
Bukan Untuk Dicintai
Serena Aksara punya satu aturan yang tidak pernah ia langgar: jangan berharap pada siapa pun.
Setelah satu pernikahan yang mengajarkannya bahwa cinta bisa menjadi senjata di tangan orang yang salah, Serena memilih jalan yang lebih aman—karier, kemandirian, dan jarak yang cukup jauh dari siapa pun yang berpotensi menghancurkannya lagi.
Aturan itu bertahan cukup lama. Sampai sebuah kasus membawanya ke tempat yang seharusnya tidak ia datangi, bertemu seseorang yang seharusnya tidak ia pedulikan.
Masalahnya, pria itu tidak melakukan apa-apa yang biasanya dilakukan pria untuk menarik perhatian perempuan. Ia tidak mencoba. Ia tidak merayu. Ia hanya... ada. Dan entah kenapa, itu justru yang paling berbahaya.
Tapi Serena bukan perempuan yang mudah menyerah pada perasaan. Hidupnya sudah cukup rumit tanpa tambahan seseorang dari masa lalunya yang tiba-tiba muncul kembali, rekan kerja yang senyumnya terlalu manis untuk sepenuhnya dipercaya, dan kasus yang semakin dalam ia gali, semakin banyak yang ingin membuatnya berhenti.
Berapa lama seseorang bisa terus berlari dari sesuatu yang ia sendiri tidak yakin ingin hindari?
Read
Chapter: BAB 6 : CELAHKopi Serena datang dalam cangkir putih polos.Di seberangnya, Arga sudah membuka laptopnya kembali—tapi layarnya menghadap sudut yang tidak memungkinkan Serena melihat isinya. "Clara Anindita," katanya. Melanjutkan dari tadi, tanpa transisi. "Kalau dia memang punya hubungan dengan Revan—kenapa ditempatkan di redaksi saya?"Arga tidak langsung menjawab. Ia menutup laptopnya pelan."Karena redaksi Anda yang paling dekat dengan kasus ini." Matanya bertemu mata Serena. "Dan karena orang yang menempatkannya di sana tahu itu.""Bima.""Saya tidak bilang itu.""Tapi Anda tidak menyangkal."Sudut bibirnya bergerak—bukan senyum, tapi berdekatan. "Saya menyarankan Anda tidak menarik kesimpulan dari hal yang belum saya konfirmasi.""Dan saya menyarankan Anda tidak bicara seperti dokumen resmi kalau sedang ngobrol sama saya."Kali ini ia benar-benar tersenyum—tipis, cepat, tapi ada. Kemudian kembali ke ekspresinya yang biasa seolah tidak terjadi apa-apa."Clara belum bisa dikonfirmasi posisinya,
Last Updated: 2026-06-04
Chapter: BAB 5 : Menteng DalamRabu. Pukul enam dua puluh pagi.Serena mematikan mesin mobilnya dua rumah dari alamat yang Harmoko berikan. Jalan di kawasan Menteng Dalam ini sempit dan sepi—deretan rumah tua dengan pagar rendah, pohon mangga yang akarnya sudah mengangkat trotoar, satu warung rokok yang belum buka. Cahaya masih abu-abu. Udara masih bisa dihirup tanpa rasa knalpot.Ia duduk sebentar di balik setir.Kemarin malam ia hampir mengirim pesan ke nomor yang tertera di kartu Arga—hampir, tapi tidak jadi. Bukan karena tidak mau. Tapi karena menerima tawaran seseorang yang belum ia pahami sepenuhnya terasa seperti membuka pintu yang belum ia putuskan mau dibuka.Jadi ia datang sendiri.Seperti biasanya.Rumah itu nomor tujuh belas—cat putih yang mulai mengelupas di sudut, jendela dengan tirai yang ditarik rapat, pot tanaman di depan pintu yang disiram tapi tidak dirawat. Serena mengetuk dua kali.Tidak ada jawaban.Ia mengetuk lagi. Kali ini tiga ketukan, lebih pelan—ritme yang terasa seperti kode, bukan terg
Last Updated: 2026-06-03
Chapter: BAB 4 : Arga MahendraGedung tua Gatot Subroto terlihat lebih kusam di siang hari.Serena parkir dua blok dari gedung—kebiasaan lama, tidak pernah ia pikirkan secara sadar. Ia berjalan dengan langkah yang tidak terburu-buru tapi tidak pelan, blazer hitam tipis di atas kemeja putih yang tucked-in rapi, rambut dikuncir rendah. Cuaca Jakarta yang terik menempel di tengkuknya, tapi Serena sudah lama berdamai dengan itu sebagai bagian dari pekerjaan.Di lobi, resepsionis yang sama mengarahkannya ke lantai empat tanpa ditanya. Artinya ia sudah dikenali. Artinya ada yang memberitahu orang ini bahwa ia akan datang lagi.Serena naik lewat tangga.Lorong yang sama. Lampu neon yang masih berkedip di titik yang sama.Tapi kali ini, pintu CV Andara Konsultan terbuka.Bukan lebar—hanya setengah, dengan cahaya dari dalam yang membuat tepi pintu itu terlihat seperti batas antara dua ruang yang berbeda. Serena mengetuk dua kali pada kusen."Masuk."Ruangan itu kecil dan penuh sesak—tumpukan dokumen di setiap permukaan yang
Last Updated: 2026-06-03
Chapter: BAB 3 : UmpanNama itu muncul dua hari setelah telepon Wisnu.Revan Arkana. Direktur Operasional Minerva Advisory. Bima meletakkan fotonya di meja Serena pagi itu—pintu ditutup, tirai ditarik setengah, kebiasaan baru sejak kasus ini masuk ke meja mereka. Rahang tegas, senyum kamera, berdiri di depan gedung kaca SCBD dengan cara seseorang yang terbiasa difoto tapi tidak butuh difoto."Namanya muncul dua kali di dokumen kamu. Bukan sebagai klien, bukan sebagai auditor." Bima mengetuk foto itu. "Penghubung. Antara siapa dengan siapa—itu yang belum kita tahu. Semua kontak yang aku coba langsung tutup telepon begitu nama Konsorsium disebut."Serena mempelajari foto itu. Cara berdiri Revan—terlalu rileks, terlalu sadar kamera—mengatakan sesuatu tentang pria yang sudah lama bermain di arena yang tidak kelihatan dari luar. Tipe yang tahu persis berapa banyak yang boleh terlihat, dan menyimpan sisanya sangat dalam."Masuk dari pintu lain," katanya.Pintu itu datang sore harinya dalam bentuk undangan gala di
Last Updated: 2026-06-03
Chapter: BAB 2 : Orang AsingSerena tidak cerita soal pria di lorong itu kepada siapa pun.Bukan karena tidak relevan. Tapi karena ia belum tahu cara mendeskripsikannya tanpa terdengar seperti orang yang terlalu memperhatikan orang asing. Dua cangkir kopi. Kalimat yang lebih terasa seperti peringatan daripada percakapan. Punggung yang hilang di tikungan lorong seolah memang tidak pernah ada.Serena sudah menemui banyak tipe orang dalam pekerjaannya—narasumber yang berbohong, pejabat yang mengancam, aktivis yang berlebihan. Tapi pria kemarin tidak masuk ke kategori mana pun dari itu. Dan hal-hal yang tidak bisa dikategorikan selalu lebih mengganggunya dari yang seharusnya.Ia menaruh pria itu di laci belakang pikirannya dan mengunci lacinya.Ada hal yang lebih penting untuk diurus.Pagi itu dimulai seperti biasa: kopi hitam, komputer menyala, catatan kemarin dibuka kembali.Serena baru saja menuangkan gelas kedua ketika Clara masuk dengan tas kulit coklat muda di bahu dan dua gelas kopi takeaway di tangan—lengkap
Last Updated: 2026-06-03
Chapter: BAB 1 : Bab Baru yang Tidak Diminta"Ren, ada breaking news masuk. Bisa ke kantor jam 6? Ini besar."Serena membaca pesan itu dua kali.Kemudian ia mengetik balasan:"Oke. Aku di jalan."Ia memundurkan mobil dari parkiran. Keluar ke jalanan Jakarta yang padat. Masuk ke dalam arus kota yang tidak pernah berhenti bergerak.Serena Aksara tiba di kantor pukul 17.58—dua menit lebih awal dari yang diminta Bima, persis seperti biasanya.Meja kerjanya rapi. Kopi dari kedai bawah gedung masih mengepul di sudut kanan. Layar komputer sudah menyala. Semua terlihat seperti hari-hari biasanya.Yang tidak biasa hanyalah satu hal kecil: tanda tangan di dokumen bermeterai yang baru saja ia torehkan tiga jam lalu masih terasa basah di ujung jarinya—meski logikanya tahu tinta itu sudah lama kering.Baru saja cerai. Empat puluh menit. Sebegitu cepatnya satu pernikahan dua tahun itu dilipat dan dimasukkan ke dalam amplop coklat pemerintahan.Serena menarik napas panjang, meletakkan tasnya, dan duduk.Ia tidak punya waktu untuk berduka. Dan
Last Updated: 2026-06-03