Home / Mafia / Jeratan Sang Penguasa / BAB 9_Mata-kata di koridor

Share

BAB 9_Mata-kata di koridor

Author: Yana24
last update publish date: 2026-08-02 20:09:18

Suara derit tajam dari engsel gerbang besi di ujung halaman terdengar nyaring Alicia menghembuskan napas berat, merasakan ketegangan yang kian menebal di udara.

​Sebelumnya, dengan pakaian kasual yang sangat sederhana Alicia melangkah keluar dari kamar utama namun baru beberapa langkah menuruni anak tangga. Ia langsung menyadari bahwa rumah megah ini telah berubah menjadi sangkar dengan dinding-dinding yang memiliki mata. Orang-orang berjas hitam suruhan Kaelen berjaga di setiap sudut mengawas
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Jeratan Sang Penguasa   BAB 10_genangan di marmer putih

    "Aakh!"Teriakan kaget lolos begitu saja dari mulut Alicia saat matanya menangkap pemandangan di atas lantai tubuhnya membeku kaku di tempat. Jemari yang masih menempel pada saklar lampu mendadak gemetar hebat tatapannya terkunci pada genangan merah pekat yang kian melebar di atas marmer putih, merembes deras dari balik kemeja Kaelen yang robek."D-diam..." desis sebuah suara yang teramat serak dari lantai.Kaelen belum sepenuhnya kehilangan kesadaran pria tegap itu membalikkan tubuhnya yang terlentang dengan usaha yang sangat menyiksa. Wajah tampannya pucat seputih kertas, kontras dengan noda darah segar yang mengotori pelipis serta sudut bibirnya. Manik mata hitamnya yang sayu menatap Alicia dengan sisa kilatan amarah yang tertahan."Jangan berteriak... gadis bodoh," potong Kaelen lagi. Suaranya terdengar tersedat karena menahan robeknya otot perut sebelah kiri. "Kau mau membuat Nenek... mendengar suara sialanmu itu?"Alicia seketika membisu pasokan oksigen di paru-parunya rasanya se

  • Jeratan Sang Penguasa   BAB 9_Mata-kata di koridor

    Suara derit tajam dari engsel gerbang besi di ujung halaman terdengar nyaring Alicia menghembuskan napas berat, merasakan ketegangan yang kian menebal di udara. ​Sebelumnya, dengan pakaian kasual yang sangat sederhana Alicia melangkah keluar dari kamar utama namun baru beberapa langkah menuruni anak tangga. Ia langsung menyadari bahwa rumah megah ini telah berubah menjadi sangkar dengan dinding-dinding yang memiliki mata. Orang-orang berjas hitam suruhan Kaelen berjaga di setiap sudut mengawasi setiap jengkal pergerakannya. ​Enggan memedulikan para pengintai itu Alicia melangkah menuju taman belakang ia sengaja mencari tempat terbuka di antara rindangnya tanaman hias tinggi hanya demi satu tujuan untuk menghubungi rumah sakit tempat ibunya dirawat tanpa gangguan. ​Namun bahkan ketika suara lembut ibunya di seberang telepon sempat memberi kehangatan singkat, kehadiran sosok bayangan hitam yang perlahan mendekat dengan radio panggil di tangannya langsung menghancurkan ketenangan itu.

  • Jeratan Sang Penguasa   BAB 8_ Alasan di balik pernikahan

    Sementara itu di lantai bawah suasana kamar bernuansa klasik milik Nenek terasa begitu sunyi. Keramaian semu di meja makan tadi telah menguap wanita tua itu kini duduk sendiri di atas kursi rodanya, menghadap ke arah jendela besar yang menampilkan pemandangan taman belakang.Nenek menuangkan teh jahe buatan Alicia ke dalam cangkir kecil uapnya yang mengepul tipis menyebarkan aroma hangat. Namun, pandangannya justru teralih pada sebuah laci meja rias di sampingnya yang terkunci rapat. Jemarinya yang mulai keriput bergerak pelan membuka laci tersebut ia mengeluarkan sebuah map usang berlogo sebuah firman hukum tua yang sudah lama tutup. Di dalam map itu terpampang foto seorang pria mengenakan setelan jas pengacara formal dan di sampingnya, ada foto masa kecil Alicia bersama sang ayah.Nenek memeluk map itu di dadanya, setitik air mata lolos dari sudut matanya yang keriput."Nak..." bisik Nenek ke arah langit-langit kamar, berbicara pada mendiang putrinya—ibu kandung Kaelen. "Ibu sangat

  • Jeratan Sang Penguasa   BAB 7_Bukan urusan anda

    Waktu merayap pelan hingga akhirnya fajar menyelinap lewat celah jendela kamar utama, menyorot butiran debu yang melayang di udara dingin. Alicia sudah terjaga sejak subuh. Semalaman matanya tak terpejam sedetik pun. Punggungnya terasa sedikit kaku karena duduk diam di lantai karpet yang dingin, tetapi tubuhnya tetap tegap. Tak ada air mata, tak ada ratapan. Rasa takut itu ada, tetapi tertimbun rapat di balik kontrol diri. Beberapa menit kemudian, pintu kamar terbuka. Kaelen melangkah masuk dengan kemeja putih yang sudah rapi, rambutnya sedikit basah sehabis mandi. Pria itu tak sekalipun melirik ke arah Alicia. ​"Berdiri," perintah Kaelen singkat, nadanya datar tanpa jiwa Alicia bangkit dari duduknya dengan santai. "Iya." Suaranya datar. Tak ada sebutan "Tuan", tak ada nada ketakutan, apalagi tubuh yang gemetar. "Tiga puluh menit lagi Nenek sarapan di ruang makan. Jika ada sedikit saja jejak kau menangis atau raut wajah yang membuat Nenek curiga, kau tahu sendiri akibatnya." T

  • Jeratan Sang Penguasa   BAB 6_ Topeng Bahagia

    Pagi datang terlalu cepat. Suasana ruang utama Kediaman Corven yang disulap menjadi tempat akad nikah terasa begitu hening dan sarat intrik. Bunga-bunga putih menghiasi ruangan, namun udara di dalamnya tetap terasa membeku. Di hadapan Nenek yang duduk di kursi roda, penghulu, serta para saksi dan tamu undangan terbatas—termasuk Adrian yang duduk di barisan depan dengan pancaran mata penuh luka dan kepedihan—prosesi ijab kabul akhirnya dimulai. Kaelen duduk berhadapan dengan Penghulu dan saksi, mengenakan jas hitam elegan tanpa ekspresi. Aura dominan dan dinginnya mendominasi seluruh ruangan. Sementara itu Alicia duduk tak jauh darinya, mengenakan gaun pengantin putih yang anggun namun menyembunyikan dada yang bergemuruh pekat. Penghulu menjabat tangan Kaelen dengan erat dan akad pun di mulai. "Tuan Kaelen Corven, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Alicia binti Hendra Wijaya, dengan mahar yang telah disebutkan dibayar tunai." Kaelen menjawab dengan satu tarikan napas

  • Jeratan Sang Penguasa   BAB 5_Perjanjian Pra-nikah

    Keesokan harinya, matahari pagi baru saja menerobos celah tirai. Ketegangan hebat dan perdebatan yang menguras emosi sepanjang hari kemarin benar-benar menyedot habis seluruh energinya, menyisakan rasa lelah yang masih mengendap di tubuh Alicia. ​Namun, ketenangannya tak bertahan lama. Suara denting cangkir dari arah luar kamar mengejutkan Alicia dari tidurnya. Mata Alicia terbuka lebar jantungnya berdegup kencang secara instan. “Bagaimana mungkin? Aku tinggal sendirian. Aku yakin sudah mengunci rapat pintu rumah semalam,” batin gadis itu. ​Dengan napas yang sedikit tertahan, Alicia melangkah ke ruang tengah. Di sana Kaelen sudah duduk santai di sofa, menyesap cangkir kopi seolah-olah rumah sempit itu milik pribadinya bau aroma kopi pahit memenuhi ruangan. ​Alicia menyilangkan tangan di dada, mencoba menutupi gelombang cemas yang masih menyisa di dadanya. "Bagaimana Tuan bisa masuk?" tanyanya ketus, mencoba menatap Kaelen lurus meski ada gemetar tipis di ujung nadanya. "Saya tid

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status