Chapter: Tie Up Chapter 5BEvo abu-abu milik Arga berhenti di area penjemputan Heratl tepat sepuluh menit sebelum jam kantor mulai beroperasi. Suara mesin mobil itu masih menggeram rendah saat Tito membuka pintu depan dan menjejakkan sepatu ke pelataran. Ia lalu berucap, “Makasih, Ga.”Dari balik kemudi, Arga mengulurkan tangan untuk menagih, “Bensin, Bang.”Tito menutup pintu, lalu menunduk ke jendela yang masih terbuka. “Tagih ke Bos. Gue cuma tawanan yang kalian culik.”Di antara kepulan asap rokok, Lih menyembulkan wajah dari jok belakang. “Tawanan paling rewel.”“Daripada mulut lo, Jang. Jarang banget dibuka. Tapi sekalinya bunyi, langsung nyelekit.”Arga tertawa, tetapi masih rajin mengulurkan tangan sambil menodong Tito. “Tapi serius, Bang. Uang rokok mana, uang rokok?”“Dasar anak durhaka!” hardik Tito yang nyaris menampol Arga. “Noh, minta rokok si Bujang aja.”“Ya elah ... pelit amat,” gerutu Arga.Masih untung Tito hanya menepuk-nepuk atap mobil pria itu, bukan membaliknya mirip Hulk ngamuk. Ia juga
Last Updated: 2026-07-26
Chapter: Tie Up Chapter 5AKetika mereka kembali ke gedung utama, jam digital di lobi menunjukkan pukul dua belas lewat tujuh menit. Aroma makanan dari pantry lantai dasar mulai naik melalui lorong layanan. Seseorang membawa kotak nasi melewati pintu akses, meninggalkan bau ayam bakar dan sambal yang langsung membuat perut Tito bereaksi. Di waktu yang sama ponsel di saku Tito bergetar. Dengan segera ia membaca pesan masuk. Si Bujang Lih Gashani: Di depan. Buruan. Satu pesan berikutnya masuk dari Arga. Arga: Kalau lima menit lagi lo belum turun, gue tinggal, ya, Bang. Tito mendecakkan lidah. Berani betul dus manusia ini berlagak akan meninggalkannya. Dari ponsel, ia mengangkat wajah dan melempar pandangan ke Jameka yang berjalan di sampingnya. Jika sudah berkutat dengan tablet, Tito tahu betul wanita itu tidak akan terusik oleh apa pun di sekitarnya. Maka dari itu, di tengah para pegawai yang berlalu lalang, Tito memanggil, “Bu Jameka.” Jameka belum sempat menjawab Tito saat ponsel genggam di t
Last Updated: 2026-07-24
Chapter: Tie Up Chapter 4B“Ha?” Tito langsung terbengong-bengong. Walaupun Jameka sudah sempat menceritakan gosip itu, tetap saja Tito tidak siap mendengarnya keluar dari mulut rekan-rekan sekantor. “Pak Tito, kan, juga mau nikah sama Bu Carissa,” tukas Naray dengan raut wajah antusias. Baginya, tiada pagi yang lebih menyenangkan dari memulai hari dengan berita baik. Secara bersamaan, Tito masih penasaran. Dari mana sebenarnya gosip itu berasal? Tidak mungkin dari Jameka, kan? Masih sepagi ini, tetapi lagi-lagi otak Tito sudah dituntut bekerja maksimal dalam menggali ingatan untuk menelusuri hal ini. Ia mengingat perkataan Jameka tentang Carissa sendiri yang mengaku ia lamar di depan Jameka, Kevino, dan Vivian yang waktu itu menjenguk di rumah sakit. Jadi, gosip itu pasti beredar dari salah satu dari mereka, simpul Tito sederhana. Sekali lagi Tito meyakinkan bahwa bukan Jameka yang menyebarkan gosip itu. Untuk apa juga? Iya, kan? Tito menggali kemungkinan lain. Ya kali si Bang Ke alias Kevino itu ..
Last Updated: 2026-07-24
Chapter: Tie Up Chapter 4ATunggu sebentar ....Niat Tito melangkah keluar lift secara praktis mandek. Mirip angkot yang mengerem dadakan gara-gara diserobot emak-emak motoran. Biasanya si sopir angkot sontak dilema dalam mengambil keputusan. Antara mau tetap lanjut mengikuti alur emak-emak itu atau justru berbelok arah.Sebab si sopir tahu, sering kali lampu sein yang dinyalakan emak-emak tidak sejalan dengan laju motor. Sudah jadi rahasia umum kalau lampu sein kiri yang dinyalakan, motor malah dibelokkan ke kanan. Begitu pula sebaliknya. Kadang-kadang justru terus berjalan lurus, seolah-olah tidak pernah menyalakan lampu sein; mungkin juga lampu penanda itu hanya dianggap dekorasi untuk meramaikan suasana saja.Tidak heran masyarakat menyebut fenomena emak-emak yang mengemudikan motor di jalan raya dianggap sebagai raja jalanan. Dalam beberapa hal, bisa juga disebut penguasa bumi. Masih untung emak-emak itu tidak freestyle di atas motor. Kalau iya, sudah terbayang di otak Tito tentang kemacetan lalu lintas ka
Last Updated: 2026-07-19
Chapter: Tie Up Chapter 3B“Kok, gue jadi deg-degan gini, ya?” gumam Jameka sembari celingak-celinguk mengawasi parkiran basemen Heratl. Tangannya memegangi seatbelt erat-erat seolah-olah ia akan terlempar kapan saja apabila mengendorkan jari-jemarinya. “Deg-degan kenapa?” tanya Tito yang duduk di balik kemudi di sebelah Jameka. Ia telah mematikan pendingin udara dan mesin mobil. Sekarang ia hendak melepas seatbelt. “Carissa masuk hari ini.” Merasa tidak ada masalah dengan itu, Tito berbalik tanya, “Ya terus kenapa?” Jameka sontak menoleh pria itu. “Udah gue ceritain, kan? Dia ngobrol sama gue, mohon-mohon sama gue biar gue ngejauhin lo. Dan gue bilang kagak mau. Gue bilang, lo keluarga gue. Kenapa gue harus ngejauhin keluarga gue sementara posisi gue secinta itu sama lo—hei! Jangan grepe-grepe!” Jameka menampol tangan Tito yang merayap ke paha kanannya. Rok pensilnya disingkap dan disentuh ringan oleh Tito membuatnya menegang, mendirikan buku kuduknya. Menelan ludah guna mencegah desahan keluar dari mulut
Last Updated: 2026-07-12
Chapter: Tie Up Chapter 3ANyaris dua jam kemudian, seluruh ruang sudah bersih dan wangi. Orang-orang yang disewa jasanya oleh Tito juga sudah pergi. Jameka duduk di meja makan. Pandangannya ke luar dinding kaca depan dapur. Ia melihat kegelapan yang menggantung di langit telah menghiasi Jakarta. Rintik-rintik air hujan memburamkan kaca.Membawa hawa sejuk dan petrikor—yang lucunya—tercium hingga di lantai paling atas gedung ini. Jameka mengira mungkin beberapa penghuni punya tanaman di pot dengan media tanah. Terkena hujan, jadi bisa menimbulkan aroma khas tersebut. Jameka berjingkat ketika sesekali kilat menyambar bagai bayangan akar pohon disinari cahaya sekejap. Kadang-kadang disusul suara guntur yang cukup menekankan pendengaran. Akibat cuaca itulah, Tito dan Jameka malas keluar. Untuk makan malam, Tito memasak mie instan. “Nih.” Tito meletakkan semangkok mie di depan Jameka. Mangkok itu membuat alis Jameka mengernyit. “Kan, lo tahu betul gue kagak makan telur. Kenapa punya gue lo kasih telur? Topp
Last Updated: 2026-07-09