Chapter: Bab 10Suasana di meja makan yang tadinya sunyi mendadak berubah menjadi medan pertempuran yang dingin.Ibu Dewi dengan kelicikan yang dibungkus rapi dalam nada bicara keibuan, sengaja tidak membiarkan topik itu menguap. Dia tahu bahwa kelemahan terbesar Ana adalah putrinya, dan dia tidak ragu untuk menggunakan Nia sebagai pion dalam permainan ini."Nia, kamu tahu tidak? Mama ini orang hebat. Sekarang Mama sedang memegang kunci supaya Nia bisa terus les balet, supaya kita bisa liburan lagi seperti tahun lalu. Tapi, Mama sepertinya lagi capek dan mau menyerah. Kasihan Papa kan, kalau harus berjuang sendiri?" Ucap ibu Dewi sambil mengusap rambut Nia perlahan, tapi matanya tetap tertuju tajam pada Ana.Ana tersedak air yang tengah diminumnya. Dia menatap mertuanya dengan pandangan tidak percaya."Ibu... tolong, jangan libatkan Nia dalam urusan ini. Ini tidak pantas." Sahut Ana."Kenapa tidak pantas? Nia berhak tahu bahwa masa depannya ada di tangan ibunya. Ana, Pak Gery itu hanya meminta kam
Last Updated: 2026-05-29
Chapter: Bab 9Di lantai bawah, denting sendok yang beradu dengan piring porselen terdengar seperti detak jam yang menghitung mundur kesabaran Ibu Dewi.Meja makan sudah tertata rapi dengan nasi goreng hangat dan aroma kopi yang kuat, tapi kursi di samping Raka masih kosong.Ibu Dewi melirik ke arah tangga, lalu beralih pada Nia yang sedang mengunyah rotinya dengan pelan."Nia sayang, Bisa bantu Nenek? Coba ke atas, panggil Mama. Katakan pada Mama, kita semua sudah menunggu untuk sarapan. Kalau Mama sakit, bilang Nenek khawatir sekali." Ucap Ibu Dewi dengan nada yang sangat lembut kepada cucunya."Iya, Nek. Mungkin Mama masih mengantuk," jawab Nia dengan polos segera turun dari kursinya dan berlari kecil menaiki anak tangga.Di dalam kamar, Ana masih terduduk di tepi ranjang dengan mata sembab. Saat mendengar ketukan kecil di pintu, dia tersentak."Mama? Ini Nia. Buka pintunya, Ma..." Panggil Nia pada ibunya.Suara bening itu seperti air dingin yang menyiram api kemarahan Ana. Dia segera mengha
Last Updated: 2026-05-29
Chapter: Bab 8Keesokan harinya, sinar matahari masuk melalui celah jendela kamar dengan cara yang sangat kontras dengan suasana hati Ana.Dia terbangun dengan sisa riasan mata yang menghitam di bawah kelopak, saksi bisu dari air mata yang dia tahan semalaman. Tubuhnya terasa remuk, seolah baru saja melakukan perjalanan jauh melintasi badai. Di lantai bawah, sayup-sayup terdengar suara Raka yang berbicara dengan nada tinggi dan penuh semangat di telepon.Ana duduk di tepi ranjang, menatap kosong ke arah gaun hitam yang dia sampirkan begitu saja di kursi. Pintu kamar terbuka dengan kasar. Raka masuk dengan wajah yang tampak merah padam karena kegembiraan yang meluap-luap. Dia menggenggam ponselnya erat-erat, seolah benda itu adalah piala kemenangan."Ana! Kamu tidak akan percaya ini! Barusan Pak Gery menelepon. Dia membatalkan perjalanannya ke luar negeri! Katanya, setelah bertemu denganmu semalam, dia merasa proyek ini terlalu sayang untuk dilewatkan atau diserahkan kepada asistennya. Dia ingin
Last Updated: 2026-05-29
Chapter: Bab 7Malam kian larut saat mobil Ana perlahan memasuki pelataran rumah. Dia duduk diam di balik kemudi selama beberapa menit, membiarkan mesin mobil tetap menyala.Dia menatap map hitam di kursi penumpang, selembar kertas bertanda tangan yang telah menukar ketenangan jiwanya.Dia menyentuh wajahnya di cermin. Riasan dari salon tadi masih sempurna, tapi di matanya, dia hanya melihat orang asing yang baru saja menggadaikan harga diri demi kenyamanan orang lain. Lalu Ana mematikan mesin, mengambil map itu, dan melangkah masuk ke dalam rumah yang terasa seperti penjara mewah.Begitu pintu jati itu terbuka, Raka dan Ibu Dewi ternyata sudah menunggu di ruang tengah.Mereka duduk dengan gelisah, namun seketika bangkit berdiri saat melihat sosok Ana muncul. Suasana yang tadinya sunyi berubah menjadi riuh dengan harapan yang egois."Ana! Kamu sudah pulang? Bagaimana? Dia tanda tangan? Katakan padaku dia setuju!" Ucap Raka sambil menghampiri Ana dengan langkah lebar. Wajahnya berseri-seri, matan
Last Updated: 2026-05-29
Chapter: Bab 6"Pak Gery, saya melakukan ini karena saya percaya bahwa Mas Raka adalah pria yang berdedikasi, dan saya percaya bahwa kerja sama ini bukan hanya soal keuntungan materi, tapi soal kepercayaan dua belah pihak." Jawab Ana dengan suaranya lembut namun memiliki ketegasan yang tertahan.Gery terdiam, jemarinya yang semula masih mencoba menyentuh tangan Ana di atas meja kini berhenti."Sama seperti Bapak yang menghargai kesetiaan dan pengabdian, saya pun berada di sini sebagai wujud komitmen saya pada visi yang Bapak dan suami saya bangun. Bukankah kerja sama terbaik adalah yang didasari oleh rasa hormat terhadap nilai-nilai keluarga?" Lanjut Ana dengan tegas.Gery tampak tertegun sejenak mendengar jawaban Ana yang begitu tertata, sebuah jawaban yang mengingatkannya bahwa wanita di depannya bukanlah sekedar pajangan, melainkan sosok yang memiliki kedalaman berpikir."Jawaban yang sangat cerdas, Ana, kau benar-benar tahu bagaimana cara menempatkan diri," gumam Gery dengan senyum yang tampak
Last Updated: 2026-05-29
Chapter: Bab 5"Terima kasih atas pujiannya, Pak Gery. Saya menghargai waktu Bapak untuk bertemu malam ini." Ucap Ana dengan menarik tangannya perlahan, mencoba memaksakan sebuah senyuman yang terasa kaku di wajahnya. "Silakan duduk, Ana. Boleh saya panggil Ana saja, kan? Rasanya terlalu formal jika kita menggunakan embel-embel Nyonya di suasana seindah ini," ujar pak Gery sambil menarikkan kursi untuk Ana.Setelah memesan hidangan pembuka, keheningan yang canggung mulai menyelimuti meja tersebut. Ana meletakkan map hitam yang dibawanya di atas meja, seolah ingin segera menyelesaikan urusan ini."Pak Gery, mengenai berkas yang saya bawa... Mas Raka bilang Bapak sudah meninjaunya," Ucap Ana untuk membuka pembicaraan ke arah profesional.Tapi, Pak Gery hanya melirik map itu sekilas, lalu kembali menatap wajah Ana. Dia menyandarkan punggungnya ke kursi, tampak sangat santai."Berkas itu bisa menunggu, Ana. Angka-angka hanya akan merusak suasana malam yang romantis ini. Aku lebih tertarik membica
Last Updated: 2026-05-04