tampak sangat mahal, dengan lengan yang digulung rapi hingga siku.
"Saya Arya. Saya dosen pengganti untuk mata kuliah ini," ucapnya singkat.
Suaranya berat dan rendah, bergema di setiap sudut ruangan yang kusam. Ia berjalan menuju meja dosen dengan langkah yang begitu tegas. Setiap dentuman sepatunya di atas lantai keramik seolah menginjak-injak sisa-sisa keberanian Sari.
Sari segera menunduk, mencoba bersembunyi di balik buku catatannya yang sudah penuh coretan angka. Namun, Sari merasakan perasaan aneh.
Ia tidak bisa mengabaikan sensasi aneh itu. Sensasi seperti sedang diawasi oleh pemangsa. Sari mencoba melihat. Setiap kali ia memberanikan diri melirik, ia selalu mendapati mata Pak Arya sedang tertuju padanya.
Mata Arya begitu tajam di balik kacamata beningnya. Bukan tatapan dosen yang menilai mahasiswanya, tapi tatapan yang dalam, gelap, dan sangat personal. Sari merasa telanjang karena tatapan itu.
Ia buru-buru merapatkan jaket almamaternya yang mulai udul di bagian ujung lengan, mencoba menutupi kemiskinan yang ia rasa terpampang nyata di bawah tatapan Arya.
Tiba-tiba, suara langkah Arya berhenti tepat di samping mejanya.
Aroma parfum maskulin yang sangat mahal. Campuran kayu cendana dan sedikit aroma mint langsung menyerbu indra penciuman Sari. Aroma yang begitu asing bagi hidungnya yang terbiasa dengan bau angkot.
Arya sedikit membungkuk. "Simpan ponselmu. Fokus, atau kamu saya anggap tidak hadir," bisiknya dingin.
Matanya sempat melirik layar ponsel Sari yang masih menyala, menampilkan pesan ancaman pengosongan kos itu. Wajah Sari memanas hebat. Ia segera menyambar ponselnya dan memasukkannya ke dalam tas dengan tangan yang gemetar.
Sepanjang jam pelajaran, Sari tidak bisa menangkap satu kata pun. Perasaannya hancur. Kegelisahan tentang hari esok. Tentang di mana ia akan tidur. Bercampur dengan rasa terintimidasi oleh keberadaan Arya yang seolah tidak pernah melepaskan pandangan darinya.
Begitu bel berbunyi, Sari adalah orang pertama yang membereskan barang-barangnya. Ia berlari keluar kelas, tidak peduli pada tatapan bingung teman-temannya.
Pikirannya kalut. Ia harus mencari pinjaman, atau kerja serabutan, atau apa pun.
Sari berlari menembus parkiran yang mulai sepi dengan kepala tertunduk, air mata yang ia tahan sejak tadi akhirnya tumpah, memburamkan pandangannya. Namun tiba-tiba.
BRAKK!
Bunyi patahan plastik yang keras menyentak Sari. Ia terjatuh, sikunya menghantam aspal yang kasar hingga perihnya menusuk tulang.
Di hadapannya, sebuah spion mobil sedan hitam mewah kini terkulai mengenaskan dengan kabel-kabel yang menjuntai.
Dunia seolah berhenti berputar. Sari mematung, menatap spion yang baru saja ia hancurkan. Ia tahu, harga benda itu mungkin lebih mahal dari seluruh harta yang ia punya.
Kaca mobil yang gelap itu turun perlahan. Dari balik kemudi, muncul wajah pria yang sejak tadi menghantui Sari.
Arya. Pria itu melepas kacamata hitamnya, menatap spionnya yang hancur, lalu beralih menatap Sari dengan seringai tipis yang sangat mematikan.
"Sari Amalia lagi..." ucap Arya dengan suara yang sangat tenang namun penuh ancaman. "Sepertinya, kamu punya banyak hutang padaku, Sari."
Sari merasa seluruh tenaganya menguap. Ia lemas di atas aspal, menatap Arya dengan tatapan kosong, menyadari bahwa hidupnya mungkin akan berhenti saat ini juga. Atau mungkin ada cara lain untuk menyelamatkan diri?
Langkah kaki Sari dan Arya beradu di atas lantai marmer sebuah pusat perbelanjaan kelas atas yang berkilauan. Arya tidak lagi berjalan beberapa langkah di depan Sari seperti seorang majikan, melainkan berjalan bersisian, menggandeng tangan Sari dengan jemari yang saling bertaut erat. Sore itu, Arya membawa Sari menyusuri gerai-gerai desainer ternama, membiarkan gadis itu memilih apa pun yang ia sukai meski pada akhirnya, Aryalah yang lebih banyak mengambilkan gaun-gaun dari gantungan untuk Sari coba. "Mas, ini terlalu banyak. Aku tidak butuh baju sebanyak ini," bisik Sari saat mereka berada di dalam sebuah butik bergaya Prancis. Arya tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya berdiri di depan pintu ruang ganti saat Sari keluar mengenakan gaun sutra berwarna biru pucat yang pas di tubuhnya. Tatapan Arya melembut, sebuah binar kekaguman terpancar jelas dari matanya. Ia melangkah mendekat, berdiri tepat di belakang Sari, dan menatap pantulan
Arya menarik tangan Sari, membawanya menembus kerumunan manusia yang memadati festival malam di pusat kota.Di bawah pendar lampu warna-warni dan kepulan aroma jajanan kaki lima, Arya tidak lagi tampak seperti dosen yang ditakuti di universitas. Ia hanya pria biasa dengan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, tertawa kecil saat Sari hampir tersandung karena terlalu asyik melihat kembang api yang meledak di langit malam."Hati-hati, Sari. Matamu di depan, bukan di langit," goda Arya sambil mengeratkan genggamannya.Sari tertawa, sebuah tawa lepas yang tidak lagi tertahan oleh rasa takut atau beban kontrak. "Habisnya bagus sekali, Mas! Aku jarang melihat festival sebesar ini."Malam itu, mereka benar-benar melupakan dunia luar. Arya membawa Sari mencoba segala hal, mulai dari mengantre martabak manis yang sangat ramai hingga bermain menembak sasaran di salah satu stan permainan.Saat Arya gagal menjatuhkan semua kaleng, Sari tid
Langkah kaki Arya yang tegas menggema di sepanjang koridor, namun kali ini tidak ada aura gelap yang mengikuti setiap ayunannya.Ia masuk ke dalam ruang kelas seminar dengan wibawa yang sama, tetapi sorot matanya yang biasanya sedingin es kini tampak lebih tenang, hampir mendekati teduh. Ia meletakkan tas kulitnya di meja dosen, lalu menyapu pandangan ke seluruh ruangan yang mendadak hening.Di barisan depan, Sari duduk dengan punggung tegak. Jika biasanya ia akan menunduk dalam-dalam seolah ingin menghilang ke bawah lantai, kali ini ia berani mengangkat wajah. Ia memperhatikan Arya yang sedang menyiapkan materi di layar proyektor. Melihat bagaimana jari-jari panjang pria itu bergerak lincah, jari-jari yang semalam membelai rambutnya dengan penuh kelembutan."Selamat pagi semuanya," sapa Arya. Suaranya bariton, mengisi setiap sudut ruangan tanpa ada nada intimidasi yang biasa ia gunakan untuk membungkam mahasiswa."Hari ini kita akan mel
Genggaman tangan Arya tidak ia lepaskan hingga mereka sampai di rumah. Jemari panjang pria itu masih bertaut erat pada jemari Sari bahkan saat mereka berjalan menuju kamar. Melewati keheningan rumah yang kini tidak lagi terasa mencekik, melainkan tenang dan privat."Mas... mau mandi duluan?" tanya Sari lirih saat mereka sudah berada di dalam kamar.Arya menoleh, menatap Sari dengan tatapan yang sulit diartikan namun terasa sangat lembut. "Bersama saja. Biar lebih cepat, setelah itu kita makan malam."Tidak ada perintah yang dingin, tidak ada paksaan yang mengintimidasi. Di bawah guyuran air hangat, suasana terasa jauh berbeda dari malam-malam sebelumnya.Jika dulu air yang mengalir terasa seperti saksi bisu ketakutan Sari, kini air itu seolah membasuh sisa-sisa ketegangan mereka."Rambutmu sudah terlalu panjang, Sari," gumam Arya sambil membantu membasuhkan sampo ke rambut gadis itu. Gerakannya sangat hati-hati, jemarinya memijat kulit ke
Suara derit kursi yang bergeser karena dorongan tubuh Arya terdengar seperti suara guntur di telinga Sari.Ruang kelas itu kini terasa sangat sempit, seolah-olah oksigen telah habis diisap oleh ketegangan seksual yang meledak-ledak di antara mereka.Punggung Sari terhimpit meja
Keheningan di dalam kamar itu terasa mencekik, seolah-olah dinding marmer yang kokoh di sekeliling mereka perlahan menghimpit Sari hingga ia sulit bernapas.Perintah Arya untuk membuka kemeja putih itu masih menggantung di udara, dingin dan tajam seperti mata pisau.Sari mematun
Setiap langkah yang diambil Sari untuk menaiki anak tangga menuju lantai dua terasa seperti perjalanan menuju tiang gantungan.Lorong rumah mewah itu begitu sunyi, hanya menyisakan suara detak jantungnya yang berpacu gila-gilaan, seolah ingin melompat keluar dari dadanya.Kamar utama itu terletak d
Arya tidak menunggu jawaban dari Sari. Pria itu berbalik dan menaiki anak tangga menuju lantai dua dengan langkah tenang namun berwibawa.Sari hanya bisa mematung di ruang tengah, menatap punggung tegap itu menghilang di balik pintu kamar utama. Kesunyian rumah itu kembali menghimpitnya, membuatnya


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.