Chapter: Bab 09 - Ijab Kabul Yang Dingin“Kalian semua … bubar. Ini bukan tontonan,” titah Bisma kepada beberapa mahasiswa yang berkumpul, menatap penasaran.Ia lalu memerintah dua security jaga untuk menertibkan situasi, membubarkan kerumunan yang nyaris memenuhi lorong gedung fakultas itu.Setelahnya, ia kembali membidik tanpa celah seorang pria yang terus meronta, berusaha melepaskan diri dari cengkramannya.“Siapa lo? Jangan ikut campur, Brengsek!” pekik Austin sambil memelototi pria yang mencekal erat tangannya.Zanaya yang tadi reflek menyilangkan tangan untuk melindungi wajahnya, kini perlahan membuka mata yang sempat terpejam.Sorot matanya seolah tak percaya dengan pemandangan yang kini ada di depan mata. Sosok pria tampan memiliki sejuta pesona, yang ia kenal dingin tak memiliki empati, tanpa ragu berdiri di hadapannya seolah menjadi tameng kuat untuk melindungi dirinya.“Pak Bisma …,” gumamnya. Sejenak tenggelam dalam pesona dan aura dominan seorang Bisma.Sampai suara lantang Austin membuatnya kembali tersentak d
Última actualización: 2026-10-30
Chapter: Keputusan Zanaya“Pak Bisma … tolong bantu saya.”Zanaya menatapnya dengan mata berkaca-kaca kala suara Austin terdengar kian meraung, sumpah serapah menggema di lorong fakultas ditujukan untuk Zanaya.Tatapan Bisma melunak melihat perempuan yang tengah mengandung darah dagingnya itu kini tampak lemah, memohon untuk diselamatkan.Tetapi, di lain sisi, isi kepala Bisma masih bergelut dengan keputusan yang gamang. Proposal pernikahan siri, citra keluarganya, masa depan Zanaya dan buah hati yang tak lama lagi hadir di dunia.“Zanaya,” panggil Bisma dengan suara beratnya.Tubuhnya kian mencondong ke depan, membuat Zanaya yang berdiri di hadapannya mundur dua langkah hingga terpojok di pintu ruangan. Perbedaan tinggi badan keduanya yang begitu mencolok justru menciptakan ketegangan manis yang mendebarkan di antara mereka.Zanaya memegang erat tali tas selempangnya, mengatur ritme detak jantungnya yang berpacu lebih cepat dari biasanya.“Saya akan membantumu dan mengusir pembuat onar itu. Tapi … tandatangan
Última actualización: 2026-10-29
Chapter: Bab 07 - Proposal Pernikahan SiriBola mata Zanaya kembali membelalak mendengar kalimat yang baru saja Bisma ucapkan.“Apa, Pak?” Ia memastikan bahwa tidak salah dengar barusan. “Bapak nggak lagi bercanda, ‘kan?”“Apa menurutmu saat ini … saya terlihat sedang bercanda, Zanaya?” balas Bisma dengan tatapan lebih serius dari biasanya.Zanaya mengatupkan bibirnya. Matanya menelisik raut wajah dosen muda yang baru saja mengajaknya menikah.Ya. Menikah.‘Dia nggak lagi ngelawak, ‘kan?’ batinnya masih belum percaya.Tidak seperti yang Zanaya bayangkan. Ia sudah bersiap untuk menghadapi amarah Bisma, termasuk konsekuensi yang mungkin harus diterimanya atas kejadian dua bulan lalu.Namun, Bisma justru bersikap sebaliknya. Tak ada amarah sedikitpun dalam dirinya. Sorot mata dingin yang biasanya sulit ditebak itu berubah teduh setiap kali menatap Zanaya. Dan yang paling tidak pernah Zanaya duga, pria itu kini menawarkan diri untuk menikahinya.“Pak Bisma. Tapi saya ….”“Besok di ruang kerja saya,” potong Bisma tiba-tiba. “Datang
Última actualización: 2026-10-07
Chapter: Bab 06 - Ajakan Pernikahan MendadakZanaya spontan membelalak tak percaya.“Apa, Dokter?! Saya … nggak salah dengar, ‘kan?”Bisma pun tak kalah terkejut. Kedua alis tebalnya menukik tajam.Dokter Kamal menghembuskan napas perlahan. Ia memahami betul bahwa dari sudut pandang Zanaya, berita kehamilan di luar ikatan pernikahan bukanlah sesuatu yang bisa disambut dengan bahagia, ataupun kabar yang harus dirayakan."Saya tidak bercanda, Bisma, Zanaya," ucap dokter Kamal tenang, berusaha menetralisir ketegangan. Ia lalu menyodorkan hasil lab pemeriksaan ke arah mereka.Bisma meraih kertas itu lebih dulu. Matanya menyusuri baris demi baris, hingga gerakannya terhenti pada barisan paling akhir; hasil lab uji urine yang menyatakan bahwa pasien atas nama Zanaya Rasyid positif hamil delapan minggu.Melihat kebisuan sahabatnya, Dokter Kamal berdeham pelan. "Saya akan meresepkan beberapa vitamin dan suplemen penguat kandungan untuk Zanaya. Kalian sepertinya butuh waktu untuk bicara berdua."Setelah meletakkan secarik kertas resep di
Última actualización: 2026-10-07
Chapter: Bab 05 - Dinyatakan HamilZanaya menoleh perlahan, menatap sisi samping Bisma yang memperlihatkan proporsi wajah nyaris sempurna. Hidung runcing bertengger tegas, garis rahang yang terpahat bak karya seni yang sukses menarik perhatian.“Pak Bisma … saya nggak bermaksud—”“Apapun alasanmu. Kamu tetap meninggalkanku hari itu,” potong Bisma, suara seraknya terdengar dingin.Zanaya menunduk dalam-dalam sambil meremas bagian perut terasa nyeri luar biasa. Keringat dingin membasahi pelipisnya, membuat rona pipinya semakin terlihat memucat.Tanpa meminta izin, Bisma mengulurkan tangan dan menempelkannya pada kening Zanaya untuk memeriksa suhu tubuhnya.Tentu saja Zanaya terkejut dan reflek menghindar. Namun, Bisma kembali tak mempedulikan sebuah penolakan.“Kamu juga demam,” ucap pria itu seraya menghembuskan napas berat.Bisma lalu menambah kecepatan laju mobilnya menembus kemacetan kota yang cukup padat siang itu, tatapannya lurus ke depan, namun sesekali melirik ke samping untuk memastikan keadaan mahasiswinya.Za
Última actualización: 2026-10-07
Chapter: Bab 04 - Sentuhan Pria Dingin ItuTekanan mental yang bertubi-tubi membuat pandangan Zanaya mendadak berkunang-kunang di tengah penjelasan garis besar materi yang Bisma bacakan.Sampai cubitan kecil dari Amira membuatnya terhenyak.“Ditunjuk pak Bisma, tuh,” kata Amira.“Apa? Saya?” Zanaya spontan mengangkat wajah dan tak sengaja tatapannya bertemu dengan Bisma.‘Astaga! Dia lihat gue. Dia sadar nggak, ya, kalau ini gue yang udah tidur sama dia malam itu?’ batin Zanaya berisik sekali.Bila diberi pilihan, dirinya ingin sekali menghilang dan lenyap detik itu juga. Zanaya belum memiliki keberanian untuk berhadapan dengan Bisma, pria yang ia tinggalkan setelah menghabiskan malam panas mereguk surga dunia.Fokus Bisma teralihkan sesaat. Namun, ia kembali menatap lurus dengan sorot mata setajam ujung belati.“Iya. Kamu,” ucap Bisma seraya melempar tatapan dingin.Zanaya menelan ludah, masih menunduk, suaranya terbata saat menyebutkan dasar prinsip investigasi yang ia pelajari.“Angkat wajahmu. Saya tidak bisa mendengar su
Última actualización: 2026-10-07