LOGINApa jadinya bila pria yang kamu perjuangan selama ini ternyata suami orang? Gilanya lagi semuanya terungkap ketika dirahimmu sudah hadir benih pria itu. Apa yang harus dilakukan oleh Lala, tetap maju sebagai wanita perebut suami orang, atau mundur meskipun penuh kehancuran!
View MoreLala melangkah menuju dapur dengan hati yang berkerut.
Rasanya seperti berjalan membawa kekalahan bukan dari orang lain, melainkan dari sosis buatannya sendiri. Tadi, ia mencicipinya sedikit. Hanya satu gigitan, tapi cukup untuk membuat hidupnya terasa menyesal sejenak. Rasanya aneh. Aneh yang bahkan tidak bisa diterjemahkan lidah. Lebih cocok disebut percobaan gagal daripada makanan. Ia buru-buru memuntahkannya, menatap dapur seakan benda-benda di sana ikut menertawakannya. “Ya ampun… pantesan Kak Bima marah,” gumamnya. Ada getir kecil dalam suara itu. Lala menarik napas panjang. Gelarnya panjang, ilmunya banyak, dia adalah seorang dokter spesialis kandungan, tapi urusan dapur membuatnya tak lebih dari siswa tingkat pertama. Ironis sekali. Niat awalnya mencari Bik Iyem, kepala ART yang jelas jago masak. Setidaknya, dia bisa menyelamatkan harga diri Lala. Namun, takdir pagi itu berkata lain. Saat pintu dapur terkuak, yang pertama terlihat bukan Bik Iyem, melainkan Aran. Senyum muncul di bibir Lala, pelan… licik… seperti ide nakal baru saja menetas. Kalau ada Aran, kenapa harus Bik Iyem? Dengan langkah ringan, ia mendekat dan tanpa banyak bicara, tangannya melingkar ke punggung pria itu. “Kak Aran~” Suara manja itu mengalir seperti sirup. Aran tersentak, lalu cepat-cepat menyingkir. “N-Nona Lala?” Lala hanya tersenyum, mata berbinar seolah dapur adalah panggung dan Aran pemeran utama yang tak tahu ia sedang dikerjai. “Ajarin Lala masak, ya?” Nada suaranya manis, tapi ada sesuatu yang lain sesuatu yang membuat Aran kaku. Ketika lelaki itu mencoba menolak, Lala mencondongkan tubuh sedikit dan berbisik santai, seolah cerita kemarin adalah rahasia kecil yang imut. “Lala bisa bilang ke Kak Bima… soal yang kemarin.” Ancaman itu melayang seperti bunga jatuh di atas meja— indah, tapi merusak. Wajah Aran pucat seketika. Senyumnya yang dipaksakan terlihat seperti lipstik di wajah badut tidak pada tempatnya. Aran belum sempat mencari alasan ketika aroma gosong perlahan memenuhi dapur. Seperti tanda bahaya kecil yang terlambat disadari. “Eh… bau apa ini?” Suara Oma terdengar dari ambang pintu. Aran tersentak, matanya membelalak. Ia buru-buru mematikan kompor, di atasnya, mie instan sudah menghitam seperti nasibnya pagi ini. “S-saya lupa sedang masak, Nyonya,” katanya gugup. Oma menyipitkan mata, menatap keduanya bergantian. “Kenapa kalian serius sekali? Ada apa?” Aran terbata, tapi Lala sigap mengisi kekosongan. “Lala lagi belajar masak, Oma. Kak Aran yang mau ngajarin,” katanya ringan, seperti tidak terjadi apa-apa. Aran ingin menyangkal, tetapi kata-kata itu berhenti di tenggorokan. Satu suara kecil dalam kepalanya terus mengingatkan. Kalau dia buka mulut soal malam itu? Habislah... Oma mengangguk, bibirnya menyungging senyum ramah. “Ah, bagus! Aran kan lumayan jago. Tolong ajari Lala, ya. Kamu sudah seperti keluarga.” Ia berlalu pergi, meninggalkan dua manusia yang sedang terjebak antara dapur dan masa lalu. Aran menelan ludah. Seolah udara mendadak menipis. “Kak Aran~” Suara Lala kembali terdengar, kali ini lebih pelan. Bukan memohon. Lebih seperti mengingatkan bahwa ia tak punya banyak pilihan. “Maaf, Nona. Saya… tidak bisa,” ucapnya, berusaha menjaga nada tetap sopan. Lala memiringkan kepala. “Benarkah?” “Saya sedang banyak pekerjaan.” Hening sejenak. Lalu Lala tersenyum yang tidak benar-benar tersenyum. “Kalau tiba-tiba kita dinikahin, gimana?” Nada suaranya ringan, tapi tatapannya menusuk. Aran membeku. Peluh mengalir turun dari pelipisnya. Lala menguik-ngikkan alis, seperti mengingatkan sesuatu yang seharusnya tidak disebut. “Malam itu… Kak Aran lupa?” Seketika ingatan itu membanjiri kepalanya. Malam ketika Sofia dan Lala merayakan ulang tahun; terlalu banyak minuman, terlalu banyak tawa yang berubah jadi tangis. Bima hanya sempat berpesan agar Lala tidak dipulangkan dalam keadaan begitu. Jadi Aran membawanya ke apartemen, dengan pikiran sederhana: biar dia istirahat, besok juga selesai. Tapi tidak ada yang selesai malam itu. Di dalam kamar yang dingin, Lala menangis seperti anak kecil yang baru sadar dunia tidak memihaknya. Meracau tentang sang ibu, tentang rumah besar yang terasa seperti museum, tentang dirinya yang—bahkan saat dilahirkan—tidak pernah benar-benar diinginkan. “Kenapa aku lahir, kalau cuma jadi kesalahan?” Kalimat itu menancap. Aran tak punya kata. Hanya diam, mendengarkan. Karena malam itu, bukan Lala yang mabuk—dunia yang terasa miring. Saat ia mencoba membaringkan Lala ke ranjang, gadis itu menariknya, memeluknya erat. Meratap, memohon. Seperti seseorang yang hanya ingin sekali saja merasakan dipilih. Aran panik. Membawanya ke kamar mandi, mengguyur kepalanya dengan air. Lala terduduk, rambutnya basah menempel di pipi. Tidak melawan. Hanya menatap. Tubuhnya gemetar. Entah karena dingin, atau karena sesuatu yang lebih tua daripada usia— kesedihan yang membatu. Ketika ia kembali membawanya ke ranjang, Lala menariknya masuk ke dunia yang sempit dan bercampur air mata. Ciuman datang tiba-tiba, keputusan menyusul seperti badai. Malam itu…semua batas kabur. Dan esok paginya, hanya penyesalan yang tersisa untuk Aran. Sementara Lala berdiri tegak, menatapnya tanpa ragu. “Kak Aran sudah ambil keperawanan Lala. Lala tunggu tanggung jawabnya.” Lalu pergi. * “Kak Aran nggak lupa, kan?” Suara Lala kembali menghantam kenyataan di dapur itu. Aran menarik napas, berat. “Lupa… tidak. Tapi—besok.” “Besok nikah?” Lala memiringkan kepala. “Besok belajar masak,” ujarnya cepat. Lala terbahak kecil. “Kirain.” Aran langsung pergi sebelum Lala bisa menambah syarat lain. Langkahnya terburu-buru, nyaris lari. Saking paniknya, ia hampir menabrak seseorang di lorong. “Hei! Kau buta?!” Suara berat itu membuat Aran terhenti. “B-bos!” Aran nyaris menjatuhkan dirinya ke lantai. “Aku sebesar ini, masih bisa kau tabrak?!” Bima mendengus sinis, lalu pergi begitu saja—tanpa tahu bahwa dua langkah di belakangnya, ada rahasia yang bisa mengguncang semuanya. Aran berdiri terpaku. Rasanya udara di rumah itu lebih dingin dari AC. Dan jauh di dapur, Lala hanya tersenyum kecil. Senyum yang menyimpan banyak kisah dan satu tuntutan yang belum selesai.“Aku mohon, kamu bersabar sebentar saja,” pinta Aran dengan suara tertahan. Lala menggeleng cepat. “Aku bukan nggak bisa bersabar,” jawabnya lirih tapi tegas. “Tapi takdir kita bersama memang tidak pernah ada.” Keduanya saling menatap dalam diam—tatapan yang sarat luka sekaligus harapan yang nyaris habis. “Aku cuma minta satu hal,” lanjut Lala, suaranya bergetar. “Ceraikan aku. Lepaskan aku. Aku nggak mau jadi penyebab kehancuran siapa pun. Aku perempuan, Kak. Aku tahu rasanya disakiti oleh perempuan lain.” Aran terdiam sesaat, lalu bertanya pelan, “Kalau begitu… bagaimana dengan aku?” Lala terpaku. “Bagaimana dengan perasaanku yang terlanjur mencintaimu?” lanjut Aran, suaranya semakin serak. “Kak, ini salah,” jawab Lala cepat. “Nggak ada kesalahan yang bisa dibenarkan.” “Dan nggak ada yang benar berubah jadi salah,” sanggah Aran. “Aku mencintaimu. Itu benar. Lalu bagaimana denganku kalau kamu pergi?” Lala menarik napas panjang, menahan perih di dadanya. “Kamu
“Kak,” panggil Lala dengan suara nyaris seperti berbisik. Aran menoleh. Cahaya bulan jatuh tepat di wajah Lala, membuat matanya tampak berkilau—entah karena pantulan cahaya atau air mata yang tertahan. “Aku capek,” lanjut Lala pelan. “Capek jadi orang yang salah, padahal aku cuma bertahan hidup.” Kata-kata itu meluncur lirih, tapi menghantam keras dada Aran. Ia ingin mendekat. Ingin memeluk. Ingin berkata bahwa semua akan baik-baik saja. Tapi ia hanya berdiri diam, menahan dirinya sendiri. “Aku nggak minta Kakak memilih aku,” ucap Lala lagi, suaranya mulai bergetar. “Aku cuma… pengen berhenti menyakiti banyak hati.” Angin malam kembali berembus, menggerakkan rumput di sekitar mereka. Di bawah langit desa yang luas dan sunyi, dua hati yang saling mencintai itu sama-sama terjebak—antara keinginan dan kenyataan yang tak memberi ruang. Aran tak menjawab. Ia hanya kembali meraih tangan Lala, kali ini lebih pelan, lebih hati-hati. Mereka melangkah menyusuri jalan s
“La, kamu makan ya. Aku takut banget kalau kamu kenapa-kenapa,” ucap Hani cemas. Lala menatap Hani di hadapannya, lalu tersenyum tipis. “Makasih, Han. Kamu udah nemenin aku sejauh ini,” katanya pelan. “Minggu depan kita balik ke Jakarta. Aku bisa hidup sendiri.” Nada suaranya terdengar tenang, tapi ada sesuatu yang rapuh di baliknya. Hani menatap Lala lama, seolah ingin membantah, namun memilih diam. Lala menunduk. Ia sudah tak sanggup lagi tinggal satu atap dengan Sarah. Setiap langkahnya di rumah itu terasa seperti dosa. Setiap tatapan, setiap napas, membuatnya merasa sebagai perempuan paling jahat—meski ia tak pernah berniat merebut apa pun. Ia hanya mencintai. Dan rupanya, itu saja sudah cukup untuk melukai banyak orang. *** Aran duduk di teras. Meskipun malam semakin larut, udara dingin sama sekali tak ia rasakan. Pikirannya terlalu penuh untuk memberi ruang pada rasa apa pun. Tatapannya kosong, menembus gelap halaman yang hanya diterangi lampu teras temar
Malam turun dengan pelan, tapi rumah itu terasa jauh lebih berat dari biasanya. Meja makan sudah tertata rapi. Lauk tersaji lengkap, masih mengepulkan uap hangat, namun tak satu pun aroma itu benar-benar menggugah selera. Aran duduk di ujung meja, punggungnya tegak tapi bahunya kaku. Pandangannya beberapa kali melirik kursi kosong di hadapannya dimana biasanya Lala duduk. Sejak kejadian sore tadi, Aran terus diliputi kecemasan pada Lala. Namun tak ada satu pun celah baginya untuk melihat keadaan perempuan itu. Semua terasa serba salah, serba tertahan. “Mas,” panggil Sarah setelah mengisi piring Aran dengan nasi dan lauk. Aran tak langsung menjawab. Tatapannya kosong, pikirannya melayang entah ke mana. Tak lama kemudian, Bu Nining muncul dan duduk perlahan di kursinya. Wajahnya masih tampak pucat, meski kondisinya jelas lebih baik dari sore tadi. “Lala mana?” tanya Bu Nining. Sarah menoleh sekilas ke arah Bu Nining, lalu tersenyum tipis. “Nanti Sarah panggilin ya, Bu.”






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews