MasukSatu minggu setelah momen lamaran yang mengharukan di teras belakang rumah orang tua Ana, Gery memutuskan bahwa langkah selanjutnya yang paling penting adalah membawa Ana ke hadapan sang ayah. Hubungan Gery dengan ayahnya, Pak Handoko, memang sempat menegang akibat keberadaan Ibu Mia, tapi setelah insiden serangan jantung tiga bulan lalu, prioritas Gery sepenuhnya berubah. Dia ingin ayahnya menyaksikan dan merestui kebahagiaan barunya sebelum waktu bergulir lebih jauh.Sore itu, langit Jakarta diselimuti mendung tipis yang membawa udara sejuk. Gery mengemudikan mobilnya dengan tenang menuju kawasan perumahan elite di daerah Kebayoran Baru, tempat kediaman utama Pak Handoko. Di kursi penumpang, Ana sesekali merapikan rok batik modern yang ia kenakan. Guratan gugup tidak bisa disembunyikan dari wajah cantiknya.Gery yang menyadari hal itu perlahan menurunkan kecepatan mobilnya, lalu tangan kirinya bergerak menggenggam jemari Ana yang terasa agak dingin."Tenang, Ana. Ayah saya suda
Hari-hari setelah malam lamaran itu berjalan dengan ritme yang jauh lebih tenang. Gery benar-benar membuktikan ucapannya dia tidak pernah mengungkit kembali soal cincin di dalam kotak beludru merah itu, juga tidak menunjukkan perubahan sikap yang membuat Ana merasa tertekan. Pria itu tetap menjadi Gery yang biasa, menjadi sosok pelindung yang hangat bagi Ana dan paman yang menyenangkan bagi Nia. Kebebasan yang diberikan Gery justru membuat batin Ana bekerja lebih aktif. Di bawah pendar lampu kamar tidurnya yang temaram setiap malam, setelah Nia terlelap di sampingnya, Ana sering kali termenung menatap langit-langit. Dia mengurai kembali setiap jengkal perasaannya. Ketakutan akan masa lalu itu memang masih ada, samar-samar menyelinap di sudut hati, tapi setiap kali bayangan Gery hadir, ketakutan itu perlahan terkikis oleh rasa aman yang teramat nyata. Hingga pada suatu akhir pekan, Ana memutuskan bahwa dia tidak boleh membiarkan pria sebaik Gery menunggu terlalu lama tanpa kepasti
Tiga bulan telah berlalu sejak keputusan resmi dari Pengadilan Agama mengetuk palu kebebasan bagi Ana. Waktu yang berjalan lambat itu digunakannya untuk menata kembali serpihan hidup, fokus mengasuh Nia, dan perlahan menyembuhkan trauma masa lalunya. Sepanjang waktu itu pula, Gery menjadi sosok yang konstan hadir, memberikan ketenangan tanpa pernah menuntut apapun sebagai balasan. Malam itu, Gery mengundang Ana untuk makan malam di sebuah restoran privat yang terletak di lantai atas salah satu gedung pencakar langit Jakarta.Setelah hidangan utama selesai dinikmati dan pelayan membawa pergi piring-piring kosong, suasana di meja mereka mendadak berubah menjadi lebih sunyi. Alunan musik instrumental yang samar di latar belakang menambah kesan intim yang kian terasa pekat. Gery membenarkan posisi duduknya, menatap Ana yang malam itu tampak sangat anggun dengan gaun berwarna biru dongker. Sepasang mata Gery yang biasanya memancarkan ketegasan seorang pebisnis, kini melunak sepenuhnya
Satu bulan sejak ketukan palu hakim di Pengadilan Agama, kehidupan Ana perlahan-lahan menemukan ritme barunya yang meneduhkan. Tidak ada lagi ketakutan malam hari, tidak ada lagi air mata tersembunyi di balik pintu kamar, dan yang paling penting, tidak ada lagi bayang-bayang kebohongan. Jiwanya yang sempat layu kini mekar kembali, terutama karena kehadiran sosok pria yang dengan sabar menemaninya menata ulang setiap serpihan hidup yang sempat porak-poranda.Hubungan Ana dan Gery bertransformasi dengan sangat alami. Tanpa ada ketergesaan, tanpa ada tuntutan. Gery selalu tahu cara menempatkan diri, dia menghormati ruang sendiri bagi Ana untuk menyembuhkan luka batinnya, namun ia selalu ada di sana setiap kali Ana membutuhkan bahu untuk bersandar.Sore itu, langit Jakarta tampak begitu bersih, dihiasi semburat warna jingga dan merah muda yang memanjakan mata. Gery mengajak Ana dan Nia untuk menghabiskan akhir pekan di sebuah taman bermain terbuka yang asri di kawasan Jakarta Selatan.
Hari yang paling dinantikan sekaligus mendebarkan itu akhirnya tiba. Dua minggu sejak mediasi yang alot dan penuh manipulasi dari pihak Raka, ruang sidang utama Pengadilan Agama Jakarta Selatan kembali menjadi saksi bisu dari akhir sebuah ikatan pernikahan.Pagi itu, udara di dalam ruang sidang terasa begitu dingin. Ana duduk di kursi penggugat dengan setelan blazer abu-abu yang rapi, memancarkan aura ketenangan dan ketegaran yang luar biasa. Di sampingnya, Pak Baskoro bersiap dengan tumpukan berkas pamungkas. Dan tepat di baris kursi penonton di belakangnya, sosok Gery duduk dengan setia. Kehadiran pria itu, dengan tatapan matanya yang teduh tapi kokoh, menjadi jangkar emosional yang membuat Ana tidak goyah sedikit pun.Di seberang ruangan, Raka duduk didampingi kuasa hukumnya. Tidak ada lagi sisa-sisa keangkuhan atau bujukan manis di wajahnya. Kerugian bisnis yang makin menggulung dan penolakan mutlak dari Ana selama dua minggu terakhir membuat pria itu tampak pasrah, meski gurat
Pagi hari harinya, setelah semalaman menemani Gery di rumah sakit hingga kondisi Pak Handoko benar-benar dinyatakan melewati masa kritis, Ana akhirnya melangkah pulang. Tubuhnya terasa begitu lelah, tapi pikirannya dipenuhi oleh rasa hangat yang aneh setelah momen kedekatan mereka di kantin semalam.Langkah kaki Ana melambat saat dia membuka pintu pagar rumah orang tuanya. Suasana teras tampak sepi, tapi begitu dia mendorong pintu depan yang tidak terkunci, sebuah pemandangan di ruang tengah seketika membuat langkahnya terhenti kaku.Di atas karpet bulu abu-abu, Raka sedang duduk bersila. Pria itu tampak sedang menyusun beberapa balok mainan kayu bersama Nia. Tawa melengking khas anak kecil memenuhi ruangan yang biasanya sunyi itu. Raka terlihat begitu telaten, mencium puncak kepala Nia setiap kali putri kecilnya berhasil menyusun balok dengan tinggi."Lihat, Ayah! Rumahnya sudah jadi besar sekali!" seru Nia dengan mata berbinar-binar, wajahnya memancarkan keceriaan yang sudah semi
Setelah urusan riasan selesai, Ana melangkah ke ruang ganti. Di sana, gaun hitam berbahan sutra itu sudah tergantung rapi. Saat dia mengenakannya, kain dingin itu terasa seperti kulit ular yang membelit tubuhnya. Potongan lehernya memang cukup rendah, mengekspos tulang selangkanya yang indah, p
Ana merogoh tasnya, mengeluarkan ponsel yang terus-menerus bergetar.“Na, kok belum sampai kantor? Jangan lupa, jam satu nanti Ibu menunggumu di salon. Jangan telat, Pak Gery itu orang yang sangat menghargai waktu.” Pesan Raka dari layar ponsel Ana.Ana hanya menatap layar itu dengan tatapan koso
Pagi harinya tidak membawa ketenangan bagi Ana. Cahaya matahari yang masuk melalui celah gorden kamar terasa menyilaukan dan menyakitkan, seolah memaksa Ana untuk bangun dan menghadapi kenyataan yang ingin dia hindari. Belum sempat dia menata hatinya setelah pertengkaran hebat semalam, suara ketu
Gelas kristal di atas meja makan memantulkan cahaya lampu gantung yang dingin. Ana menatap bayangannya sendiri di sana, dengan riasan yang sedikit terlalu tebal atas permintaan ibu mertuanya. Di sampingnya, Raka sibuk dengan tabletnya, jemarinya bergerak lincah memeriksa grafik pertumbuhan saham A







