Jeratan Sang Penguasa

Jeratan Sang Penguasa

last updateLast Updated : 2026-07-23
By:  Yana24Updated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
6Chapters
6views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

  Bagi Kaelen, seorang pemimpin mafia yang kejam dan berdarah dingin, wanita hanyalah dua hal: pengganggu atau mata-mata musuh. Hidup dalam kewaspadaan tinggi membuat Kaelen tidak pernah memercayai siapa pun. Jadi, ketika seorang gadis miskin bernama Alicia terus-menerus muncul di setiap tempat paruh waktunya—bahkan puncaknya menumpahkan kopi ke jas mahalnya—Kaelen langsung menarik kesimpulan: Gadis itu adalah mata-mata yang dikirim untuk menghancurkannya.Di sisi lain, Alicia hanyalah gadis malang yang berjuang di batas kemiskinan. Demi melunasi utang mendiang ayahnya yang bangkrut dan membiayai pengobatan jantung ibunya, ia rela bekerja paruh waktu apa saja. Alicia tidak pernah menyangka bahwa aksi tulusnya menyelamatkan seorang nenek tua di jalanan akan mengubah takdirnya secara ekstrem.Sang nenek yang sekarat memohon permintaan terakhir: Kencan buta dengan "kerabat" yang katanya butuh teman curhat. Demi menghormati wanita tua itu, Alicia setuju. Namun, dunia Alicia runtuh saat ia melangkah ke ruang pertemuan dan berhadapan langsung dengan sepasang mata elang yang penuh kilat curiga.Kaelen, sang mafia kejam, kini menjadi pria yang dijodohkan dengannya. Akankah Alicia bertahan dalam cengkeraman Kaelen yang mengira pernikahan ini adalah konspirasi musuh? Atau akankah sang mafia justru takluk pada ketulusan gadis yang paling ia curigai?

View More

Chapter 1

BAB 1_pertemuan Jebakan

Kaelen berdiri tegak di tepi tempat tidur. Wajahnya sedingin es, namun sorot matanya melembut hanya saat menatap wanita tua yang merawatnya sejak ia masih kecil. Bukan darah yang mengikat mereka, tapi kasih sayang yang jauh lebih kuat dari ikatan keluarga mana pun.

Sejak orang tuanya bercerai dan ibunya meninggal dunia, meninggalkannya sendirian di dunia yang keras dan penuh bahaya, hanya Nenek inilah tempat ia pulang. Satu-satunya orang yang berhak memerintahnya, yang tak akan pernah ia sakiti walau nyawalah taruhannya.

"Nenek tahu kau benci hal seperti ini," suara parau itu memecah keheningan kamar, diselingi batuk kecil yang menyayat hati.

"Tapi kali ini, Nenek benar-benar memintamu sebagai permintaan terakhir."

Rahang Kaelen mengeras. Ia sudah berkali-kali menolak permintaan serupa. Setiap kali Nenek mengatur kencan buta, ia selalu datang lebih dulu, meletakkan tumpukan uang tebal di meja, lalu mengusir gadis itu dengan tatapan dingin dan kata-kata yang cukup membuat mereka mundur ketakutan.

Dan dugaan itu tak pernah salah beberapa dari mereka ternyata adalah mata-mata musuh yang hampir saja merenggut nyawanya saat ia lengah.

"Nenek tahu alasannya," ucap Nenek seolah bisa membaca isi hati cucunya.

"Tapi Nenek tidak memintamu mencari yang cantik atau kaya. Nenek hanya ingin ada seseorang yang tulus menemani masa tuamu, menjagamu saat Nenek sudah tak ada. Dan untuk kali ini... tolong, jangan usir dia. Jangan berikan uang. Cukup duduk dan bicara sebentar."

Kaelen menghela napas panjang, berat menyakiti dadanya. Tak ada satu pun perintah Nenek yang sanggup ia tolak.

Segala yang ia miliki, segala kekuasaan yang ia bangun di dunia gelap, semata-mata agar ia bisa membalas budi dan melindungi wanita yang membesarkannya dengan susah payah ini.

"Ke mana harus pergi?" akhirnya tanyanya pasrah.

"Restoran Cinta Senja, pukul tujuh malam. Meja nomor tujuh. Pergilah. Dan percayalah pada Nenek sekali lagi."

Sementara itu, Alicia berjalan tergesa-gesa menyusuri lorong restoran yang remang-remang. Hatinya penuh rasa bingung dan sedikit kesal.

Tadi siang, Nenek itu datang ke kafe dengan wajah memelas, berkata bahwa ia ingin Alicia bertemu dengan keponakannya yang kesepian, yang butuh teman bicara karena ia sering sakit-sakitan sendirian.

Alicia setuju semata-mata karena rasa berhutang budi ia tak tega menolak orang yang sudah begitu baik padanya saat ia sedang kesulitan.

Ia pikir ia hanya akan menemui kerabat seorang Nenek tua yang sempat ia tolong beberapa hari lalu, seorang yang hanya butuh hiburan dan tempat cerita Ia tak tahu bahwa saja ia sedang dijebak.

Dengan tangan meremas ujung tas sederhana, ia mencari-cari nomor meja yang disebutkan. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena gugup akan pertemuan, tapi karena ia takut terlambat kembali ke rumah sakit menjenguk ibunya.

Saat pandangannya jatuh pada sudut ruangan yang paling gelap, napasnya seketika berhenti. Di sana duduk sosok yang tak ingin ia temui lagi sedunia.

Pria dengan jas hitam yang sama. Wajah setajam pisau yang sama. Tatapan dingin yang membuat darahnya membeku saat tak sengaja menumpahkan kopi ke bajunya tempo hari.

_Kaelen._

Kaki Alicia terasa berat dipaku ke lantai. Tubuhnya gemetar hebat. Jadi selama ini ia dibohongi? Nenek itu sengaja menjebaknya? Mengapa? Mengapa harus pria yang begitu membencinya?

Di dalam hati Alicia berteriak:

'Tolong....... aku cuma mau jenguk ibu. kenapa harus dia? rasanya ia Ingin berbalik dan menghilang begitu saja. Namun rasa hormat pada nenek itu menahannya di tempat.

Dengan sisa keberanian yang hampir habis, ia melangkah pelan mendekat, setiap langkah terasa seperti berjalan menuju neraka.

Sementara itu, di ujung meja, Kaelen mencengkeram pinggiran meja begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Darahnya mendidih, amarah yang sudah lama tertahan meledak seketika.

Jadi begitulah cara kerjanya. Setelah gagal mendekatinya secara langsung,memata-matai di mana saja bahkan sampai ke apartemen rahasianya... kini ia berani menggunakan Nenek? Menggunakan rasa iba dan kasih sayang wanita itu untuk menjeratnya? Menggunakan kelemahan paling berharga yang Kaelen miliki untuk menghancurkannya?

Tatapan mata Kaelen tak berkedip, penuh kebencian dan keyakinan bulat bahwa gadis di hadapannya adalah ancaman terbesar yang pernah datang.

Saat Alicia akhirnya berdiri di hadapannya dengan wajah pucat pasi dan mata yang mulai berkaca-kaca karena takut serta merasa dikhianati, Kaelen hanya diam, menatap tajam seolah siap melahapnya hidup-hidup.

Permainan ini ternyata lebih licik dari yang ia duga. Dan malam ini, ia akan memastikan siapa yang sebenarnya menjadi pemenang di dalam jebakan ini.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
6 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status