
Jeratan Sang Penguasa
Bagi Kaelen, seorang pemimpin mafia yang kejam dan berdarah dingin, wanita hanyalah dua hal: pengganggu atau mata-mata musuh.
Hidup dalam kewaspadaan tinggi membuat Kaelen tidak pernah memercayai siapa pun. Jadi, ketika seorang gadis miskin bernama Alicia terus-menerus muncul di setiap tempat paruh waktunya—bahkan puncaknya menumpahkan kopi ke jas mahalnya—Kaelen langsung menarik kesimpulan:
Gadis itu adalah mata-mata yang dikirim untuk menghancurkannya.Di sisi lain, Alicia hanyalah gadis malang yang berjuang di batas kemiskinan. Demi melunasi utang mendiang ayahnya yang bangkrut dan membiayai pengobatan jantung ibunya, ia rela bekerja paruh waktu apa saja.
Alicia tidak pernah menyangka bahwa aksi tulusnya menyelamatkan seorang nenek tua di jalanan akan mengubah takdirnya secara ekstrem.Sang nenek yang sekarat memohon permintaan terakhir: Kencan buta dengan "kerabat" yang katanya butuh teman curhat. Demi menghormati wanita tua itu, Alicia setuju.
Namun, dunia Alicia runtuh saat ia melangkah ke ruang pertemuan dan berhadapan langsung dengan sepasang mata elang yang penuh kilat curiga.Kaelen, sang mafia kejam, kini menjadi pria yang dijodohkan dengannya.
Akankah Alicia bertahan dalam cengkeraman Kaelen yang mengira pernikahan ini adalah konspirasi musuh? Atau akankah sang mafia justru takluk pada ketulusan gadis yang paling ia curigai?
Baca
Chapter: BAB 6_ Topeng BahagiaMatahari pagi menyelinap lewat celah jendela kamar tamu, menyorot butiran debu yang melayang di udara dingin. Alicia sudah terjaga sejak azan subuh. Semalaman matanya tak terpejam sekecil apa pun. Punggungnya terasa kaku menahan sakit karena tidur tergeletak di lantai, dan pelupuk matanya perih—bekas tangis yang ia tahan sampai napasnya tercekat. KREEEk Pintu balkon terbuka. Kaelen masuk dengan kemeja putih yang rapi, rambutnya sedikit basah sehabis mandi. Pria itu tak sekalipun melirik ke arahnya. "Berdiri," perintahnya singkat, nadanya datar tanpa nada. Alicia bangun dengan tergesa, lututnya lemas bergetar. "I-iya, Tuan." "Tiga puluh menit lagi Nenek sarapan di ruang makan. Jika ada sedikit saja jejak kau menangis—atau ketakutan yang tak kau sembunyikan—aku akan hentikan perawatan ibumu hari ini juga." Kata-kata itu menghantam dadanya lebih sakit daripada pukulan apa pun. Ia mengangguk cepat, menelan tangis yang mendesak keluar. "Baik, Tuan. Saya mengerti." Kaelen ber
Terakhir Diperbarui: 2026-07-23
Chapter: BAB 5_ Malam Pertama Di Neraka"Bagaimana kamar barumu, Istriku?" desis Kaelen, menekankan kata 'istriku' dengan nada ejekan yang sangat kental. "Apakah tempat ini cukup nyaman untuk seorang mata-mata yang terbiasa hidup berpindah-pindah tempat?" "Tuan, saya mohon... percaya pada saya sekali saja," suara Alicia parau, nyaris habis karena terlalu banyak menangis. Ia memberanikan diri menatap manik mata Kaelen yang sedingin es. "Saya tidak pernah berkomplot dengan Adrian. Kami hanya berteman dulu. Saya tidak tahu apa-apa tentang permusuhan keluarga Anda. Saya berada di sini murni karena ingin menolong Nenek dan menyelamatkan ibu saya..." "CUKUP!" bentak Kaelen. Suaranya yang berat menggema di dalam ruangan sempit itu, membuat Alicia tersentak ketakutan. Kaelen berjalan mendekat, lalu berjongkok di hadapan Alicia. Tanpa peringatan, tangan kekarnya kembali menyambar dagu dengan tatapannya yang seketika sedingin es. "Akhh!" Alicia meringis linu, air matanya kembali merebak. "Jangan pernah kau sebut nama baji
Terakhir Diperbarui: 2026-07-20
Chapter: BAB 4_ pertemuan yang tak sengajaPintu gerbang Kediaman Corven terbuka lebar pada keesokan harinya. Suasana megah mansion itu mendadak ramai oleh kedatangan keluarga besar tiri Kaelen yang berniat menjenguk Nenek. Kaelen terpaksa membawa Alicia turun ke ruang tamu utama. Pria itu mencengkeram jemari Alicia dengan erat di depan para kerabat, memasang topeng senyum paling bahagia sebagai sepasang pengantin baru yang serasi. Namun, tepat saat kaki Alicia menginjak anak tangga terakhir, langkahnya seketika terkunci mati. Jantungnya berdegup kencang, dan napasnya seolah berhenti berdetak di dalam dada. Di antara kerumunan orang yang berdiri di ruang tamu, sesosok pria tinggi dengan setelan kemeja kasual sedang menatapnya dengan pandangan yang tidak kalah terkejut. Kenangan manis masa lalu di bangku SMA mendadak berputar cepat di kepala Alicia. Pria yang dulu hampir menjadi segalanya Sebelum badai kemiskinan menghancurkan segalanya. Mereka menghabiskan waktu bersama, berbagi tawa, bahkan hampir saja meresmikan
Terakhir Diperbarui: 2026-07-20
Chapter: BAB 3_Sandiwara di atas penderitaanDua puluh menit berlalu seperti hitungan mundur menuju tiang gantungan bagi Alicia. Dengan langkah gontai, ia berjalan menuju lobi utama rumah sakit. Dari balik kaca transparan, sedan mewah hitam milik Kaelen sudah terparkir tepat di depan pintu lobi. Begitu Alicia mendekat, pintu penumpang depan terbuka otomatis dari dalam. Alicia menahan napas, masuk dengan tubuh gemetar, dan langsung merapat pada pintu kiri. Kaelen langsung menginjak pedal gas dalam-dalam, membuat sedan itu melesat membelah jalanan malam yang sunyi. Kesunyian di dalam kabin terasa begitu pekat dan mencekam. Kaelen mencengkeram setir mobil dengan sangat kuat hingga buku-buku jarinya memutih sempurna. "Kau pikir kau bisa mengelabui aku dengan air mata palsumu?" desis Kaelen tiba-kira, memecah keheningan dengan suara rendah yang mematikan. "Tuan... saya benar-benar tidak tahu apa-apa..." rintih Alicia dengan suara parau. kaelen mencengram setir sampai buku-buku jarinya memutih. wajah ibunya yang menangis,
Terakhir Diperbarui: 2026-07-20
Chapter: BAB 2 _Ancaman Tanpa AmpunAlicia berdiri terpaku di tepi meja. Napasnya tercekat, seolah ada tangan besi yang mencekik lehernya pelan-pelan. Di hadapannya, Kaelen hanya diam. Tatapannya tajam, dingin, dan penuh kebencian yang tak bisa disembunyikan sedikit pun. Tak ada ruang untuk kesalahpahaman yang baik—baginya, gadis di hadapannya adalah musuh yang sudah terperangkap. "Duduk," ucapnya singkat. Suaranya rendah, berat, dan tak memberi ruang untuk menolak. Kaki Alicia gemetar hebat saat menarik kursi. Ia duduk di tepinya, menjaga jarak sejauh mungkin, meremas kedua tangannya yang dingin berkeringat di pangkuan. Matanya tak berani menatap lama ke manik mata pria itu yang terasa siap melahapnya hidup-hidup. "Siapa yang menyuruhmu?" tanya Kaelen tiba-tiba. Tidak ada nada bertanya, melainkan tuntutan mutlak. Alicia mengerjap bingung. "Maaf... apa yang Tuan maksud?" Rahang Kaelen mengeras keras. Ia mencondongkan tubuh sedikit ke depan, membuat aura dinginnya semakin mencekam. "Jangan berpura-pura bodoh.
Terakhir Diperbarui: 2026-07-20
Chapter: BAB 1_pertemuan JebakanKaelen berdiri tegak di tepi tempat tidur. Wajahnya sedingin es, namun sorot matanya melembut hanya saat menatap wanita tua yang merawatnya sejak ia masih kecil. Bukan darah yang mengikat mereka, tapi kasih sayang yang jauh lebih kuat dari ikatan keluarga mana pun. Sejak orang tuanya bercerai dan ibunya meninggal dunia, meninggalkannya sendirian di dunia yang keras dan penuh bahaya, hanya Nenek inilah tempat ia pulang. Satu-satunya orang yang berhak memerintahnya, yang tak akan pernah ia sakiti walau nyawalah taruhannya. "Nenek tahu kau benci hal seperti ini," suara parau itu memecah keheningan kamar, diselingi batuk kecil yang menyayat hati. "Tapi kali ini, Nenek benar-benar memintamu sebagai permintaan terakhir." Rahang Kaelen mengeras. Ia sudah berkali-kali menolak permintaan serupa. Setiap kali Nenek mengatur kencan buta, ia selalu datang lebih dulu, meletakkan tumpukan uang tebal di meja, lalu mengusir gadis itu dengan tatapan dingin dan kata-kata yang cukup membuat mer
Terakhir Diperbarui: 2026-07-19