Pak Bos Galak, Tidak Mau di Tolak?!

Pak Bos Galak, Tidak Mau di Tolak?!

last update최신 업데이트 : 2026-07-23
작가:  Smilegummy 방금 업데이트되었습니다.
언어: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
10
6 평가 순위. 6 리뷰
10챕터
75조회수
읽기
보관함에 추가

공유:  

보고서
개요
장르
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.

​“Ganteng sih, tapi belagu! Palingan barangnya cuma segini, kecil !” ​Akibat pengaruh alkohol di pesta kantor, Davina kelepasan meracau dan menghina 'aset' Trian—sang manajer yang terkenal paling galak dan ditakuti se-kantor. ​Namun, apa jadinya jika keesokan paginya, ia malah terbangun di atas ranjang yang sama dengan Trian, setelah menghabiskan malam panas bersama. ​Bukannya pura-pura lupa, Trian justru menolak menganggap kejadian itu sebagai kecelakaan biasa. Pria itu mulai mendekat, menggoda, dan menerobos masuk ke dalam kehidupan Davina. Masalahnya, Trian sendiri adalah pembuat aturan paling kejam di kantor: Dilarang berpacaran dengan rekan kerja ! ​Ketika hubungan rahasia ini mulai terbongkar, mana yang akan Trian pilih: aturan kantor yang selama ini ia junjung tinggi, atau wanita yang sudah membuat dunianya jungkir balik?

더 보기

1화

BAB 1 | Gara-gara Mabuk

​"Kamu terlalu mabuk, Dav," bisik Trian mendongak, merasakan ketegangan yang semakin memuncak.

​Melihat hal itu, Davina semakin mempercepat gerakannya. Entah mengapa, melihat manajernya yang biasanya selalu arogan dan memerintahnya ini dan itu, kini tampak tak berdaya di bawah kendalinya menjadi kepuasaan tersendiri bagi Davina. Meski ia sendiri pun merasakan sensasi mabuk, membuat kepalanya sedikit pening.

​"Pelankan sedikit Dav, saya takut semakin kehilangan kendali," untuk pertama kalinya, Davina mendengar Trian memohon dengan nada tertahan.

'Rasain, biasanya cuman bisa ngomel doang !' batin Davina sambil menatap sayu kepada Mas Trian, manajer operasionalnya tanpa berniat memberi ampunan.

​Kegilaan ini berawal dari tumpukan kekesalan Davina pada manajer operasionalnya itu. Hari ini adalah malam perayaan anniversary kantor. Sejak jauh-jauh hari, Davina sudah membayangkan bisa menikmati hidangan lezat di ballroom hotel mewah yang disewa khusus oleh perusahaan.

Acara dijadwalkan pukul tujuh malam. Namun, saat waktu menunjukkan pukul tujuh kurang sepuluh menit, ia justru masih terjebak di kubikelnya, bergulat dengan setumpuk berkas rapat yang baru saja dilemparkan Trian ke mejanya.

​"Mas, sebentar lagi jam tujuh..." protes Davina dengan suara tertahan.

​"Lalu kenapa?" Trian menyahut datar tanpa sedikit pun mengalihkan pandangannya dari layar laptop.

​"Selesaikan laporannya sekarang, nanti kita berangkat bareng," titahnya mutlak.

​"Tapi, saya janjian bareng Inka, Mas..."

​"Memangnya Inka masih di sini?"

​Davina menunduk, menggertakkan gigi karena kesal. Sialnya, pria itu benar. Suasana kantor sudah senyap sejak sore tadi. Semua rekan kerjanya sudah lebih dulu pulang untuk bersiap ke pesta, sementara ia harus mendekam di ruangan bersama sang manajer yang terkenal paling galak, perfeksionis, dan arogan seantero kantor.

​Pukul sembilan malam, laporan itu akhirnya selesai. Davina mendengus kasar, melempar penanya ke atas meja. Kalau jam segini, makanan penutup di sana pasti sudah ludes tak bersisa, gerutunya dalam hati.

​Ini jelas bukan kali pertama Trian menguji batas kesabarannya. Dengan sisa-sisa tenaga dan emosi yang meluap, Davina melirik tajam ke arah pria itu yang mulai merapikan barang-barangnya. Trian bangkit, berjalan santai menuju pintu keluar.

​"Ayo, nanti keburu acaranya selesai," ujar Trian tanpa dosa.

​Davina mendengus sinis, bangkit menyusul dengan langkah menghentak. "Emang udah hampir selesai!" tukasnya tajam, menyimpan bara amarah yang siap meledak kapan saja.

​Dan benar saja, setibanya mereka di ballroom hotel, meja hidangan penutup telah ludes tanpa sisa, dan sesi pengundian doorprize sudah mendekati babak akhir.

​Dengan langkah gontai, Davina melangkah mendekati meja bundar dan langsung menjatuhkan diri di kursi sebelah Inka. Temannya itu menatapnya dengan sorot mata penuh iba.

​"Nih, tadi aku ambilin kupon doorprize-nya buat kamu, jaga-jaga siapa tahu beruntung," bisik Inka sambil menyodorkan selembar kertas kecil.

​"Makasih banyak, ya, In.." Davina memasang wajah sendu, napasnya masih memburu akibat kekesalan yang belum sepenuhnya reda.

​Tanpa pikir panjang, Davina meraih gelas tinggi berisi koktail di hadapannya dan langsung menenggak isinya dalam sekali teguk, membiarkan cairan dingin itu meluncur pelan untuk meredam panas di dadanya.

​"Eh, nanti mabuk, loh..." Inka mencoba mencegah, tetapi terlambat. Davina justru menyambar gelas koktail milik Inka yang sengaja dibiarkan utuh di atas meja.

​"Dav... kamu tuh nggak kuat minum," tegur Inka cemas.

​"Ahh..." Davina mendesis, alisnya bertaut tajam. Pandangannya yang mulai mengabur beralih ke panggung utama, menatap lurus pada sosok Trian yang sedang berdiri di atas podium, memberikan sambutan penutup acara kantor.

​"Manajer gila!" umpatnya lirih, penuh benci.

​Beberapa saat kemudian, langkah Davina mulai terhuyung. Kepalanya mendadak pening berputar, tetapi anehnya, ada sensasi ringan yang menggelayut di dadanya, seolah amarahnya melebur bersama alkohol yang mengalir di pembuluh darahnya. Ia memaksa kakinya melangkah menuju toilet wanita, sementara Inka mengekor erat di sampingnya dengan wajah panik.

​"Tuh kan, apa kubilang. Mabuk kan kamu?" seru Inka, memapah tubuh Davina yang nyaris ambruk.

​"Ini tuh gara-gara Trian..." cibir Davina cadel, napasnya berbau alkohol pekat.

​"Ganteng sih, tapi belagu! Sok banget, palingan barangnya cuma segini!" Davina memperagakan kedua jarinya, merentangkan jarak yang tampak begitu pendek dengan tatapan meremehkan.

​"Sepuluh senti? Nggak sampai satu jengkal!" lanjutnya lagi sambil tertawa lepas, mengabaikan situasi sekitar.

​"Dav, jangan bicara mesum di sini!" Inka buru-buru membekap mulut Davina dengan telapak tangannya. Wanita itu sudah mulai meracau tak keruan akibat pengaruh alkohol.

​"Badannya sih bagus, six-pack, tapi kalau barangnya kecil buat apa, ya kan, Inka?" cecar Davina tanpa filter.

​"Maksud kamu barang apa, Dav?"

​Jantung Inka nyaris copot saat suara bariton yang sangat familier dan dingin itu tiba-tiba menggelegar dari arah belakang mereka. Dengan kaku, Inka dan Davina menoleh perlahan.

​"Mas... Trian?"

펼치기
다음 화 보기
다운로드

최신 챕터

더보기

독자들에게

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

리뷰더 하기

Gummy_Smile
Gummy_Smile
waaah seru, suka sama jalan ceritanya yang fresh
2026-07-23 10:09:46
0
0
MayRose🌹
MayRose🌹
lanjut thor.. adegannya romantis
2026-07-23 09:59:37
0
0
Mei🌹
Mei🌹
baru baca udah di bikin ngakak sama kelakuan Davina
2026-07-23 09:55:10
0
0
Khun
Khun
........................
2026-07-23 08:58:36
1
0
Khun
Khun
...............
2026-07-23 08:58:26
1
0
10 챕터
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status