Mag-log inBau khas antiseptik menyapa saat pintu kaca otomatis rumah sakit terbuka.Lara melangkah menyusuri koridor lantai tiga yang tenang. Tangannya saling bertaut erat di depan perut, memilin ujung kardigan rajutnya berulang kali. Meskipun sudah mencoba tenang sejak dari rumah, degup jantungnya tetap berkejaran tiap kali membayangkan alat medis yang sebentar lagi akan memeriksa tubuhnya.Genggaman hangat menyapu tangannya.Damian menyelipkan jemarinya di antara jemari Lara, menggenggamnya mantap tanpa kata-kata. Pria itu mengusap punggung tangan istrinya menggunakan ibu jari, menyalurkan ketenangan yang seketika membuat bahu Lara yang tegang sedikit rileks."Panggilan nomor urut dua belas, Ibu Lara Kirana," suara perawat terdengar dari ambang pintu ruang periksa.Lara menarik napas panjang, menoleh ke arah Damian yang mengangguk pelan padanya. Keduanya melangkah masuk ke dalam ruangan serba putih.Dokter spesialis kandungan paruh baya berkacamata menyapa mereka dengan ramah. Setelah wawan
Damian tidak langsung menjawab.Pria itu mematung, menatap lurus ke dalam bola mata Lara yang berkaca-kaca. Jemari Lara yang saling bertaut di atas pangkuannya terlihat gemetar. Rahang Damian mengeras, bukan karena marah, melainkan karena keterkejutan melihat betapa dalam ketakutan yang disimpan istrinya selama ini.Satu detik. Dua detik.Damian mengulurkan tangannya. Jemarinya yang lebar menyusup di antara jemari Lara yang kaku, mengurainya perlahan, lalu menggenggamnya erat-erat sampai rasa dingin di tangan wanita itu memudar."Lara," panggil Damian. "Tatap aku."Lara berkedip lambat. Sebutir air mata yang tertahan di pelupuk matanya akhirnya lolos, menetes menyusuri pipinya."Kamu pikir aku menikahi kamu cuma buat nyari penerus nama Atmadja?" tanya Damian, tanpa ada nada bercanda sedikit pun di suaranya.Lara menggeleng pelan, bibirnya terkatup rapat. "Bukan gitu... tapi semua orang tua pasti mau punya anak, Damian. Kamu udah ngelepasin banyak hal dari hidupmu. Aku cuma nggak mau
Pagi itu, Lara terbangun saat merasakan usapan lembut di bahunya yang polos.Ketika ia membuka mata, Damian sudah bersandar pada tumpukan bantal di sampingnya. Pria itu mengenakan kaus oblong hitam, menatap Lara dengan binar mata penuh cinta."Pagi, istriku," bisik Damian seraya mendaratkan kecupan singkat di kening Lara.Lara tersenyum tipis, menggeliat kecil di bawah selimut tebal. Kehangatan sisa semalam masih membekas di kulitnya. "Pagi, suamiku. Udah bangun dari tadi?""Lumayan. Rasanya aneh juga ya bangun jam delapan pagi tapi tidak ada ada puluhan panggilan tak terjawab dari orang kantor," jawab Damian seraya terkekeh pelan. Tangannya merapikan helai rambut yang menutupi pipi Lara. "Kamu masih capek?""Nggak, udah mendingan," sahut Lara. Ia menggeser tubuhnya, menarik selimut menutupi dada seraya menatap Damian. "Ayo bangun."Satu jam kemudian, aroma kopi hitam dan roti panggang mentega memenuhi area lantai satu.Lara berdiri di balik meja bar dengan kaus kebesaran milik Damia
Telapak tangan Damian yang besar dan hangat menelusuri rahang Lara dengan ujung ibu jari yang bergerak pelan."Lara," panggil Damian berbisik. Suaranya serak, rendah, dan sarat perhatian."Hm?" Lara menatap balik manik mata gelap pria itu. Tangannya yang semula bertengger di dada Damian perlahan naik, merayap hingga ke tengkuk kokoh suaminya."Badanmu benar-benar tidak apa-apa?" Damian bertanya memastikan, seolah ingin menegaskan batas kenyamanan wanita itu untuk terakhir kalinya sebelum melangkah lebih jauh. "Dokter memang bilang rahimmu sudah pulih total, tapi kalau kamu masih cemas... kita bisa berhenti kapan saja."Lara tersenyum tipis. Rasa haru yang hangat menyelinap di balik rusuknya. Sikap penuh kehati-hatian Damian justru menepis setiap sisa ketakutan yang pernah ada di benaknya.Lara menarik tengkuk Damian ke bawah, mempersempit sisa jarak di antara bibir mereka. "Aku nggak cemas sama sekali, Damian. Aku percaya sama kamu."Ciuman itu mendarat lembut. Damian memulainya denga
Lara melangkah masuk ke dalam rumah. Matanya menyapu ruang depan yang didesain minimalis. Sofa panjang menghadap ke dinding, sementara di sisi kiri terdapat dapur bersih dengan meja bar kecil yang langsung berhadapan dengan pintu kaca geser ke arah taman belakang. "Taman belakangnya lucu banget," gumam Lara seraya melangkah ke dekat pintu kaca. Di luar, sepetak rumput mini tertata rapi diapit pohon kamboja berbunga putih dan deretan tanaman bambu air di sepanjang pagar bata merah. Damian menyusul di belakangnya, membawa dua koper sedang di kedua tangannya. Pria itu meletakkan koper di samping tangga kayu menuju lantai dua. "Dulu waktu beli, aku minta bagian belakang dibuat terbuka begini supaya ada angin masuk," kata Damian seraya melonggarkan kancing teratas kemejanya. "Kamar tidur ada di atas. Mau lihat sekarang?" Lara menoleh dan mengangguk antusias. Mereka menaiki anak tangga kayu yang tidak berderit sama sekali. Di lantai dua, kamar tidur utama menghadap langsung
"Bagaimana para saksi? Sah?""Sah.""Alhamdulillah."Kata itu meluncur serempak di ruang tengah yang sejuk. Hembusan napas lega terdengar jelas dari beberapa orang yang duduk mengelilingi meja kayu berkain putih polos.Lara yang duduk di samping Damian menundukkan kepala sejenak, merasakan getaran hangat yang mendadak meluap di balik dadanya. Di atas meja, dua map dokumen hijau dan merah marun berlogo emas sudah terbuka lebar.Petugas pencatat nikah tersenyum ramah seraya menyodorkan pulpen bertinta hitam ke hadapan mereka. "Silakan tanda tangan di sebelah sini, Pak Damian, Bu Lara."Damian mengambil pulpen itu tanpa ragu. Goresan tanda tangannya mantap dan tegas di atas kertas tebal bermaterai. Setelah itu, ia menyerahkan pulpennya kepada Lara.Tangan Lara sempat gemetar tipis saat menyentuh kertas, namun telapak tangan Damian yang hangat langsung bertumpu di paha atasnya, menyalurkan ketenangan yang ia butuhkan. Tanda tangan kedua resmi terukir berdampingan.Arman, yang berdiri rap







