Misi Mencuri Hati PNS Ganteng

Misi Mencuri Hati PNS Ganteng

last updateLast Updated : 2026-10-16
By:  ChessecakeUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
7Chapters
12views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Dijodohkan oleh ibu-ibu arisan yang haus menantu PNS, Bella justru jatuh cinta duluan pada Evan-pria dingin yang menaruh karier diatas segalanya. Namun semakin keras Bella berusaha, semakin ia sadar cinta tidak bisa dikejar sendirian. Ketika kekecewaan membawanya untuk berhenti berharap, barulah Evan menyadari betapa besar arti Bella baginya-dan kali ini, dialah yang harus mengejar

View More

Chapter 1

Bab 1 — Perdebatan Pagi

Bella langsung tahu ada yang tidak beres begitu aroma nasi goreng menyelinap masuk ke kamarnya.

Sintia, ibu Bella, hampir tidak pernah mau repot membuat sarapan di hari kerja. Biasanya hanya roti panggang dan segelas susu. Kalau pagi ini ada nasi goreng lengkap dengan telur mata sapi dan jus tomat kesukaan Bella, artinya ada maunya.

“Duduk, Bel. Sarapan dulu,” kata Sintia begitu Bella muncul di dapur dengan seragam bank yang sudah rapi.

Bella duduk dengan tatapan curiga. “Ma, Mama sakit?”

“Mama sehat. Kamu yang sebentar lagi sakit kepala.” Sintia menuang teh untuk dirinya sendiri, lalu duduk di hadapan Bella. “Hari Minggu ini kamu kosong, kan?”

“Kosong sih. Rencananya aku mau rebahan seharian,” jawab Bella santai sambil mulai menyuap nasih goreng nikmat itu.

“Bagus, kalau gitu rebahannya dibatalin aja. Minggu jam sepuluh, kamu ketemu anaknya Diana.”

Sendok Bella berhenti di udara. Diana adalah teman arisan Sintia, dan Bella sudah menebak ke mana arah pembicaraan ini. “Ma.”

“Namanya Evan. Umurnya tiga puluh empat tahun, PNS, sudah jadi kepala bidang pula. Hidupnya mapan, punya rumah dan mobil sendiri,” jelas Sintia sambil menyendokkan nasi ke piringnya.

Bella mengangkat wajah, menatap ibunya dengan dahi berkerut. “Ma, aku ini bukan barang yang bisa dijual-belikan.”

“Siapa juga yang bilang kamu barang?” Sintia mendengus. “Mama cuma mau kamu dapat suami yang sudah mapan. Kebetulan, Mama kenal calon yang cocok buat kamu.”

“Calon?!” Bella spontan meletakkan sendoknya. Di kepalanya langsung muncul gambaran laki-laki yang setiap hari ia lihat dari balik meja teller. Bapak-bapak berkemeja safari, berperut buncit, berambut menipis, dan punya senyum genit. Ia sampai bergidik sendiri. “Umur tiga puluh empat tahun, sudah mapan, tapi belum nikah? Pasti ada apa-apanya, Ma.”

“Enak saja kamu ngomong begitu!” Sintia langsung memasang wajah tidak senang. “Kamu tahu enggak, Evan itu rebutan ibu-ibu arisan Mama. Joana saja sampai mau menjodohkan dia dengan anaknya.”

“Ya, sudah. Kasih saja ke anak Tante Joana,” sahut Bella enteng sambil kembali meraih sendoknya.

“Masalahnya, Diana lebih memilih kamu!” Sintia mencondongkan badan, tampak semakin bersemangat. “Diana itu ibunya Evan. Dia sudah bilang ke Mama, kalau kamu bersedia dikenalkan sama Evan, dia senang sekali. Makanya, Mama nggak mau menyia-nyiakan kesempatan ini.”

Bella menghembuskan napas panjang. “Tapi, Ma, aku bahkan belum bilang mau dijodohkan.”

“Kamu juga belum bilang nggak mau,” balas Sintia sambil mengangkat sebelah alisnya.

“Aku nggak mau, Ma!” Suara Bella meninggi sebelum sempat ia kendalikan. Ia meletakkan sendoknya dengan kasar, lalu menatap ibunya kesal. “Ini hidup aku. Aku bukan barang yang bisa Mama tawar-tawarin ke teman arisan!”

Suasana dapur mendadak hening.

Sintia tidak langsung membalas. Perempuan itu hanya menunduk, menatap cangkir teh di hadapannya. Senyum yang sejak tadi menghiasi wajahnya perlahan memudar.

Bella mengatupkan bibir. Ia sudah bersiap menghadapi omelan panjang ibunya, tetapi bukan keheningan seperti ini. Entah kenapa, melihat Sintia diam justru membuatnya semakin tidak nyaman.

“Mama cuma takut, Bel,” ucap Sintia akhirnya. Suaranya jauh lebih pelan daripada sebelumnya. “Papa kamu sudah nggak ada. Kamu juga nggak punya saudara. Selama ini, kamu cuma punya Mama. Kalau suatu hari Mama juga nggak ada, siapa yang bakal nemenin kamu?”

Bella terdiam. Kekesalannya perlahan mereda, berganti dengan rasa bersalah yang membuat dadanya sesak. Ia tahu ibunya hanya mengkhawatirkan masa depannya.

Sejak kepergian Papa, Sintia memang semakin sering membicarakan pernikahan, seolah dengan memastikan Bella memiliki pasangan, semua kekhawatirannya akan terjawab.

Bella menghembuskan napas panjang sebelum akhirnya menyerah.

“Ketemu doang, ya, Ma. Satu kali,” kata Bella sambil mengangkat telunjuk. “Kalau ternyata nggak cocok, Mama jangan maksa lagi.”

Kepala Sintia langsung terangkat. Wajah murungnya seketika berubah cerah. “Deal!” sahutnya penuh semangat. Ia buru-buru meraih ponsel yang tergeletak di samping piringnya. “Mama kirim nomor Evan sekarang, ya. Oh iya, Bel, dia ganteng, lho!”

Bella mendengus, sama sekali tidak terkesan. “Mama juga bilang begitu soal anak teman Mama yang waktu itu.”

Bella masih ingat betul perjodohan terakhir yang diatur ibunya. Saat itu, Sintia memperkenalkannya kepada Aloy, seorang laki-laki yang tampak begitu tertarik kepadanya sejak pertemuan pertama. Sayangnya, ketertarikan itu hanya datang dari satu pihak. Bella sama sekali tidak merasakan hal yang sama.

“Aloy memang ganteng, kok!” bela Sintia sambil tetap sibuk mengetik di ponselnya.

“Dia botak, Ma,” balas Bella dengan wajah datar.

“Ya, terus kenapa?” Sintia melirik putrinya sekilas. “Botaknya berkarisma!”

Bella memutar bola mata, lalu menghabiskan nasi gorengnya dalam diam. Ia benci mengakui ini, tapi nasi gorengnya enak.

“Tapi yang kali ini kamu pasti suka!” Senyum nakal terbit di bibir Sintia.

“Ew. Big no!” jawab Bella yakin. Tidak mungkin ia tertarik lagi kali ini.

Tidak mungkin ia akan tertarik pada laki-laki pilihan ibunya kali ini. Apalagi setelah pengalaman sebelumnya, Bella sudah cukup yakin bahwa selera Sintia dan seleranya soal laki-laki tidak akan pernah sejalan.

**

Di tengah perjalanan menuju bank, Mio biru butut peninggalan almarhum ayah Bella mendadak tersendat sebelum akhirnya mati.

“Duh, jangan sekarang, dong,” keluh Bella sambil berulang kali mencoba menyalakan mesin motornya.

Namun, usahanya sia-sia. Jam sudah hampir pukul delapan, sementara bank tempatnya bekerja tinggal beberapa ratus meter lagi. Bella baru saja hendak menghubungi Aca, sahabatnya, untuk meminta bantuan ketika sebuah motor sportster hitam berhenti di sampingnya.

Pengendaranya seorang laki-laki berseragam PNS dengan tubuh tinggi dan tegap. Wajahnya tertutup helm full-face, tetapi entah kenapa Bella merasa laki-laki itu pasti tampan. Ia sempat memperhatikan seragam pria tersebut yang tidak dilengkapi name tag.

“Mogok?” tanya laki-laki itu dengan suara berat.

“Iya, Mas.” Bella menghela napas kesal. “Memang udah tua motornya. Padahal tinggal sedikit lagi sampai bank.”

“Saya dorong sampai bank. Kamu nggak apa-apa, kan?” tawarnya sambil melirik ke arah gedung yang dimaksud Bella.

Belum sempat Bella menjawab, laki-laki itu sudah memosisikan motornya di samping Mio, lalu menggunakan kakinya untuk mendorong motor Bella perlahan. Bella hanya bisa mengikuti sambil menjaga keseimbangan, antara malu dan lega karena akhirnya mendapat bantuan.

Begitu tiba di depan bank, Bella buru-buru turun dari motornya. “Makasih banyak, ya, Mas. Saya jadi—”

Ucapannya terputus ketika laki-laki itu langsung menarik gas dan pergi tanpa menoleh sedikit pun.

Bella mematung sejenak, menatap motor hitam yang semakin menjauh.

“Dasar sombong,” gerutunya, meski beberapa saat lalu laki-laki itu baru saja menolongnya.

Setelah masuk ke bank, Bella memeriksa ponselnya dan menemukan pesan dari Sintia yang berisi nomor laki-laki yang hendak dijodohkan dengannya. Tanpa banyak pikir, ia menyimpan kontak tersebut dengan nama Evan Anak Tante Diana.

Bella menatap nama itu beberapa saat sebelum menghembuskan napas.

‘Satu kali aja,’ batinnya.

Kalau harus bertaruh seratus ribu rupiah sekalipun, Bella yakin laki-laki itu pasti jelek, gendut, dan setengah botak.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
7 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status