LOGINBagi Kaelen, seorang pemimpin mafia yang kejam dan berdarah dingin, wanita hanyalah dua hal: pengganggu atau mata-mata musuh. Hidup dalam kewaspadaan tinggi membuat Kaelen tidak pernah memercayai siapa pun. Jadi, ketika seorang gadis miskin bernama Alicia terus-menerus muncul di setiap tempat paruh waktunya—bahkan puncaknya menumpahkan kopi ke jas mahalnya—Kaelen langsung menarik kesimpulan: Gadis itu adalah mata-mata yang dikirim untuk menghancurkannya.Di sisi lain, Alicia hanyalah gadis malang yang berjuang di batas kemiskinan. Demi melunasi utang mendiang ayahnya yang bangkrut dan membiayai pengobatan jantung ibunya, ia rela bekerja paruh waktu apa saja. Alicia tidak pernah menyangka bahwa aksi tulusnya menyelamatkan seorang nenek tua di jalanan akan mengubah takdirnya secara ekstrem.Sang nenek yang sekarat memohon permintaan terakhir: Kencan buta dengan "kerabat" yang katanya butuh teman curhat. Demi menghormati wanita tua itu, Alicia setuju. Namun, dunia Alicia runtuh saat ia melangkah ke ruang pertemuan dan berhadapan langsung dengan sepasang mata elang yang penuh kilat curiga.Kaelen, sang mafia kejam, kini menjadi pria yang dijodohkan dengannya. Akankah Alicia bertahan dalam cengkeraman Kaelen yang mengira pernikahan ini adalah konspirasi musuh? Atau akankah sang mafia justru takluk pada ketulusan gadis yang paling ia curigai?
View MoreLangkahnya terhenti sesaat di depan pintu Restoran Cinta Senja. Alicia mengangkat kepalanya menatap bangunan bergaya klasik yang menjulang megah di hadapannya. Cahaya lampu lampu kristal memancar hangat dari balik dinding kaca, sementara deretan mobil mewah terparkir rapi di halaman depan.
Tanpa sadar Alicia meremas tali tas selempang yang mulai memudar warnanya. Rasanya aneh, tempat seperti ini bukan dunia yang biasa ia kunjungi. Seragam pelayan cafe yang baru saja ia ganti dengan gaun sederhana berwarna coklat membuatnya sedikit lebih percaya diri, namun tetap saja Alicia merasa seperti orang asing di tengah kemewahan itu. Alicia menarik napas panjang sebelum melangkah masuk. Suara dentingan alat makan bercampur alunan musik piano menyambutnya. Aroma steak dan kopi memenuhi udara membuat restoran itu terasa hangat sekaligus elegan. Mata Alicia langsung mencari meja nomor tujuh yang disebutkan oleh wanita tua itu—wanita yang beberapa hari lalu tak sengaja ia tolong. Ia masih ingat saat beliau datang ke cafe tempatnya bekerja dengan senyum yang selalu sama; hangat, lembut, dan menenangkan. “Alicia,“ panggilnya sambil menggenggam tangan Alicia. “Nenek punya satu permintaan. Mau, ya?“ Saat itu, Alicia sempat mengernyit heran. “Permintaan?” batinnya. Nenek itu lalu bercerita tentang cucunya yang terlalu sibuk bekerja hingga hampir tak pernah memiliki teman bicara. “Nenek hanya ingin ada seseorang yang mau mendengarkan dia sebentar saja.”ucapnya lirih Tatapan matanya begitu memohon hingga membuat Alicia tak sanggup menolak. Lagipula, Alicia merasa berhutang budi padanya. Sudah berkali-kali nenek itu datang ke kafe tempatnya bekerja.Dan selalu meninggalkan tip besar tanpa pernah memandang rendah keadaannya. Bahkan saat tahu ibunya sedang dirawat karena serangan jantung, beliau diam-diam menyelipkan uang tambahan sambil berkata kalau itu hanya hadiah kecil. Orang sebaik itu… Mana mungkin memiliki niat buruk? Karena alasan itulah Alicia berada di sini malam ini. Dia hanya ingin membalas sedikit kebaikan nenek itu. Jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul tujuh lewat lima menit. Alicia menggigit bibir pelan. Dia tidak bisa berlama-lama di sini. Setelah pertemuan ini selesai, ia harus segera kembali ke rumah sakit. Ibu pasti sudah menunggunya. Dengan langkah pelan, Alicia menyusuri lorong restoran. Matanya menghitung satu per satu nomor meja yang dilewatinya. Empat… lima….. enam… Jantung Alicia berdetak lebih cepat saat melihat angka tujuh terpampang di sebelah meja yang berada di sudut ruangan. Alicia mendongak seketika nafasnya tercekat dan tubuhnya terasa membeku di tempat. Di kursi meja nomor tujuh duduk seorang pria dengan jas hitam yang pas membalut tubuh tegapnya. Rambut hitamnya tertata rapi. Garis rahang yang tegas terlihat seperti pahatan. Tatapannya dingin, Terlalu dingin. Hanya butuh sekali pandang bagi Alicia untuk mengingatnya. Kaelen Corven. Pria yang menatapnya seperti sampah tempo hari lalu di kafe. Darah Alicia seketika berdesir. Tangannya refleks mengepal erat, berusaha menahan gemetar yang tiba-tiba menyerang. “Ya Tuhan, kenapa dia?” Pertanyaan itu terlintas di kepala Alicia. “Bukankah nenek itu bilang aku hanya akan menemui cucunya yang kesepian? Tapi, kenapa justru pria ini yang datang?” Bayangan beberapa hari lalu kembali membanjiri kepala Alicia. Saat itu, Alicia sedang membawa dua gelas kopi panas menuju meja pelanggan. Karena terburu-buru mengejar pesanan lain, tanpa sengaja bahunya menyenggol seseorang. Bruk! Kopi yang dibawa Alicia tumpah berserakan, sebagian mengenai jas hitam mahal milik seorang pria. Wajah Alicia seketika pucat seperti mayat. Berkali-kali Alicia meminta maaf dengan suara bergetar. Namun pria itu hanya menatapnya dingin. Tatapannya membuat Alicia merasa seperti sedang diadili. Tidak ada bentakan ataupun makian, hanya sorot mata dingin yang cukup membuat lututnya lemas. Untungnya, sekretaris pria itu segera datang dan menengahi keadaan, jika tidak… Alicia bahkan tidak berani membayangkan apa yang akan terjadi. Ia menghembuskan nafas pelan. Rasa takut yang sempat hilang kini kembali memenuhi dadanya. “𝘈𝘱𝘢 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢 𝘪𝘯𝘪 𝘢𝘬𝘶 𝘥𝘪𝘣𝘰𝘩𝘰𝘯𝘨𝘪? 𝘈𝘱𝘢 𝘯𝘦𝘯𝘦𝘬 𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘦𝘯𝘨𝘢𝘫𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘱𝘦𝘳𝘵𝘦𝘮𝘶𝘬𝘢𝘯ku 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘱𝘳𝘪𝘢 𝘪𝘯𝘪? 𝘛𝘢𝘱𝘪, 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘢𝘱𝘢?” batin Alicia. Alicia bukan siapa-siapa, hanya gadis biasa yang hidup pas-pasan. Setiap hari ia harus bekerja dari pagi hingga malam demi membayar biaya rumah sakit ibunya. Ia tidak punya harta ataupun sesuatu yang layak untuk diperebutkan, apalagi kekuasaan. Keinginan untuk berbalik dan keluar dari restoran itu semakin kuat. Sayangnya, bayangan wajah lembut sang nenek membuat langkahnya tertahan. Beliau begitu baik kepada Alicia. Ia tidak ingin mengecewakan orang yang sudah berkali-kali membantunya. Tangan gadis itu mulai dibasahi keringat dingin. Ia mengusap telapak tangannya ke sisi gaun, lalu kembali menggenggam erat tas yang dibawa. “oke, tentang, Alicia,kita hanya akan berbicara sebentar lalu pulang,“ gumamnya lirih. Dengan sisa keberanian yang ada, dia memaksa kakinya melangkah maju. Semakin dekat Ia berjalan, semakin jelas tekanan tak terlihat yang menghimpitnya. Pria di meja itu tidak bergerak sedikitpun. Namun, tatapannya tetap tertuju kepada Alicia, tidak berkedip maupun tersenyum. Seolah sedang menunggu— —atau, mengawasinya. Jantung gadis itu berdegup semakin keras hingga dentumannya memenuhi telinga, langkahnya terhenti tepat di depan meja nomor tujuh. Untuk beberapa detik, tak ada seorang pun yang membuka suara. Yang terdengar hanya dentingan gelas dari meja lain dan hembusan nafas Alicia yang mulai tidak beraturan. Seulas senyum tipis yang kaku terukir di bibirnya. “Maaf, apakah anda—? “ "Duduk." Pria itu memotong ucapan Alicia dengan nada datar, membuat gadis itu terdiam. Ia bahkan tidak memberi Alicia kesempatan untuk menyelesaikan kalimat atau sekadar memperkenalkan diri. Pandangan Kaelen tertuju pada Alicia, dingin dan tak tergoyahkan—seolah keberadaan gadis itu hanyalah formalitas dingin yang ingin segera ia selesaikan. Tanpa sadar, Alicia menelan ludahnya yang mendadak terasa pahit. Dengan jemari yang gemetar, ia menarik kursi di depan Kaelen. Bahkan dengan bantalan empuk yang nyaman, Alicia hanya berani duduk tegak di ujung kursi sambil memeluk erat tas lusuh yang sejak tadi digenggamnya. Ia mencoba menjaga jarak sejauh mungkin dari pria itu. Alicia harap pertemuan ini tidak berlangsung lama agar ia bisa segera kembali ke rumah sakit menemani Ibunya. Keheningan menyelimuti meja mereka. Di sekeliling restoran, para pengunjung masih menikmati makan malam sambil berbincang pelan. Sesekali, terdengar dentingan gelas dan alat makan yang saling beradu. Namun di meja mereka, udara terasa begitu berat hingga Alicia bahkan bisa mendengar suara nafasnya sendiri. Kaelen sama sekali tidak menyentuh secangkir kopi yang telah tersaji di depannya. Pria itu hanya menyandarkan tubuhnya dengan tenang, sementara pandangannya terus mengunci Alicia tanpa berkedip, seolah sedang menunggu kapan gadis di hadapannya itu mulai memperlihatkan kebohongan. "Aku hanya akan bertanya satu kali," ucap Kaelen akhirnya. Rahangnya mengeras tipis ketika kedua tangannya saling bertaut di atas meja. "Siapa yang mengirimmu?" Alicia mengerdipkan matanya beberapa kali. Pertanyaan itu terdengar begitu asing hingga untuk sesaat, ia mengira telah salah mendengar. "Maaf, apa yang tuan maksud?” tanyanya hati-hati Sudut rahang Kaelen mengeras. Jemarinya mulai mengetuk permukaan meja dengan irama pelan, seolah sedang menahan kesabaran yang semakin menipis.Setelah urusan baju dan perban darurat di kamar selesai, Kaelen dan Alicia melangkah turun menuju ruang tengah. Nenek yang sedang duduk santai di sofa langsung menyambut mereka dengan senyum mengembang. Kaelen yang menyembunyikan rasa sakitnya dan berpura-pura kuat di hadapan sang nenek merangkul pinggang Alicia. Cengkeramannya begitu erat hingga Alicia terpaksa menempel ketat di sisinya. "Nenek, helikopter kami sudah siap di belakang," ucap Kaelen hangat. Kepribadian gandanya yang berubah drastis dalam sekejap membuat perut Alicia terasa mual "Kami berangkat sekarang." "Aduh, cepat sekali!" Nenek bangkit berdiri, menepuk pelan lengan Kaelen lalu mengusap lembut pipi Alicia. "Hati-hati di jalan, ya. Alicia, kalau Kaelen nakal atau terlalu sibuk kerja sewaktu honeymoon, adukan saja langsung pada Nenek!" Alicia memaksakan sebuah senyum kaku. "Iya, Nenek... Alicia bakal ingat." "Ingat juga pesan Nenek soal cicit tadi, ya!" goda Nenek terkekeh. Di dalam hati Alicia meringis jijik, n
Sesi sarapan yang penuh ketegangan itu akhirnya selesai. Begitu mereka kembali ke kamar dan pintu terkunci rapat, sosok 'suami sempurna' Kaelen langsung lenyap. Kaelen menyandar ke pintu kayu dengan napasnya terengah berat. Wajahnya yang semula tenang kini memucat drastis dan dibasahi keringat dingin. Di balik kemeja hitamnya, noda darah pekat merembes semakin lebar akibat ia terlalu banyak bergerak. Namun, alih-alih merintih Kaelen hanya memejamkan mata dan menekan darah yang keluar dengan tangan ia tetap terlihat tenang walau dalam kondisi krisis. Alicia yang melihat kain kemeja Kaelen bersimbah darah lagi langsung menepuk dahinya kehabisan kata-kata. "Hebat sekali, Tuan Kaelen, " sindir Alicia sinis seraya berjalan mengambil kotak P3K. "Sok romantis dan sok kuat di depan Nenek, sekarang lukamu robek lagi. Puas?" Kaelen melangkah gontai ke tepi ranjang lalu duduk di sana ia melepaskan kancing kemejanya dengan gerakan lambat, menatap Alicia dengan mata yang menyipit tajam. "Jang
Sinar matahari pagi menyelisip tipis di balik tirai kamar pengantin.kini Kaelen menyandarkan tubuhnya di tepi ranjang kelopak matanya terbuka penuh dalam keadaan sadar sepenuhnya. Pening dan perih masih menjepit perut kirinya, namun begitu menunduk matanya menyipit tajam.Noda darah pekat yang semalam membasahi tubuhnya telah bersih tanpa bekas bahkan kemeja lamanya yang koyak sudah berganti dengan kemeja hitam bersih yang terkancing rapi.Pintu kamar mandi meluncur terbuka, menghembuskan aroma vanilla dan sabun yang segar Alicia melangkah keluar seraya mengeringkan rambutnya yang setengah basah dengan handuk kecil.Tanpa memandang Kaelen Alicia berkata datar dengan nada cueknya yang khas, "Ada sembilan jahitan di perutmu. Jangan banyak bergerak kalau tidak mau jahitannya sobek lagi."Kaelen yang masih menaruh kebencian dan rasa curiga pada Alicia langsung memicingkan mata. Tatapannya dingin dan menusuk. "Siapa yang menggantikan pakaianku semalam?"Alicia menghentikan usapan handu
"Aakh!"Teriakan kaget lolos begitu saja dari mulut Alicia saat matanya menangkap pemandangan di atas lantai tubuhnya membeku kaku di tempat. Jemari yang masih menempel pada saklar lampu mendadak gemetar hebat tatapannya terkunci pada genangan merah pekat yang kian melebar di atas marmer putih, merembes deras dari balik kemeja Kaelen yang robek."D-diam..." desis sebuah suara yang teramat serak dari lantai.Kaelen belum sepenuhnya kehilangan kesadaran pria tegap itu membalikkan tubuhnya yang terlentang dengan usaha yang sangat menyiksa. Wajah tampannya pucat seputih kertas, kontras dengan noda darah segar yang mengotori pelipis serta sudut bibirnya. Manik mata hitamnya yang sayu menatap Alicia dengan sisa kilatan amarah yang tertahan."Jangan berteriak... gadis bodoh," potong Kaelen lagi. Suaranya terdengar tersedat karena menahan robeknya otot perut sebelah kiri. "Kau mau membuat Nenek... mendengar suara sialanmu itu?"Alicia seketika membisu pasokan oksigen di paru-parunya rasanya se






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.