Chapter: Bab 10 — Saya di siniBukan memapah, bukan sekadar membantunya berjalan. Benar-benar menggendongnya!Refleks, Bella melingkarkan tangan ke leher laki-laki itu. Matanya membulat, sementara jantungnya yang sejak tadi sibuk melawan rasa sakit mendadak punya kesibukan lain.‘Ya ampun. Evan menggendongku!’Kalau saja perutnya tidak sedang terasa seperti dipelintir, mungkin Bella sudah menjerit kegirangan.“Kamar kamu di mana?” tanya Evan, sama sekali tidak menyadari kekacauan di kepala Bella.“Lurus ... terus belok kiri,” jawab Bella terbata-bata.Evan berjalan mengikuti arahannya dengan langkah mantap, sementara Bella berusaha mengabaikan jarak wajah mereka yang terasa terlalu dekat. Aroma parfum Evan tercium samar. Lengannya menopang tubuh Bella dengan hati-hati, dan entah kenapa itu membuat Bella sedikit lebih tenang.Di tengah rasa sakit yang menyiksa, ada bagian kecil dari dirinya yang ingin waktu berhenti sebentar. Bukan karena sakitnya, tentu saja, melainkan karena ia sedang berada dalam gendongan Evan.
Terakhir Diperbarui: 2026-10-23
Chapter: Bab 9 — Kabar BahagiaMalamnya Aca mengundang Bella dan teman-teman bank lainnya makan malam di rumahnya. Katanya, ada kabar bahagia. Suami Aca sampai sengaja menyingkir ke rumah mertua supaya para perempuan itu bebas berisik. Bella datang paling akhir sambil menenteng puding cokelat. Alasannya macet. Padahal macetnya cuma lima menit, sisanya habis di ruang kerja seorang laki-laki berkacamata. Di ruang tamu, Raisa, Vina, Gladys, dan Sindi sudah lesehan mengelilingi meja yang penuh makanan. Raisa dari Customer Service, Vina teman satu meja Bella di teller, Gladys dari marketing, dan Sindi teller junior yang paling ceria. Ada ayam bakar, capcay, spaghetti, pizza, salad, dan camilan segudang. Satu kotak martabak sudah tinggal bungkusnya saja. “Telat banget, Bel,” kata Vina. “Martabaknya sudah dibantai Sindi.” “Aku cuma bantu ngabisin, Mbak!” bela Sindi dengan pipi menggembung. “Wih, Ca.” Raisa menatap meja. “Ini mau makan malam atau kondangan?” “Namanya juga kabar bahagia.” Aca keluar dari dapur sa
Terakhir Diperbarui: 2026-10-23
Chapter: Bab 8 — Ruang Kerja EvanSepulang kerja, Bella memutuskan mampir ke rumah Diana. Alasannya sederhana: mengembalikan sandal jepit milik Evan yang masih ada padanya. Padahal, Evan sudah bilang sandal itu boleh disimpan saja. Menurut laki-laki itu, sandal jepit bukan barang yang perlu dipikirkan terlalu serius. Namun, bagi Bella, mengembalikan sandal adalah alasan paling masuk akal untuk bertemu pemiliknya lagi. Dengan begitu, ia tidak perlu mengakui bahwa dirinya sedang mencari-cari kesempatan. Setelah memarkir motor, Bella berjalan menuju pintu rumah besar itu sambil menenteng tote bag berisi sandal hitam dengan tulisan EVAN di bagian belakangnya. Belum sempat ia mengetuk, pintu sudah terbuka dari dalam. “Eh, ada Bella sayang!” sapa Diana. “Sore, Tante,” balas Bella dengan senyum ramah. “Tumben main ke sini. Ada perlu apa?” Bella mengangkat tote bag-nya. “Ini, Tante. Bella mau balikin sandal Evan.” “Oh, sandal itu.” Diana melirik tas di tangan Bella, lalu tersenyum penuh arti. “Mau ketemu Evan,
Terakhir Diperbarui: 2026-10-23
Chapter: Bab 7 — Sandal Jepit HitamGerakan Evan terhenti. Ia akhirnya menegakkan badan dan menatap Bella beberapa detik. Untuk pertama kalinya, Bella melihat sesuatu yang mirip rasa bersalah di wajahnya. “Saya lupa.” “Lupa?” Bella mengerutkan kening, memastikan dirinya tidak salah dengar. “Chat kamu tenggelam. Saya juga banyak kerjaan.” Evan melepas sarung tangan mekaniknya. “Sorry.” Bella melongo. Jawaban itu begitu jujur sampai terasa menyebalkan. Ia sudah menyiapkan berbagai alasan yang mungkin dipakai Evan, mulai dari sibuk sampai pesannya memang tidak penting. Namun, ia tidak menyangka pria itu akan mengaku lupa dengan wajah sedatar itu. “Jangan bilang Mas juga lupa soal janji Mas?” “Janji apa?” tanya Evan tanpa ekspresi. Hati Bella terasa tercubit. Ternyata hanya dirinya yang menantikan janji tersebut. Tanpa menjawab, ia berbalik dan melangkah pergi dengan kesal. Namun, baru beberapa langkah, heels setinggi tujuh sentimeter yang dikenakannya menginjak genangan oli di dekat pintu garasi. Kaki kirinya terge
Terakhir Diperbarui: 2026-10-16
Chapter: Bab 6 — Kalo Jodoh Nggak kemana“Siapa bilang aku naksir? Aku cuma bosan di rumah.” Bella segera berdiri dan berlari ke kamarnya sebelum ibunya sempat bertanya lebih jauh.“Tunggu ya, Ma! Sepuluh menit!” serunya dari lorong.Sintia menggeleng sambil tersenyum geli. “Jangan sepuluh menit, kamu itu kalau dandan satu jam!”Delapan menit kemudian, Bella sudah berdiri di depan lemari dalam keadaan setengah basah, memegang dua baju sekaligus dengan wajah panik.Blouse putih atau dress biru? Rok plisket atau celana kulot? Apa yang pantas dipakai perempuan yang pura-pura tidak peduli, tetapi ingin terlihat cantik di depan ibu laki-laki yang bahkan tidak membalas pesannya?“Bel, sudah belum?” teriak Sintia dari luar kamar.“Belum, Ma! Dua menit!”Bella buru-buru memilih maxi dress biru navy tanpa lengan dengan potongan leher bulat yang sederhana. Ia menata rambut hazelnya dengan cepat, membiarkan gelombang alaminya jatuh di bahu. Sedikit foundation, blush on, dan lipstik peach melengkapi penampilannya. Ia juga mengenakan sep
Terakhir Diperbarui: 2026-09-08
Chapter: Bab 5 — Gengsi Tingkat TinggiBeberapa hari berlalu tanpa kabar apa pun dari Evan.Selama bekerja, Bella memang tidak punya banyak waktu untuk memikirkan laki-laki itu. Kesibukan di bank cukup ampuh mengalihkan perhatiannya, setidaknya sampai jam kerja berakhir dan ia kembali punya terlalu banyak waktu untuk dirinya sendiri. Perasaan aneh itu muncul lagi, seperti remaja yang baru punya gebetan ganteng.Dan di Sabtu yang cerah ini, perasaan itu justru terasa menyebalkan.Bella sudah mencoba mengisi paginya dengan bereksperimen di dapur, merapikan kamar, bahkan menonton drama yang sempat tertunda. Sayangnya, pikirannya selalu kembali pada satu orang yang berhari-hari tidak memberinya kabar.Dua kali ia membuka kolom chat Evan, mengetik pesan, lalu menghapusnya lagi. Pesan terakhirnya masih menggantung tanpa balasan. Padahal, ia hanya ingin tahu apakah pria itu sudah kembali dari dinas atau belum. Tidak ada salahnya, kan, bertanya begitu?Bella mendengus, kemudian melempar ponselnya ke sofa. Namun, tak sampai semenit
Terakhir Diperbarui: 2026-09-08