Chapter: Tak Ada Lagi KeraguanJam dinding di ruang tamu menunjukan pukul setengah enam sore. Sarah baru saja selesai membereskan dapur ketika ponselnya yang berada di atas meja bergetar. Ia melirik sekilas. Nomor tak dikenal itu lagi yang menghubunginya.Jantungnya langsung berdegup lebih cepat. Tanpa sadar, jemarinya menggenggam ujung meja sebelum akhirnya ia meraih ponsel itu. Nomor tersebut tidak pernah menelepon. Selalu hanya mengirim pesan. Dan setiap pesan yang diterimanya selalu membawa kenyataan menyakitkan. Dengan napas yang sedikit tertahan, Sarah membuka isi pesan itu. Tak ada foto maupun video hanya sebuah pesan singkat.Nomor tak di kenal : Kalau kamu ingin tahu bersama siapa suamimu. Datanglah ke Arunika Coffee jam 19.00. Datang sendiri!Sarah membaca pesan itu berulang kali. Dahinya berkerut. Siapakah dibalik pengirim pesan ini? Mengapa seolah ia mengatahui setiap gerak-gerik Farhan. Dan yang paling membuat Sarah bingung, mengapa orang itu begitu ingin membantunya mengetahui kebenarannya?Sarah sege
Last Updated: 2026-09-04
Chapter: Tak Bisa Menunda LagiSinar matahri masuk melalui celah jendela. Sarah membuka gorden perlahan, membiarkan cahaya memenuhi seluruh ruangan. Udara pagi yang sejuk ikut masuk ketika ia membuka jendela, tetapi kesejukan itu membuat tenang pikirannya.Beberapa saat ia hanya berdiri memandangi halaman rumah yang nampak lengang. Dulu suasana pagi selalu menjadi waktu favouritenya. Setelah menyelesaikan pekerjaan rumah, ia akan merasa lega dan akan menikmati ketenangan sebelum Farhan pulang di malam hari. Namun sekrang berbeda. Rumah yang selama ini ai jaga sepenuh hati justru membuat dadanya sesak setiap mengingat wajah Farhan dan Nadya. Perlahan pandangannya beralih ke meja kecil di dekat televisi. Di dalam laci meja kecil itu masih tersimpan map berisi bukti-bukti kebohongan Farhan dan pesan dari nomor tak dikenal yang beberapa waktu terakhir selalu menghantuinya. Sarah tidak membukanya, ia hanya memandangi laci itu cukup lama sebelum menghembuskan napas pelan."Aku harus sekuat ini sampai kapan?" bisiknya li
Last Updated: 2026-08-26
Chapter: Retak yang Kian NyataNadya memandang keluar jendela. Sorot lampu jalan yang bergantian melewati kaca mobil membuat wajahnya nampak muram. Beberapa menit kemudian Farhan sampai di depan sebuah apartemen yang ditempati Nadya. Mesin mobil dimatikan. Namun, tak ada satu pun dari mereka yang segera turun. Nadya masih memandang lurus ke depan. "Sayang..." Farhan menoleh."Aku harap kamu mikirin yang tadi aku bilang."Farhan mengangguk pelan. Nadya tersenyum tipis, namun senyum itu tak mampu menutupi kekecewaannya. "Aku nggak mau disembunyiin terus!""Aku ngerti.""Nggak." Nadya menggeleng pelan. "Kamu nggak paham, kalau ngerti udah dari kemaren kamu ambil keputusan."Kalimat itu membuat Farhan terdiam. Ia tak mampu membantah. Ia menatap kedua tangannya yang masih menggenggam setir. Ia sadar segala kerumitan yang terjadi dalam hidupnya sendiri adalah konsikuensi dari apa yang di perbuatnya. Dari hal yang awalnya main-main hingga terbawa arus sejauh ini. Sampai pada akhirnya ia harus memilih keputusan, tetap
Last Updated: 2026-08-20
Chapter: Awal Sebuah Jawaban dan Jejak NadyaSetelah membereskan ruang tamu dan mencuci peralatan makan, Sarah kembali duduk di sofa. Pandangannya tanpa mengarah ke arah meja kecil di samping televisi. Di sanalah ia menyimpan map berisi bukti-bukti yang selama beberapa hari terakhir terus menghantuinya. Perlahan Sarah membuka laci itu. Tangannya mengambil map, lalu mengeluarkan beberapa lembar hasil cetak foto dan tangkapan layar pesan dari nomor misterius itu. Ia menghamparkan semuanya di atas meja. Tatapannya pindah dari satu bukti ke bukti lainnya. Mulai dari foto Farhan bersama perempuan itu di kafe, foto mereka memasuki apartemen dan foto selfi yang membuat hatinya benar-benar hancur. Sarah memejamkan mata sejenak, berusaha menetralkan rasa sakit yang mulai muncul ke permukaan. Andai semua ini hanya kesalahpahaman. Andai ada penjelasan yang mampu menghapus keraguan di hatinya. Namun semakin banyak bukti yang ia lihat, harapan itu justru semakin memudar. Ia ingat ucapan Silvia kemarin."Jangan buru-buru mengonfrontasi Farh
Last Updated: 2026-08-20
Chapter: Dibalik Kata LemburPagi datang tanpa membawa ketenangan. Sarah terbangun lebih awal dari biasanya. Matanya terasa berat setelah semalaman nyari tak terpejam. Setiap kali memejamkan mata, bayangan foto yang dikirim nomor misterius itu kembali menghantuinya. Ia duduk di tepi ranjang beberapa saat sebelum akhirnya beranjak ke kamar mandi. Setelah membasuh wajah, Sarah menatap pantulan dirinya di cermin. Matanya sembap. Ia menghembuskan napas pelan, lalu berusaha merapihkan tampilannya. Setidaknya, ia tak ingin Farhan menyadari kalau semalaman ia menangis. Sama seperti pagi-pagi sebelumnya. Ia menyiapkan sarapan, menyeduh secangkir kopi untuk suaminya. Semuanya dilakukan tanpa hanyak berpikir, seolah tubuhnya sudah hafal dengan baik rutinitas pagi. Pintu kamar terbuka. Farhan keluar dengan pakaian kerja yang sudah rapih. Pandangannya hanya sekilah mengarah ke meja makan sebelum menarik kursi dan duduk."Pagi," ucapnya datar."Pagi," jawab Sarah pelan.Keheningan kembali memenuhi ruangan. Farhan menaikmat
Last Updated: 2026-08-12
Chapter: Bukti Diatas RanjangSarah menatap pintu lobi apartemen yang tertutup rapat. Sudah lebihndari dua puluh menit berlalu sejak Farhan dan perempuan itu masuk ke dalam. Selama itu pula, Sarah tidak beranjak dari kemudi. Beberapa kali pintu lobi terbuka. Ada penghuni yang keluar masuk membawa kantong belanjaan, ada juga yang membawa koper di tangannya. Namun, tak ada satu pun diantara mereka adalah Farhan atau perempuan itu. "Sarah...." Silvia memecah keheningan." Kita mau nunggu sampai kapan di sini?" Sarah menggeleng pelan, tatapannya masih lurus memperhatikan pintu lobi. "Aku nggak tahu."Tangga Sarah masih bertumpu di atas setir. Pandnagannya tak pernah lepas dari pintu masuk apartemen, seokah berharap Farhan muncul kapan saja. "Kalau memang dia ada urusan harusnya dari tadi udah keluar," gumam Silvia. Sejujurnya ia sangat kesal pada lelaki itu bisa-bisanya memainkan sahabatnya. Sarah terdiam. Batinnya berperang mencari alasan yang masuk akal. Mungkin ada rapat? Mungkin bertemu klien? Atau mungkin...
Last Updated: 2026-08-10