LOGIN"Kamu terlalu mabuk, Dav. Jangan dinaik-turunkan, cobalah dengan gerakan maju-mundur..." "Begini ya? ...Ahh hnghh mas.." Davina menatap sayu pria yang terbaring di bawahnya, sambil menggerakkan panggulnya mengikuti instruksi. Semua kegilaan ini bermula dari pengaruh alkohol di pesta kantor. Davina lepas kendali dan terus mengumpat kesal kepada Trian. Tak hanya menyerang kepribadian sang manager, ia bahkan secara terang-terangan menghina ukuran intim atasannya itu. " Ganteng sih, tapi belagu ! Sok banget tuh, palingan burungnya cuman segini, pendek !" Trian yang mendengar penghinaan tersebut tentu saja merasa harga dirinya diinjak-injak. Tidak terima dengan racauan mabuk Davina, ia langsung menantang wanita itu untuk membuktikan ucapannya sendiri dalam satu malam panas. "Siapkan dirimu malam ini, Dav. Karena saya tidak akan memberi ampun untuk ejekanmu barusan!"
View More"Kamu terlalu mabuk, Dav," bisik Trian di sela ciumannya, merasakan ketegangan yang semakin memuncak.
Aroma parfum bercampur dengan sisa alkohol tercium dari sudut bibir Davina. Tanpa meminta izin, gadis itu kembali menyambar bibir managernya dengan lembut. "Sadar Dav, sebelum saya ikut kehilangan kendali," untuk pertama kalinya, Davina mendengar Trian memohon dengan nada tertahan sambil mencoba mendorong tubuh Davina berharap staff nya itu segera sadar dari mabuknya. Mendengar hal itu, Davina semakin merasa tertantang. Entah mengapa, melihat manajernya yang biasanya selalu arogan dan memerintahnya ini dan itu, kini tampak tak berdaya di bawah kendalinya menjadi kepuasaan tersendiri bagi Davina. Meski ia sendiri pun merasakan sensasi mabuk, membuat kepalanya sedikit pening. 'Rasain, biasanya cuman bisa ngomel doang !' batin Davina sambil menatap sayu kepada Mas Trian, manajer operasionalnya tanpa berniat memberi ampunan, menyerang pria itu dengan sentuhan yang lebih lembut dan dalam. Kegilaan ini berawal dari tumpukan kekesalan Davina pada manajer operasionalnya itu. Hari ini adalah malam perayaan anniversary kantor. Sejak jauh-jauh hari, Davina sudah membayangkan bisa menikmati hidangan lezat di ballroom hotel mewah yang disewa khusus oleh perusahaan. Acara dijadwalkan pukul tujuh malam. Namun, saat waktu menunjukkan pukul tujuh kurang sepuluh menit, ia justru masih terjebak di kubikelnya, bergulat dengan setumpuk berkas rapat yang baru saja dilemparkan Trian ke mejanya. "Mas, sebentar lagi jam tujuh..." protes Davina dengan suara tertahan. "Lalu kenapa?" Trian menyahut datar tanpa sedikit pun mengalihkan pandangannya dari layar laptop. "Selesaikan laporannya sekarang, nanti kita berangkat bareng," titahnya mutlak. "Tapi, saya janjian bareng Inka, Mas..." "Memangnya Inka masih di sini?" Davina menunduk, menggertakkan gigi karena kesal. Sialnya, pria itu benar. Suasana kantor sudah senyap sejak sore tadi. Semua rekan kerjanya sudah lebih dulu pulang untuk bersiap ke pesta, sementara ia harus mendekam di ruangan bersama sang manajer yang terkenal paling galak, perfeksionis, dan arogan seantero kantor. Pukul sembilan malam, laporan itu akhirnya selesai. Davina mendengus kasar, melempar penanya ke atas meja. Kalau jam segini, makanan penutup di sana pasti sudah ludes tak bersisa, gerutunya dalam hati. Ini jelas bukan kali pertama Trian menguji batas kesabarannya. Dengan sisa-sisa tenaga dan emosi yang meluap, Davina melirik tajam ke arah pria itu yang mulai merapikan barang-barangnya. Trian bangkit, berjalan santai menuju pintu keluar. "Ayo, nanti keburu acaranya selesai," ujar Trian tanpa dosa. Davina mendengus sinis, bangkit menyusul dengan langkah menghentak. "Emang udah hampir selesai!" tukasnya tajam, menyimpan bara amarah yang siap meledak kapan saja. Dan benar saja, setibanya mereka di ballroom hotel, meja hidangan penutup telah ludes tanpa sisa, dan sesi pengundian doorprize sudah mendekati babak akhir. Dengan langkah gontai, Davina melangkah mendekati meja bundar dan langsung menjatuhkan diri di kursi sebelah Inka. Temannya itu menatapnya dengan sorot mata penuh iba. "Nih, tadi aku ambilin kupon doorprize-nya buat kamu, jaga-jaga siapa tahu beruntung," bisik Inka sambil menyodorkan selembar kertas kecil. "Makasih banyak, ya, In.." Davina memasang wajah sendu, napasnya masih memburu akibat kekesalan yang belum sepenuhnya reda. Tanpa pikir panjang, Davina meraih gelas tinggi berisi koktail di hadapannya dan langsung menenggak isinya dalam sekali teguk, membiarkan cairan dingin itu meluncur pelan untuk meredam panas di dadanya. "Eh, nanti mabuk, loh..." Inka mencoba mencegah, tetapi terlambat. Davina justru menyambar gelas koktail milik Inka yang sengaja dibiarkan utuh di atas meja. "Dav... kamu tuh nggak kuat minum," tegur Inka cemas. "Ahh..." Davina mendesis, alisnya bertaut tajam. Pandangannya yang mulai mengabur beralih ke panggung utama, menatap lurus pada sosok Trian yang sedang berdiri di atas podium, memberikan sambutan penutup acara kantor. "Manajer gila!" umpatnya lirih, penuh benci. Beberapa saat kemudian, langkah Davina mulai terhuyung. Kepalanya mendadak pening berputar, tetapi anehnya, ada sensasi ringan yang menggelayut di dadanya, seolah amarahnya melebur bersama alkohol yang mengalir di pembuluh darahnya. Ia memaksa kakinya melangkah menuju toilet wanita, sementara Inka mengekor erat di sampingnya dengan wajah panik. "Tuh kan, apa kubilang. Mabuk kan kamu?" seru Inka, memapah tubuh Davina yang nyaris ambruk. "Ini tuh gara-gara Trian..." cibir Davina cadel, napasnya berbau alkohol pekat. "Ganteng sih, tapi belagu! Sok banget, palingan barangnya cuma segini!" Davina memperagakan kedua jarinya, merentangkan jarak yang tampak begitu pendek dengan tatapan meremehkan. "Sepuluh senti? Nggak sampai satu jengkal!" lanjutnya lagi sambil tertawa lepas, mengabaikan situasi sekitar. "Dav, jangan bicara mesum di sini!" Inka buru-buru membekap mulut Davina dengan telapak tangannya. Wanita itu sudah mulai meracau tak keruan akibat pengaruh alkohol. "Badannya sih bagus, six-pack, tapi kalau barangnya kecil buat apa, ya kan, Inka?" cecar Davina tanpa filter. "Maksud kamu barang apa, Dav?" Jantung Inka nyaris copot saat suara bariton yang sangat familier dan dingin itu tiba-tiba menggelegar dari arah belakang mereka. Dengan kaku, Inka dan Davina menoleh perlahan. "Mas... Trian?"Dua hari setelah insiden mencekam di gudang tua itu, suasana hangat dan penuh kelegaaan akhirnya kembali melingkupi keluarga Trian. Hari ini, Davina dijadwalkan untuk kembali melakukan fitting gaun pengantin yang sempat tertunda. Kali ini, Nyonya Sandra menegaskan diri untuk ikut mendampingi calon menantunya secara langsung. Rasa trauma dan cemas masih menyisa di benaknya, membuat wanita paruh baya itu tidak ingin membiarkan Davina pergi tanpa pengawasan ketat. Mobil yang dikendarai sopir pribadi berhenti tepat di depan butik langganan mereka di kawasan pusat kota. Nyonya Sandra menggandeng erat lengan Davina saat melangkah masuk, memancarkan naluri protektif seorang ibu yang tak ingin kehilangan calon anaknya lagi. "Ibu pastikan hari ini semuanya lancar, Nak. Tidak akan ada lagi yang berani mengganggu hari bahagiamu," ujar Nyonya Sandra lembut seraya menepuk punggung tangan Davina. Davina tersenyum tulus, merasakan kehangatan yang dulu amat langka ia dapatkan dari ibu mer
Trian membimbing Davina keluar dari gudang tua itu, merangkulkan tangannya di bahu Davina seolah tak ingin melepaskannya sedetik pun. Meskipun Davina berulang kali mengatakan dirinya tidak apa-apa, raut wajah Trian tetap dipenuhi kecemasan yang mendalam. Ia tidak bisa tenang sebelum memastikan sendiri kondisi fisik dan mental istrinya di tangan medis. "Kita ke rumah sakit sekarang," ujar Trian tegas saat membukakan pintu mobil untuk Davina. "Mas, aku beneran nggak apa-apa. Cuma lecet sedikit di pergelangan tangan bekas tali," bisik Davina lembut, mencoba menenangkan suaminya yang masih tampak tegang. "Nggak, Dav. Kamu harus diperiksa dokter. Aku nggak mau ada luka dalam atau trauma yang terlewat," sahut Trian tak bantah. Nyonya Sandra yang duduk di kursi belakang bersama Kamari—yang sudah dijemput kembali—turut mengangguk setuju. "Nurut sama Trian ya, Nak. Ibu juga bakal lebih tenang kalau kamu sudah diperiksa dokter." Sepanjang perjalanan menuju Rumah Sakit Siloam, Tria
Tak lama setelah rencana itu disusun, Trian dan tim keamanannya tiba di lokasi. Biru langsung memberi kode isyarat yang menegaskan bahwa ponselnya masih terhubung dengan Elsa dalam panggilan aktif. Beruntung, saat Biru mencoba meraih dan mematikan ponsel tersebut, panggilan itu terputus lebih dulu karena Elsa mematikannya secara sepihak, takut posisinya terlacak oleh jaringan Trian. "Kamu baik-baik saja, Nak?" Nyonya Sandra langsung berhambur memeluk Davina begitu wanita itu dibebaskan, menyalurkan rasa khawatir dan penyesalan yang mendalam. Biru menunduk dalam-dalam, tak berani menatap mata siapa pun. Trian kemudian meminta Biru menceritakan ulang kronologi ancaman Elsa dengan lebih detail. Setelah mendengar semuanya, dengan berat hati dan rasa muak yang tertahan, Trian akhirnya menyetujui rencana Biru dan Davina untuk memancing Elsa melalui sandiwara tersebut. Trian dan Nyonya Sandra lantas bersembunyi di sudut gelap gudang, sementara dua orang bodyguard mengambil posisi
Dua jam sebelumnya .... Biru mematikan rokoknya dengan menekan puntungnya kuat-kuat ke tanah. Ia menghela napas berat, mencoba menguraikan beban yang menghimpit dadanya. Perintah Elsa untuk menyentuh dan melecehkan Davina benar-benar sudah melampaui batas akal sehat. Di tengah kegelapan pikirannya, bayangan lima tahun terakhir mendadak berputar di kepalanya. Biru teringat pada semua kebaikan Trian. Pria itu tidak pernah sekadar memperlakukannya sebagai bawahan atau asisten pribadi, melainkan sebagai teman terdekat. Trian selalu mempercayainya, membantunya saat kesulitan, dan melewati banyak hal bersamanya. Rasa bersalah yang selama ini tertimbun rapi akhirnya meledak, menghancurkan ketakutannya pada ancaman Elsa. Dengan tangan gemetar, Biru meraih ponselnya kembali. Ia menekan nomor Trian. Hanya dalam dua kali nada panggil, telepon diangkat dengan nada suara yang penuh kecemasan dan kemarahan. _Biru! Apa-apaan kamu?! Di mana Davina?!_ teriak Trian di seberang sana. "Pa






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore