Chapter: Ancaman Di Balik GaleriKalimat Adrian masih menggantung di udara ketika suasana yang semula tenang mendadak berubah mencekam. Aku bahkan belum sempat mengucapkan sepatah kata pun. Di tengah keheningan yang terasa semakin menyesakkan, Tyas kembali tersenyum tipis sambil menggeser layar ponselnya perlahan, seolah ia benar-benar menikmati setiap detik kepanikan yang mulai menguasai kami. "Masih ada beberapa foto lain. Dan menurutku... orang-orang di kantor akan sangat tertarik melihatnya." Ia tersenyum tipis sebelum kembali melanjutkan ucapannya. "Foto ini sudah terhubung ke layar proyeksi utama galeri ini. Dan kau tahu? Ada beberapa karyawan kantor kita yang berada di sini. Jika mereka melihat foto ini, lalu diiringi dengan berita bahwa Rania adalah alasan di balik diterimanya proyek maskot Atlantis, sebesar apa gosip yang akan muncul nanti?" Tyas menatap kami berdua dengan senyum yang begitu jahat. Darahku seakan berhenti mengalir seketika ketika
Huling Na-update: 2026-07-28
Chapter: Sandiwara Di Balik KanvasSingkat waktu, akhir pekan pun tiba. Suara dentang lonceng pintu kaca Galeri Seni Kencana berbunyi pelan, menyambut kedatangan kami di tengah harumnya bunga lili dan aroma lilin aromaterapi yang menenangkan. Pameran seni lukis kontemporer akhir pekan itu dipenuhi oleh para tamu VIP, kolektor seni kelas atas, serta pengusaha-pengusaha ternama. Suasana elegan itu membuatku tanpa sadar menggenggam sedikit lebih erat tangan Adrian yang sejak tadi berada di sampingku.Di sampingku, Adrian berdiri dengan gagah mengenakan jas semi kasual tanpa dasi. Kancing bagian atas jasnya sengaja dibiarkan terbuka. Jemari tangannya menggenggam jemariku dengan begitu erat dan alami, sebuah gestur yang terasa begitu protektif. Seharusnya semua itu terasa profesional, tetapi justru membuat detak jantungku berantakan sejak kami turun dari mobil."Jangan menundukkan kepalamu, Rania," bisik Adrian pelan sambil sedikit menundukkan kepalanya agar hanya aku yang mendengar. "Angkat dagumu. Kamu
Huling Na-update: 2026-07-27
Chapter: Sandiwara Babak Dua"Terkadang, demi membuat suatu kebohongan terlihat seperti kebenaran, kita harus memberikan bumbu yang tampak cukup nyata, Rania," jawabnya tanpa sedikit pun menoleh kepadaku.Aku terdiam dan mematung di kursi mendengar jawaban Pak Adrian. Bumbu yang nyata? Apa maksudnya? Pertanyaan itu terus berputar di dalam kepalaku, sementara suasana di dalam mobil kembali tenggelam dalam keheningan yang terasa jauh lebih berat daripada sebelumnya. Aku tidak tahu apakah harus merasa senang karena rencana sandiwara kami berhasil dan berjalan dengan sukses, atau justru merasa takut karena batas antara profesionalitas dan perasaan kini terasa semakin kabur di antara kami berdua. Dan tanpa kusadari, sejak malam itu... sebuah garis yang dulu terasa begitu jelas perlahan mulai memudar, meninggalkan pertanyaan yang bahkan aku sendiri belum siap mencari jawabannya.Keesokan paginya, firasat buruk yang semalam berusaha kuabaikan ternyata datang lebih cepat daripada yang kuduga. Suasana
Huling Na-update: 2026-07-26
Chapter: Awalan Sandiwara Yang BaikSaat itu aku belum menyadari bahwa sapaan sederhana itu hanyalah permulaan... karena beberapa menit berikutnya, Adrian akan melakukan sesuatu di hadapan ibunya yang membuat sandiwara kami terasa jauh lebih nyata daripada yang pernah kami sepakati.Setelah aku memperkenalkan diri, Adrian langsung menoleh kepadaku dan memberikan senyuman hangat yang terlihat begitu tulus, senyuman yang bahkan belum pernah kulihat selama bekerja di kantornya. Lalu, ia kembali menatap ibunya dengan sorot mata yang tenang namun penuh keyakinan. "Iya, Bu. Ini adalah Rania," ujar Adrian dengan lembut. "Orang yang selama ini selalu membuat saya ingin pulang kantor lebih cepat."Tangan kirinya yang bebas kemudian menepuk pelan punggung tanganku yang melingkar di lengannya. Deg. Aku berani bersumpah, jika ini hanya bagian dari aktingnya yang begitu profesional, Adrian benar-benar pantas mendapatkan piala penghargaan akting terbaik tahun ini. Karena saat ini jantungku sedang berdetak begitu kencang, saking kenca
Huling Na-update: 2026-07-24
Chapter: Perjamuan Makan MalamAku tertegun membaca pesan itu. Tanpa sadar sudut bibirku terangkat membentuk senyum tipis, sementara rasa kesal yang sejak pagi memenuhi kepalaku perlahan mulai memudar. "Hmm... hari yang buruk ini setidaknya bos yang dingin ini tahu persis bagaimana cara mengembalikan mood-ku kembali, dan tahu persis bagaimana cara membayar harga sebuah profesionalisme sandiwaraku dengan sangat adil." Siapa sangka, balasan singkat itu justru menjadi awal dari malam yang sama sekali tidak pernah kubayangkan sebelumnya.Waktu pulang kerja pun tiba. Aku sudah berada di toilet halte bus dua blok dari kantor, berdiri di depan cermin sambil memandangi pantulan diriku dengan napas yang sedikit tertahan. Gaun rajut berwarna krem hangat hingga selutut yang kupakai malam ini adalah hasil buru-buru membongkar seluruh lemari kosan setengah jam setelah pulang kerja. Rambut cokelatku yang biasanya selalu kukuncir asal-asalan kini terurai rapi dengan jepit mutiara kecil di sisi kanan. Gayaku malam ini tidak terlal
Huling Na-update: 2026-07-23
Chapter: Anginan Gosip Dari Lantai DuaPagi harinya, bahkan sebelum sempat meneguk air putih untuk memulai aktivitas, firasat buruk yang sejak semalam menggangguku ternyata benar-benar menjadi kenyataan. Baru beberapa langkah memasuki koridor lantai dua menuju dispenser, langkah kakiku mendadak terhenti saat dua suara yang sangat kukenal terdengar dari balik dinding. Refleks aku segera menarik tubuhku bersembunyi di balik pilar beton dekat ruang fotokopi, sementara jantungku berdetak dua kali lebih cepat. Baru hari kedua sejak kontrak dengan Pak Adrian ditandatangani, tetapi radar gosip kantor sudah mulai menangkap sinyal. Menyeramkan sekali. "Kamu sudah dengar gosipnya belum? Kemarin sore katanya ada yang melihat Rania masuk ke mobil Pak Adrian di halte depan," bisik Tyas dengan nada penuh rasa ingin tahu. "Ah, masa sih? Aku tidak percaya kalau Rania yang kuper itu. Bukannya Rania itu orang yang kalau jalan saja selalu menunduk melihat lantai? Mana mungkin Pak Adrian yang sedingin dan sekeren itu melirik dia. Bahkan aku
Huling Na-update: 2026-07-22