author-banner
Celyn
Celyn
Author

Novel-novel oleh Celyn

Aku Kembali Bukan Untuk Mencintai

Aku Kembali Bukan Untuk Mencintai

Aeri—gadis yang tak pernah kekurangan apa pun kecuali kasih sayang orang tuanya—mati membawa luka batin dan pertanyaan besar: Mengapa aku tak pernah dicintai? Namun, ia terbangun di tubuh ibunya 19 tahun lalu. Tepat saat Leo, pria yang kelak menjadi ayahnya, memaksanya menandatangani surat cerai ketika janin yang dikandungnya—dirinya sendiri—belum genap tiga bulan. Di kehidupan kedua ini, Aeri akhirnya menemukan jawaban di balik dinginnya takdir. Sambil menatap pria di hadapannya, ia tersenyum sinis. “Dicintai ibuku membuatmu sangat percaya diri, Leo. Kali ini, kamu yang akan mengerti rasanya diabaikan!”
Baca
Chapter: Bab 102: Tidak Ada Siapa pun
“Nona!”Suara itu terdengar jauh, seperti datang dari balik dinding air. Pandangan Aeri masih berkabut, belum bisa menangkap wajah siapa pun.“Siapa …?” suaranya lemah, tapi cukup jelas untuk sampai ke telinga pria itu.Pria itu berlutut, menyejajarkan tingginya dengan Aeri yang terduduk di lantai semen.“Nona ….” Suaranya pecah di tengah kata. Air mata mengalir pelan di pipinya tanpa ia coba tahan.Aeri tak mengerti. Kenapa pria asing ini menangis hanya karena ia terluka? Sejak kapan ada orang yang menganggap dirinya seberharga itu?“Kau … siapa?”Pria itu mendongak dan tersenyum tipis. Senyum hangat yang tulus, sangat berbeda dari senyum-senyum palsu yang akhir-akhir ini terus Aeri terima.“Apa Nona sudah lupa dengan saya?”Pandangan Aeri akhirnya jernih. Napasnya tertahan di tenggorokan, dan dadanya terasa seperti dihantam sesuatu dari dalam.Bagaimana mungkin ia lupa? Suara itu, wajah itu, semuanya masih tersimpan utuh di ingatannya.Air mata Aeri jatuh tanpa bisa dibendung. “Fer
Terakhir Diperbarui: 2026-10-13
Chapter: Bab 101: Keraguan
Napas Aeri tersengal-sengal. Wajahnya penuh luka, darah nyaris menutupi seluruh pipinya. Tapi ia tak sekali pun melawan. Wanita itu justru membiarkan dirinya ditendang berkali-kali, seolah tubuh itu bukan miliknya.Napas Olivia ikut memburu, lalu kakinya berhenti. Seringai tipis muncul di bibirnya.“Apa kau sekarang meremehkanku? Kenapa kau diam saja?!”Suaranya meninggi tanpa ia sadari. Aeri tetap tak membalas, ia hanya terduduk lemas di tempatnya, dan ada sesuatu di dalam dirinya yang terasa kosong, bukan karena sakit, tapi karena terlalu lelah untuk marah.Senyum Olivia lenyap sepenuhnya. Suaranya jatuh jauh lebih datar. “Ivy … kau seharusnya tidak menggangguku lebih dari ini.”Gadis itu berjalan ke ujung ruangan dan memungut tongkat bisbol di sana. Tatapannya kembali pada Aeri, tajam, lalu ia melangkah mendekat. Tongkat itu sengaja ia seret di lantai semen, dan bunyi gesekannya mengiringi tiap langkah gadis itu.Aeri mendongak, menatap gadis yang semakin dekat itu. Bibirnya meleng
Terakhir Diperbarui: 2026-10-13
Chapter: Bab 100: Tidak Dapat Dipercaya
Mikael tidak menjawab. Matanya tertuju ke lantai, kosong, seakan suara di depannya hanya gema yang nyasar.“MIKAEL!”Teriakan itu pecah. Kesabaran yang sejak tadi Leo tahan akhirnya habis. Barulah Mikael melirik.“Kak … Leo?”Suaranya serak, hampir tak terdengar. Leo menatap mata itu. Merah, basah, penuh rasa bersalah yang tak sanggup diucapkan. Tanpa penjelasan apa pun, ia langsung mengerti.“Sialan! Kau tidak membantu apa pun!”Leo menyentak tubuhnya bangkit. Kakinya sudah melesat lagi, lebih cepat dari sebelumnya.Napasnya memburu, tapi bukan itu yang menyesakkan. Wajah Aeri terus muncul di kepalanya. Bagaimana kalau ia terlambat? Bagaimana kalau wanita itu ….Ia menolak menyelesaikan kalimat itu, bahkan dalam pikirannya sendiri. Rahangnya mengeras sampai gigi terasa ngilu, kuku menancap di telapak tangan.Bruk!Bahunya menghantam sesuatu yang keras.“Sialan! Apa kau tidak bisa melihat ja—”Kalimat Leo terputus. Ia mengenali sosok itu, dan darahnya terasa naik ke kepala.“Kau—”“Ti
Terakhir Diperbarui: 2026-10-12
Chapter: Bab 99: Bukan Lagi Manusia
Tawa Noah makin besar. Matanya menatap Olivia seperti menatap orang asing yang memakai wajah yang ia kenal. Dulu gadis ini lembut dan polos, seseorang yang bisa ia abaikan tanpa merasa bersalah.Kini yang berdiri di hadapannya terasa seperti dinding yang makin sempit setiap hari, dan ia mulai kehabisan udara di dalamnya.“Bukankah kau sedikit egois? Apa kau berencana memonopoliku seumur hidup?”Wajah Olivia datar. Tatapannya tajam dan dalam, tak bergeser sedikit pun. “Ya. Itu akan kulakukan.”Noah tertawa makin terbahak. Tawa yang terdengar kosong, seperti orang yang berusaha menertawakan sesuatu supaya ia tak perlu menanggapinya.“Apa yang sudah Ibu bicarakan padamu?”“Tidak ada.”“Jangan berbohong, Oliv.”Olivia tak bergetar. Matanya menatap lurus, datar, jauh ke dalam mata Noah. “Aku tidak berbohong.”Noah mendengus kasar, lalu mengacak rambutnya sendiri sampai berantakan.Pria itu mengenal ibunya, dan ia tahu persis apa artinya. Kata-kata yang sudah ditanamkan di kepala gadis ini,
Terakhir Diperbarui: 2026-10-12
Chapter: Bab 98: Status yang Salah
Mata ibunya melebar. Kakinya bergerak sebelum pikirannya sempat memerintah, membawanya ke ambang jendela, dan tangannya mencengkeram bingkai hingga kuku-kukunya memutih. Ia melongok ke bawah.Di sana, Aeri sedang berusaha bangkit. Tubuhnya limbung, satu tangan menahan tanah, tapi kepalanya terangkat. Matanya bertemu mata ibunya di ketinggian itu, dan seringai paling lebar yang pernah ia tunjukkan terbit di bibirnya.Dari kejauhan, raungan sirine merayap mendekat, makin keras, makin jelas. Lampu merah dan biru menyapu dinding halaman, lalu menyapu wajah ibunya.Ibunya tersenyum. Bahunya mulai berguncang, dan tawa pelan itu merambat naik menjadi terbahak-bahak, seperti orang yang akhirnya menemukan lelucon pada nasibnya sendiri.“Kau ternyata sudah mempersiapkan semuanya.”Tawa itu mati di tengah napas. Pipinya basah, dan ia tak tahu sejak kapan. Air mata mengalir turun tanpa izin, turun ke dagu, menetes ke punggung tangannya yang masih berdarah oleh bekas gigi.Di dalam dadanya, sesuat
Terakhir Diperbarui: 2026-10-11
Chapter: Bab 97: Nekat
Aeri terus berlari. Rambutnya yang basah menempel di leher, pakaiannya berat oleh air, tapi ia tak melambat sedikit pun. Sampai sebuah tangan mencengkeram lengannya dan membantingnya ke lantai.“AKH!”Punggungnya menghantam lantai. Aeri terduduk, meringis tipis, rahangnya mengeras menahan nyeri yang menjalar ke tulang belakang.“Ivy, kau seharusnya tahu batasanmu.”Suara itu disertai kekehan pelan, jenis kekehan yang membuat bulu kuduk siapa pun meremang. Tapi tidak Aeri.Aeri mendongak. Ibunya berdiri menjulang di atasnya, bayangannya jatuh menutupi seluruh tubuh Aeri.Wanita itu tersenyum lebar. Ia tahu seharusnya ia mencari jalan keluar, tapi justru ia memilih menyulut api. “Apa Ibu takut?”Ibunya tak menjawab. Matanya terpaku pada Aeri, tak berkedip.“Ibu takut padaku, bukan?”Seringai tipis terukir di bibir ibunya, disusul dengusan kasar. Ada kepuasan dalam napasnya, napas orang yang merasa permainan sudah di tangannya. “Kau pikir Mikael bisa menghalau Ibu? Sepertinya perhitungan
Terakhir Diperbarui: 2026-10-11
Anda juga akan menyukai
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status