MasukDemi menyelamatkan proyek maskot impiannya dan terhindar dari badai PHK, Rania terpaksa menyetujui kontrak kencan palsu selama tiga bulan dengan Adrian, Direktur Operasional yang dingin dan perfeksionis. Adrian butuh pasangan untuk lepas dari cengkeraman perjodohan ibunya, sementara Rania butuh kepastian karier di tengah rumor kantor yang mulai liar. Namun, saat batas antara sandiwara dan perasaan nyata mulai kabur, rekan kerja yang dengki mengancam akan membongkar rahasia mereka sebagai skandal favoritisme. Di tengah pertaruhan reputasi dan karier, akankah mereka memilih mengakhiri kontrak atau justru memperjuangkan cinta yang tak lagi berpura-pura?.
Lihat lebih banyakKalimat Adrian masih menggantung di udara ketika suasana yang semula tenang mendadak berubah mencekam. Aku bahkan belum sempat mengucapkan sepatah kata pun. Di tengah keheningan yang terasa semakin menyesakkan, Tyas kembali tersenyum tipis sambil menggeser layar ponselnya perlahan, seolah ia benar-benar menikmati setiap detik kepanikan yang mulai menguasai kami. "Masih ada beberapa foto lain. Dan menurutku... orang-orang di kantor akan sangat tertarik melihatnya." Ia tersenyum tipis sebelum kembali melanjutkan ucapannya. "Foto ini sudah terhubung ke layar proyeksi utama galeri ini. Dan kau tahu? Ada beberapa karyawan kantor kita yang berada di sini. Jika mereka melihat foto ini, lalu diiringi dengan berita bahwa Rania adalah alasan di balik diterimanya proyek maskot Atlantis, sebesar apa gosip yang akan muncul nanti?" Tyas menatap kami berdua dengan senyum yang begitu jahat. Darahku seakan berhenti mengalir seketika ketika
Singkat waktu, akhir pekan pun tiba. Suara dentang lonceng pintu kaca Galeri Seni Kencana berbunyi pelan, menyambut kedatangan kami di tengah harumnya bunga lili dan aroma lilin aromaterapi yang menenangkan. Pameran seni lukis kontemporer akhir pekan itu dipenuhi oleh para tamu VIP, kolektor seni kelas atas, serta pengusaha-pengusaha ternama. Suasana elegan itu membuatku tanpa sadar menggenggam sedikit lebih erat tangan Adrian yang sejak tadi berada di sampingku.Di sampingku, Adrian berdiri dengan gagah mengenakan jas semi kasual tanpa dasi. Kancing bagian atas jasnya sengaja dibiarkan terbuka. Jemari tangannya menggenggam jemariku dengan begitu erat dan alami, sebuah gestur yang terasa begitu protektif. Seharusnya semua itu terasa profesional, tetapi justru membuat detak jantungku berantakan sejak kami turun dari mobil."Jangan menundukkan kepalamu, Rania," bisik Adrian pelan sambil sedikit menundukkan kepalanya agar hanya aku yang mendengar. "Angkat dagumu. Kamu
"Terkadang, demi membuat suatu kebohongan terlihat seperti kebenaran, kita harus memberikan bumbu yang tampak cukup nyata, Rania," jawabnya tanpa sedikit pun menoleh kepadaku.Aku terdiam dan mematung di kursi mendengar jawaban Pak Adrian. Bumbu yang nyata? Apa maksudnya? Pertanyaan itu terus berputar di dalam kepalaku, sementara suasana di dalam mobil kembali tenggelam dalam keheningan yang terasa jauh lebih berat daripada sebelumnya. Aku tidak tahu apakah harus merasa senang karena rencana sandiwara kami berhasil dan berjalan dengan sukses, atau justru merasa takut karena batas antara profesionalitas dan perasaan kini terasa semakin kabur di antara kami berdua. Dan tanpa kusadari, sejak malam itu... sebuah garis yang dulu terasa begitu jelas perlahan mulai memudar, meninggalkan pertanyaan yang bahkan aku sendiri belum siap mencari jawabannya.Keesokan paginya, firasat buruk yang semalam berusaha kuabaikan ternyata datang lebih cepat daripada yang kuduga. Suasana
Saat itu aku belum menyadari bahwa sapaan sederhana itu hanyalah permulaan... karena beberapa menit berikutnya, Adrian akan melakukan sesuatu di hadapan ibunya yang membuat sandiwara kami terasa jauh lebih nyata daripada yang pernah kami sepakati.Setelah aku memperkenalkan diri, Adrian langsung menoleh kepadaku dan memberikan senyuman hangat yang terlihat begitu tulus, senyuman yang bahkan belum pernah kulihat selama bekerja di kantornya. Lalu, ia kembali menatap ibunya dengan sorot mata yang tenang namun penuh keyakinan. "Iya, Bu. Ini adalah Rania," ujar Adrian dengan lembut. "Orang yang selama ini selalu membuat saya ingin pulang kantor lebih cepat."Tangan kirinya yang bebas kemudian menepuk pelan punggung tanganku yang melingkar di lengannya. Deg. Aku berani bersumpah, jika ini hanya bagian dari aktingnya yang begitu profesional, Adrian benar-benar pantas mendapatkan piala penghargaan akting terbaik tahun ini. Karena saat ini jantungku sedang berdetak begitu kencang, saking kenca












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.