LOGINMenjadi playboy selama bertahun-tahun tentu menjadikan Tito Alvarez ahli dalam menakhlukkan banyak wanita. Bagaimana apabila ia menyukai Jameka Michelle--kakak sahabatnya yang sudah tahu seluk-beluk, luar-dalam, atau baik-buruk sifatnya, serta satu-satunya wanita yang tidak boleh ia dapatkan? Sementara hampir dua puluh empat jam selama seminggu Tito bekerja bersama Jameka untuk membangun Heratl Company yang hampir bangkrut? Akankah Tito menyerah dengan perasaannya? Atau justru berujung melawan sahabatnya yang berkuasa dan ditakuti orang-orang di seluruh belahan dunia untuk mendapatkan izin menyukai Jameka?
View More“Good morning, Bae.”
Suara serak seorang pria memasuki rungu seorang wanita berbalut sweter cokelat yang salah satu lengannya melorot, mempertontonkan setengah bahunya. Di tengah acara mengaduk teh di kitchen island, senyum mengiringi telengan kepalanya untuk melihat tunangannya berjalan mendekat. “Morning. Maaf, semalam aku sudah tidur, tidak tahu kapan kau datang. Tadi pagi aku juga tidak berani membangunkanmu,” balas wanita itu rikuh, lalu membiarkan sendok pengaduk di cangkir untuk menyentuh lengan-lengan kekar yang melingkari perutnya. Bubuhan bibir di kening dan pundaknya membuat ia merinding sekaligus merasa dicintai. “It’s okay. Kau mungkin kelelahan. Ingat, akhir-akhir ini kau memang sering kelelahan.” “Itu karena aku bekerja keras.” Benar, membangun usaha yang sedang diambang kebangkrutan memang sangat melelahkan. “Jangan terlalu keras bekerja, biar aku saja. Omong-omong, mula-mula kau membuat teh? Biasanya Americano.” Pria itu meletakkan dagu di pundak tunangannya sembari menurunkan pandangan ke cangkir keramik putih berlarik emas. “I don’t know. Mungkin hanya sedang bosan,” jawab wanita itu sembari menoleh sedikit supaya bisa melihat wajah tunangannya. “Kau mau kopi? Akan kubuatkan.” Senyum hangat melekuk di bibir pria itu. “But, all I want is you. Bagaimana? Kau mau membuatkannya?” “Dasar perayu ulung!” hardik wanita itu, tetapi diselingi senyum rikuh. “Quickies, okay?” bisik pria itu di pelipis tunangannya. “Dasar ...,” gumam Jameka Michelle yang lantas membiarkan dirinya meleleh di bawah sentuhan bibir River Devoss di bibirnya. Pria itu selalu mampu melemahkan sendi-sendi kakinya. Sehingga ia harus membalik tubuh untuk berpegangan pada River yang mulai menekuri lehernya. “Aku merindukanmu. Kau terlalu lama pulang ke Indonesia.” Jameka mendongak sembari memejam. Tangannya menyugar rambut River. “Sebagian besar pekerjaanku di sana.” River menyingkirkan keramik cangkir teh Jameka supaya bisa mendudukkan wanita berambut panjang itu di kitchen island. Sedikit sentakan tersebut membuat mereka kian menyulut badai gairah. Bibir mereka saling mencari, tangan mereka saling menyentuh dan membantu melepaskan bawahan pasangannya. Akibat rindu yang membeludak, River jadi sedikit tergesa-gesa mengisi Jameka. Wanita itu merintih, “Pelan-pelan, Riv.” “Maaf, aku terlalu merindukanmu.” River melayangkan ciuman lembut yang kuat, tetapi menuntut seraya mencoba mengisi Jameka kembali. “Oh!” Jameka kembali tersentak sebab merasakan ketidaknyamanan di bawah sana. Yang merambat ke perut bagian bawahnya. Jameka bergerak seduktif, menyesuaikan irama yang River ciptakan. Sebelah tangannya menahan setengah tubuh terbaringnya. Sementara tangan yang lain meraih punggung pria itu yang kian bergerak cepat sembari mempekerjakan indra pengecap di puncak dadanya, berpesta pora di sana, meninggalkan jejak-jejak keintiman. “Riv ..., pelan-pelan.” Kedua alis sempurna Jameka mengernyit, benar-benar tidak merasa nyaman. Seperti ada yang menyakitinya. Padahal seharusnya tidak. Namun, ia tidak ingin membuat River merasa bersalah. River mengangkat wajah sedikit untuk melihat Jameka. “Maaf, aku hampir sampai, Bae.” Jameka ingin menjerit, tetapi tidak ingin merusak suasana yang dibangun River, lalu berpotensi besar menyulut pertengkaran. Bisa dibilang wanita itu sangat mecintai River. Begitu pula sebaliknya. He’s the one who can handle her heart well. The first man who touched her maturely and proposed to her. Satu sentakan kuat, satu desah panjang, dan River menegang sebelum meledak. Di tengah napasnya yang memburu, ia membubuhkan bibirnya pada kening Jameka yang masih memejam dan ngos-ngosan. Lalu ia menurunkan ciuman ke bibir lembut wanita itu. Lanjut memeluk tunangannya penuh kasih sayang serta rasa terima kasih. Ketika sedikit menjauhkan diri dengan niat mengosongkan Jameka, River terkejut luar biasa dan langsung dilanda panik tidak tanggung-tanggung. “Astaga, kau berdarah banyak, Bae.”Evo abu-abu milik Arga berhenti di area penjemputan Heratl tepat sepuluh menit sebelum jam kantor mulai beroperasi. Suara mesin mobil itu masih menggeram rendah saat Tito membuka pintu depan dan menjejakkan sepatu ke pelataran. Ia lalu berucap, “Makasih, Ga.”Dari balik kemudi, Arga mengulurkan tangan untuk menagih, “Bensin, Bang.”Tito menutup pintu, lalu menunduk ke jendela yang masih terbuka. “Tagih ke Bos. Gue cuma tawanan yang kalian culik.”Di antara kepulan asap rokok, Lih menyembulkan wajah dari jok belakang. “Tawanan paling rewel.”“Daripada mulut lo, Jang. Jarang banget dibuka. Tapi sekalinya bunyi, langsung nyelekit.”Arga tertawa, tetapi masih rajin mengulurkan tangan sambil menodong Tito. “Tapi serius, Bang. Uang rokok mana, uang rokok?”“Dasar anak durhaka!” hardik Tito yang nyaris menampol Arga. “Noh, minta rokok si Bujang aja.”“Ya elah ... pelit amat,” gerutu Arga.Masih untung Tito hanya menepuk-nepuk atap mobil pria itu, bukan membaliknya mirip Hulk ngamuk. Ia juga
Ketika mereka kembali ke gedung utama, jam digital di lobi menunjukkan pukul dua belas lewat tujuh menit. Aroma makanan dari pantry lantai dasar mulai naik melalui lorong layanan. Seseorang membawa kotak nasi melewati pintu akses, meninggalkan bau ayam bakar dan sambal yang langsung membuat perut Tito bereaksi. Di waktu yang sama ponsel di saku Tito bergetar. Dengan segera ia membaca pesan masuk. Si Bujang Lih Gashani: Di depan. Buruan. Satu pesan berikutnya masuk dari Arga. Arga: Kalau lima menit lagi lo belum turun, gue tinggal, ya, Bang. Tito mendecakkan lidah. Berani betul dus manusia ini berlagak akan meninggalkannya. Dari ponsel, ia mengangkat wajah dan melempar pandangan ke Jameka yang berjalan di sampingnya. Jika sudah berkutat dengan tablet, Tito tahu betul wanita itu tidak akan terusik oleh apa pun di sekitarnya. Maka dari itu, di tengah para pegawai yang berlalu lalang, Tito memanggil, “Bu Jameka.” Jameka belum sempat menjawab Tito saat ponsel genggam di t
“Ha?” Tito langsung terbengong-bengong. Walaupun Jameka sudah sempat menceritakan gosip itu, tetap saja Tito tidak siap mendengarnya keluar dari mulut rekan-rekan sekantor. “Pak Tito, kan, juga mau nikah sama Bu Carissa,” tukas Naray dengan raut wajah antusias. Baginya, tiada pagi yang lebih menyenangkan dari memulai hari dengan berita baik. Secara bersamaan, Tito masih penasaran. Dari mana sebenarnya gosip itu berasal? Tidak mungkin dari Jameka, kan? Masih sepagi ini, tetapi lagi-lagi otak Tito sudah dituntut bekerja maksimal dalam menggali ingatan untuk menelusuri hal ini. Ia mengingat perkataan Jameka tentang Carissa sendiri yang mengaku ia lamar di depan Jameka, Kevino, dan Vivian yang waktu itu menjenguk di rumah sakit. Jadi, gosip itu pasti beredar dari salah satu dari mereka, simpul Tito sederhana. Sekali lagi Tito meyakinkan bahwa bukan Jameka yang menyebarkan gosip itu. Untuk apa juga? Iya, kan? Tito menggali kemungkinan lain. Ya kali si Bang Ke alias Kevino itu ..
Tunggu sebentar ....Niat Tito melangkah keluar lift secara praktis mandek. Mirip angkot yang mengerem dadakan gara-gara diserobot emak-emak motoran. Biasanya si sopir angkot sontak dilema dalam mengambil keputusan. Antara mau tetap lanjut mengikuti alur emak-emak itu atau justru berbelok arah.Sebab si sopir tahu, sering kali lampu sein yang dinyalakan emak-emak tidak sejalan dengan laju motor. Sudah jadi rahasia umum kalau lampu sein kiri yang dinyalakan, motor malah dibelokkan ke kanan. Begitu pula sebaliknya. Kadang-kadang justru terus berjalan lurus, seolah-olah tidak pernah menyalakan lampu sein; mungkin juga lampu penanda itu hanya dianggap dekorasi untuk meramaikan suasana saja.Tidak heran masyarakat menyebut fenomena emak-emak yang mengemudikan motor di jalan raya dianggap sebagai raja jalanan. Dalam beberapa hal, bisa juga disebut penguasa bumi. Masih untung emak-emak itu tidak freestyle di atas motor. Kalau iya, sudah terbayang di otak Tito tentang kemacetan lalu lintas ka
Oh! Akhirnya Jameka tahu maksud papanya tidak ingin Tito menemaninya. Rupanya ada perjodohan yang dibalut acara makan malam. Kuno sekali dan tidak berkelas. Emosi Jameka naik setingkat lebih tinggi. Dari dogkol, kesal, kini memasuki taraf ingin protes dengan berbagai pertanyaan yang berlarian di
“Udahalah kagak usah banyak drama.“ Jameka langsung protes,“ Banyak drama gimana? Lo tahu sendiri gue kayak bisa!“ Pria itu tidak peduli sedikit pun tentang protes Jameka dan malah dengan entengnya berkata, “Gue yang traktir.” Jameka menganga. Traktir? Hm ... tampaknya si Kadal Sawah ini mem
You can’t treat people like yourselfRemember, every soul has difference in feeling—Chacha Prima_____________________________________________“Saya rasa kita masih harus meninjau lebih jauh lagi perkara ini. Berhubung sudah hampir jam makan siang, maka, cukup sekian untuk rapat hari ini. Selanjut
Konspirasi alam semesta yang apik seolah tidak mengizinkan mereka berjalan berdampingan di bumi yang sama —Taming the Boss______________________________________________ “Yakin gue kagak usah turun?” tanya Tito sewaktu mobilnya sudah berhenti di mansion papanya Jameka. “Enggak, gue lagi pengi






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.