MasukSebuah foto misterius mengubah hidup Sarah dalam sekejap. Di dalam foto itu, suaminya, Farhan, terlihat memasuki sebuah apartemen bersama perempuan lain. Pria yang selama ini selalu pulang larut dengan alasan lembur ternyata menyimpan rahasia besar. Sarah harus memilih tetap mempertahankan rumah tangga yang penuh kebohongan atau melepaskan orang yang pernah menjadi cinta pertamanya. Namun ketika Farhan akhirnya kehilangan Sarah, barulah ia menyadari bahwa tak semua penyesalan bisa diperbaiki.
Lihat lebih banyakMenunggu adalah pekerjaan yang paling melelahkan. Ketika seseorang tak lagi memberikan kepastian. Malam itu, Sarah kembali duduk seorang di meja makan. Beberapa lauk sudah tersaji sejak beberapa jam lalu, namun tak ada satupun dari menu tersebut yang sempat tersentuh. Sudah dua kali sarah menghangatkan lauk yang dimasaknya . Setiap kali uang tipis kembali mengepul dari panci, harapan itu ikut menghangat.
Ia percaya, sebentar lagi suara kendaraan milik Farhan akan terdengar di halaman. Namun, waktu terus berjalan, sama halnya dengan makanan yang mulai mendingin kehilangan kehangatannya. Sesekali ia melirik jam dinding, menatap layar ponsel, menintip jalan dari balik tirai jendela ruang tamu, lalu kembali duduk ketika yang lewat adalah kendaraan milik tetangganya. Tatapannya menyapu jalanan yang mulai sepi. Hanya beberapa kendaraan yang melintas lalu menghilang ditelan gelapnya malam. Sarah memeluk lengannya sendiri berusaha mengusir rasa dingin yang entah berasal dari dingin malam atau dari kegelisahan yang sejak tadi menggerogoti hatinya. Ia melirik kalender yang tergantung di dinding. Hari itu seharusnya menjadi hari yang sederhana, namun membahagiakan. Ia sengaja memasak banyak makanan kesukaan Farhan, berharap mereka bisa menikmati makanan bersama dipenuhi canda, tawa seperti dulu. Namun, hingga hari semakain larut lelaki itu tak kunjung pulang bahkan memberikan kabar pun tidak. Dimana sebenarnya Farhan? Lemburkah? Atau terjadi sesuatu dalam perjalanan pulang? Ah, mungkin Farhan sedang lembur. Bukankah akhir-akhir ini pekerjaannya memang sedang menumpuk? Namun, kenapa jika Farhan sedang lembur mengapa tidak mengabarinya? Ah, mungkin Farhan lupa atau handphonenya lawbat. Lagi dan lagi Sarah berusaha meyakinkan dirinya sendiri, meskipun di dalam hatinya, ia meraskan alasan itu terdengar dipaksakan. “Ya, ampun Mas kamu kemana?” ucap Sarah setengah frustasi. Sekali lagi, Sarah meraih benda pipih berwarna hitam yang tergelak begitu saja di atas meja makan. Jari jemarinya menekan nama kontan ‘my husband’ yang berada di urutan palaing atas log panggilan pada ponselnya. Tut.... Nada sambung terdengar memenuhi ruang sunyi, namun seseorang di sebrang sana tak kunjung menjawab panggilannya. Sekali, dua kali, tiga kali, namun tak ada jawaban hingga akhirnya panggilan itu terputus dengan sendirinya. Sarah menarik nafas pelan, ia mencoba menelepon suaminya untuk kesekian kalinya, namun kali ini panggilan berstatus ‘memanggil’ lalu ia mencoba mengirim pesan dan ternyata ceklis dua. Yang dimana artinya Farhan sedang melakukan panggilan dengan oranglain. Ia sedikit lega karena tandanya Farhan baik-baik saja, namun kecurigaan mulai mengetuk hatinya. Kamu pulang jam berapa? Aku sudah masak kesukaan Mas Mas lembur? Mas balas pesanku Sarah menggenggam ponselnya sedikit lebih erat lagi. Ingatannya melayang pada Farhan beberapa tahun lalu. Lelaki itu tak pernah lupa mengabarinya jika pulang terlamabat. Bahkan ketika mampir membeli makanan sebuah pesan singkat selalu dikirim agar Sarah tak khawatir menunggunya. Bukan hanya itu, bahkan apapun yang terjadi di kantor seperti gosip sekalipun selalu lelaki itu bercerita. Aku mampir beli martabak. Sayang, ada gosip baru di kantor haha. Nanti aku ceritain kalau udah di rumah. Sarah tersenyum miris. Entah sejak kapan kebiasaan itu perlahan-lahan pudar lalu menghilang. Pesan-pesan Farhan kini semakin jarang, panggilannya semakin jarang dan perhatian yang dulu begitu sederhana perlahan berubah menjadi sesuatu yang sulit ia temukan. Waktu menunjukan pukul 23.45 suara deru mesin mobil menyadarkan lamunan Sarah. Ia berdiri, merapihkan rambutnya, lalu berjalan menuju pintu utama sebelum tangan kekar lelaki itu mengetuk pintu. Ia tersenyum. Menghapus raut wajah khawatir yang tadi sempat singgah, meraih tangan Farhan dan menciumnya dan rasa penuh hormat.. “Cape, Mas?” tanya Sarah ketika melihat raut wajah Farhan yang lelah. “Hm,” ucap Farhan tanpa menatap wajah istirnya. Lelaki itu melangkah meninggalkan Sarah yang masih berada diambang pintu. Senyum yang tadi ia pertahankan perlahan pudar sedikit demi sedikit ketika indera penciumannya samar-samar mencium aroma parfume yang asing saat Farhan melewatinya. Bukan parfume yang biasa dipakai suaminya. Sarah sempat mengerit, tetapi ia buru-buru menepis prasangka yang mulai bermunculan. Mungkin aroma itu berasal dari rekan kerja yang tak sengaja bersentuhan dengannya. Bukankah terlalu berlebihan jika ia berpikir macam-macam? Meskipun begitu kegelisan di dadanya justru semakin sulit diabaikan. “ Mas makan malamnya sudah siap. Aku tinggal menghangatkannya sebentar.” Farhan hanya menggeleng pelan. Tanpa menjawab tawaran Sarah ia melangkah masuk ke dalam kamar. Sarah mematung beberapa saat di depan meja makan. Tatapannyajatuh pada dua piring yang masih tersusun rapih. Perlahan ia menarik salah satu kursi dan duduk. Mengangkat tudung saji perlahan. Jemarinya mengangkat pinggiran mangkuk sup yang sudah dingin sedingin suasana malam ini. Beberapa jam lalu, ia memasaknya dengan penuh semangat, membayangkan akan makan malam sambil berbincang seperti biasanya.Namun, yang tersisa hanyalqh kekosongan. Sendok dan piring ysng sempat bergeser ia rapikan kembali, meskipun tak akan ada seorsngpun yang menggunakannya malam itu. Jarak diantara mereka semakin nyata. Bukan karena langkah yang memisahkan, namun, sikap Farhan yang perlahan berubah asing. Seolah Farhan sedang membangun dinding tinggi tak skasat mata. Lelaki itu melepss jam tangannya tanpa menoleh ke arah Sarah sedikipun. Saat Sarah hendak membantu melepaskan jas yang dikenakannya Farhan lebih dulu melepaskannya sendiri dan berlalu meninggalkan Sarah menuju kamar mandi. Tak ada sapaan, senyuman, tak ada cerita-cerita random yang dibawa Farhan dari kantor. Bahkan tak ada tatapan yang dulu membuat Sarah merasa dicintai dan merasa bahwa dirinya adalah rumah tempat pulang Farhan saat lelah. Memeluknya adalah obat paling mujarab kata Farhan waktu itu, namun sekarang entah kemana kebiasaan itu. Sekarang Sarah merasa dirinya sudah tidak menarik lagi untuk Farhan atau Farhan memang sudah tak nyaman dengan dirinya? Atau Farhan sudah menemukan obat lain diluaran sana? Kini yang terdengar hanyalah derap langkah Farhan ysng semakin menjauh meninggslkan keheningan yang memenuhi setiap sudut rumah mereka. Dari balik pintu kamar mandi terdengar suara air keran mulai mengalir. Sarah, bergegas keluar kamar tak lama ia kembali membawa segelas air putih dan menaruhnya di atas nakas. Di sampingnya ponsel terus bergetar. Ia membalik layar ponsel yang menyala itu. Dada Sarah sesak saat pesan itu muncul, nama seseorsng muncul di sana, diikuti sepotong pesan yang belum sempat terbaca semuanya. Jatung Sarah berdegup leibih kencang, tangannya bergetar, air matanya nyaris jatuh. Untuk beberapa detik ia hanya mampu mampu menatap tanpa membalas pesan itu.Pagi itu, setelah menyelesaikan pekerjaan rumah, Sarah duduk sejenak di ruang tamu sambil menikmati segelas teh hangat. Rumah terasa begitu sepi. Sejak Farhan berangkat bekerja, tidak ada lagi suara yang menemani selain suara detak jarum jam yang tertempel di dinding.Tak lama kemudian, ponselnya berbunyi sebuah pesan masuk dari Silvia, sahabatnya sejak jaman mereka TK. SilviaSar, yuk keluar cari makan sambil cuci mata biar seger siapa tau ada cogan yang cocok buat dijadiin simpanan haha. Hampir saja Sarah menyeburkan teh yang sedang diminumnya. Ia, menggelengkan kepalanya, tak habis pikir dengan Silvia yang tak pernah berubah sejak jaman mereka kecil. Meskipun, sahabatnya ini sudah memiliki kekasih, tapi tetap saja kalau melihat lelaki tampan di luaran mata Silvia jelagatan. SarahAda-ada saja, nanti Ryan marah loh.SilviaBiarin aku lagi sebel sama Ryan. Jadi mau gak?Sarah tersenyum tipis membaca balasan Silvia. Sudah lumayan cukup lama ia tidak bertemu dengan Silvia. Belakang
Ucapan Farhan semalam masih jelas di benak Sarah. Lelaki itu menjawab pertanyaannya dengan begit tenang, seolah apa yang dikatakannya adalah sebuah kebenaran yang tak perlu di ragukan. Padahal dengan mata kepalanya sendiri, Sarah melihat Farhan memasuki sebuah kafe pada saat jam kantor. Semalam Sarah memutar ulang kejadian itu di dalam pikirannya. Wajah Farhan yang tetap tenang saat menjawab pertanyaannya, langkah kakinya yang memasuki kafe, hingga sosok perempuan yang berdiri menyambutnya terus bergantian memenuhi pikirannya. Sarah menghela napas sejenak, lalu menghembuskan napas panjang."Mungkin memang ada urusan pekerjaan di luar kantor," gumamnya pelan.Ia mencoba mencari alasan untuk membela suaminya. Bukankah Farhan selama ini dikenal sebagai lelaki yang bertanggung jawab? Mungkin perempuan itu hanya rekan kerja. Mungkin mereka sedang membahas pekerjaan. Mungkin yang dilihatnya hanya sebuah kesalahpahaman. Namun, semakin keras ia berusaha meyakinkan diri semakin sulit pula ia
Farhan berdiri di depan cermin sambil merapikan dasi yang melingkar di lehernya. Sesekali ia melirik jam tangan, seolah khawatir akan terlambat. Disisi lain, Sarah keluar dari dapur membawa secangkir kopi dengan uap yang masih mengepul. Tanpa banyak bicara Sarah meletakan kopi itu di atas meja. Pandangannya tertuju pada wajah Farhan. Ada beberapa pertanyaan yang sebenarnya ingin ia sampaikan, namun tak satupun berhasil keluar dari bibirnya. "Mas, kopinya" Farhan meraih cangkir kopi itu tanpa menatap istrinya. Ia mengesapnya sebentar, lalu kembali fokus merapikan kemejanya. "Hari ini aku banyak kerjaan. Mungkin pulangnya agak malam," kata Farhan datar. Sarah tersenyum tipis, meski senyum itu tak benar-benar sampai ke matanya. "Iya, Mas. Hati-hati di jalan." Farhan mengambil tas kerjanya, lalu melangkah menuju pintu. Sarah mengikuti dari belakang, mengantarkannya hingga ke teras depan. Meskipun pagi-pagi mereka tak lagi dipenuhi kehangatan Sarah tetap mencium tangan Farhan sama se
Suara alarm yang berbunyi pelan membangunkan Sarah dari tidur yang tak pernah benar-benar lelap. Ia membuka mata perlahan, menatap langit-langit kamar beberapa saat sebelum akhirnya bangkit dari tempat tidur. Sisi ranjang di sampingnya sudah kosong. Sisi ranjang yang semalam ditempati suaminya kini hanya mengisakan lipatan selimut yang berantakan. Sarah menghela napas pelan, tanpa membiarkan dirinya larut dalam lamunan, ia segera melangkan ke kamar mandi dan memulai rutinitas paginya seperti biasa. Tak lama kemudian, aroma bawang putih yang ditumis di dapur memenuhi dapur. Jemarinya bergerak lincah menyiapkan sarapan, meskipun pikirannya sama sekali tidak fokus. Beberapa kali ia terdiam, hingga nyaris lupa mematikan api kompor."Astaga...," gumamnya pelan sambil mematikan kompor.Ia mengusap wajahnya pelan. Hari itu Sarah bertekad menjalani hari-harinya seperti biasa. Setidaknya sampai ia benar-benar menemukan jawaban atas kegelisahan yang selama ini terus mengganggunya. Farhan baru












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.