Chapter: 76. Genit Sekaligus MisteriusPujian sekaligus sindiran yang terlontar dari bibir Mirna menggantung di udara, membuat dada Joni terasa sesak. Namun, ia tidak membiarkan raut wajahnya goyah sedikit pun. Sebagai pria yang terbiasa mengendalikan keadaan di bawah tekanan, Joni menarik napas pendek dan membalas tatapan menelisik wanita itu dengan senyum sopan."Tante Aya orang baik, Bu. Beliau banyak bantu saya selama tinggal di sana," sahut Joni tenang.Ratna yang duduk di sebelah Mirna tertawa renyah, mengibaskan tangannya pelan ke udara seraya melirik temannya itu dengan nada menegur santai. "Kamu ini ada-ada aja, Jeng Mirna. Anak baru saya ini jangan digoda begitu, nanti grogi kerjaannya malah berantakan.""Loh, kan cuma ngomong kenyataan, Jeng," timpal Mirna enteng seraya tertawa kecil, melipat kedua tangannya di atas meja kaca. "Zaman sekarang jarang ada anak muda yang sopan dan proporsinya sebagus ini. Aya memang pintar cari teman tinggal."Joni sedikit menundukkan kepala, bersiap membalikkan badan untuk kemba
آخر تحديث: 2026-10-13
Chapter: 75. Wanita Mencurigakan[Lo pikir ini cuma gertakan kosong?]Di bawah kalimat balasan itu, sebuah gambar terlampir.Dada Joni seperti dihantam palu godam saat ia membuka foto itu.Potret siluet di area pantry dapur rumah Rama. Meski wajahnya tak terlihat, tapi Joni dapat mengenali dirinya sedang menggendong Aya yang melingkarkan kaki di pinggangnya, kedua tangan wanita itu memeluk leher Joni tanpa jarak.Napas Joni tersendat di tenggorokan.Sudut bidikan kamera itu diambil dari celah kisi-kisi teras belakang… area tertutup yang hanya bisa diakses melewati pekarangan. Orang luar tidak mungkin bisa memanjat ke sana tanpa memicu sensor keamanan.Siapa pun yang mengambil foto ini, dia tidak berdiri di pinggir jalan. Dia berdiri di dalam pekarangan rumah saat Joni dan Aya tengah terlena."Jon, tolong cek steamer susu di meja depan dong. Tekanannya agak turun," suara Doni tiba-tiba memecah lamunan pemuda itu.Joni segera mengunci layar ponselnya, memasukkannya kembali ke saku, lalu mengatur napasnya agar tetap te
آخر تحديث: 2026-10-13
Chapter: 74. Joni MembalasJoni melangkah keluar dengan jaket bomber hitam dan tas selempang kecil. Di dekat pintu garasi, Aya sudah menunggunya dengan gaun terusan kasual. Senyum manis terbit di wajah sang nyonya rumah, berusaha menghapus sisa ketegangan pertengkaran dengan Rama satu jam lalu."Buru-buru banget, Jon," tegur Aya pelan seraya melangkah mendekat, tangannya terulur merapikan kerah jaket Joni dengan gerakan manja. "Masih ada waktu setengah jam lagi kan sebelum shift kamu mulai? Duduk dulu sebentar di dalam."Aroma parfum mawar Aya kembali menyergap hidung Joni, namun kali ini saraf-saraf di kepala pemuda itu menolak untuk terbuai. Setiap detik yang terbuang di rumah ini terasa seperti berjalan di atas ladang ranjau."Nggak bisa, Tante. Jalanan arah kafe biasanya padat jam segini. Joni nggak mau telat," sahut Joni tenang seraya mundur selangkah secara halus, melepaskan sentuhan jemari Aya dari bajunya.Aya sempat mengerucutkan bibirnya sebal, namun melihat sorot mata Joni yang tegas dan tak bisa d
آخر تحديث: 2026-10-12
Chapter: 73. Orang IsengLayar ponsel itu menggelap otomatis, namun kata-kata dalam pesan singkat tadi masih terpatri di kepala Joni bagai besi panas.[Gue tahu apa yang lo lakuin sama nyonya rumah itu.] Joni tidak membalas. Jemarinya diam membeku di atas layar. Membalas pesan itu secara impulsif hanya akan mengonfirmasi kepanikan dan memberi si pengirim posisi tawar yang lebih kuat. Sebaliknya, Joni menekan tombol hapus riwayat notifikasi, mengunci ponselnya, lalu meletakkannya kembali ke atas meja.Malam itu, Joni nyaris tidak memejamkan mata sedetik pun.Ia berbaring menatap langit-langit kamarnya, membedah setiap detik kejadian beberapa jam lalu dengan kepala dingin. Mungkinkah Rama tidak sepenuhnya mabuk? Apakah suara sentakan tangan dan bentakan kasarnya pada Aya di sofa tadi hanyalah sandiwara untuk menjebaknya? Atau Rama sengaja menyewa detektif swasta untuk memata-matai istrinya selama ia dinas di luar kota?Namun, bayangan seringai Dimas di depan bar semalam juga mendadak melintas. Pemuda itu bis
آخر تحديث: 2026-10-12
Chapter: 72. Pesan dari Nomor AsingKepanikan menyergap kamar tidur utama dalam hitungan detik.Darah Joni yang tadinya mendidih karena gairah seketika berganti menjadi lonjakan adrenalin.Tanpa sepatah kata pun, Joni mencabut miliknya dari tubuh Aya, melompat turun dari ranjang, dan menyambar pakaiannya yang berserakan di atas karpet.Aya kelabakan setengah mati. Gaun tidur renda hitam yang robek dan kusut disingkirkannya tergesa-gesa ke dalam keranjang cucian kotor.Dengan tangan yang gemetar hebat, ia menarik daster tidur panjang dari lemari, memakainya asal-asalan seraya merapikan seprai yang berantakan.Lilin aromaterapi mawar di atas nakas ia tiup padam hingga menyisak
آخر تحديث: 2026-10-11
Chapter: 71. Goyangan MautUjung kejantanan Joni yang panas dan tegang menekan kembali bibir kewanitaan Aya yang masih basah.Dengan napas tersengal pelan, Aya perlahan menurunkan pinggulnya. Otot-otot paha wanita matang itu bergetar menahan bobot tubuhnya sendiri saat ia menenggelamkan diri seutuhnya, membiarkan miliknya meregang menelan kepunyaan Joni hingga mentok ke pangkal."Nngghh... ahhh!"Aya melenguh panjang, kepalanya mendongak ke atas dengan leher jenjang yang menegang. Matanya terpejam rapat merasakan kepenuhan yang luar biasa padat menancap di dalam rongga tubuhnya.Joni yang berbaring di bawahnya mengertakkan rahang kuat-kuat. Otot-otot perutnya berkontraksi keras. Sensasi diselimuti hangat dari sudut atas ini terasa begitu menj
آخر تحديث: 2026-10-11
Chapter: 159. Malam PertamaTelapak tangan Damian yang besar dan hangat menelusuri rahang Lara dengan ujung ibu jari yang bergerak pelan."Lara," panggil Damian berbisik. Suaranya serak, rendah, dan sarat perhatian."Hm?" Lara menatap balik manik mata gelap pria itu. Tangannya yang semula bertengger di dada Damian perlahan naik, merayap hingga ke tengkuk kokoh suaminya."Badanmu benar-benar tidak apa-apa?" Damian bertanya memastikan, seolah ingin menegaskan batas kenyamanan wanita itu untuk terakhir kalinya sebelum melangkah lebih jauh. "Dokter memang bilang rahimmu sudah pulih total, tapi kalau kamu masih cemas... kita bisa berhenti kapan saja."Lara tersenyum tipis. Rasa haru yang hangat menyelinap di balik rusuknya. Sikap penuh kehati-hatian Damian justru menepis setiap sisa ketakutan yang pernah ada di benaknya.Lara menarik tengkuk Damian ke bawah, mempersempit sisa jarak di antara bibir mereka. "Aku nggak cemas sama sekali, Damian. Aku percaya sama kamu."Ciuman itu mendarat lembut. Damian memulainya denga
آخر تحديث: 2026-10-05
Chapter: 158. BetahLara melangkah masuk ke dalam rumah. Matanya menyapu ruang depan yang didesain minimalis. Sofa panjang menghadap ke dinding, sementara di sisi kiri terdapat dapur bersih dengan meja bar kecil yang langsung berhadapan dengan pintu kaca geser ke arah taman belakang. "Taman belakangnya lucu banget," gumam Lara seraya melangkah ke dekat pintu kaca. Di luar, sepetak rumput mini tertata rapi diapit pohon kamboja berbunga putih dan deretan tanaman bambu air di sepanjang pagar bata merah. Damian menyusul di belakangnya, membawa dua koper sedang di kedua tangannya. Pria itu meletakkan koper di samping tangga kayu menuju lantai dua. "Dulu waktu beli, aku minta bagian belakang dibuat terbuka begini supaya ada angin masuk," kata Damian seraya melonggarkan kancing teratas kemejanya. "Kamar tidur ada di atas. Mau lihat sekarang?" Lara menoleh dan mengangguk antusias. Mereka menaiki anak tangga kayu yang tidak berderit sama sekali. Di lantai dua, kamar tidur utama menghadap langsung
آخر تحديث: 2026-10-04
Chapter: 157. Memulai Hidup Baru"Bagaimana para saksi? Sah?""Sah.""Alhamdulillah."Kata itu meluncur serempak di ruang tengah yang sejuk. Hembusan napas lega terdengar jelas dari beberapa orang yang duduk mengelilingi meja kayu berkain putih polos.Lara yang duduk di samping Damian menundukkan kepala sejenak, merasakan getaran hangat yang mendadak meluap di balik dadanya. Di atas meja, dua map dokumen hijau dan merah marun berlogo emas sudah terbuka lebar.Petugas pencatat nikah tersenyum ramah seraya menyodorkan pulpen bertinta hitam ke hadapan mereka. "Silakan tanda tangan di sebelah sini, Pak Damian, Bu Lara."Damian mengambil pulpen itu tanpa ragu. Goresan tanda tangannya mantap dan tegas di atas kertas tebal bermaterai. Setelah itu, ia menyerahkan pulpennya kepada Lara.Tangan Lara sempat gemetar tipis saat menyentuh kertas, namun telapak tangan Damian yang hangat langsung bertumpu di paha atasnya, menyalurkan ketenangan yang ia butuhkan. Tanda tangan kedua resmi terukir berdampingan.Arman, yang berdiri rap
آخر تحديث: 2026-10-03
Chapter: 156. Dunianya Sudah RuntuhPlak.Sebuah ember plastik hitam berisi air cucian sabun yang sudah keruh dibanting tepat di depan kaki Amara. Percikan airnya mengenai ujung celana katun biru tua bernomor punggung tahanan yang ia kenakan."Sikat sampai kerak lumutnya rontok," tegur seorang wanita gempal dengan tato naga pudar di lengan kanannya. Wanita itu melempar sikat ijuk bergagang patah ke lantai semen. "Giliran lu bebersih lorong sel."Amara mematung di samping pintu jeruji besi. Matanya yang merah menyala menatap sikat kotor itu dengan rasa jijik yang luar biasa."Lu nggak tahu siapa gue?!" desis Amara tajam, suaranya tercekat di tenggorokan. "Keluarga Danuarta bisa beli tempat busuk ini dan seisinya dalam semalam. Jangan berani-berani perintah gue!"Wanita bertato itu tidak gentar sedikit pun. Ia justru mendengus geli, melangkah maju dua langkah hingga tubuh besarnya membayangi Amara. Telunjuknya mengetuk pelipis Amara dengan dorongan kasar."Keluarga Danuarta yang mana, Neng? Yang rekeningnya disita kejaks
آخر تحديث: 2026-10-02
Chapter: 155. Mau Nempel TerusLara membuka matanya perlahan.Sensasi pertama yang menyapanya pagi itu adalah kehangatan dada kokoh yang menempel di pipinya, serta detak jantung yang berdenyut tenang dan berirama. Lengan kekar Damian masih melingkar erat di pinggangnya, mengunci tubuh Lara seolah enggan memberi celah bagi udara dingin untuk menyusup.Lara mendongak sedikit. Wajah Damian tertidur lelap tepat di depannya.Dalam tidurnya, wajah mantan direktur itu tampak polos, santai, dan jauh lebih muda. Beberapa helai rambut hitamnya jatuh berantakan di dahi.Senyum kecil tersungging di bibir Lara.Perlahan, tangannya terangkat dari balik selimut. Jemarinya menyentuh helai rambut di kening Damian, lalu turun menyusuri rahang pria itu yang mulai ditumbuhi bayang cambang tipis. Sentuhannya sangat ringan, hampir menyerupai sapuan angin.Namun belum sempat Lara menarik kembali tangannya, jemari Damian yang bebas mendadak bergerak cepat menangkap pergelangan tangannya.Mata Damian terbuka perlahan. Manik matanya yang g
آخر تحديث: 2026-10-01
Chapter: 154. Ganti Giliran"Lara, tidak perlu..."Damian menahan kedua pergelangan tangan Lara yang bertengger di kerah kemejanya. Napas pria itu masih berat, dadanya naik turun dengan ritme yang memburu. "Kamu baru saja selesai. Badanmu butuh istirahat."Lara tidak mundur sedikit pun. Alih-alih melepaskan genggaman, ia justru memajukan tubuhnya, menatap lurus ke dalam manik mata Damian yang menggelap."Aku nggak selemah itu, Damian," bisik Lara, suaranya tenang namun sarat ketegasan yang tak biasa. "Tadi kamu mikirin kenyamananku sampai menahan dirimu sendiri kayak gini. Sekarang giliranku."Damian menelan ludah dengan susah payah. Rahangnya mengeras, otot-otot di lehernya menegang menahan dorongan hasrat yang sejak tadi bergolak di balik dinding kendali dirinya. "Lara, ini bukan soal giliran—"Kata-kata Damian terputus saat Lara menunduk, mendaratkan ciuman lembut di sudut bibirnya, lalu turun menyusuri rahang pria itu hingga ke lekuk lehernya. Hembusan napas hangat Lara di kulit sensitif itu membuat tubuh Da
آخر تحديث: 2026-09-30