LOGINSeorang istri yang harus berjuang melawan masa lalu suaminya yang selalu datang mengganggu kehidupannya. masa lalu yang kelam menjadi masalah tambahan di dalam kehidupan rumah tangga Alika. akankah Alika bisa mempertahankan rumah tangganya bersama sakti?
View More"Sudah 40 hari, bolehkah aku meminta kamu melayani aku?" tanya Bima pada Alika.
Bima Sakti, lelaki yang sudah bersabar menunggu selama 40 hari pasca istrinya melahirkan, kini sudah tak kuat menahan gejolak yang terpendam dalam dirinya. Alika hanya tersenyum, meskipun rahimnya belum sepenuhnya pulih, dan tubuhnya masih terasa remuk redam, Alika tak tega menolak. "Tentu, tapi pelan-pelan ya, Mas." Alika menerima pagutan mesra dari suaminya yang lama kelamaan semakin beringas. "Mas, sabar," ucap Alika dengan lirih, seraya mengelus rambut sang suami yang seperti tak peduli dengan ringisan Alika yang menunjukkan rasa ngilu dan sakit. "Mas, sakit!" pekik Alika saat Bima mencapai puncaknya. Alika memejamkan mata, dia merasakan ada sesuatu yang keluar dari selangkangannya, entah darah atau apa. Namun, Alika tak ingin mengecewakan Bima, dia berusaha menahan sakit dan membiarkan Bima menuntaskan keinginan untuk yang kedua kalinya. "Ssshhh ...." Alika mendesis membuat Bima mengerti jika istrinya itu belum siap lagi. "Ya sudah, kita pillow talk dulu supaya kamu tenang dan siap," ujar Bima membuat Alika bernafas lega. Keduanya merubah posisi, duduk seraya berpeluk mesra, sementara putri mereka tertidur pulas sejak tadi. "Melahirkan adalah kejadian terbesar yang pernah aku alami, Mas, rasanya aku hampir mati," Alika memulai percakapan, "Kalau aku meninggal, apa yang akan kamu lakukan, Mas?" pancing Alika. "Menguburmu lah," canda Bima, membuat suasana erotis itu seketika lenyap begitu saja. "Bercanda," kekeh Bima karena melihat wajah Alika yang langsung memerah. "Aku serius, loh, Mas, wanita melahirkan itu mempertaruhkan nyawa demi bisa memberikan anak kepada suaminya. Apa kamu sama sekali tidak melihat perjuanganku?" Alika tampak kesal. "Tentu saja aku melihat, Sayang. Aku tahu itu, bahkan ibuku juga pernah melahirkan aku dan Ana, begitu pun Kartika, mantan istriku, dia juga pernah mengalami hal yang sama sepertimu melahirkan Bintang anak kami," jawab Bima, "Jadi, aku sudah terbiasa. Dan seandainya ketakutanmu itu terjadi, mungkin aku akan kembali pada Kartika supaya aku bisa merawat Bintang dan Bulan secara bersamaan, kalau bersama wanita lain rasanya terlalu rumit." Bima berkata panjang lebar. Alika terdiam, moodnya yang sudah goyah karena candaan Bima, kini hancur setelah mendengar nama Kartika, apalagi ada harapan bagi suaminya itu kembali pada mantan istrinya. Salahnya juga, mengapa bertanya demikian. Namun, bukan jawaban seperti itu yang Alika inginkan. Dia wanita, sudah sepatutnya dimanja dan disanjung, apalagi keadaannya yang masih sakit karena usai melahirkan. "Kalau kamu memiliki keinginan untuk kembali, mengapa dulu mesti cerai dengan dia? Silakan, Mas, jangan tunggu aku meninggal untuk kembali padanya. Jawabanmu benar-benar menyakitiku!" Alika langsung memalingkan pandang ke arah lain. "Astaga, Alika! Kamu maunya apa sih? Aku bercanda, kamu cemberut, aku jawab apa adanya, kamu marah. Kamu seharusnya bisa baca situasi, kan ini 'seandainya', bukan sebenarnya." Bima mengusap rambutnya, dengan kesal. "Tahu, ah, aku ngantuk, mau tidur saja." Alika melepaskan tubuhnya dari pelukan Bima yang langsung bangun karena tingkah istrinya. "Aku masih mau, Sayang!" bujuk Bima. "Aku sudah tidak mood, jawabanmu terlalu menyakiti aku, Mas, seharusnya kamu sadar itu." tolak Alika. Mendengar itu, Bima semakin marah. "Ya sudah, kalau kamu tidak mau melaksanakan kewajibanmu melayani aku, tak apa. Lagi pula, kamu tidak lebih enak dari Kartika, dia melayaniku dengan baik selepas melahirkan Bintang dulu, dia tetap menggairahkan, tidak banyak mengeluh seperti kamu!" Bima mulai membandingkan istrinya dengan Kartika, mantan istrinya. Hati istri mana yang tidak sakit mendengar suaminya membandingkan dirinya dan mantan istri dalam berhubungan intim? Setelah mengatakan ada kemungkinan kembali pada Kartika, kini Bima mengatakan jika mantan istrinya itu lebih menggairahkan dibanding dirinya. Rasanya Alika sudah tak bisa bersabar lagi, dia tak mau diperlakukan rendah seperti ini. "Apa kamu sadar dengan semua yang telah kamu ucapkan, Mas? Kamu sudah menodai harga diriku sebagai istri dan juga sebagai seorang ibu." Alika berkata dengan bercucuran air mata. Bima terdiam. Namun, wajahnya terlihat kesal. "Bagus lah, aku jadi tahu apa yang sebenarnya ada dalam hatimu. Kartika lebih baik dan menggairahkan daripada aku? Ya, dan aku pun bisa mendapatkan yang lebih baik darimu, Mas! Kembalilah padanya. Aku minta cerai!" tantang Alika. Tak lama, Bulan terbangun mendengar pertengkaran orang tuanya. Alika melangkah menuju tempat tidur Bulan, lalu menyusuinya dengan diiringi nyanyian tangis yang keluar dari mulut ibunya. Bima dapat melihatnya, luka mendalam di mata istrinya. "Alika, maafkan aku," ucap Bima mendekati istrinya, namun, Alika tak menjawab. "Alika, aku hanya menjawab seadanya, hanya prasangka, dan mungkin bercanda. Tak ada niat kembali pada Kartika, aku hanya membayangkan hal terburuk saja karena yang kupikirkan adalah anak-anak." Bima mulai membujuk Alika. Alika masih tak menjawab. "Alika, aku mohon maafkan aku, aku tidak mau berpisah darimu. Kamu yang membuatku bertaubat dan keluar dari dunia gelap, kamu yang membuatku mau berubah. Mungkin, perkataanku tadi adalah sifat buruk yang masih terbawa hingga sekarang, aku akan memperbaiki lagi," janji Bima. "Kartika hanya masa lalu, aku terlalu menginginkanmu sehingga melakukan cara apa pun supaya kamu mau. Maaf, Sayang, aku tak berniat membandingkanmu dengan mantan istri yang bahkan tak menyisakan kenangan baik dalam hidupku." Bima menunduk sedih. Mata Alika yang tertutup rapat sama sekali tak membuat air matanya sulit keluar. Buliran-buliran kecil itu mengalir semakin banyak seiring dengan terngiangnya setiap lontaran api yang keluar dari mulut suaminya sendiri, dan itu terjadi di saat emosinya masih labil karena hormon wanita yang tak menentu pacsca melahirkan. "Seharusnya ini menjadi malam pertama yang indah setelah sekian lama kita sama-sama menahan rasa, Mas." Alika akhirnya buka suara dan Bima menoleh padanya dengan tatapan sendu. "Kamu pikir aku mau sakit-sakitan seperti ini? Apa kamu lupa bagaimana liarnya aku jika melayanimu dulu? Dulu aku sehat, Mas, dan sekarang aku masih sakit, kondisiku masih belum pulih dan aku ingin kamu melakukannya dengan perlahan." Alika masih sesenggukkan. "Aku butuh dimanja, sanjungan, supaya apa? Supaya aku melupakan rasa sakit itu dan hanya merasakan bahagia karena kata-kata indah yang kamu ucapkan padaku. Namun, perkataan apa yang aku dapat?" tanya Alika dengan senyuman pahit. Akhirnya, Bima tersadar dan menangis memeluk kaki Alika yang masih menyusui putri mereka. Bima sadar telah bersalah, dia sudah keterlaluan menyakiti Alika sejauh ini. Padahal, Bima menginginkan kenikmatan yang ada dalam diri istrinya, tapi dia malah memberikan duri api yang dia lontarkan dari mulutnya tanpa memikirkan perasaan istrinya. "Lepas, Mas, aku sudah dalam keadaan suci dan kamu bisa menceraikanku sekarang juga." tantang Alika lagi. Bima menggeleng. "Tidak, Alika, aku tidak akan pernah menceraikanmu. Maafkan aku, aku sudah keterlaluan, semua yang kuucapkan tadi hanya sebatas amarahku saja. Aku mohon maafkan aku, jangan tinggalkan aku." Bima terus membujuk Alika. Keduanya menangis bersama, meratapi kisah cinta dan rumah tangga yang selalu ada saja ujiannya. Kalau bukan ibu mertua dan ipar jahat, mantan istri jadi sumber masalahnya. Hanya ayah mertua yang menyayangi Alika, dan lelaki itu menjadi salah satu alasan setelah Bulan untuk Alika memaafkan Bima meskipun luka hatinya entah akan sampai kapan bisa sembuh.Di tempat lain, kehidupan Ana ternyata tidak jauh berbeda dari kehidupan kakaknya, Bima. Setelah memilih meninggalkan keluarga dan menjalani hidup sendiri, Ana tinggal di sebuah rumah kontrakan sederhana yang ternyata merupakan salah satu properti milik Juragan Harsa, seorang pengusaha kaya yang cukup disegani di daerah tersebut. Ana memang bukan perempuan yang mudah merasa puas. Ia selalu membayangkan kehidupan mewah, pakaian mahal, kendaraan bagus, serta rumah besar yang selama ini hanya bisa ia lihat dari kejauhan. Karena itulah, ketika mengetahui pemilik kontrakannya adalah seorang pria kaya, Ana mulai mencari kesempatan untuk mendekatinya, meskipun ia tahu Juragan Harsa sudah memiliki istri bernama Bu Ayu. Suatu sore, ketika Ana sedang duduk di teras sambil memainkan ponselnya, sebuah mobil berhenti di depan rumah. Ana mengangkat wajahnya dan langsung mengenali pria yang turun dari mobil tersebut. “Juragan Harsa?” panggil Ana sambil berdiri. Harsa tersenyum dan berjalan men
Tidak hanya urusan makanan. Obat-obatan Bu Sari pun mulai tidak diperhatikan. Suatu sore, Bu Sari memeriksa kotak obatnya. Beberapa obat sudah habis sejak dua hari lalu. “Bima...” panggilnya. Kali ini Bima sedang duduk di ruang tamu sambil menghitung uang. “Apa lagi, Bu?” “Obat Ibu habis.” Bima bahkan tidak mengangkat kepala. “Besok saja beli.” “Tidak bisa besok. Obat ini harus diminum setiap hari.” “Ya sudah, nanti aku beli.” “Kapan?” Bima mulai terlihat kesal. “Ibu kenapa terus mendesak?” “Karena Ibu membutuhkan obat.” “Kan aku sudah bilang nanti!” Bu Sari terdiam. Bima kembali menghitung uang di tangannya. “Uang kita juga harus dijaga, Bu. Jangan semua pengeluaran dibebankan kepadaku.” Bu Sari menatap Bima dengan mata berkaca-kaca. “Beban?” Bima baru menyadari perkataannya. Namun, bukannya meminta maaf, ia justru berdiri. “Ibu terlalu sensitif.” “Sejak kapan mengurus obat ibu sendiri menjadi beban untukmu?” “Sudahlah, Bu. Aku sedang banyak pikiran.” Bima b
Beberapa hari kemudian, Bu Sari membutuhkan obat. Tubuhnya terasa lemas sejak pagi dan kepalanya beberapa kali terasa berkunang-kunang. “Bima,” panggilnya. Tidak ada jawaban. “Bima, Nak.” Ia mencoba memanggil lebih keras. Akhirnya Bima keluar dari kamar dengan wajah kesal. “Ada apa, Bu?” tanya Bima. “Obat Ibu habis. Bisa tolong belikan?” tanya Bu Sari dengan nada memohon. Bima melihat jam di dinding. “Sekarang?” “Iya, Nak. Ibu merasa tidak enak badan.” Bima menghela napas. “Kenapa baru bilang?” “Sejak pagi Ibu sudah bilang, tetapi kamu mungkin tidak mendengar.” Bima terdiam sesaat. “Nanti aku belikan,"jawabnya santai. “Kapan?” desak Bu Sari. “Setelah aku selesai urusan.” Bima menjawab sambil berbalik kembali masuk kamar. Bu Sari menatap anaknya lama. “Kalau Ibu ini merepotkan, katakan saja, Bima.” Bima tampak terkejut. “Kenapa Ibu bicara begitu?” “Karena Ibu merasa sejak keluar dari rumah Alika, kalian semakin tidak membutuhkan Ibu.” Bima langsung men
“Dua ratus juta, Mas. Lumayan sekali. Aku tidak menyangka Alika benar-benar memberikan uang sebanyak itu hanya supaya kita pergi dari rumahnya,” ujar Kartika sambil tersenyum lebar, memandangi tas yang berisi uang itu. Bima yang duduk di sampingnya ikut tersenyum puas. Sejak meninggalkan kediaman Alika, perasaan kalah dan dipermalukan yang sempat memenuhi dadanya perlahan tertutup oleh rasa bangga karena membawa pulang uang tunai dalam jumlah besar. Baginya, dua ratus juta adalah modal untuk memulai hidup baru tanpa perlu bergantung kepada siapa pun. “Mulai sekarang kita bisa hidup lebih nyaman. Aku bisa menyewa rumah yang bagus, membuka usaha kecil, lalu uang sisanya kita gunakan untuk kebutuhan sehari-hari,” kata Bima sambil menepuk-nepuk tas di pangkuannya. Bu Sari hanya diam di kursi roda yang berada di dekat mereka. Tatapannya kosong mengarah ke luar jendela mobil, sementara kedua tangannya bertumpu lemah di atas paha. Tidak seperti Bima dan Kartika, perempuan tua itu justru


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews