Pak Bos Galak, Tidak Mau di Tolak?!
"Kamu terlalu mabuk, Dav. Jangan dinaik-turunkan, cobalah dengan gerakan maju-mundur..."
"Begini ya? ...Ahh hnghh mas.." Davina menatap sayu pria yang terbaring di bawahnya, sambil menggerakkan panggulnya mengikuti instruksi.
Semua kegilaan ini bermula dari pengaruh alkohol di pesta kantor. Davina lepas kendali dan terus mengumpat kesal kepada Trian. Tak hanya menyerang kepribadian sang manager, ia bahkan secara terang-terangan menghina ukuran intim atasannya itu.
" Ganteng sih, tapi belagu ! Sok banget tuh, palingan burungnya cuman segini, pendek !"
Trian yang mendengar penghinaan tersebut tentu saja merasa harga dirinya diinjak-injak. Tidak terima dengan racauan mabuk Davina, ia langsung menantang wanita itu untuk membuktikan ucapannya sendiri dalam satu malam panas.
"Siapkan dirimu malam ini, Dav. Karena saya tidak akan memberi ampun untuk ejekanmu barusan!"
Read
Chapter: Rapat PentingRuang rapat utama di lantai teratas gedung perusahaan properti itu terasa begitu formal dan dingin. Siang ini, Trian memimpin rapat secara langsung untuk membahas pembangunan dan pemasaran proyek daycare edukatif yang bekerja sama dengan yayasan milik keluarga Maria. Davina duduk di sudut meja panjang bersama Bu Sekar, sibuk mencatat poin-poin penting serta menyiapkan dokumen pendukung. Di seberang meja, Elsa tampak anggun mendampingi jajaran tim marketing, sesekali melemparkan tatapan hangat ke arah Trian yang duduk tegas di kepala meja. Meskipun Davina berusaha keras untuk tetap profesional dan fokus pada pekerjaannya, kehadiran Trian yang begitu dekat tetap saja membuat dadanya berdesir perih. Terlebih lagi saat melihat Elsa yang begitu bebas memberikan perhatian pada pria itu. Davina memilih menundukkan pandangan, menelan rapat-rapat kenyataan pahit bahwa pria yang pernah ia cintai kini menganggapnya tak lebih dari sekadar staf baru. "Baik, kita masuk ke poin strateg
Last Updated: 2026-08-31
Chapter: Ayah dan AnakKeesokan harinya, sebelum berangkat menuju kantor pusat, ponsel Trian berdenting nyaring di dalam mobil. Pria itu menautkan ponselnya ke bluetooth dashboard seraya memutar kemudi membelah jalanan pagi yang mulai padat. "Halo, Pak Trian. Tolong bantu aku, bisa tidak kamu mampir sebentar ke daycare-nya Maria? Laptopku tadi malam tertinggal di rumahnya, ada berkas penting untuk meeting jam sembilan hari ini di sana," cerocos suara di seberang telepon tanpa basa-basi. Trian menghela napas panjang, memijat pelipisnya. "Merepotkan saja..." "Tolonglah, Pak... mumpung searah sama rute kantor," bujuk suara itu lagi dengan nada memohon yang dibuat-buat. Trian memutar bola matanya pasrah. Hanya Biru yang berani memerintah dan memintanya melakukan hal serandom ini. Itu karena Trian tidak hanya menganggap Biru sebagai sekretaris pribadi, tetapi juga sebagai teman dekat yang selalu ada di sisinya. Trian pun cukup mengenal Maria, tunangan Biru, dengan sangat baik. Lagi pula, kunjungan in
Last Updated: 2026-08-31
Chapter: Pelukan dari DavinaPulang dari lokasi proyek A, Trian memutuskan untuk langsung kembali ke apartemen pribadinya daripada harus kembali ke kantor. Entah kenapa, sejak tatapan matanya beradu dengan mata Davina pagi tadi, kepalanya terus-menerus terasa berdenyut kuat. Semakin ia mencoba memaksakan otaknya untuk mengingat sosok Davina, semakin tajam pula rasa pening yang menusuk pelipisnya. Trian melangkah lesu membelah ruang tamu apartemennya. Ia menghempaskan tubuh kokohnya di atas sofa empuk, membiarkan jas hitamnya tergeletak begitu saja di sampingnya. Pria itu menyandarkan kepala, memejamkan matanya rapat-rapat seraya memijat pelipisnya yang amat nyeri, berharap rasa sakit dan bayangan wanita itu bisa melenyap sejenak. Lalu, bunyi bel di pintu utama apartemennya berdering halus, memecah keheningan ruangan. Trian mengerang pelan. Dengan sisa tenaga dan rasa pening yang masih menggejala, ia bangkit dari sofa dan berjalan perlahan menuju pintu depan. Trian memutar gagang pintu tanpa sempat memeriksa
Last Updated: 2026-08-31
Chapter: Menjemput KamariSementara itu, di kantor, Davina mengemasi tas kerjanya dan bersiap untuk pulang. Hari pertama kerja sebenarnya tidak terlalu berat secara beban tugas. Sistem kantor terasa teratur dan rekan-rekan kerjanya cukup menyambutnya dengan hangat. Namun, secara mental dan emosional, hari ini rasanya sungguh menguras seluruh tenaganya. Setelah merapikan mejanya, Davina melangkah keluar dari area gedung perusahaan properti itu. Ia merogoh ponsel di dalam tasnya, memesan taksi online secara cepat, dan berniat untuk langsung pergi menjemput Kamari. Di dalam taksi yang merambat pelan menembus kemacetan sore kota, Davina menyandarkan kepalanya pada kaca jendela. Ia menghela napas panjang yang terasa sangat berat. Pikiran-pikiran yang berusaha ia kubur rapat-rapat selama lima tahun terakhir mendadak mencuat kembali ke permukaan. Apa sebenarnya yang terjadi dengan Mas Trian? batin Davina bertanya-tanya. Tatapan mata Trian tadi pagi terus terbayang di benaknya. Cara pria itu memandangnya, c
Last Updated: 2026-08-31
Chapter: Wanita Berambut PendekKetukan beruntun di pintu membuyarkan lamunan Trian. Seorang pria berpenampilan rapi melangkah masuk ke dalam ruangan seraya membawa sebuah tablet di tangannya. "Kenapa melamun?" sapa pria itu ramah dengan senyum tipis di bibirnya. Trian mengusap tengkuknya seraya menarik napas pendek. "Mengagetkan saja." "Aku sudah mengetuk pintu berkali-kali, ya," protes pria bernama Biru itu, yang tak lain adalah sekretaris pribadi sekaligus salah satu orang kepercayaan Trian. Ia melangkah mendekati meja kerja sang Presdir. "Hari ini kita ada jadwal kunjungan ke proyek A sepuluh menit lagi." Trian hanya mengangguk pelan tanpa banyak bersuara. Ia meraih jas hitamnya yang tersampir, memakainya kembali, lalu berjalan menyusul Biru keluar
Last Updated: 2026-08-31
Chapter: Wajah yang Tak AsingTrian melangkah keluar dari divisi operasional dengan tegap, disusul rombongan direksi dan sekretarisnya yang mengekor rapi. Bagi pria itu, kunjungan singkat tadi hanyalah formalitas rutin seorang pimpinan tertinggi. Namun bagi Davina, beberapa menit tadi terasa bagaikan siksaan yang menguras seluruh tenaganya. Davina menyandarkan tubuhnya yang lemas di kursi kerja. Tangannya yang dingin meremas tepi meja, menahan gejolak emosi dan rasa pening yang mendadak menghantam kepalanya. "Mbak Davina, ini diusap dulu jidat sama lehernya pakai minyak kayu putih," ujar Bu Sekar ramah seraya meletakkan botol kecil di meja Davina. Wajah wanita paruh baya itu penuh kehangatan dan rasa khawatir. "Tadi mukanya benar-benar pucat seperti melihat hantu. Sekarang sudah mendingan?" "Su
Last Updated: 2026-08-30