تسجيل الدخولUtang akibat judi online suaminya membuat hidup Lara Kirana berada di ambang kehancuran. Saat semua jalan buntu, Damian Atmadja—mantan kekasih yang kini menjadi atasannya di kantor—muncul dengan penawaran tak masuk akal: ia akan melunasi seluruh utang itu, asalkan Lara menjadi miliknya. Lara tahu ia seharusnya menolak, tetapi keputusasaan membuat batas antara benar dan salah menjadi kabur. Dan sialnya, tidak ada yang pernah mengajarinya cara bersikap profesional di hadapan mantan yang terlalu pandai menggoda.
عرض المزيدLara Kirana tidak ingat kapan terakhir kali ia bisa hidup dengan tenang. Mungkin tiga tahun lalu, sebelum ia menandatangani pinjaman atas namanya sendiri—uang yang kemudian dihabiskan suaminya, Faris, untuk judi online.
“Lara! Sialan, jangan pura-pura tuli!” Lara tersentak. Dia baru saja menaruh piring berisi nasi goreng di meja saat tangan kasar Faris mencengkeram rambutnya dari belakang, memaksa kepalanya mendongak dengan kasar. Rasa sakit menjalar di kulit kepalanya, namun Lara sudah terbiasa. “Aku bicara sama kamu! Mana uangnya?!” berang Faris marah. Matanya merah, kantung matanya menghitam, tanda khas pecandu judi yang tidak tidur dua hari. Napasnya bau alkohol dan rokok yang memuakkan. “Aku butuh lima puluh juta buat cicil utang. Kalau nggak, orang-orang itu bakal hancurin kakiku! Kamu mau aku cacat, hah?!” Lara menahan napas, mencoba memposisikan dirinya agar tidak jatuh. “Mas, aku udah bilang, aku nggak punya uang sebanyak itu,” suara Lara bergetar, tercekat di tenggorokan. “Gajiku di kantor udah habis dipotong untuk bayar bunga cicilan bulan lalu. Kamu tahu sendiri tabunganku juga udah ludes semua.” “Halah, banyak alasan! Pinjam dari kantormu kan bisa! Atau jual diri, aku nggak peduli!” Faris menghempaskan kepala Lara hingga membentur tepi meja kayu. BRAK! Lara meringis, memegang pelipisnya yang terasa panas dan berdenyut nyeri. Tapi tidak ada air mata yang keluar. Dia sudah menangis terlalu banyak di awal pernikahan, dan sekarang, tangisannya sudah mengering, digantikan oleh kegamangan yang menyesakkan. Di ambang pintu dapur, Bu Ratna, ibu mertuanya, melipat tangan di dada dengan tatapan jijik. Wanita paruh baya itu selalu menjadi saksi bisu, bahkan sering kali menjadi provokator dalam setiap keributan. “Dasar nggak berguna! Istri macam apa kamu? Suami lagi susah, bukannya bantu malah pelit! Pantas aja Faris cari kesenangan di luar. Kalau aku jadi Faris, udah lama aku buang kamu dan cari wanita yang lebih kaya!” Kata-kata Bu Ratna menghujam tepat di ulu hati Lara. Faris memang pernah selingkuh dengan seorang wanita kaya yang sering dia temui di kasino, namun Bu Ratna selalu memutarbalikkan fakta seolah-olah Lara-lah yang tidak becus melayani suaminya. Lara tidak menjawab. Dia hanya menatap meja kayu dengan tatapan kosong. Dia terjebak. Dokumen utang yang dia tandatangani tiga tahun lalu—dokumen yang dibuat Faris saat mereka baru menikah dengan dalih ‘modal usaha’—adalah rantai yang mengikatnya. Jika dia menceraikan Faris sekarang, beban utang itu akan jatuh sepenuhnya ke pundaknya dengan bunga yang berlipat ganda. Dia tidak punya bukti bahwa utang itu adalah milik sang suami yang digunakan murni untuk judi. Faris terlalu licik untuk itu. “Besok pagi, sebelum jam sepuluh, uang itu harus ada di tanganku,” Faris merunduk, menyejajarkan pandangannya pada Lara yang terduduk di lantai. “Kalau enggak, jangan salahkan aku kalau besok kamu dapat kabar orang tuamu di kampung cuma tinggal nama.” Ancaman itu membuat darah Lara membeku. “Mas, kamu gila! Jangan sentuh bapak dan ibuku!” ujar Lara dengan suara bergetar. “Aku nggak pernah main-main, Lara. Besok, bawa uang itu!” Faris benar-benar gila. Dia akan melakukan apa saja untuk uang. Lara tahu, ancaman itu bukanlah gertakan kosong. Lara bangkit dari lantai dengan susah payah, membereskan kekacauan di dapur dengan tangan gemetar. Pukul delapan pagi, wanita itu sudah berada di depan gedung kantornya. Wajahnya pucat pasi, riasan tipis tidak mampu menutupi lingkaran hitam di bawah matanya. Lara harus bekerja. Ia harus mencari cara mendapatkan uang itu—entah bagaimana caranya—sebelum Faris benar-benar menghabisi keluarganya. Langkahnya gontai saat memasuki lobi. Ia melihat sekitar dan baru sadar suasana kantor hari ini sangat berbeda. Seluruh karyawan tampak sibuk dan tegang. “Lara! Kamu ke mana aja? Kita udah disuruh ngumpul!” ujar Nina, rekan kerja Lara, sambil menggandeng lengan wanita itu tanpa menunggu reaksi darinya. “Emang ada apa, Nin?” tanya Lara bingung. “Astaga, kamu lupa? Hari ini kan kita kedatangan bos baru!” Seketika Lara teringat. Hari ini adalah hari pertama pergantian direksi besar-besaran. Seluruh departemen diperintahkan untuk berkumpul di lobi utama untuk menyambut pemilik baru perusahaan. Di tengah hiruk-pikuk tersebut, suasana tiba-tiba hening. Seorang pria memasuki lobi, dikelilingi oleh jajaran manajer senior yang menunduk hormat. Pria itu mengenakan setelan jas hitam yang dipotong dengan sempurna, tampak sangat mahal, dengan aura dingin yang mendominasi. Langkah kakinya tegas, menggema di lantai marmer lobi yang sunyi. Lara yang berada di barisan belakang tampak tidak tertarik. Saat ini, ia hanya ingin segera kembali ke kubikelnya dan bekerja agar pikirannya tidak sibuk memikirkan cara mendapatkan uang lima puluh juta dalam hitungan jam. “Oh my God… pria itu bos baru kita?” Nina menyikut Lara, tapi tak mendapatkan respon berarti. Namun, ketika sebuah suara bariton yang familiar memecah keheningan, Lara mengangkat kepalanya. “Selamat pagi semua.” Pemilik suara itu berdiri beberapa meter di depan kerumunan. Matanya yang tajam dan dingin menyapu wajah para karyawan satu per satu, hingga berhenti tepat di wajah Lara. Tatapan keduanya bertemu dan terkunci. Jantung Lara seolah berhenti berdetak. Napasnya tertahan di paru-paru. Damian Atmadja. Pria itu berdiri di sana, dengan garis wajah yang lebih tajam dan tatapan yang jauh lebih dingin dari terakhir kali Lara melihatnya bertahun-tahun yang lalu. Damian adalah mantan kekasihnya saat kuliah, pria yang dulu sangat dia cintai sebelum Lara terpaksa meninggalkannya demi Faris. Dan sekarang, pria itu berdiri di sana sebagai pemilik perusahaan tempat Lara bernaung. “Ra, Bos Ganteng ngeliatin ke arah sini nggak sih? Jangan-jangan dia….” Bisikan Nina dari arah sampingnya membuat Lara memutus kontak mata dengan pria itu. Lara hanya menggelengkan kepala dan mengulas senyum tipis ke arah rekan baiknya itu. “Saya Damian Atmadja. Mohon kerjasamanya.” Usai perkenalan singkat itu, Damian meninggalkan lobi utama menuju lift eksklusif. Lara menatap punggung tegap pria itu hingga menghilang dari pandangan. ‘Tuhan, kenapa sekarang?’ batinnya putus asa.Pertemuan dengan klien berjalan lancar, namun tubuh Lara seolah ingin menyerah.Efek dari kurang tidur, tidak makan dengan layak, dan tekanan batin berkepanjangan membuat tubuhnya sudah berada di ambang batas. Sepanjang rapat, dia hanya bisa mengandalkan sisa-sisa tenaga untuk mencatat dan merespons instruksi Damian. Saat mobil kantor meluncur kembali menuju gedung perusahaan, Lara memejamkan mata, berusaha meredam rasa pening yang menusuk-nusuk pelipisnya.Begitu mobil berhenti di basement kantor, Lara berusaha turun dengan tenang. Namun, saat kakinya menginjak lantai beton yang dingin, dunia di sekitarnya seolah berputar. Pandangannya menggelap secara instan. Lututnya lemas, dan tubuhnya limbung.Bruk!Lara mengira dia akan menghantam lantai yang keras, namun sepasang lengan kokoh menangkapnya."Lara!" suara Damian yang biasanya dingin kini terdengar meninggi, penuh dengan keterkejutan yang nyata.Lara mengerjapkan mata, berusaha mengumpulkan kesadaran yang tersisa. Wajah Damian t
Pekerjaan itu selesai tepat waktu. Lara menyerahkan dokumen digitalnya ke sistem internal dan menghela napas panjang. Jam makan siang sudah lewat sepuluh menit, dan perutnya terasa perih karena belum terisi sejak kemarin. Baru saja ia hendak membuka laci meja untuk mencari biskuit sisa, interkom di mejanya kembali berdengung. "Lara. Ke ruanganku." Lara bangkit, melangkah masuk ke ruangan Damian. Pria itu sudah memakai jasnya, sepertinya hendak pergi makan siang. "Ada yang bisa saya bantu, Pak?" Damian berjalan mendekat. Dia berhenti tepat di depan Lara, mengamati wajah Lara dengan lebih detail daripada sebelumnya. "Kamu belum makan siang." Itu bukan pertanyaan, melainkan pernyataan. "Saya... saya masih harus membereskan sisa arsip, Pak," jawab Lara pelan. Damian mendengus sinis. "Jangan sampai pingsan di kantor karena kelaparan. Itu akan merusak jadwal kerjaku." Lara terdiam, bingung harus menjawab apa. "Ikut aku," perintah Damian singkat sembari melangkah keluar ruangan.
Lara kembali ke kubikelnya dengan kepala berdenyut nyeri. Tangannya gemetar saat mengemasi barang-barang pribadinya: sebuah bingkai foto kecil berisi potret orang tuanya, beberapa alat tulis, dan cangkir kopi yang sudah agak retak.Suasana kantor yang tadinya tenang mendadak berubah menjadi sarang lebah. Bisik-bisik mulai terdengar dari segala arah. Rekan-rekan kerjanya yang tadi menyaksikan kejadian di lobi kini menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara kasihan, penasaran, dan juga jijik."Lara... kamu beneran dipecat?"Lara menoleh dan mendapati Nina berdiri di sampingnya dengan raut wajah khawatir. Nina sudah seperti saudara baginya di kantor ini."Bukan, Nin," jawab Lara pelan, memasukkan bingkai fotonya ke dalam tas. "Aku dipindahin ke lantai atas. Jadi asisten pribadi Pak Damian."Keheningan seketika menyelimuti area kubikel mereka. Mata Nina melebar, mulutnya sedikit terbuka karena terkejut. "Asisten pribadi? Kamu serius? Tapi... bukannya tadi dia kelihata
Lara melangkah menyusuri koridor lantai dua puluh dengan kaki yang terasa seperti dirantai baja. Kejadian di lobi masih terputar di kepalanya seperti kaset rusak; penghinaan Faris, tatapan jijik rekan-rekan kerjanya, dan aura mencekam Damian Atmadja.Ia merapikan blus kerjanya yang kusut bekas tarikan kasar Faris. Rambutnya yang diikat kuda kini sedikit berantakan. Lara mencoba mengatur napas, berusaha menenangkan detak jantungnya yang berpacu liar. Dia sudah siap jika diminta mengundurkan diri. Bagaimanapun juga, dia tidak mungkin bisa tetap bekerja di sini setelah harga dirinya diinjak-injak di depan umum.Lara berhenti di depan pintu kayu jati yang kokoh dengan plakat emas bertuliskan: Damian Atmadja – CEO.Dia menarik napas panjang, lalu mengetuk pintu tiga kali."Masuk."Suara itu terdengar berat dan penuh otoritas. Lara memutar handel pintu dan melangkah masuk. Ruangan itu sangat luas, didominasi warna monokrom abu-abu dan hitam. Jendela kaca besar dari lantai ke langit-langi


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.