Home / Mafia / Jeratan Sang Penguasa / BAB 9_Mata-kata di koridor

Share

BAB 9_Mata-kata di koridor

Author: Yana24
last update publish date: 2026-08-02 20:09:18

Suara derit tajam dari engsel gerbang besi di ujung halaman terdengar nyaring Alicia menghembuskan napas berat, merasakan ketegangan yang kian menebal di udara.

​Sebelumnya, dengan pakaian kasual yang sangat sederhana Alicia melangkah keluar dari kamar utama namun baru beberapa langkah menuruni anak tangga. Ia langsung menyadari bahwa rumah megah ini telah berubah menjadi sangkar dengan dinding-dinding yang memiliki mata. Orang-orang berjas hitam suruhan Kaelen berjaga di setiap sudut mengawas
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Jeratan Sang Penguasa   BAB 13_ Sensasi di ketinggian

    Setelah urusan baju dan perban darurat di kamar selesai, Kaelen dan Alicia melangkah turun menuju ruang tengah. Nenek yang sedang duduk santai di sofa langsung menyambut mereka dengan senyum mengembang. Kaelen yang menyembunyikan rasa sakitnya dan berpura-pura kuat di hadapan sang nenek merangkul pinggang Alicia. Cengkeramannya begitu erat hingga Alicia terpaksa menempel ketat di sisinya. "Nenek, helikopter kami sudah siap di belakang," ucap Kaelen hangat. Kepribadian gandanya yang berubah drastis dalam sekejap membuat perut Alicia terasa mual "Kami berangkat sekarang." "Aduh, cepat sekali!" Nenek bangkit berdiri, menepuk pelan lengan Kaelen lalu mengusap lembut pipi Alicia. "Hati-hati di jalan, ya. Alicia, kalau Kaelen nakal atau terlalu sibuk kerja sewaktu honeymoon, adukan saja langsung pada Nenek!" Alicia memaksakan sebuah senyum kaku. "Iya, Nenek... Alicia bakal ingat." "Ingat juga pesan Nenek soal cicit tadi, ya!" goda Nenek terkekeh. Di dalam hati Alicia meringis jijik, n

  • Jeratan Sang Penguasa   BAB 12_

    Sesi sarapan yang penuh ketegangan itu akhirnya selesai. Begitu mereka kembali ke kamar dan pintu terkunci rapat, sosok 'suami sempurna' Kaelen langsung lenyap. Kaelen menyandar ke pintu kayu dengan napasnya terengah berat. Wajahnya yang semula tenang kini memucat drastis dan dibasahi keringat dingin. Di balik kemeja hitamnya, noda darah pekat merembes semakin lebar akibat ia terlalu banyak bergerak. Namun, alih-alih merintih Kaelen hanya memejamkan mata dan menekan darah yang keluar dengan tangan ia tetap terlihat tenang walau dalam kondisi krisis. Alicia yang melihat kain kemeja Kaelen bersimbah darah lagi langsung menepuk dahinya kehabisan kata-kata. "Hebat sekali, Tuan Kaelen, " sindir Alicia sinis seraya berjalan mengambil kotak P3K. "Sok romantis dan sok kuat di depan Nenek, sekarang lukamu robek lagi. Puas?" Kaelen melangkah gontai ke tepi ranjang lalu duduk di sana ia melepaskan kancing kemejanya dengan gerakan lambat, menatap Alicia dengan mata yang menyipit tajam. "Jang

  • Jeratan Sang Penguasa   BAB 11_Rencana Dadakan

    Sinar matahari pagi menyelisip tipis di balik tirai kamar pengantin.kini Kaelen menyandarkan tubuhnya di tepi ranjang kelopak matanya terbuka penuh dalam keadaan sadar sepenuhnya. Pening dan perih masih menjepit perut kirinya, namun begitu menunduk matanya menyipit tajam.​Noda darah pekat yang semalam membasahi tubuhnya telah bersih tanpa bekas bahkan kemeja lamanya yang koyak sudah berganti dengan kemeja hitam bersih yang terkancing rapi.​Pintu kamar mandi meluncur terbuka, menghembuskan aroma vanilla dan sabun yang segar Alicia melangkah keluar seraya mengeringkan rambutnya yang setengah basah dengan handuk kecil.​Tanpa memandang Kaelen Alicia berkata datar dengan nada cueknya yang khas, "Ada sembilan jahitan di perutmu. Jangan banyak bergerak kalau tidak mau jahitannya sobek lagi."​Kaelen yang masih menaruh kebencian dan rasa curiga pada Alicia langsung memicingkan mata. Tatapannya dingin dan menusuk. "Siapa yang menggantikan pakaianku semalam?"​Alicia menghentikan usapan handu

  • Jeratan Sang Penguasa   BAB 10_genangan di marmer putih

    "Aakh!"Teriakan kaget lolos begitu saja dari mulut Alicia saat matanya menangkap pemandangan di atas lantai tubuhnya membeku kaku di tempat. Jemari yang masih menempel pada saklar lampu mendadak gemetar hebat tatapannya terkunci pada genangan merah pekat yang kian melebar di atas marmer putih, merembes deras dari balik kemeja Kaelen yang robek."D-diam..." desis sebuah suara yang teramat serak dari lantai.Kaelen belum sepenuhnya kehilangan kesadaran pria tegap itu membalikkan tubuhnya yang terlentang dengan usaha yang sangat menyiksa. Wajah tampannya pucat seputih kertas, kontras dengan noda darah segar yang mengotori pelipis serta sudut bibirnya. Manik mata hitamnya yang sayu menatap Alicia dengan sisa kilatan amarah yang tertahan."Jangan berteriak... gadis bodoh," potong Kaelen lagi. Suaranya terdengar tersedat karena menahan robeknya otot perut sebelah kiri. "Kau mau membuat Nenek... mendengar suara sialanmu itu?"Alicia seketika membisu pasokan oksigen di paru-parunya rasanya se

  • Jeratan Sang Penguasa   BAB 9_Mata-kata di koridor

    Suara derit tajam dari engsel gerbang besi di ujung halaman terdengar nyaring Alicia menghembuskan napas berat, merasakan ketegangan yang kian menebal di udara. ​Sebelumnya, dengan pakaian kasual yang sangat sederhana Alicia melangkah keluar dari kamar utama namun baru beberapa langkah menuruni anak tangga. Ia langsung menyadari bahwa rumah megah ini telah berubah menjadi sangkar dengan dinding-dinding yang memiliki mata. Orang-orang berjas hitam suruhan Kaelen berjaga di setiap sudut mengawasi setiap jengkal pergerakannya. ​Enggan memedulikan para pengintai itu Alicia melangkah menuju taman belakang ia sengaja mencari tempat terbuka di antara rindangnya tanaman hias tinggi hanya demi satu tujuan untuk menghubungi rumah sakit tempat ibunya dirawat tanpa gangguan. ​Namun bahkan ketika suara lembut ibunya di seberang telepon sempat memberi kehangatan singkat, kehadiran sosok bayangan hitam yang perlahan mendekat dengan radio panggil di tangannya langsung menghancurkan ketenangan itu.

  • Jeratan Sang Penguasa   BAB 8_ Alasan di balik pernikahan

    Sementara itu di lantai bawah suasana kamar bernuansa klasik milik Nenek terasa begitu sunyi. Keramaian semu di meja makan tadi telah menguap wanita tua itu kini duduk sendiri di atas kursi rodanya, menghadap ke arah jendela besar yang menampilkan pemandangan taman belakang.Nenek menuangkan teh jahe buatan Alicia ke dalam cangkir kecil uapnya yang mengepul tipis menyebarkan aroma hangat. Namun, pandangannya justru teralih pada sebuah laci meja rias di sampingnya yang terkunci rapat. Jemarinya yang mulai keriput bergerak pelan membuka laci tersebut ia mengeluarkan sebuah map usang berlogo sebuah firman hukum tua yang sudah lama tutup. Di dalam map itu terpampang foto seorang pria mengenakan setelan jas pengacara formal dan di sampingnya, ada foto masa kecil Alicia bersama sang ayah.Nenek memeluk map itu di dadanya, setitik air mata lolos dari sudut matanya yang keriput."Nak..." bisik Nenek ke arah langit-langit kamar, berbicara pada mendiang putrinya—ibu kandung Kaelen. "Ibu sangat

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status