LOGINBagi Kaelen, seorang pemimpin mafia yang kejam dan berdarah dingin, wanita hanyalah dua hal: pengganggu atau mata-mata musuh. Hidup dalam kewaspadaan tinggi membuat Kaelen tidak pernah memercayai siapa pun. Jadi, ketika seorang gadis miskin bernama Alicia terus-menerus muncul di setiap tempat paruh waktunya—bahkan puncaknya menumpahkan kopi ke jas mahalnya—Kaelen langsung menarik kesimpulan: Gadis itu adalah mata-mata yang dikirim untuk menghancurkannya.Di sisi lain, Alicia hanyalah gadis malang yang berjuang di batas kemiskinan. Demi melunasi utang mendiang ayahnya yang bangkrut dan membiayai pengobatan jantung ibunya, ia rela bekerja paruh waktu apa saja. Alicia tidak pernah menyangka bahwa aksi tulusnya menyelamatkan seorang nenek tua di jalanan akan mengubah takdirnya secara ekstrem.Sang nenek yang sekarat memohon permintaan terakhir: Kencan buta dengan "kerabat" yang katanya butuh teman curhat. Demi menghormati wanita tua itu, Alicia setuju. Namun, dunia Alicia runtuh saat ia melangkah ke ruang pertemuan dan berhadapan langsung dengan sepasang mata elang yang penuh kilat curiga.Kaelen, sang mafia kejam, kini menjadi pria yang dijodohkan dengannya. Akankah Alicia bertahan dalam cengkeraman Kaelen yang mengira pernikahan ini adalah konspirasi musuh? Atau akankah sang mafia justru takluk pada ketulusan gadis yang paling ia curigai?
View MoreSetelah urusan baju dan perban darurat di kamar selesai, Kaelen dan Alicia melangkah turun menuju ruang tengah. Nenek yang sedang duduk santai di sofa langsung menyambut mereka dengan senyum mengembang. Kaelen yang menyembunyikan rasa sakitnya dan berpura-pura kuat di hadapan sang nenek merangkul pinggang Alicia. Cengkeramannya begitu erat hingga Alicia terpaksa menempel ketat di sisinya. "Nenek, helikopter kami sudah siap di belakang," ucap Kaelen hangat. Kepribadian gandanya yang berubah drastis dalam sekejap membuat perut Alicia terasa mual "Kami berangkat sekarang." "Aduh, cepat sekali!" Nenek bangkit berdiri, menepuk pelan lengan Kaelen lalu mengusap lembut pipi Alicia. "Hati-hati di jalan, ya. Alicia, kalau Kaelen nakal atau terlalu sibuk kerja sewaktu honeymoon, adukan saja langsung pada Nenek!" Alicia memaksakan sebuah senyum kaku. "Iya, Nenek... Alicia bakal ingat." "Ingat juga pesan Nenek soal cicit tadi, ya!" goda Nenek terkekeh. Di dalam hati Alicia meringis jijik, n
Sesi sarapan yang penuh ketegangan itu akhirnya selesai. Begitu mereka kembali ke kamar dan pintu terkunci rapat, sosok 'suami sempurna' Kaelen langsung lenyap. Kaelen menyandar ke pintu kayu dengan napasnya terengah berat. Wajahnya yang semula tenang kini memucat drastis dan dibasahi keringat dingin. Di balik kemeja hitamnya, noda darah pekat merembes semakin lebar akibat ia terlalu banyak bergerak. Namun, alih-alih merintih Kaelen hanya memejamkan mata dan menekan darah yang keluar dengan tangan ia tetap terlihat tenang walau dalam kondisi krisis. Alicia yang melihat kain kemeja Kaelen bersimbah darah lagi langsung menepuk dahinya kehabisan kata-kata. "Hebat sekali, Tuan Kaelen, " sindir Alicia sinis seraya berjalan mengambil kotak P3K. "Sok romantis dan sok kuat di depan Nenek, sekarang lukamu robek lagi. Puas?" Kaelen melangkah gontai ke tepi ranjang lalu duduk di sana ia melepaskan kancing kemejanya dengan gerakan lambat, menatap Alicia dengan mata yang menyipit tajam. "Jang
Sinar matahari pagi menyelisip tipis di balik tirai kamar pengantin.kini Kaelen menyandarkan tubuhnya di tepi ranjang kelopak matanya terbuka penuh dalam keadaan sadar sepenuhnya. Pening dan perih masih menjepit perut kirinya, namun begitu menunduk matanya menyipit tajam.Noda darah pekat yang semalam membasahi tubuhnya telah bersih tanpa bekas bahkan kemeja lamanya yang koyak sudah berganti dengan kemeja hitam bersih yang terkancing rapi.Pintu kamar mandi meluncur terbuka, menghembuskan aroma vanilla dan sabun yang segar Alicia melangkah keluar seraya mengeringkan rambutnya yang setengah basah dengan handuk kecil.Tanpa memandang Kaelen Alicia berkata datar dengan nada cueknya yang khas, "Ada sembilan jahitan di perutmu. Jangan banyak bergerak kalau tidak mau jahitannya sobek lagi."Kaelen yang masih menaruh kebencian dan rasa curiga pada Alicia langsung memicingkan mata. Tatapannya dingin dan menusuk. "Siapa yang menggantikan pakaianku semalam?"Alicia menghentikan usapan handu
"Aakh!"Teriakan kaget lolos begitu saja dari mulut Alicia saat matanya menangkap pemandangan di atas lantai tubuhnya membeku kaku di tempat. Jemari yang masih menempel pada saklar lampu mendadak gemetar hebat tatapannya terkunci pada genangan merah pekat yang kian melebar di atas marmer putih, merembes deras dari balik kemeja Kaelen yang robek."D-diam..." desis sebuah suara yang teramat serak dari lantai.Kaelen belum sepenuhnya kehilangan kesadaran pria tegap itu membalikkan tubuhnya yang terlentang dengan usaha yang sangat menyiksa. Wajah tampannya pucat seputih kertas, kontras dengan noda darah segar yang mengotori pelipis serta sudut bibirnya. Manik mata hitamnya yang sayu menatap Alicia dengan sisa kilatan amarah yang tertahan."Jangan berteriak... gadis bodoh," potong Kaelen lagi. Suaranya terdengar tersedat karena menahan robeknya otot perut sebelah kiri. "Kau mau membuat Nenek... mendengar suara sialanmu itu?"Alicia seketika membisu pasokan oksigen di paru-parunya rasanya se
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.