Pak Bos Galak, Tidak Mau di Tolak?!
“Ganteng sih, tapi belagu! Palingan barangnya cuma segini, kecil !”
Akibat pengaruh alkohol di pesta kantor, Davina kelepasan meracau dan menghina 'aset' Trian—sang manajer yang terkenal paling galak dan ditakuti se-kantor.
Namun, apa jadinya jika keesokan paginya, ia malah terbangun di atas ranjang yang sama dengan Trian, setelah menghabiskan malam panas bersama.
Bukannya pura-pura lupa, Trian justru menolak menganggap kejadian itu sebagai kecelakaan biasa. Pria itu mulai mendekat, menggoda, dan menerobos masuk ke dalam kehidupan Davina. Masalahnya, Trian sendiri adalah pembuat aturan paling kejam di kantor: Dilarang berpacaran dengan rekan kerja !
Ketika hubungan rahasia ini mulai terbongkar, mana yang akan Trian pilih: aturan kantor yang selama ini ia junjung tinggi, atau wanita yang sudah membuat dunianya jungkir balik?
Read
Chapter: Bekas Merah Di LeherKeesokan harinya, Davina melangkah memasuki area kantor dengan perasaan yang begitu canggung dan diliputi rasa was-was. Baru satu hari terlewati sejak insiden mabuk di acara kantor yang berujung kacau, ia kini malah menyadari bahwa dirinya telah melakukan hal bodoh yang jauh lebih besar bersama sang manajer, Trian.Sepanjang perjalanan dari lobi menuju ruang kerjanya, pikiran Davina terus berkecamuk. Ia bahkan tidak berani membayangkan bagaimana ia harus bertatap muka dengan pria itu hari ini setelah semua yang terjadi di ruangan semalam.“Ini hasrat emang nggak bisa ditahan-tahan apa, ya?” rutuknya dalam hati, merutuki kebodohannya sendiri yang begitu mudah hanyut dalam buaian Trian.Setibanya di area divisi, Davina mendapati suasana yang tak biasa. Teman-teman sekantornya tampak berkumpul berkerumun di dekat meja Inka. Mereka berbisik-bisik dengan kepala saling mendekat, seolah sedang membedah sebuah rahasia besar yang sangat menarik perhatian. Davina yang berniat langsung men
Last Updated: 2026-07-23
Chapter: Bermain Solo di Kamar MandiTrian memacu mobilnya dengan pelan. Jantungnya masih berdebar kencang mengingat apa yang baru saja terjadi. Bayangan pipi Davina yang merona merah karena ulahnya tanpa sadar membuat bibir pria itu tertarik membentuk senyuman tipis.Setibanya di restoran tempat pertemuan, Trian langsung disambut oleh kliennya yang menatap heran ke arah wajahnya."Wah, Pak Trian kelihatannya sumringah banget hari ini," tegur sang klien sambil tersenyum penuh arti. "Ada angin apa? Jangan-jangan... lagi jatuh cinta, ya?"Trian sontak terkekeh pelan, mencoba menetralkan ekspresinya. "Ah, tidak juga, Pak. Mari kita langsung bicarakan saja proyeknya."Rapat berjalan dengan lancar. Namun di balik profesionalismenya, debar di dada Trian justru semakin menggila. Sepanjang pertemuan, ia hanya bisa berharap agar Davina masih menunggunya di kamar. Mustahil bagi gadis itu untuk berani melangkah pulang dalam kondisi pakaiannya yang berantakan, terlebih dengan kancing blouse yang lepas akibat sentakan kasarnya ta
Last Updated: 2026-07-23
Chapter: BAB 8 | Basah Banget"Nggak... aku nggak suka..." Davina mencoba bersikap denial, menolak mengakuinya sambil memalingkan wajah. Ia sama sekali tidak berani menatap langsung ke dalam sepasang manik mata Trian yang kini nampak menyala, dipenuhi oleh api hasrat yang sulit dipadamkan."Tapi, bagian ini tidak bisa bohong, Dav... basah banget," bisik Trian di antara seringai penuh kemenangan.Tanpa membuang waktu, jemari pria itu semakin menari dengan liar di area paling sensitif milik Davina. Sentuhan yang begitu intens itu sukses membuat sang gadis kehilangan kendali atas suaranya sendiri. Davina mulai meracau tak karuan, matanya memutih, merem-melek menikmati gelombang sensasi yang menghantam nya bertubi-tubi, sementara peluh tipis mulai membasahi dahi serta pelipisnya, menciptakan kilau rapuh di bawah temaram lampu ruangan."Ini hukuman karena kamu sudah berani bilang punya saya pendek, hm?" suara Trian terdengar semakin berat, sarat akan dominasi yang mutlak.Davina sudah benar-benar kehilangan sisa-s
Last Updated: 2026-07-23
Chapter: Ah, Mas.. Jangan..Tangan Trian terangkat perlahan, jemarinya menyentuh kancing blouse Davina yang berada di posisi paling atas. Sementara itu, Davina hanya terdiam dengan napas tertahan di atas pangkuan sang manajer. Kedua tangan gadis itu merapat, mencengkeram erat bahu pria berlesung pipi tersebut seolah mencari pegangan di tengah puncak gairah yang berkecamuk."Kenapa? Bukannya tadi malam kamu sangat berani?" Suara Trian rendah, sarat akan selidik yang membuat bulu kuduk Davina meremang."Jujur... aku cuma ingat sebagian saja, Mas," cicit Davina dengan nada gugup."Bagian yang mana saja yang masih kamu ingat?"Refleks, pandangan Davina turun ke arah pangkuan mereka. Gadis itu menelan ludah dengan susah payah saat merasakan sesuatu yang kontras dan begitu nyata di balik kain celana Trian. Ada sesuatu yang mulai menegang di bawah sana, terasa mengganjal dan memberikan sensasi panas yang langsung menjalar ke permukaan bokong Davina yang sedang duduk menumpu."Jadi... bagian yang itu... pendek atau
Last Updated: 2026-07-23
Chapter: BAB 6 | Reka Adegan SemalamTak lama kemudian, mobil berhenti tepat di depan sebuah rumah dua lantai bergaya monokrom. Bangunannya tidak terlalu besar, tetapi memancarkan kesan elegan dan berkelas. Trian mematikan mesin mobil, lalu melepas sabuk pengamannya. "Turun." "Hah? Saya ikut turun juga, Mas?" Davina mengerjap bingung. "Mau nunggu sendirian di mobil sampai gelap?" Pertanyaan itu langsung membuat Davina kehilangan alasan untuk membantah. Tanpa menunggu jawabannya, Trian lebih dulu keluar dari mobil. Davina hanya bisa mengembuskan napas pelan sebelum ikut turun. Ia merapikan blazer abu-abunya, lalu mengekor di belakang pria itu. Rumah itu terasa begitu bersih hingga nyaris tak memiliki cela. Benar-benar mencerminkan pemiliknya. "Silakan duduk di mana saja," ujar Trian sambil melonggarkan dasinya. "Tapi jangan pegang barang sembarangan." Davina mendengus dalam hati. Emangnya aku anak kecil? Meski kesal, ia tetap menurut. Ia memilih duduk di sofa ruang tamu yang empuk, meletakkan tas kerjanya di s
Last Updated: 2026-07-07
Chapter: BAB 5 | Panjang, Mas !"P-panjang, Mas!" Jawaban itu meluncur begitu saja dari mulut Davina dengan suara lantang. Sesaat kemudian, kedua matanya membelalak lebar. Astaga... ! Refleks ia langsung menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan. Wajahnya memerah seketika hingga ke ujung telinga. Kalau saja bumi bisa terbuka saat itu juga, Davina rela mengubur dirinya hidup-hidup. Mulutnya benar-benar tidak bisa diajak bekerja sama. Trian mengernyit tipis, lalu mengembuskan napas panjang. "Belum lima menit yang lalu saya bilang laporan itu terlalu pendek," ucapnya dengan nada lebih tegas. "Kamu bahkan belum keluar dari ruangan ini, tapi sudah lupa." Davina hanya mampu menundukkan kepala. Jangankan menjawab, menatap wajah Trian saja ia sudah tidak sanggup. 'Ya Tuhan..Kupikir dia sedang membahas...Ah, mati saja sekalian!' Davina merutuki dirinya sendiri tanpa henti. "Lain kali bawa buku catatan," lanjut Trian. "Catat setiap instruksi yang saya berikan. Saya tidak ingin mengulang hal yang sama berkali-ka
Last Updated: 2026-07-07