Chapter: 97. Saling Menekan"Tadi Ibu yang telepon," kata Lara, suaranya terdengar pelan di tengah heningnya ruang tengah. Damian menggenggam jemari Lara yang dingin, mengusap punggung tangannya dengan ibu jari. "Ada apa di Bogor? Ada masalah?" Lara menarik napas panjang, berusaha menata kalimatnya agar tidak terdengar panik. "Sore tadi ada pria asing naik mobil plat Jakarta mampir ke warung dekat rumah. Dia nanya-nanya soal keluarga kita ke tetangga. Nanya pekerjaan Ayah, nanya tempat kerjaku di Jakarta, sampai nanya riwayat sakit Ibu dulu." Pegangan tangan Damian mendadak mengeras. Sorot matanya yang semula hangat perlahan berubah menjadi sedingin es. Rahang pria itu mengatup rapat, urat-urat di pelipisnya menonjol samar. "Mobil plat Jakarta?" tanya Damian dengan nada suara yang turun satu oktaf. Lara mengangguk. Tatapannya menunduk menatap jemari mereka yang saling be
Terakhir Diperbarui: 2026-08-29
Chapter: 96. Telepon Tengah MalamPintu lift berdenting membuka tepat pukul setengah empat sore.Damian melangkah keluar dengan langkah panjang dan mantap, jasnya sudah dilepas dan tersampir di lengan, menyisakan kemeja putih dengan lengan yang tergulung rapi hingga siku.Begitu melewati meja sekretariat, tatapannya langsung tertuju pada map kulit tebal berwarna hitam berlogo Danuarta Group yang tergeletak di atas meja kerja Lara.Lara mendongak dari layar komputernya, langsung bangkit berdiri seraya membawa map tersebut."Rapatnya sudah selesai, Pak?"Damian mengangguk tipis, memberi isyarat dengan dagunya agar Lara mengikutinya masuk ke ruang kerja. Begitu pintu tertutup rapat
Terakhir Diperbarui: 2026-08-29
Chapter: 95. Menyelidiki LaraAroma parfum bunga lili yang tajam dan mahal menyusup ke area sekretariat lantai eksekutif sekitar pukul dua siang.Suara ketukan teratur sepatu hak tinggi berhenti tepat di depan meja kerja Lara.Lara yang sedang memeriksa lampiran berkas penawaran vendor mendongak.Amara berdiri di sana, mengenakan setelan blazer warna krem berpotongan pas badan dengan kacamata hitam yang tersampir di kerah bajunya. Di tangannya, ia memegang sebuah map kulit berlogo Danuarta Group."Selamat siang, Nona Amara," sapa Lara, langsung bangkit dari kursinya. "Ada yang bisa saya bantu?"Amara tidak langsung menjawab. Sepasang matanya menatap Lara dari ujung rambut hingga u
Terakhir Diperbarui: 2026-08-28
Chapter: 94. Kedatangan AmaraNapas Lara masih memburu pendek saat Damian membantunya berdiri. Kakinya sempat goyah begitu kembali menyentuh karpet tebal, namun lengan kokoh Damian sigap menahan pinggangnya.Ruangan itu masih dipenuhi aroma gairah yang pekat bercampur wangi parfum mereka yang beradu.Damian membantu Lara mengenakan kembali pakaiannya. Ia kemudian menyusupkan kemeja putihnya ke dalam celana bahan, dua kancing teratasnya masih terbuka lebar, memperlihatkan dada bidang yang mengilap oleh lapisan tipis keringat.Saat Lara baru saja mengancingkan kembali blazer abu-abunya dengan jemari yang sedikit gemetar, bunyi nyaring memecah keheningan lantai eksekutif.Tit-tit-tit... Krek.
Terakhir Diperbarui: 2026-08-28
Chapter: 93. Bercinta di KantorLara meremas bahu kemeja Damian, merasakan otot-otot pria itu yang menegang kencang. Ia tidak bisa lagi menahan sensasi mendebarkan yang merayap liar di darahnya. Tangan Damian meluncur ke bawah, mengangkat ujung rok pensil Lara ke atas paha seraya menuntut keintiman yang lebih dalam. Suara napas mereka yang memburu berat bersahutan dengan bunyi gesekan kain di atas meja kayu.Damian menarik sedikit wajahnya, matanya yang gelap menatap Lara dengan lapar yang tak tersembunyikan. “Kamu tahu betapa gila aku melihat kamu seharian di balik kemeja formal ini, hm?” bisiknya serak, sementara jemarinya sudah menyusup ke bawah rok, meraba permukaan stoking tipis yang membalut paha dalam Lara. “Aku hampir tidak bisa fokus.”Lara hanya bisa menggigit bibir, pinggangnya refleks terangkat saat jari Damian menyentuh tepi celana dalam renda yang sudah basah. “Damian… di sini…” suaranya parau, tapi tidak ada penolakan di dalamnya. Justru tangannya semakin erat mencengkeram kemeja pria itu, seolah
Terakhir Diperbarui: 2026-08-27
Chapter: 92. Isi Ulang EnergiSiska sedang menata map laporan di meja sekretariat saat Lara melangkah keluar dari lift lantai eksekutif. Matanya seketika berbinar lega saat melihat sosok Lara yang mengenakan setelan blazer abu-abu dan rok pensil rapi."Akhirnya masuk juga, Ra!" seru Siska setengah berbisik seraya bangkit dari kursinya. "Gimana Bogor? Seger nggak?"Lara tersenyum seraya meletakkan tas kerjanya di atas meja. "Lumayan, Mbak. Karena udaranya sejuk kali ya, jadi kepala rasanya enteng lagi."Siska memperhatikan wajah Lara lekat-lekat, lalu tersenyum tipis penuh arti. Sebagai orang yang sudah lama bekerja di lingkaran utama pimpinan, Siska tentu tahu betul tekanan yang melanda lantai ini selama beberapa hari terakhir, termasuk ketegangan yang melibatkan Nyonya Kemala dan Nona Amara."Syukurlah kalau sudah lebih tenang," ujar Siska dengan nada tulus seraya menepuk pelan lengan Lara. "Kerjaan di sini memang nggak ada habisnya, Ra. Yang penting kamu jaga diri baik-baik. Jangan biarkan apa pun di luar sana
Terakhir Diperbarui: 2026-08-27