로그인“Ganteng sih, tapi belagu! Palingan barangnya cuma segini, kecil !” Akibat pengaruh alkohol di pesta kantor, Davina kelepasan meracau dan menghina 'aset' Trian—sang manajer yang terkenal paling galak dan ditakuti se-kantor. Namun, apa jadinya jika keesokan paginya, ia malah terbangun di atas ranjang yang sama dengan Trian, setelah menghabiskan malam panas bersama. Bukannya pura-pura lupa, Trian justru menolak menganggap kejadian itu sebagai kecelakaan biasa. Pria itu mulai mendekat, menggoda, dan menerobos masuk ke dalam kehidupan Davina. Masalahnya, Trian sendiri adalah pembuat aturan paling kejam di kantor: Dilarang berpacaran dengan rekan kerja ! Ketika hubungan rahasia ini mulai terbongkar, mana yang akan Trian pilih: aturan kantor yang selama ini ia junjung tinggi, atau wanita yang sudah membuat dunianya jungkir balik?
더 보기"Kamu terlalu mabuk, Dav," bisik Trian mendongak, merasakan ketegangan yang semakin memuncak.
Melihat hal itu, Davina semakin mempercepat gerakannya. Entah mengapa, melihat manajernya yang biasanya selalu arogan dan memerintahnya ini dan itu, kini tampak tak berdaya di bawah kendalinya menjadi kepuasaan tersendiri bagi Davina. Meski ia sendiri pun merasakan sensasi mabuk, membuat kepalanya sedikit pening. "Pelankan sedikit Dav, saya takut semakin kehilangan kendali," untuk pertama kalinya, Davina mendengar Trian memohon dengan nada tertahan. 'Rasain, biasanya cuman bisa ngomel doang !' batin Davina sambil menatap sayu kepada Mas Trian, manajer operasionalnya tanpa berniat memberi ampunan. Kegilaan ini berawal dari tumpukan kekesalan Davina pada manajer operasionalnya itu. Hari ini adalah malam perayaan anniversary kantor. Sejak jauh-jauh hari, Davina sudah membayangkan bisa menikmati hidangan lezat di ballroom hotel mewah yang disewa khusus oleh perusahaan.Acara dijadwalkan pukul tujuh malam. Namun, saat waktu menunjukkan pukul tujuh kurang sepuluh menit, ia justru masih terjebak di kubikelnya, bergulat dengan setumpuk berkas rapat yang baru saja dilemparkan Trian ke mejanya.
"Mas, sebentar lagi jam tujuh..." protes Davina dengan suara tertahan. "Lalu kenapa?" Trian menyahut datar tanpa sedikit pun mengalihkan pandangannya dari layar laptop. "Selesaikan laporannya sekarang, nanti kita berangkat bareng," titahnya mutlak. "Tapi, saya janjian bareng Inka, Mas..." "Memangnya Inka masih di sini?" Davina menunduk, menggertakkan gigi karena kesal. Sialnya, pria itu benar. Suasana kantor sudah senyap sejak sore tadi. Semua rekan kerjanya sudah lebih dulu pulang untuk bersiap ke pesta, sementara ia harus mendekam di ruangan bersama sang manajer yang terkenal paling galak, perfeksionis, dan arogan seantero kantor. Pukul sembilan malam, laporan itu akhirnya selesai. Davina mendengus kasar, melempar penanya ke atas meja. Kalau jam segini, makanan penutup di sana pasti sudah ludes tak bersisa, gerutunya dalam hati. Ini jelas bukan kali pertama Trian menguji batas kesabarannya. Dengan sisa-sisa tenaga dan emosi yang meluap, Davina melirik tajam ke arah pria itu yang mulai merapikan barang-barangnya. Trian bangkit, berjalan santai menuju pintu keluar. "Ayo, nanti keburu acaranya selesai," ujar Trian tanpa dosa. Davina mendengus sinis, bangkit menyusul dengan langkah menghentak. "Emang udah hampir selesai!" tukasnya tajam, menyimpan bara amarah yang siap meledak kapan saja. Dan benar saja, setibanya mereka di ballroom hotel, meja hidangan penutup telah ludes tanpa sisa, dan sesi pengundian doorprize sudah mendekati babak akhir. Dengan langkah gontai, Davina melangkah mendekati meja bundar dan langsung menjatuhkan diri di kursi sebelah Inka. Temannya itu menatapnya dengan sorot mata penuh iba. "Nih, tadi aku ambilin kupon doorprize-nya buat kamu, jaga-jaga siapa tahu beruntung," bisik Inka sambil menyodorkan selembar kertas kecil. "Makasih banyak, ya, In.." Davina memasang wajah sendu, napasnya masih memburu akibat kekesalan yang belum sepenuhnya reda. Tanpa pikir panjang, Davina meraih gelas tinggi berisi koktail di hadapannya dan langsung menenggak isinya dalam sekali teguk, membiarkan cairan dingin itu meluncur pelan untuk meredam panas di dadanya. "Eh, nanti mabuk, loh..." Inka mencoba mencegah, tetapi terlambat. Davina justru menyambar gelas koktail milik Inka yang sengaja dibiarkan utuh di atas meja. "Dav... kamu tuh nggak kuat minum," tegur Inka cemas. "Ahh..." Davina mendesis, alisnya bertaut tajam. Pandangannya yang mulai mengabur beralih ke panggung utama, menatap lurus pada sosok Trian yang sedang berdiri di atas podium, memberikan sambutan penutup acara kantor. "Manajer gila!" umpatnya lirih, penuh benci. Beberapa saat kemudian, langkah Davina mulai terhuyung. Kepalanya mendadak pening berputar, tetapi anehnya, ada sensasi ringan yang menggelayut di dadanya, seolah amarahnya melebur bersama alkohol yang mengalir di pembuluh darahnya. Ia memaksa kakinya melangkah menuju toilet wanita, sementara Inka mengekor erat di sampingnya dengan wajah panik. "Tuh kan, apa kubilang. Mabuk kan kamu?" seru Inka, memapah tubuh Davina yang nyaris ambruk. "Ini tuh gara-gara Trian..." cibir Davina cadel, napasnya berbau alkohol pekat. "Ganteng sih, tapi belagu! Sok banget, palingan barangnya cuma segini!" Davina memperagakan kedua jarinya, merentangkan jarak yang tampak begitu pendek dengan tatapan meremehkan. "Sepuluh senti? Nggak sampai satu jengkal!" lanjutnya lagi sambil tertawa lepas, mengabaikan situasi sekitar. "Dav, jangan bicara mesum di sini!" Inka buru-buru membekap mulut Davina dengan telapak tangannya. Wanita itu sudah mulai meracau tak keruan akibat pengaruh alkohol. "Badannya sih bagus, six-pack, tapi kalau barangnya kecil buat apa, ya kan, Inka?" cecar Davina tanpa filter. "Maksud kamu barang apa, Dav?" Jantung Inka nyaris copot saat suara bariton yang sangat familier dan dingin itu tiba-tiba menggelegar dari arah belakang mereka. Dengan kaku, Inka dan Davina menoleh perlahan. "Mas... Trian?"Keesokan harinya, Davina melangkah memasuki area kantor dengan perasaan yang begitu canggung dan diliputi rasa was-was. Baru satu hari terlewati sejak insiden mabuk di acara kantor yang berujung kacau, ia kini malah menyadari bahwa dirinya telah melakukan hal bodoh yang jauh lebih besar bersama sang manajer, Trian.Sepanjang perjalanan dari lobi menuju ruang kerjanya, pikiran Davina terus berkecamuk. Ia bahkan tidak berani membayangkan bagaimana ia harus bertatap muka dengan pria itu hari ini setelah semua yang terjadi di ruangan semalam.“Ini hasrat emang nggak bisa ditahan-tahan apa, ya?” rutuknya dalam hati, merutuki kebodohannya sendiri yang begitu mudah hanyut dalam buaian Trian.Setibanya di area divisi, Davina mendapati suasana yang tak biasa. Teman-teman sekantornya tampak berkumpul berkerumun di dekat meja Inka. Mereka berbisik-bisik dengan kepala saling mendekat, seolah sedang membedah sebuah rahasia besar yang sangat menarik perhatian. Davina yang berniat langsung men
Trian memacu mobilnya dengan pelan. Jantungnya masih berdebar kencang mengingat apa yang baru saja terjadi. Bayangan pipi Davina yang merona merah karena ulahnya tanpa sadar membuat bibir pria itu tertarik membentuk senyuman tipis.Setibanya di restoran tempat pertemuan, Trian langsung disambut oleh kliennya yang menatap heran ke arah wajahnya."Wah, Pak Trian kelihatannya sumringah banget hari ini," tegur sang klien sambil tersenyum penuh arti. "Ada angin apa? Jangan-jangan... lagi jatuh cinta, ya?"Trian sontak terkekeh pelan, mencoba menetralkan ekspresinya. "Ah, tidak juga, Pak. Mari kita langsung bicarakan saja proyeknya."Rapat berjalan dengan lancar. Namun di balik profesionalismenya, debar di dada Trian justru semakin menggila. Sepanjang pertemuan, ia hanya bisa berharap agar Davina masih menunggunya di kamar. Mustahil bagi gadis itu untuk berani melangkah pulang dalam kondisi pakaiannya yang berantakan, terlebih dengan kancing blouse yang lepas akibat sentakan kasarnya ta
"Nggak... aku nggak suka..." Davina mencoba bersikap denial, menolak mengakuinya sambil memalingkan wajah. Ia sama sekali tidak berani menatap langsung ke dalam sepasang manik mata Trian yang kini nampak menyala, dipenuhi oleh api hasrat yang sulit dipadamkan."Tapi, bagian ini tidak bisa bohong, Dav... basah banget," bisik Trian di antara seringai penuh kemenangan.Tanpa membuang waktu, jemari pria itu semakin menari dengan liar di area paling sensitif milik Davina. Sentuhan yang begitu intens itu sukses membuat sang gadis kehilangan kendali atas suaranya sendiri. Davina mulai meracau tak karuan, matanya memutih, merem-melek menikmati gelombang sensasi yang menghantam nya bertubi-tubi, sementara peluh tipis mulai membasahi dahi serta pelipisnya, menciptakan kilau rapuh di bawah temaram lampu ruangan."Ini hukuman karena kamu sudah berani bilang punya saya pendek, hm?" suara Trian terdengar semakin berat, sarat akan dominasi yang mutlak.Davina sudah benar-benar kehilangan sisa-s
Tangan Trian terangkat perlahan, jemarinya menyentuh kancing blouse Davina yang berada di posisi paling atas. Sementara itu, Davina hanya terdiam dengan napas tertahan di atas pangkuan sang manajer. Kedua tangan gadis itu merapat, mencengkeram erat bahu pria berlesung pipi tersebut seolah mencari pegangan di tengah puncak gairah yang berkecamuk."Kenapa? Bukannya tadi malam kamu sangat berani?" Suara Trian rendah, sarat akan selidik yang membuat bulu kuduk Davina meremang."Jujur... aku cuma ingat sebagian saja, Mas," cicit Davina dengan nada gugup."Bagian yang mana saja yang masih kamu ingat?"Refleks, pandangan Davina turun ke arah pangkuan mereka. Gadis itu menelan ludah dengan susah payah saat merasakan sesuatu yang kontras dan begitu nyata di balik kain celana Trian. Ada sesuatu yang mulai menegang di bawah sana, terasa mengganjal dan memberikan sensasi panas yang langsung menjalar ke permukaan bokong Davina yang sedang duduk menumpu."Jadi... bagian yang itu... pendek atau






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
리뷰더 하기