Chapter: godaan kemewahan juragan Harsa. Di tempat lain, kehidupan Ana ternyata tidak jauh berbeda dari kehidupan kakaknya, Bima. Setelah memilih meninggalkan keluarga dan menjalani hidup sendiri, Ana tinggal di sebuah rumah kontrakan sederhana yang ternyata merupakan salah satu properti milik Juragan Harsa, seorang pengusaha kaya yang cukup disegani di daerah tersebut. Ana memang bukan perempuan yang mudah merasa puas. Ia selalu membayangkan kehidupan mewah, pakaian mahal, kendaraan bagus, serta rumah besar yang selama ini hanya bisa ia lihat dari kejauhan. Karena itulah, ketika mengetahui pemilik kontrakannya adalah seorang pria kaya, Ana mulai mencari kesempatan untuk mendekatinya, meskipun ia tahu Juragan Harsa sudah memiliki istri bernama Bu Ayu. Suatu sore, ketika Ana sedang duduk di teras sambil memainkan ponselnya, sebuah mobil berhenti di depan rumah. Ana mengangkat wajahnya dan langsung mengenali pria yang turun dari mobil tersebut. “Juragan Harsa?” panggil Ana sambil berdiri. Harsa tersenyum dan berjalan men
Last Updated: 2026-10-12
Chapter: Derita Bu SariTidak hanya urusan makanan. Obat-obatan Bu Sari pun mulai tidak diperhatikan. Suatu sore, Bu Sari memeriksa kotak obatnya. Beberapa obat sudah habis sejak dua hari lalu. “Bima...” panggilnya. Kali ini Bima sedang duduk di ruang tamu sambil menghitung uang. “Apa lagi, Bu?” “Obat Ibu habis.” Bima bahkan tidak mengangkat kepala. “Besok saja beli.” “Tidak bisa besok. Obat ini harus diminum setiap hari.” “Ya sudah, nanti aku beli.” “Kapan?” Bima mulai terlihat kesal. “Ibu kenapa terus mendesak?” “Karena Ibu membutuhkan obat.” “Kan aku sudah bilang nanti!” Bu Sari terdiam. Bima kembali menghitung uang di tangannya. “Uang kita juga harus dijaga, Bu. Jangan semua pengeluaran dibebankan kepadaku.” Bu Sari menatap Bima dengan mata berkaca-kaca. “Beban?” Bima baru menyadari perkataannya. Namun, bukannya meminta maaf, ia justru berdiri. “Ibu terlalu sensitif.” “Sejak kapan mengurus obat ibu sendiri menjadi beban untukmu?” “Sudahlah, Bu. Aku sedang banyak pikiran.” Bima b
Last Updated: 2026-10-06
Chapter: Mulai merasa bersalah.Beberapa hari kemudian, Bu Sari membutuhkan obat. Tubuhnya terasa lemas sejak pagi dan kepalanya beberapa kali terasa berkunang-kunang. “Bima,” panggilnya. Tidak ada jawaban. “Bima, Nak.” Ia mencoba memanggil lebih keras. Akhirnya Bima keluar dari kamar dengan wajah kesal. “Ada apa, Bu?” tanya Bima. “Obat Ibu habis. Bisa tolong belikan?” tanya Bu Sari dengan nada memohon. Bima melihat jam di dinding. “Sekarang?” “Iya, Nak. Ibu merasa tidak enak badan.” Bima menghela napas. “Kenapa baru bilang?” “Sejak pagi Ibu sudah bilang, tetapi kamu mungkin tidak mendengar.” Bima terdiam sesaat. “Nanti aku belikan,"jawabnya santai. “Kapan?” desak Bu Sari. “Setelah aku selesai urusan.” Bima menjawab sambil berbalik kembali masuk kamar. Bu Sari menatap anaknya lama. “Kalau Ibu ini merepotkan, katakan saja, Bima.” Bima tampak terkejut. “Kenapa Ibu bicara begitu?” “Karena Ibu merasa sejak keluar dari rumah Alika, kalian semakin tidak membutuhkan Ibu.” Bima langsung men
Last Updated: 2026-10-04
Chapter: Kehidupan Benalu “Dua ratus juta, Mas. Lumayan sekali. Aku tidak menyangka Alika benar-benar memberikan uang sebanyak itu hanya supaya kita pergi dari rumahnya,” ujar Kartika sambil tersenyum lebar, memandangi tas yang berisi uang itu. Bima yang duduk di sampingnya ikut tersenyum puas. Sejak meninggalkan kediaman Alika, perasaan kalah dan dipermalukan yang sempat memenuhi dadanya perlahan tertutup oleh rasa bangga karena membawa pulang uang tunai dalam jumlah besar. Baginya, dua ratus juta adalah modal untuk memulai hidup baru tanpa perlu bergantung kepada siapa pun. “Mulai sekarang kita bisa hidup lebih nyaman. Aku bisa menyewa rumah yang bagus, membuka usaha kecil, lalu uang sisanya kita gunakan untuk kebutuhan sehari-hari,” kata Bima sambil menepuk-nepuk tas di pangkuannya. Bu Sari hanya diam di kursi roda yang berada di dekat mereka. Tatapannya kosong mengarah ke luar jendela mobil, sementara kedua tangannya bertumpu lemah di atas paha. Tidak seperti Bima dan Kartika, perempuan tua itu justru
Last Updated: 2026-10-04
Chapter: Mengusir pengganggu.Bima mencoba mendekati Alika di dapur. Sedangkan Kartika tampak manyun saat melihat Bima berusaha mendekati istrinya.“Aku tak akan biarkan Mas Bima bersatu dengan Alika. Aku harus merebutnya kembali,” kata Kartika.Mama Sari yang mendengar apa yang Kartika katakan, tampak tak senang. Sedangkan Bima, dia duduk di dapur sambil mengamati Alika yang sedang menata nasi di dalam dux.“Alika. Ternyata selama ini kamu bisa bertahan ya. Maafkan aku, sudah menyusahkanmu,” kata Bima.Alika hanya tersenyum saja, dia sama sekali tak menjawab apa yang Bima katakan. Bima merasa tersinggung saat apa yang dia ucapkan tak digubris, hanya mendapatkan respon senyum sinis dari Alika.“Alika. Kamu jangan sombong ya. Di rumah ini ada bagian ku. Jangan mentang-mentang kamu memiliki rumah ini, lalu kamu sombong dan seenaknya!” Bima mencoba menggertak Alika.Alika menghela nafas. “Mas. Bisa nggak tinggal diem aja. Nggak usah banyak omong. Kalau kamu mau bertingkah mending pergi dari rumah ini!”Bima terkejut.
Last Updated: 2026-10-03
Chapter: pertemuan kembali.Pagi itu, Bima dan Kartika pun bersiap dengan pakaian yang sangat rapi. Begitu juga Kartika tak lupa mendandani Mama Sari. Tak berapa lama, mereka sudah siap dan Kartika langsung memesan taxi online. “Aku akan pesan taxi online terlebih dulu,” kata Kartika. “Baik, aku sudah siapkan semua pakaian kita, termasuk Mama,” jawab Bima. Ana baru saja masuk kamar, dia menatap sinis pada mereka yang sedang bersiap. “Kalian mau pergi kemana?” tanya Ana. “Kemarin aku kan sudah bilang. Kalau aku akan pergi ke rumah Alika. Aku ingin dia yang merawat ibu,” kata Bima. Ana hanya berdecak. Dia sama sekali tak ingin merespon apa yang kakaknya katakan. Ana memilih untuk berbalik dan kembali memasuki kamarnya. Tak berapa lama, sebuah mobil sudah berhenti di depan kontrakan. Kartika langsung mendorong kursi roda dan mendekat ke arah mobil. Sedangkan Bima menyeret koper milik mereka bertiga. “Sesuai aplikasi, ya kak?” Tanya driver itu. “Iya, Pak,” jawab Kartika. Mobil yang mereka tumpangi pun melaj
Last Updated: 2026-10-02