MasukApa jadinya bila pria yang kamu perjuangan selama ini ternyata suami orang? Gilanya lagi semuanya terungkap ketika dirahimmu sudah hadir benih pria itu. Apa yang harus dilakukan oleh Lala, tetap maju sebagai wanita perebut suami orang, atau mundur meskipun penuh kehancuran!
Lihat lebih banyakRasa bersalah Sarah tak bisa dipungkiri lagi, meskipun hari masih begitu pagi tapi ia langsung menuju rumah sakit. Semuanya kini terasa menyakitkan rasa bersalah yang membuatnya menjadi seperti ini. Sarah menatap tangan Lala, terasa begitu rapuh di tangannya. “La… aku beneran minta maaf sama kamu. Kamu mau maafin aku?” tanyanya lirih. Tak ada jawaban. Sarah sudah tahu itu. Hening memenuhi ruangan ICU, hanya suara monitor yang berdetak pelan. “Sekarang… aku udah cerai sama Aran. Tolong bangun dari tidur panjangmu ini, La… supaya kalian bisa hidup bersama dan bahagia,” ucap Sarah pelan, menahan haru. Ia menarik napas, menatap tangan Lala lebih lama lagi sebelum melanjutkan. “Dari kamu, aku belajar, La… belajar mengerti apa itu cinta sejati,” ucap Sarah pelan, matanya menatap tangan Lala yang masih diam. Ia tersenyum tipis, seakan membiarkan semua rasa dan masa lalu yang berat berlalu begitu saja. “Saling mencintai itu… terasa sangat indah. Beda banget sama memaksakan k
Sarah melangkah turun dari mobil. Tak menoleh lagi, kendaraan itu pun melaju pergi, meninggalkan keheningan di halaman rumah. Baru saja kakinya menginjak teras, suara Bu Nining sudah terdengar. “Sarah, kamu pulang sama siapa tadi?” tanyanya penasaran. Sarah berhenti. Bahunya turun, seolah semua tenaga mendadak habis. “Itu… kakaknya Lala, Bu,” jawabnya lirih. “Namanya Firman.” Ia mengusap pipinya yang basah. “Sejak beberapa hari ini dia terus ngejar Sarah. Katanya mau minta penjelasan, kenapa Sarah sering ke rumah sakit, kenapa selalu lihat Lala dari jauh.” Suara Sarah bergetar. “Dia pikir Sarah mau melenyapkan Lala, Bu.” Air matanya jatuh lagi. “Apa mungkin muka Sarah kelihatan sejahat itu, Bu?” tanyanya pelan, nyaris tak terdengar. Bu Nining langsung mendekat. Tanpa banyak tanya, ia menarik Sarah ke dalam pelukannya. “Ah, nak…” suaranya lembut, penuh iba. “Bukan begitu.” Tangan Bu Nining mengusap punggung Sarah pelan, menenangkan. “Kamu itu kelihatan capek
Sarah berdiri di depan ruang ICU, menatapnya lama. Lalu ia berbalik, melangkah pergi dengan surat cerai di tangannya. Air matanya jatuh satu per satu, mengiringi keputusannya. Sarah menunduk. Jemarinya mengepal di sisi tubuh, seolah menahan sesuatu agar tak runtuh di tempat itu juga. Ia sadar, masih ada perasaan yang tertinggal untuk Aran. Tapi rasa itu kalah oleh sesuatu yang lebih menyakitkan: rasa bersalah pada Lala yang terus menghantuinya. Setiap kali menutup mata, bayangan Lala muncul—pucat, rapuh, dan terbaring tanpa daya. Dan Sarah tahu, ia bukan hanya pergi meninggalkan Aran. Ia pergi membawa beban yang tak akan selesai hanya dengan satu surat cerai. Langkahnya terus menjauh dari ruang ICU, meski hatinya tertinggal di ambang pintu. Bukan karena cinta yang belum padam, melainkan karena penyesalan yang tak tahu cara pulang. Ia terus melangkah tanpa benar-benar memperhatikan jalan. Pikirannya kosong, dadanya penuh. Saat menyeberang, sebuah kendaraan melaju
Perasaan Aran kini sedikit lebih lega. Lala hampir saja menyerah—nyaris pergi di depan matanya sendiri. Namun nyatanya, ia masih bertahan. Dadanya masih naik turun, meski napas itu harus dibantu oleh peralatan medis yang menempel di tubuhnya. Bagi Aran, itu sudah lebih dari cukup. Selama Lala masih bernapas, harapan—sekecil apa pun—masih ada. “Sayang, aku mohon… jangan pernah tinggalkan aku,” suara Aran bergetar. “Aku nggak bisa tanpa kamu.” Ia duduk di kursi kecil di samping ranjang ICU, menggenggam tangan Lala erat-erat, seolah genggaman itu satu-satunya hal yang menahan Lala tetap di dunia ini. “Aku tahu aku sering salah,” lanjutnya lirih. “Aku keras kepala. Aku sering marah. Tapi satu hal yang harus kamu tahu—aku selalu mencintaimu. Selalu.” Aran menunduk, dahinya menyentuh punggung tangan Lala. “Kamu berjuang ya,” bisiknya. “Jangan takut… aku di sini. Jangan pergi, aku nggak bisa kehilangan kamu.” Ia menarik napas panjang, mencoba menahan isak yang tak mau p
Lala memutar kunci mobil, dan mesin menyala pelan. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan dada yang terasa terlalu sempit untuk diisi oleh apa pun selain sakit. Jalanan di depannya buram, bukan karena kabut, melainkan air mata yang terus menetes tanpa izin. Sesekali ia mengusap pipinya
Semua orang sudah membubarkan diri, termasuk Lala. Ia berjalan sendirian di lorong ketika tiba-tiba seseorang meraih pergelangan tangannya dengan kasar. Langkahnya terhenti, tubuhnya berbalik. Belum sempat melihat jelas siapa yang menariknya… Plak! Tamparan keras mendarat di pipinya. Suarany
Sunyi menyergap seisi kamar setelah langkah Aran menjauh. Lala berdiri diam, masih membelakangi pintu yang kini tertutup rapat. Tak ada isak. Tak ada air mata yang jatuh. Hanya hening yang mengalir, menelusup ke dalam rongga dadanya. Perlahan ia menurunkan tangan, seolah seluruh tenaganya
Suara ponsel Aran tiba-tiba berdering—memecah ketegangan yang nyaris menelan keduanya. Aran sontak tersentak, segera merogoh saku celana sebelum sempat Lala menahannya lagi. Nama yang tertera di layar membuat wajahnya pucat seketika. Ia menepi, menjawab panggilan itu dengan suara tercekat.












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan