Se connecter"Menjadi milikku atau besok kamu tidur di jalanan tanpa masa depan. Pilih, Sari." Bagi Sari, dunia seolah tidak pernah berhenti menghujamnya dengan kesialan. Diusir dari kosan, tunggakan kuliah yang mencekik, hingga sebuah kecelakaan kecil yang menghancurkan spion mobil mewah milik Arya Pratama. Dosen baru yang memiliki tatapan sedingin es dan kekuasaan tanpa batas. Sari mengira Arya adalah penolong saat pria itu menawarkan jalan keluar. Namun, ia salah besar. Di balik wajah tampan dan wibawa seorang pendidik. Arya adalah predator yang siap menerkam mangsanya. Alih-alih uang ganti rugi, Arya menuntut sesuatu yang jauh lebih berharga: Tubuh Sari. Sari terpaksa menandatangani kontrak tak tertulis. Menjadi asisten pribadi Arya berarti harus siap melayani setiap keinginan pria itu. Kapan pun, di mana pun, dan dalam bentuk apa pun. Sari terjebak di antara rasa terpaksa yang mendalam dan getaran asing yang mulai membakar kulitnya setiap kali jemari Arya menyentuhnya. Ia hanyalah sebuah pelampiasan nafsu. Tapi mungkin ada rahasia gelap yang disembunyikan Arya di balik obsesi gilanya pada Sari?
Voir plusSetiap langkah yang diambil Sari untuk menaiki anak tangga menuju lantai dua terasa seperti perjalanan menuju tiang gantungan.Lorong rumah mewah itu begitu sunyi, hanya menyisakan suara detak jantungnya yang berpacu gila-gilaan, seolah ingin melompat keluar dari dadanya.Kamar utama itu terletak di ujung lorong, sebuah pintu kayu jati besar yang tampak seperti gerbang menuju ruang kehancuran hidupnya.Sari tidak ingin melangkah lebih jauh, namun ia sadar bahwa ia tidak memiliki jalan untuk kembali. Di belakangnya hanya ada kemiskinan dan pengusiran, sementara di depan sana adalah takdir yang harus ia tebus.Dengan jemari yang gemetar hebat, Sari mendorong pintu jati besar itu. Suara engsel yang bergeser halus terdengar seperti lonceng kematian bagi ketenangannya.Begitu pintu terbuka, aroma sandalwood yang pekat dan maskulin langsung menyergap, menguasai seluruh rongga paru-parunya.Sari mematung. Di sana, di atas ranjang king size yang tertutup sprei sutra abu-abu, Arya sudah menung
Arya tidak menunggu jawaban dari Sari. Pria itu berbalik dan menaiki anak tangga menuju lantai dua dengan langkah tenang namun berwibawa.Sari hanya bisa mematung di ruang tengah, menatap punggung tegap itu menghilang di balik pintu kamar utama. Kesunyian rumah itu kembali menghimpitnya, membuatnya merasa seperti partikel debu yang tersesat di istana kaca.Beberapa menit kemudian, Arya kembali turun. Di tangannya tersampir selembar kemeja putih polos yang tampak sangat kontras dengan kaus hitam yang ia kenakan. Ia melemparkan kemeja itu ke arah Sari."Bersihkan dirimu," perintah Arya, suaranya dingin tak tersentuh. "Kamar mandi tamu ada di sebelah sana. Pakai apa pun yang ada di dalamnya. Sabun, sampo, parfum, apa pun. Saya ingin kamu terlihat bersih, segar, dan wangi."Sari menangkap kemeja itu dengan tangan gemetar. Bahannya terasa sangat halus dan mahal di kulitnya yang kasar."Saya juga sudah memesankan makanan," lanjut Arya sembari melirik jam tangannya yang mewah. "Setelah mandi
"Tidak, Pak... saya tidak bisa. Saya bukan wanita seperti itu."Suara Sari pecah, nyaris tak terdengar di antara isak tangis yang menyesakkan dadanya. Ia menggeleng kuat-kuat, mencoba mengusir bayangan mengerikan dari tawaran yang baru saja keluar dari mulut Arya.Melayani kebutuhan seksual? Pikiran itu menghantamnya lebih keras daripada benturan aspal di parkiran tadi. Ia miskin, ia lapar, dan ia hampir diusir, tapi ia masih memiliki satu hal yang ia jaga setengah mati seumur hidup, kehormatannya.Arya tidak bergeming. Ia tidak tampak terkejut, apalagi merasa bersalah karena telah mengusulkan sesuatu yang merendahkan martabat seorang manusia. Alih-alih melunak melihat air mata Sari yang tumpah tak terbendung, pria itu justru menyandarkan punggungnya ke kursi dengan sangat tenang.Ia menatap Sari seolah gadis itu hanyalah sebuah objek eksperimen yang sedang ia amati reaksinya di bawah mikroskop. Tidak ada belas kasihan di mata gelap itu, hanya ada perhitungan logis yang dingin dan tak
Langkah kaki Sari terasa berat saat mengikuti punggung tegap Arya masuk ke dalam rumah. Begitu pintu kayu besar itu tertutup dengan bunyi klik otomatis yang halus, Sari merasa seolah dunia luar baru saja terputus darinya.Rumah itu luas, namun terasa sangat sepi dan dingin. Minimalis, tanpa banyak hiasan, didominasi warna abu-abu gelap dan pencahayaan yang temaram.Tidak ada tanda-tanda kehidupan lain. Tidak ada suara asisten rumah tangga, tidak ada suara televisi. Hanya suara detak jam dinding yang terdengar seperti hitung mundur nasibnya."Duduk," perintah Arya tanpa menoleh.Ia memandu Sari ke sebuah ruang tengah yang didominasi sofa kulit hitam besar. Arya duduk di kursi tunggalnya, sementara Sari memilih duduk di pinggiran sofa, menjaga jarak sejauh mungkin.Ia meremas tali tasnya hingga jari-jarinya memutih. Rasa lapar yang tadinya melilit seolah hilang, berganti dengan rasa mual akibat adrenalin yang terpompa cepat.Arya meletakkan gelasnya di atas meja kaca di depan mereka. Ia






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.